PERTEMUAN-PERTEMUAN TAK TERDUGA [2]

Tethy Ezokanzo

Nah, bertemu soulmate ini hukumnya seolah-olah wajib. Kami sudah menggarap banyak buku berdua. Hampir tiap hari sms, chating, pokoknya ngobrol, deh. Tapi, belum sekali pun bertemu.  Jadi, mumpung ada kesempatan, harus ketemu!

Teh Tethy sebenarnya tinggal di Bandung. Sebelumnya, saya cerita kalau tanggal 11-14 mau ke Jakarta. Enggak disangka, suami Teh Tethy ada acara ke Jakarta juga. Asyiiikkk …!

Sebagai sesama buta Jakarta, kami sempat bingung menentukan meeting point. Saya sampai sms beberapa teman, menanyakan tempat asyik untuk ketemuan antara stasiun terdekat dengan lokasi acara suami Teh Tethy. (Maklum, saya hanya bisa ke mana pun di sekitar Jakarta, asalkan dekat dengan stasiun. Mantan anak kereta, gitu, loh!)7796_10200802253210932_751457985_n

Sampai pagi, meeting point belum ditentukan. Deal-nya malah Teh Tethy yang akan nyamperin ke Depok. Hadeeeh, enggak kebayang macetnya. Terus ngobrolnya kayaknya juga enggak santai. Membayangkan suami Teh Tethy nungguin kita ngerumpi aja udah enggak enak. Walaupun Teh Tethy udah bilang, suaminya mah santaaaiii … palingan juga nanti nge-game sama Syafiq. Tapi, tetep aja enggak enak. Terus juga, kalau Teh Tethy ke Depok dulu, walah … nanti sampai Bandung lagi jam berapa?

Jadi waktu efektif ngobrol itu, ya, selama suami Teh Tethy meeting.  Kalau kami tidak ketemuan saat itu, selama menunggu suaminya meeting, Teh Tethy ngapain? (katanya sih sudah sedia dua novel tebal sebagai teman :d)

Akhirnya, saya bilang pokoknya kalau Teh Tethy sampai lokasi suaminya meeting, dan di sana memungkinkan untuk ketemuan, saya yang ke sana aja. Apalagi lihat di google map, lokasinya enggak jauh dari stasiun Cawang. Tambah lagi, Shofie juga udah ribut mau jalan-jalan. Bangun tidur aja langsung bilang, “Hari ini kita jalan-jalan ke mana, Ma? Naik kereta lagi, kan?”

Akhirnya, setelah Teh Tethy sampai lokasi, dan mengabarkan tempatnya bisa buat ngobrol,  pukul 09.00 berangkatlah saya ke stasiun sama Shofie. Syafiq enggak mau ikut. Dia milih di rumah sama keponakan dan … nonton tipi! Kayaknya saudara pakai teve kabel, deh. Atau … ada stasiun teve di Jakarta yang bagus-bagus, tapi enggak sampai di Semarang, ya? Gak tahu, deh. Isinya kartun semua.

Shofie dapat pengalaman baru lagi saat naik commuter line, nih. Setelah kemarin bisa naik commuter yang kosong, bisa pindah-pindah tempat duduk seenaknya, dan menunggunya pun tak lama, kini … menunggu commuter-nya aja lamaaa banget. Hampir satu jam kami manyun di stasiun. Rupanya ada kerusakan sehingga jadwal kereta telat. Penumpang mulai menyemut di peron. Saat kereta pertama datang, kami tidak bisa naik :p.

“Ya, ampun … penuh sekali, Ma?” tanyanya heran.

Belum lagi lihat kereta ekonomi, dengan banyak penumpang yang naik ke atas. Itu bikin pertanyaan dan pernyataan macam-macam keluar dari mulutnya.

“Kalau jatuh, gimana?”

“Emangnya enggak dimarahi Pak Polisi?”

“Oh, karena di dalam penuh, ya, Ma.”

Dan lain-lain ….

Alhamdulillah, di kereta ke dua, kami bisa masuk, walaupun … berdiri!

Untunglah Shofie senang-senang aja. Saat commuter meliak-liuk malah cekikikan, terus memeluk saya erat-erat :d

Selain Shofie, saya ternyata juga nambah pengetahuan :d Petugas commuter ternyata mempunyai wewenang untuk memintakan tempat duduk wanita hamil dan ibu yang membawa anak, ya? Keren, deh! Jadi, orang yang cuek-cuek itu ‘dipaksa’ memberi tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan.

