SERBA-SERBI ANTOLOGI

 

Ø  Batu Loncatan

Antologi sering dikenal sebagai batu loncatan bagi penulis pemula. Banyak di antara kami yang memulai dari antologi. Setelah berkali-kali bisa lolos antologi, muncullah kepercayaan diri untuk membuat buku sendiri.

Ø  Tak Perlu Napas Panjang

Ketika baru saja terjun dalam dunia kepenulisan, napas saya masih pendek untuk menulis buku sendiri, dengan minimal 100 halaman. Mengikuti antologi, dengan menulis hanya sepanjang 6-10 halaman adalah solusinya.

Ø  Tidak Ribet

Ikut antologi seperti mengirimkan naskah ke media saja. Kita tidak perlu mengurus sendiri ke penerbit. Apalagi, awal-awal menulis tentunya pengalaman berhubungan dengan penerbit juga masih minim.

Ø  Pembayaran Antologi

Ada yang mengatakan, honor menulis untuk antologi sangat sedikit. Hal ini tak selamanya benar. Setiap antologi tentunya berbeda, ada yang sedikit, ada yang banyak, atau gratis.  Bahkan, ada juga yang harus membayar bila naskah diterima. Lho, kok bisa? Ya, antologi yang akan diterbitkan secara indie, biayanya pun ditanggung bersama.

Pembayaran buku antologi sama seperti buku lainnya, yaitu royalti atau jual putus. Bedanya, bila buku sendiri, semua honor menjadi milik pribadi, sedangkan bila antologi menjadi milik bersama.

Proyek antologi ada yang merupakan usaha sekelompok penulis, ada juga pesanan dari penerbit.  Apabila proyek perorangan, ada koordinator antologi yang bertugas mengumpulkan naskah, menyusun dan berhubungan dengan penerbit. Dalam hal ini, koordinator antologi berhak mendapatkan honor lebih, atas semua jerih payahnya. Besarnya tentu berbeda-beda. Semua tergantung kebijakan yang berlaku.

Adapun bila antologi merupakan pesanan dari penerbit, biasanya tidak mengenal koordinator. Honor akan dibagi rata kepada semua penulisnya, baik royalti ataupun jual putus.

Banyak juga proyek antologi yang ditujukan untuk amal: membantu korban bencana alam, membiayai perawatan orang sakit parah, untuk mendanai kegiatan sosial, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, penulis menyumbangkan tulisan, tanpa mendapat bayaran. Ada yang mendapatkan sebuah buku sebagai bukti terbit, namun ada juga yang tetap harus membelinya, semuanya tergantung kebijakan penyelenggara.

  • Pencantuman Nama

Pencantuman nama di sampul depan sebuah buku antologi ternyata bisa menimbulkan rasa ‘tidak enak’, karena merasa namanya tidak dipajang di sampul muka. Bahkan mengatakan, menulis antologi itu rugi, karena hanya membuat terkenal koordinatornya saja!

Beberapa buku antologi hanya mencantumkan nama koordinator saja (Koordinator, dkk). Ada juga yang menuliskan dua atau tiga penulisnya yang dianggap berperan. Ada banyak hal yang mempengaruhi hal ini: menulis semua nama penulis di sampul depan tentunya bisa membuat kaver tidak eye catching, menuliskan satu nama penulis terkenal bisa menarik minat pembacanya, atau alasan lain.

Ada juga buku antologi yang tetap menuliskan semua nama kontributornya, walaupun hanya di halaman belakang. Jadi, di halaman depan dituliskan ‘Koordinator, dkk’, setelah itu di halaman belakang tetap ada nama semua penulis walaupun ditulis dengan huruf yang lumayan kecil.

Ø  Pilah pilih antologi

Sebelum mengikuti antologi kita teliti perjanjiannya. Baik masalah honor maupun pencantuman nama. Saya lebih suka mundur saja, bila perjanjiannya tidak jelas atau saya tidak sreg dengan isinya. Daripada mengikutinya, namun nanti kecewa sehingga tergoda untuk ‘ngomong di belakang’.

Ada sebagian teman yang berpendapat, daripada menulis antologi yang ‘tidak mendapat apa-apa’, lebih baik tulisannya di pajang di blog pribadi. Namun, ada juga yang tidak mempermasalahkan honor yang kecil (atau bahkan gratis) dan nama yang tidak dicantumkan. 

