RAKIT POHON PISANG

 

Idealnya, di tengah semakin tergerusnya alam menjadi wilayah pemukiman atau industri, kita tetap harus berusaha mendekatkan anak dengan alam. Yah, walaupun ini adalah hal yang agak sulit dilakukan. Apalagi mengajak anak bermain di sungai, sawah, atau tempat lainnya yang benar-benar alam. 

Adalah kesempatan emas, ketika beberapa waktu lalu, suami mengadakan penelitian bersama para mahasiswanya di pemandian air panas di desa Diwak. Sebuah tempat wisata di dusun Kalisori, kelurahan Diwak, Bergas, kabupaten Semarang. Wisata yang jauh dari terkenal, apalagi bila dibandingkan dengan pemandian air hangat di Candi Gedong Songo. Bertahun-tahun tinggal di Semarang, saya pun baru mengetahui tempat ini. Padahal lokasi ini sangat mudah dicapai, karena hanya perlu menempuh perjalanan tak kurang dari limabelas menit dari jalan raya Semarang-Solo.  Jalan masuknya tepat di depan PT. Sosro, dan berada di belakang pabrik jamu Sido Muncul. Pemandangan alam yang asri jauh dari polusi, masih bisa didapatkan di sini.

Berendam di air panasSetelah menuruni tangga yang cukup curam, dengan pemandangan sawah yang menghijau, kami pun sampai di pemandian air panas dengan tiket masuk yang sangat murah, seharga dua ribu rupiah saja. Pengalaman yang memberi warna lain pada anak-anak, mandi di sebuah bak mandi raksasa dengan air hangat. Walaupun awalnya jijik, karena airnya sangat keruh, tapi lama-lama mereka menikmatinya juga.Rakit pohon Pisang

Di sebelah kolam, ada sungai. Rupanya, sungai itu pun menarik minat anak-anak dan membuat penasaran mereka untuk mencoba mandi di sungai. Dengan pengawasan para bapak, anak-anak itu mencoba bertualang di sana. Mata anak-anak itu berbinar, ketika menemukan sebuah batang pohon pisang yang tersangkut di bebatuan. Tak lama, mereka pun asyik bergantian menaikinya. Seorang naik, seorang lagi mendorong. Kemudian, batang itu ditarik lagi ke atas. Ya, mainan ini berbeda jauh dengan banana boat. Lokasinya pun hanya di sebuah sungai kecil di kampung. Tapi, wajah mereka mengatakan, mereka gembira. Mungkin, kegembiraan ini tak jauh berbeda bila mereka saya bawa ke sebuah wisata terkenal dan menaiki banana boat dengan biaya yang mahal :d

Advertisements

Flow, Hanyut dalam Pekerjaan

Beberapa waktu lalu, saya menyunting sebuah buku teks manajemen tentang soft skill. Salah satu pengetahuan baru yang saya dapatkan dari naskah itu adalah tentang ‘flow’ saat bekerja. Artinya kita ikut hanyut dalam pekerjaan kita, sehingga tak merasakan itu sebagai beban kerjaan, namun menikmatinya. Enak sekali kalau bisa kerja dengan asyik masyuk seperti itu, ya!

Apakah saat menyunting naskah itu, saya pun mengalami flow? Ups! Langsung meringis serasa tertampar, deh. Apalagi, ini adalah pengalaman pertama saya menyunting naskah non fiksi dewasa. Baiklah, jujur saya katakan, ada banyak hal yang membuat saya sering mengerutkan kening, meremas atau menjambak rambut, juga tanpa sadar mengetuk tuts keyboard keras-keras (begitu sadar, langsung berhenti, karena kalau keyboard rusak, rugi sendiri :p) bila menemukan kalimat yang salah, namun tidak bisa memperbaikinya, bahkan mendapati jalan buntu. Pusing, kan?

Tapi, tentu saja tidak keseluruhan naskah membuat saya seperti itu! Ada juga bagian yang membuat saya manggut-manggut, termasuk saat menemukan bahasan tentang flow ini. Bahkan, ada beberapa bagian naskah yang memang bisa membuat hanyut, sehingga tak merasa sedang bekerja melainkan membaca sebuah buku menarik yang banyak pelajaran di dalamnya.

Paling menyenangkan adalah saat mengoreksi setelah editing pertama (proof). Saya juga merasakan kepuasan batin karena bisa membuat tulisan lebih menarik dan lebih mudah dipahami dibandingkan sebelumnya.

Hem, kenapa saya tiba-tiba mikir pekerjaan lain, ya? Apakah seorang asisten rumah tangga, penyapu jalan, tukang sampah, atau profesi sejenis bisa merasakan flow? Masya Allah, maka nikmat manakah yang kau dustakan?

Eh, setelah menulis ini, saya tiba-tiba memikirkan profesi saya yang lain. Apalagi kalau bukan sebagai ibu rumah tangga. Pernahkah saya bisa hanyut saat menyapu, mengepel, beres-beres, memasak, memilah-milah baju yang akan dimasukkan mesin cuci, mengucek baju anak yang terkena lumpur atau noda, menjemur, dan  lainnya? Hihi ….