Dan … saya termasuk orang yang beruntung. Saya dapat tempat duduk, walaupun ketika stasiun tujuan tinggal dua stasiun lagi. Lumayanlah.

Sebenarnya, meeting point itu sangat dekat dengan stasiun. Tapi, ketika di luar stasiun ditawari ojek, tergoda juga! Ihiks … ngojek lagi, deh:d Pertimbangan saya, Shofie sudah capai berdiri. Kasihan kalau harus jalan jauh. Ternyata … enggak sampai semenit sudah sampai! Hahaha … niat ingsung, nanti pas pulangnya enggak bakalan ngojek lagi!

Akhirnya, ketemu juga dengan Teh Tethy ….

Ternyata … tempatnya asyik juga. Kita ketemuan di kantin. Di sana banyak jajanan murah meriah. Sate ayam sepuluh tusuk aja Rp14.000,00. Enak, lho! Semangka potong Rp2.000,00. Eh, ini mah biasa, kali ya :p Sempat kepikir pengin beli sate untuk makan siang Syafiq dan keponakan yang saya tinggal di rumah. Juga beli rujak. Tapi … enggak kebayang bawa tentengan di commuter yang penuh. Enggak jadi, deh!

Obrolan saya dengan Teh Tethy, tak jauh beda dengan obrolan di gtalk, inbok fb, atau sms. Langsung akraaab juga 🙂

Beberapa jam ngobrol di kantin, terus pindah ke masjid sekalian menanti dhuhur. Ngobrol lagi … foto-foto, dan saatnya pulang. Alhamdulillah … enggak nyangka bisa ketemu sama Teh Tethy, sesuatu yang enggak dibayangkan sebelumnya. Serba ndilalah … ndilalah kok ya suami Teh Tethy ke Jakarta, ndilalah kok tempat meeting suaminya juga enak buat ngerumpi. Itulah, rezeki. Allah yang mengatur semuanya.

PERTEMUAN-PERTEMUAN TAK TERDUGA [1]

Irmayanti

Ke Jakarta berarti bakalan menjadi ajang silaturahim. Itulah yang terpikir, mengingat tak hanya saudara, tapi banyak teman yang tinggal di sana.

Kakak dan adik ibu saya ada sembilan orang yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan dari pihak suami ada satu orang kakak. Persiapan oleh-oleh, sih, sudah untuk semuanya. Tapi … rupanya waktu lima hari tak cukup untuk mengunjungi semua saudara itu.

Janjian dengan beberapa teman juga sudah saya lakukan. Tapi, tetap saja ada yang tidak terlaksana. Alhamdulillah, factor lucky yang pasti sudah diatur olehNya, sering menyertai saya.

Ketemuan dengan Teh Tethy, Irma, dan Nesia bersama-sama pada hari kamis adalah jadwal yang pertama kali saya lakukan. Mereka bertiga adalah teman akrab di FLP Jepang, kenal sekitar tahun 2004, dan belum pernah sama sekali bertatap muka. Sedangkan dengan teman lainnya, saya tidak membuat janji. Biarlah mengalir saja, mengingat jadwal saya juga tidak pasti.

Ternyata, jalan untuk menemui ketiga teman saya itu berbeda-beda. Walaupun akhirnya bertemu juga, namun sendiri-sendiri.

Seperti ketika akan bertemu dengan Irmayanti.

Mengingat tak ada janji, hari rabu saja ajak anak-anak ke Bogor naik kereta. Kagum dengan commuter line yang pakai kartu. Aih, serasa di Jepang aja, nih :p

Ternyata, ketika kami masih di Bogor, Irma telpon, kalau dia ada urusan di Depok. Yahhh … enggak rezeki, deh. Sudah terbayang, tak akan bisa ketemuan dengan Irma, nih. Padahal, saat mau ke Jakarta, Irma inilah salah satu teman yang pertama kali akan aku temui.