Saya pernah berada dalam posisi sebagai orang yang ‘bukunya terbit saja sudah senang’. Di tengah banyaknya orang yang mementingkan honor dan nama, sepertinya masih ada orang yang seperti saya waktu itu. Dan itu hak setiap pribadi masing-masing.

Selain itu, ada juga orang yang benar-benar tulus meniatkan menulis untuk menyebarkan hikmah, agar bermanfaat bagi banyak orang. Walaupun, mereka ini hanya sekian persen dari penulis antologi.

Semua itu adalah pilihan masing-masing orang. Pun bukan kesalahan penyelenggara antologi, bila menetapkan pembayaran kecil dengan nama yang tidak dicantumkan, namun masih banyak yang berminat mengikutinya.

Antologi dianggap bermasalah bila penerbit atau koordinator menyalahi isi perjanjian. Misalnya, kontributor dijanjikan akan mendapat bukti terbit juga honor, namun semua ini tidak dilaksanakan. Inilah yang wajib diperjuangkan penulis dengan bijak untuk mendapatkan haknya.

 

PERTEMUAN-PERTEMUAN TAK TERDUGA [3]

NESIA

Sesuai janji pada diri sendiri, sepulang dari ketemuan Teh Tethy, saya jalan kaki! Ketika jalan itu, ada telpon masuk. Rupanya dari Nesia! Ya, tadi saya mengabarkan via sms, kalau saya dan Teh Tethy sedang ketemuan. Tapi, tak berharap Nesia bisa datang, mengingat sebelumnya dia sudah bilang bahwa dari pagi sampai siang ada cara, plus tiba-tiba ada kepentingan mendadak yang tak bisa ditinggalkan.

Rupanya … Nesia tetap mau menemui saya di Depok. Huaaa … terharu. Tapi, terus saya katakan juga, “Enggak ketemuan juga, gak papa, kalau memang sibuk.Enggak usah memaksakan.” Lagian, siapa sih, saya? :p

Sebenarnya, saya lama sekali tidak komunikasi dengan Nesia. Sampai kemudian, saya menemukan Nesia di whatsapp. Sekali dua kali, saya sapa Nesia. Tapi setelah itu ‘diam-diaman’ lagi. Sampai akhirnya, saya butuh Nesia, hehe …. ketahuan belangnya, menyapa dikala butuh ;p

Pekerjaan baru saya berkaitan dengan nihonggo alias bahasa Jepang. Setelah sekian lama tidak pernah bersentuhan dengan nihonggo, saya pun grothal-grathul (sebelumnya juga tidak lancar, sih:p). Nesia-lah yang akhirnya saya repoti dengan berbagai kosakata bahasa Jepang yang tidak saya pahami, walaupun sudah membuka kamus setebal bantal (maklum, denki jishou-nya rusak L). Selain Nesia, saya juga colak-colek Dina di email.

Alhamdulillah, Nesia tetap menyempatkan ke Depok. Subhanallah, ternyata tidak hanya Teh Tethy yang memakai niqab, Nesia pun menutupi sebagian wajahnya dengan kain kerudungnya. Keren … alhamdulillah.

Berbeda dengan Irma atau Teh Tethy, yang saya masih kontakan di fb, sama Nesia benar-benar tak ada kontak. Tapi bukan berarti saat bertemu kami canggung. Kami tetap ngobrol biasa dan penuh keakraban.  Temanya seputar anak, teman, kuliah Nesia, kegiatan saya sekarang, Jepang, Islam, budaya Indonesia, sedikit menyinggung duna tulis-menulis, dan masih banyak lagi.

Nesia tak lama di rumah.  Dia harus pulang menyiapkan makan malam. Ya, dengan kesibukannya kuliah dll, Nesia tak punya asisten. Masalah ini pun sempat kami obrolkan. Mungkin, kebanyakan orang Indonesia yang sekaya (ups! maaf, Nes :d) dan sesibuk Nesia, tidak mempunyai asisten bagaikan kiamat. Tapi, tinggal sepuluh tahun di Jepang, membuatnya tidak terlalu memikirkan keberadaan asisten. Kalau ada syukur, enggak ya gak papa.

Gak ada foto dengan Nesia. Percaya aja, ya, ini bukan hoax :d

*****

Itulah cerita saya bertemu dengan tiga teman dekat yang sudah seperti saudara selama hampir sepuluh tahun, namun selama itu juga belum pernah sekali pun bertatap muka.

Sekarang ini, silaturahim tak mengenal jarak lagi dan tak perlu harus bertemu. Namun, bertatap muka langsung tetap menimbulkan kesan yang berbeda.