PERTEMUAN-PERTEMUAN TAK TERDUGA [3]

NESIA

Sesuai janji pada diri sendiri, sepulang dari ketemuan Teh Tethy, saya jalan kaki! Ketika jalan itu, ada telpon masuk. Rupanya dari Nesia! Ya, tadi saya mengabarkan via sms, kalau saya dan Teh Tethy sedang ketemuan. Tapi, tak berharap Nesia bisa datang, mengingat sebelumnya dia sudah bilang bahwa dari pagi sampai siang ada cara, plus tiba-tiba ada kepentingan mendadak yang tak bisa ditinggalkan.

Rupanya … Nesia tetap mau menemui saya di Depok. Huaaa … terharu. Tapi, terus saya katakan juga, “Enggak ketemuan juga, gak papa, kalau memang sibuk.Enggak usah memaksakan.” Lagian, siapa sih, saya? :p

Sebenarnya, saya lama sekali tidak komunikasi dengan Nesia. Sampai kemudian, saya menemukan Nesia di whatsapp. Sekali dua kali, saya sapa Nesia. Tapi setelah itu ‘diam-diaman’ lagi. Sampai akhirnya, saya butuh Nesia, hehe …. ketahuan belangnya, menyapa dikala butuh ;p

Pekerjaan baru saya berkaitan dengan nihonggo alias bahasa Jepang. Setelah sekian lama tidak pernah bersentuhan dengan nihonggo, saya pun grothal-grathul (sebelumnya juga tidak lancar, sih:p). Nesia-lah yang akhirnya saya repoti dengan berbagai kosakata bahasa Jepang yang tidak saya pahami, walaupun sudah membuka kamus setebal bantal (maklum, denki jishou-nya rusak L). Selain Nesia, saya juga colak-colek Dina di email.

Alhamdulillah, Nesia tetap menyempatkan ke Depok. Subhanallah, ternyata tidak hanya Teh Tethy yang memakai niqab, Nesia pun menutupi sebagian wajahnya dengan kain kerudungnya. Keren … alhamdulillah.

Berbeda dengan Irma atau Teh Tethy, yang saya masih kontakan di fb, sama Nesia benar-benar tak ada kontak. Tapi bukan berarti saat bertemu kami canggung. Kami tetap ngobrol biasa dan penuh keakraban.  Temanya seputar anak, teman, kuliah Nesia, kegiatan saya sekarang, Jepang, Islam, budaya Indonesia, sedikit menyinggung duna tulis-menulis, dan masih banyak lagi.

Nesia tak lama di rumah.  Dia harus pulang menyiapkan makan malam. Ya, dengan kesibukannya kuliah dll, Nesia tak punya asisten. Masalah ini pun sempat kami obrolkan. Mungkin, kebanyakan orang Indonesia yang sekaya (ups! maaf, Nes :d) dan sesibuk Nesia, tidak mempunyai asisten bagaikan kiamat. Tapi, tinggal sepuluh tahun di Jepang, membuatnya tidak terlalu memikirkan keberadaan asisten. Kalau ada syukur, enggak ya gak papa.

Gak ada foto dengan Nesia. Percaya aja, ya, ini bukan hoax :d

*****

Itulah cerita saya bertemu dengan tiga teman dekat yang sudah seperti saudara selama hampir sepuluh tahun, namun selama itu juga belum pernah sekali pun bertatap muka.

Sekarang ini, silaturahim tak mengenal jarak lagi dan tak perlu harus bertemu. Namun, bertatap muka langsung tetap menimbulkan kesan yang berbeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s