Saat pulang dari Bogor sekitar pukul tiga, saya iseng sms Irma. Menanyakan apakah posisi dia masih di Depok? Enggak gitu yakin, sih. Pastinya sudah pulang ke Tangerang-lah. Enggak tahunya, dia masih di Depok, bahkan katanya ada Mbak Lala dan Mbak Wiwiet juga. Wow … asyiik, juga bisa curhat galau HS ama beliau-beliau ini :d

Akhirnya, begitu sampai rumah saudara, langsung naruh barang dan jalan lagi. Rumah saudara ada di belakang kampus UI. Tapi, kalau pakai mobil ke sana, dijamin macet. Jalan tercepat adalah ojek. Semenjak nikah, kayaknya saya belum pernah naik ojek, deh. Kalau naik ojek, pasti sama suami. Nanti, saya tetap goncengan sama suami :d Rada ragu juga sebenarnya. Apalagi belum izin ama suami. Selama suami seminar, hape dimatikan. Jadi enggak bisa kontak. Tapi, nekat, deh. Untuk itu, saya maksa Shofie biar ikut. (Tadinya, dia mau di rumah aja.) Kalau ada Shofie, kan, dia bisa duduk di tengah :d

Menuju kampus tak bisa langsung naik ojek. Musti ke luar ke gang, naik angkot dulu sampai belakang politeknik UI, baru sambung ojek. Ndilalah-nya, kok, angkotnya lama. Biasanya, mah, banyak. Akhirnya tanya ke orang, letak pangkalan ojek. Eh, ternyata ada bapak ojek sedang main catur. Sip, deh. Langsung deal harga dan meluncur ke perpustakaan UI, meeting point, sama Irma. Aihh … ternyata si bapak enggak tahu lokasinya. Sampai beberapa kali tanya, akhirnya sampai. Jauh juga. Pas-lah, ongkos sepuluh ribu itu :d. Di jalan, saya mikir-mikir, nanti gimana pulangnya, ya? Daripada bingung pulangnya, saya minta saja nomor hape si bapak ojek.

Terkagum-kagum dengan kampus UI, itu yang saya rasakan begitu melihatnya. Walah … lha kampus kok ada Starbuck segala. Shofie pun berkali-kali nanya, “Beneran, Ma, ini kampus? Kok kayak mal, sih?” Hihi … lah, dalam hati saya pun bertanya-tanya kayak gitu, kok :d

Ngobrol ngalor-ngidul sama Irma, sambil momong bocah yang kadang haus dan lapar, tapi makan dan minuman yang dibeli enggak dihabiskan :p Walaupun kami bertemu di milis FLP Jepang, tapi makin ke sini, obrolan kami bukanlah dunia tulis-menulis lagi, melainkan tentang homeschooling. Sejak hanya sekedar kenal, sampai akrab sekali, dan belum pernah sekali pun bertemu, tapi begitu ketemu, enggak ada canggung-canggungnya sama sekali, lho! Alhamdulillah.kopdar UI

Pukul lima lebih, kami menemui Mbak Lala dan Mbak Wiwiet yang sedang ada seminar. Sayangnya … perjumpaan dengan beliau berdua cuma sak nyuk, alias sebentar thok! Maklum, kami mencuri waktu seminar. Selain itu, saya udah sms si bapak ojek, minta dijemput pukul setengah enam.

Akhirnya, pulang, deh … Sampai rumah pas magrib. Syafiq ternyata berkali-kali telpon. Hihi … mamanya keasyikan ngobrol, sampai lupa waktu :d

Jakarta oh Jakarta … :p

Lamaaa … sekali, saya tak menginjakkan kaki ke Jakarta. Makanya, waktu si Papa ada seminar selama tiga hari di Jakarta Convention Centre,  mengajak saya dan anak-anak bermobil ria, saya girang bukan kepalang. Apalagi, keponakan yang baru saja selesai kursus mobil juga bisa ikut. Wah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlalui. Si Papa ada yang bisa gantiin nyopir, keponakan pun bisa sekalian melancarkan.

Shofie belum pernah ke Jakarta. Dia pun jadi belum terbayang jauhnya Jakarta. Dikira hanya dua tiga jam saja. Pun yang ditanyakan adalah, “Ada apa di Jakarta?” Dikiranya, Jakarta adalah nama tempat wisata :d

Bude, asisten rumah tangga yang setia pun tak kalah heboh. Berkali-kali bilang, “Hati-hati, Bu. Kalau capai nyetir berhenti, jangan dipaksa.” Akibat pesan-pesannya itu, saya jadi ingat mati. Dan langsung bertanya pada Bude, “Makam yang ada di kampung itu, untuk penduduk asli saja, atau bukan, sih? Apakah pendatang seperti kami bisa?”

