Jakarta oh Jakarta … :p

Lamaaa … sekali, saya tak menginjakkan kaki ke Jakarta. Makanya, waktu si Papa ada seminar selama tiga hari di Jakarta Convention Centre,  mengajak saya dan anak-anak bermobil ria, saya girang bukan kepalang. Apalagi, keponakan yang baru saja selesai kursus mobil juga bisa ikut. Wah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlalui. Si Papa ada yang bisa gantiin nyopir, keponakan pun bisa sekalian melancarkan.

Shofie belum pernah ke Jakarta. Dia pun jadi belum terbayang jauhnya Jakarta. Dikira hanya dua tiga jam saja. Pun yang ditanyakan adalah, “Ada apa di Jakarta?” Dikiranya, Jakarta adalah nama tempat wisata :d

Bude, asisten rumah tangga yang setia pun tak kalah heboh. Berkali-kali bilang, “Hati-hati, Bu. Kalau capai nyetir berhenti, jangan dipaksa.” Akibat pesan-pesannya itu, saya jadi ingat mati. Dan langsung bertanya pada Bude, “Makam yang ada di kampung itu, untuk penduduk asli saja, atau bukan, sih? Apakah pendatang seperti kami bisa?”

Huaa … si Bude langsung misuh-misuh. “Jangan bicara kayak gitu, to, Bu!” katanya. Tapi, saya jadi tahu. Makam itu untuk penduduk sini. Karena saya sudah punya KTP sini, sah untuk dimakamkan di sana kalau meninggal.

Ehya, si Bude bahkan bikinin kita arem-arem untuk bekal ke Jakarta. Huehehe … isinya pun kering tempe. Tak ada daging-dagingnya. Wis jan … ketok ndesone tenan. Ketika cerita ama adik tentang arem-arem ini, dia bilang, “Makannya di dalam mobil, lah. Jangan nggelar tiker di luar.”

Haiyaaahhh …!!

NYASAR …!!

Sepuluh tahun tak menginjak Jakarta, benar-benar membuat saya serasa wong ndeso masuk kota beneran. Nyasar melulu! Padahal sudah berbekal GPS. Rasa aneh pertama ketika kami sampai di rest area di Cibubur. Tujuan kami adalah Depok. Di GPS tertulis, jarak Cibubur-Depok adalah 9,7 km. Langsung tidak percaya. Perasaan, dulu Cibubur-Depok itu jauuuuh banget. Langsung deh, telpon saudara yang di Depok, menanyakan kemungkinan ini. Takutnya salah input data. Jangan-jangan, Depok, lain lagi …. Ternyata oke! Tapi, bukan berarti terus tidak nyasar. Begitu melihat stasiun Depok Baru berada di bawah (dilihat dari flyover), langsung bingung. Hiyaaa … jalan masuk ke M. Ridwan Rais-nya, mana?

Selama kuliah, saya sering pergi ke Depok. Bahkan di tahun-tahun terakhir, saya tinggal di Depok, dan jadi anker alias anak kereta Depok-Bogor setiap hari. Namun, sepuluh tahun telah ada perubahan yang sangat besar di sana, membuat saya tak mengenali lagi jalan-jalan ini. Untung saja si GPS sabar. Enggak marah-marah. Pokoknya memandu kita terus, sehingga akhirnya sampai di perumahan tempat saudara tinggal walaupun kejauhan saat ambil jalan putar balik. Legaaa ….

Nyasar kedua adalah saat dari Depok ke Jagakarsa, ke rumah saudara yang lain. Rupanya, ada dua jalan belimbing yang sama di Jagakarsa. Kita diarahkan ke jalan belimbing yang salah ;p Alhasil, bingung muter-muter, kita minta dijemput saja.

Paling kalut kalau alamat tidak terpampang di GPS. Nah, ini adalah nyasar yang ke tiga, ketika saya akan ke rumah Bude di Jatibening, Bekasi. Alamat itu tak dikenali GPS. Akhirnya, kami sampai masuk tol dua kali, dengan arah memutar. Fiuh, wasting time-nya hampir satu jam sendiri :p Selain jarak jadi jauh, kena macet itu yang bikin makin pening.

Tapi, berkat nyasar juga, jadi tahu ‘teknik’ mencari alamat. Tanyakan kepada orang yang akan kita kunjungi, point interest yang di dekat rumah. Baik itu pasar, rumah sakit, bahkan alfamart atau indomaret pun sangat membantu. Ketika mau ke rumah kakak di Jagakarsa, kami janjian di rumah sakit dekat rumah. Dan saat ke rumah Bude, dikatakan perumahannya di depan sebuah pasar. Dan hal ini terbukti sukses :d

Advertisements

7 thoughts on “Jakarta oh Jakarta … :p

  1. you are not alone Ummu Syafiq, aku aja ndak berani babar blas jalan sendirian di jekardah. dari stasiun langsung minta dijemput, kemana2 minta dianter sampe balik lagi ke stasiun saat pulang. jekardah, tak sanggup ku bercengkerama denganmu 😉

    • Iya … selama aku tinggal, dia suka jagain rumah malam-malam. Dan … yang pasti kasih makan Wonka, si kucing. Syafiq we sms wae, Bude … Wonka udah dikasih makan, belum? ;))

  2. Sudah 8 tahunan tinggal di Depok, aku masih aja sering nyasar. Makanya kalau pergi sendiri, mending aku naik kereta. SIM-ku SIM Depok, alias, nggak berani nyetir di luar Depok. Eh, sekarang sudah mulai berani nyetir di Jakarta Selatan dan seputaran Cibubur. Kemajuan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s