Guru Tak Langsung

Lebih dari setahun ini, selain masih menekuni profesi sebagai penulis, saya pun menjadi editor lepas. Profesi yang tak ada hubungannya dengan kuliah saya dulu di Fakultas Pertanian, sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Jawa Barat.

Lantas, apakah karir yang saya rintis ini hasil belajar sendiri? Tanpa seorang guru? Tentu saja tidak. Saya pernah mengikuti workshop online penyuntingan naskah dengan seorang editor. Setelah itu pun, saya pun masih sering bertanya-tanya, dan belajar dengan beliau selama beberapa waktu. Dan, selang beberapa bulan kemudian, saya memberanikan diri melamar menjadi editor lepas di sebuah penerbit. Setelah dites satu buah naskah, alhamdulillah diterima, namun dengan berbagai catatan. Ya, masih ada kesalahan saat mengedit, yang harus saya perbaiki. Kini, saya dipercaya menjadi editor di beberapa penerbit. Tentu saja tetap sebagai editor lepas.

Sekian lama berkutat dengan pekerjaan ‘mencoret-coret naskah’ saya pun teringat masa lalu. Ternyata, saya pernah diajar secara tak langsung oleh dua orang guru, untuk menjadi seorang editor. Beliau adalah ibu dan dosen saya.

Sekitar tahun 80-an, saat surat-menyurat masih menjadi satu-satunya cara untuk menjalin komunikasi jarak jauh, saya sering diminta Ibu untuk menulis surat pada Bude yang tinggal di Jakarta. Minimal setahun tiga kali, setelah terima rapor. Yang saya tulis, biasanya nilai-nilai rapor yang selalu bagus dan ranking 1 *sombong :p*. Bukan … bukan masalah itu yang ingin saya ceritakan :p.

Saat menulis surat itu, saya disuruh Ibu menggunakan bahasa jawa kromo alus! Bukan hal yang mudah buat anak seusia SD seperti saya. Setelah saya berusaha menulis semampunya, kertas saya berikan kepada Ibu. Dan … Ibu akan mencoret kalimat-kalimat yang salah, meminta saya untuk membetulkan. Tidak seperti menulis di komputer seperti sekarang, tinggal tekan delete bagian yang salah, waktu itu, saya harus menulis ulang lagi di kertas yang lain! Tak hanya sekali dua kali tentu saja. Kalau saya salah menulis pun, harus kembali menulis ulang. Ibu tak mengizinkan ada coretan dalam tulisan saya. Dan … sepertinya saya belum kenal tip ex. Kalaupun tahu, barang itu terlalu mewah buat saya waktu itu.

Saat itu, dalam otak saya, tentunya belum mengenal kata editor. Mungkin begitu juga dalam pikiran Ibu, beliau pun mungkin tak mengenal profesi editor, apalagi meniatkan diri mengajar putrinya menjadi seorang editor. Tapi tanpa disadari, saya sedang ‘dididik’ oleh Ibu untuk menjadi seorang editor.

Pengalaman ke dua adalah ketika kuliah. Saat tingkat akhir, saya dan teman-teman sibuk mencari dosen pembimbing. Ada seorang dosen yang ‘dijauhi’ oleh teman-teman. Selidik punya selidik, masalahnya adalah beliau sangat teliti! Bukan teliti masalah penelitian, namun lebih pada cara penulisan. Awalnya, saya pun tidak berani meminta beliau menjadi dosen pembimbing. Tapi setelah dipikir ulang, daripada mendapat dosen antik yang kadang ‘tidak jelas maunya’, mending dosen ini!

Benar saja! Ketika membuat proposal penelitian, saya mulai merasakan ‘ketelitian’ beliau. Tapi, semua itu bisa saya lalui. Ya, makalah proposal tidaklah banyak. Hanya beberapa lembar. Sekali dua kali perbaikan, semua sudah oke.

Setelah itu, saya pun melakukan penelitian selama hampir setahun. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Begitu penelitian selesai saya mulai menulis hasilnya dan menyerahkan draft pertama pada beliau. Dan begitu dikembalikan pada saya … alamaak … coretannya banyak sekali!! Mulai dari tata bahasa, EYD, kalimat yang benar, juga isinya!

Naskah segera saya perbaiki. Ternyata, saat ke dua kalinya menyerahkan draft pun, masih banyaaak sekali coretannya! Demikian juga yang ke tiga. Benar juga kata teman-teman saya. Beliau sangat teliti! Tapi kepalang tanggung. Yang penting, penelitian sudah selesai! Itulah yang membuat saya tetap semangat. Melihat penelitian teman-teman yang belum selesai, saya merasa jauh lebih beruntung. Sekarang, saya ‘hanya’ fokus pada penulisan. Ya, dibandingkan dengan penelitian yang kadang gagal, bukankah membetulkan tulisan jauh lebih ‘ringan’? Walaupun, seringan-ringannya saya tetap bolak-balik nge-draft sama beliau. Dan akhirnya … setelah hanya beberapa coretan saja, beliau berkata, “Besok bawa draft yang saya coret ini berikut yang sudah diperbaiki! bagian yang saya coret, tolong ditandai dengan lipatan!”

Fiuhh … lega rasanya. Bukankah ini tanda bahwa semua ‘penderitaan’ ini akan berakhir? Betul juga, itulah terakhir kalinya saya nge-draft, dan setelah itu diizinkan untuk menjilid skripsi saya itu.

Ibu dan Pak Dosen. Secara tak langsung, beliau berdua telah mengajar saya untuk menjadi seorang ‘pencorat-coret naskah’. Terima kasih tak terhingga pada Ibu Waryati, SPd dan Bapak DR.Ir. Bambang Sapto Purwoko, MSc. Semoga tulisan saya kali ini, sudah tidak ada coretannya lagi. Hehehe.

Advertisements

5 thoughts on “Guru Tak Langsung

  1. “Beliau”. Ck ck ck… jadi merasa seperti pendekar berambut putih di film silat.
    Ayo tulis dong tentang karya-karya yang diedit, proses kreatifnya, dll:))

  2. tulisan di blog ini sudah 100% bebas typo 😀
    ooooo… jadi itu sejarahnya jadi editor handal yaaa… okedeh, berhubung dulu dosen pembimbingku gak kayak gitu, ya gak jadi editor ra po2 wes xixixiii…. sungguh komen yg absurd 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s