Huaa … si Bude langsung misuh-misuh. “Jangan bicara kayak gitu, to, Bu!” katanya. Tapi, saya jadi tahu. Makam itu untuk penduduk sini. Karena saya sudah punya KTP sini, sah untuk dimakamkan di sana kalau meninggal.

Ehya, si Bude bahkan bikinin kita arem-arem untuk bekal ke Jakarta. Huehehe … isinya pun kering tempe. Tak ada daging-dagingnya. Wis jan … ketok ndesone tenan. Ketika cerita ama adik tentang arem-arem ini, dia bilang, “Makannya di dalam mobil, lah. Jangan nggelar tiker di luar.”

Haiyaaahhh …!!

NYASAR …!!

Sepuluh tahun tak menginjak Jakarta, benar-benar membuat saya serasa wong ndeso masuk kota beneran. Nyasar melulu! Padahal sudah berbekal GPS. Rasa aneh pertama ketika kami sampai di rest area di Cibubur. Tujuan kami adalah Depok. Di GPS tertulis, jarak Cibubur-Depok adalah 9,7 km. Langsung tidak percaya. Perasaan, dulu Cibubur-Depok itu jauuuuh banget. Langsung deh, telpon saudara yang di Depok, menanyakan kemungkinan ini. Takutnya salah input data. Jangan-jangan, Depok, lain lagi …. Ternyata oke! Tapi, bukan berarti terus tidak nyasar. Begitu melihat stasiun Depok Baru berada di bawah (dilihat dari flyover), langsung bingung. Hiyaaa … jalan masuk ke M. Ridwan Rais-nya, mana?

Selama kuliah, saya sering pergi ke Depok. Bahkan di tahun-tahun terakhir, saya tinggal di Depok, dan jadi anker alias anak kereta Depok-Bogor setiap hari. Namun, sepuluh tahun telah ada perubahan yang sangat besar di sana, membuat saya tak mengenali lagi jalan-jalan ini. Untung saja si GPS sabar. Enggak marah-marah. Pokoknya memandu kita terus, sehingga akhirnya sampai di perumahan tempat saudara tinggal walaupun kejauhan saat ambil jalan putar balik. Legaaa ….

Nyasar kedua adalah saat dari Depok ke Jagakarsa, ke rumah saudara yang lain. Rupanya, ada dua jalan belimbing yang sama di Jagakarsa. Kita diarahkan ke jalan belimbing yang salah ;p Alhasil, bingung muter-muter, kita minta dijemput saja.

Paling kalut kalau alamat tidak terpampang di GPS. Nah, ini adalah nyasar yang ke tiga, ketika saya akan ke rumah Bude di Jatibening, Bekasi. Alamat itu tak dikenali GPS. Akhirnya, kami sampai masuk tol dua kali, dengan arah memutar. Fiuh, wasting time-nya hampir satu jam sendiri :p Selain jarak jadi jauh, kena macet itu yang bikin makin pening.

Tapi, berkat nyasar juga, jadi tahu ‘teknik’ mencari alamat. Tanyakan kepada orang yang akan kita kunjungi, point interest yang di dekat rumah. Baik itu pasar, rumah sakit, bahkan alfamart atau indomaret pun sangat membantu. Ketika mau ke rumah kakak di Jagakarsa, kami janjian di rumah sakit dekat rumah. Dan saat ke rumah Bude, dikatakan perumahannya di depan sebuah pasar. Dan hal ini terbukti sukses :d

Tips Kirim Resensi untuk Kompas Anak

Kadang, untuk memulai melakukan sesuatu, saya memang memerlukan sebuah percikan api, sebelum akhirnya bisa menyala.

Alhamdulillah, giveaway Mba Lala kemarin (dan aku gak menang :p) memaksaku bikin blog. Tapi … setelah menulis itu pun, blog ini lama terbengkalai :p Bahkan, saya lupa password-nya, dan bikin password baru lagi :d Setelah itu, bikin template. Terus … lama lagi didiemin :p

Kini, lagi bingung mau ngapain. Ya sudah, coba menulis lagi aja. Walaupun, awalnya bingung juga, mau menulis apa? Yang penting, melemaskan jari.

Baiklah. Sebagai pemanasan, posting sebuah karya aja, deh.

