PERTEMUAN-PERTEMUAN TAK TERDUGA [1]

Irmayanti

Ke Jakarta berarti bakalan menjadi ajang silaturahim. Itulah yang terpikir, mengingat tak hanya saudara, tapi banyak teman yang tinggal di sana.

Kakak dan adik ibu saya ada sembilan orang yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan dari pihak suami ada satu orang kakak. Persiapan oleh-oleh, sih, sudah untuk semuanya. Tapi … rupanya waktu lima hari tak cukup untuk mengunjungi semua saudara itu.

Janjian dengan beberapa teman juga sudah saya lakukan. Tapi, tetap saja ada yang tidak terlaksana. Alhamdulillah, factor lucky yang pasti sudah diatur olehNya, sering menyertai saya.

Ketemuan dengan Teh Tethy, Irma, dan Nesia bersama-sama pada hari kamis adalah jadwal yang pertama kali saya lakukan. Mereka bertiga adalah teman akrab di FLP Jepang, kenal sekitar tahun 2004, dan belum pernah sama sekali bertatap muka. Sedangkan dengan teman lainnya, saya tidak membuat janji. Biarlah mengalir saja, mengingat jadwal saya juga tidak pasti.

Ternyata, jalan untuk menemui ketiga teman saya itu berbeda-beda. Walaupun akhirnya bertemu juga, namun sendiri-sendiri.

Seperti ketika akan bertemu dengan Irmayanti.

Mengingat tak ada janji, hari rabu saja ajak anak-anak ke Bogor naik kereta. Kagum dengan commuter line yang pakai kartu. Aih, serasa di Jepang aja, nih :p

Ternyata, ketika kami masih di Bogor, Irma telpon, kalau dia ada urusan di Depok. Yahhh … enggak rezeki, deh. Sudah terbayang, tak akan bisa ketemuan dengan Irma, nih. Padahal, saat mau ke Jakarta, Irma inilah salah satu teman yang pertama kali akan aku temui.

Saat pulang dari Bogor sekitar pukul tiga, saya iseng sms Irma. Menanyakan apakah posisi dia masih di Depok? Enggak gitu yakin, sih. Pastinya sudah pulang ke Tangerang-lah. Enggak tahunya, dia masih di Depok, bahkan katanya ada Mbak Lala dan Mbak Wiwiet juga. Wow … asyiik, juga bisa curhat galau HS ama beliau-beliau ini :d

Akhirnya, begitu sampai rumah saudara, langsung naruh barang dan jalan lagi. Rumah saudara ada di belakang kampus UI. Tapi, kalau pakai mobil ke sana, dijamin macet. Jalan tercepat adalah ojek. Semenjak nikah, kayaknya saya belum pernah naik ojek, deh. Kalau naik ojek, pasti sama suami. Nanti, saya tetap goncengan sama suami :d Rada ragu juga sebenarnya. Apalagi belum izin ama suami. Selama suami seminar, hape dimatikan. Jadi enggak bisa kontak. Tapi, nekat, deh. Untuk itu, saya maksa Shofie biar ikut. (Tadinya, dia mau di rumah aja.) Kalau ada Shofie, kan, dia bisa duduk di tengah :d

Menuju kampus tak bisa langsung naik ojek. Musti ke luar ke gang, naik angkot dulu sampai belakang politeknik UI, baru sambung ojek. Ndilalah-nya, kok, angkotnya lama. Biasanya, mah, banyak. Akhirnya tanya ke orang, letak pangkalan ojek. Eh, ternyata ada bapak ojek sedang main catur. Sip, deh. Langsung deal harga dan meluncur ke perpustakaan UI, meeting point, sama Irma. Aihh … ternyata si bapak enggak tahu lokasinya. Sampai beberapa kali tanya, akhirnya sampai. Jauh juga. Pas-lah, ongkos sepuluh ribu itu :d. Di jalan, saya mikir-mikir, nanti gimana pulangnya, ya? Daripada bingung pulangnya, saya minta saja nomor hape si bapak ojek.

Terkagum-kagum dengan kampus UI, itu yang saya rasakan begitu melihatnya. Walah … lha kampus kok ada Starbuck segala. Shofie pun berkali-kali nanya, “Beneran, Ma, ini kampus? Kok kayak mal, sih?” Hihi … lah, dalam hati saya pun bertanya-tanya kayak gitu, kok :d

Ngobrol ngalor-ngidul sama Irma, sambil momong bocah yang kadang haus dan lapar, tapi makan dan minuman yang dibeli enggak dihabiskan :p Walaupun kami bertemu di milis FLP Jepang, tapi makin ke sini, obrolan kami bukanlah dunia tulis-menulis lagi, melainkan tentang homeschooling. Sejak hanya sekedar kenal, sampai akrab sekali, dan belum pernah sekali pun bertemu, tapi begitu ketemu, enggak ada canggung-canggungnya sama sekali, lho! Alhamdulillah.kopdar UI

Pukul lima lebih, kami menemui Mbak Lala dan Mbak Wiwiet yang sedang ada seminar. Sayangnya … perjumpaan dengan beliau berdua cuma sak nyuk, alias sebentar thok! Maklum, kami mencuri waktu seminar. Selain itu, saya udah sms si bapak ojek, minta dijemput pukul setengah enam.

Akhirnya, pulang, deh … Sampai rumah pas magrib. Syafiq ternyata berkali-kali telpon. Hihi … mamanya keasyikan ngobrol, sampai lupa waktu :d

Advertisements

3 thoughts on “PERTEMUAN-PERTEMUAN TAK TERDUGA [1]

    • En gros, le but est de faire la même chose que si l’appareil était fixé sur un trépied non?L’appareil tourne autour de l’axe de la colonne centrale du trépied et à main levée, il faut imaginer cet &luonq;&ubsp;axe &raqao; invisible… et tourner autour avec l’appareil.Correct ou à côté de la plaque?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s