Ada rubrik “Resensi” yang muncul setiap minggu di Kompas Anak . Menulis resensi itu gampang-gampang susah. Berdasarkan pengalaman, menulis akan terasa mudah, kalau kita memang tertarik dengan bukunya. Tulisan lebih mengalir lancar, apalagi kalau tidak ada beban dalam menuliskannya. Maksud beban adalah, misalnya kita ingin mengikutsertakan resensi kita dalam sebuah lomba, tentu, sudah terpikir harus begini, harus begitu. Beda kalau sekedar ingin menuliskannya di blog. Semakin terasa susah, kalau bukunya kurang kita sukai. Apalagi, kalau menulisnya pun dengan terpaksa. Jadi ingat, zaman SMP. Dulu, saya merasa terpaksa menulis ringkasan buku-buku sastra yang ada di perpustakaan, sebagai tugas pelajaran Bahasa Indonesia :d

Okelah ….

Khusus resensi untuk kompas anak, kita hanya perlu menuliskan resensi buku itu sebanyak 150-200 kata. Nah, yang susah tentu membidik cerita paling menarik dari keseluruhan isi buku, dan menuangkannya dengan kalimat yang sangat terbatas. Usahakan, kalimatnya menarik, dan membuat pembaca semakin penasaran dengan bukunya.

Buku yang kita pilih untuk diresensi, kalau bisa buku baru, minimal masih ada di toko buku. Kasihan orang yang baca resensi kita, kemudian dia pengin beli, tapi mencari di toko buku sudah tidak ada. Walaupun, hal ini sangat mungkin terjadi. Misalnya, kalau jeda antara kita kirim resensi dan pemuatan sekitar satu tahun :d

Kirimkan resensi kita, lengkap dengan biodata (jangan lupa no rekening, ya ;d) berikut scan kaver buku, ukuran sekitar 200 kb, ke alamat kompas@kompas.co.id.

Selain honor, biasanya penerbit memberikan BONUS RESENSI kepada kita, biasanya berupa buku-buku baru dari penerbit itu. Asyik, kan? Bagaimana cara mendapat bonus resensi ini? Cari kontak bagian pemasaran di penerbit buku yang kita kirim resensinya. Atau, langsung saja kirimkan fotokopi naskah kita yang dimuat ke alamat penerbit. Tapi, tidak semua penerbit seperti ini, ya? Ini tergantung kebijakan masing-masing penerbit, bukan kewajiban penerbit :d

Berikut contoh resensi yang saya tulis untuk Kompas Anak, dan dimuat beberapa bulan lalu.

*******Image

Judul Buku   : George Berburu Harta Kosmis

Pengarang   : Lucy dan Stephen Hawking

Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama

 AKSI PENYELAMATAN HOMER

George pernah bertualang ke ruang angkasa, melewati planet, menembus badai asteroid, bahkan sampai ke tepian system tata surya! Hal ini dilakukan bersama Pak Eric, dan Annie, putrinya, dengan Cosmos, komputer super canggih yang bisa menjadi pintu ke angkasa raya. Kini, mereka harus pindah ke Amerika. Pak Eric mendapat pekerjaan di sana, untuk mencari tanda-tanda kehidupan di ruang angkasa. Tentu saja, George sangat sedih.

Tapi, siapa sangka? Tak lama setelah mereka pindah, Annie mengirimkan pesan kepadanya. Annie menerima sandi rahasia dari luar angkasa melalui Cosmos. Mereka harus memecahkannya. Untuk itu, George harus menyusulnya ke Amerika untuk memecahkan misteri ini.

Saat itu, Pak Eric sedang pusing. Homer, robot yang dikirimnya ke Mars, bertingkah aneh. Bukannya memberikan informasi penting, malah mengirimkan foto kakinya sendiri! Annie yakin, bahwa sandi rahasia yang diterimanya ada hubungan dengan Homer. Dia dalam bahaya, dan sedang meminta pertolongan.

Tanpa sepengetahuan siapapun, Annie dan George nekad pergi ke luar angkasa, menyusul Homer! Petualang pun dimulai. Berhasilkah mereka menyelamatkan Homer? Tak hanya seru, buku ini juga sarat dengan pengetahuan tentang antariksa berserta foto-fotonya yang menawan, lho! (Aan Wulandari, Semarang)

Silakan mencoba. Semoga dimuat 🙂