Ah, ini, sih pembahasannya lain lagi, kali, ya. Enggak usah merasa berdosa, deh, kalau tidak bisa flow. Ingat-ingat aja materi pengajian yang sering saya ikuti. Kalaupun enggak flow, tetap harus selalu berusaha ikhlas … ikhlas … dan ikhlas. Lagipula, semuanya itu hanya masalah pembiasaan. Kalau terbiasa, pekerjaan itu terasa ringan. Dan, insya Allah, baju yang kita cuci, lantai yang kita sapu atau pel, kompor, alat-alat masak, dll, akan menjadi saksi amal shalih saya di akhirat nanti. Aamiin …:)

HADIAH RESENSI

hadiah resensi 

Seperti yang sudah saya tuliskan di sini, salah satu enaknya bila resensi kita dimuat adalah mendapat hadiah dari penerbit yang bukunya kita resensi.

Alhamdulillah, beberapa hari lalu, saya mendapat hadiah dua buku dari penerbit Bhuana Ilmu Populer, karena resensi “50 Dongeng Aesop Fabel Flanel, Unik & Seru” dimuat di Kompas Anak.

Lumayan, kan, dua buku gitu, lho! Harganya berapa, tuh? Eh, matre banget, sih :p

Saya bagikan tulisan yang dimuat itu, ya. Di bawah ini adalah tulisan asli dari saya. Silakan dibandingkan dengan tulisan yang dimuat (lihat di gambar). Tuh, judulnya diedit, lho.

****

Judul               : 50 Dongeng Aesop Fabel Flanel, Unik & Seru

Penulis Ulang  : Watiek Ideo

Ilustrasi           : Dini Capungmungil

Penerbit           : BIP Kelompok Gramedia

CERITA KEBAIKAN DALAM AESOP FABEL

Aesop fabel adalah cerita binatang yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu, dan masih terus lestari hingga kini. Aesop fabel mengandung pesan moral yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Walaupun begitu, cerita tetap menarik, unik, dan tidak terlalu panjang, sehingga disukai anak-anak.

“Semut dan Merpati” menceriterakan tentang seekor semut yang nyaris tenggelam terseret arus sungai. Namun, dia selamat karena ditolong merpati yang menjatuhkan sehelai daun. Lain waktu, semut menggigit seorang pemburu yang akan menembak merpati, sehingga selamatlah merpati yang dulu pernah menolongnya.

“Kelinci dan Kura-Kura” mengajarkan kita untuk tidak sombong seperti kelinci yang mengejek kura-kura karena jalannya sangat lamban.  Pelajaran apa yang bisa didapatkan dari cerita seekor gagak yang berusaha menyelam ke dalam danau, karena ingin bulunya seputih dan secantik angsa?

Ada banyak pelajaran dalam limapuluh cerita pendek ini. Uniknya, ilustrasi dibuat dari kain flanel yang membuat semakin seru. (Aan Wulandari-Semarang)Aesop

Igloo ala Shofie

Beberapa hari lalu, saya dapat rezeki dua buah payung sekaligus. Satu payung dikasih pengurus darma wanita, satu lagi dapat karena menang kuis :d

Sore hari saat hujan, Shofie main bersama dua orang temannya. Tiga payung di rumah pun ‘megar’ semua :p. Entah dipinjamkan kepada temannya untuk hujan-hujanan atau sekedar mainan. Dari dalam rumah, saya mendengar Shofie dan temannya main jual-jualan.

Keesokan harinya, melihat payung yang masih terbuka, Shofie ingin main rumah-rumahan menggunakan payung itu. Terus … melihat ‘atap rumah’ yang bulat, rupanya dia teringat igloo. Alhasil, diambilnya sprei dan dikerudungkan ke atasnya. Jadilaaah … igloo warna kuning!

Igloo ala Shofie

Shofie terinspirasi membuat igloo ini karena membaca Majalah Bobo. Ceritanya, Upik, Coreng, dan Bobo membuat ‘Kampung Igloo’ dari payung. Nah, kalau Emak mengizinkan anak-anak main, asal nanti membereskan sprei, sedangkan Shofie enggak ngebolehin emak-emaknya beres-beres igloo, sampai dia bosan main. Alhasil, dari kemarin, di ruang tengah ada igloo :p

Eh, rupanya si Wonka pun senang ama igloo ini. Dia masuk ke dalam, dan tidur di sana dengan nyenyaknya. Apalagi, sampai berkali-kali, setiap habis ke luar makan atau minum, dia masuk lagi dalam igloo! Shofie sampai ngakak melihatnya. “Wonka … Wonka …,” katanya geli.

Ohya, Shofie sempat protes dengan ilustrasi di cerita bergambar ini. Di sana, digambarkan membuat igloo hanya menggunakan satu payung, tangkainya dimasukkan dalam sebuah lubang sehingga bisa berdiri.

“Kalau cuma satu payung, kok, enggak bisa, sih?!”

Haha …! Saya jawab saja, “Payung yang dipakai Bobo, payung besar kaliii!”

MULAI MENDONGENG

 

Membaca tulisan Mba Ary Nilandari di sini,  membuat saya tersadar. Selama ini, saya hanya melakukan read aloud pada Shofie dan jaraaang sekali mendongeng. Nyaris tidak pernah! Pemikiran saya waktu itu, bahasa saat mendongeng kurang bagus. Kalimat yang diucapkan secara spontanitas tentunya tak sebaik teks di buku.

Tapi, setelah membaca tulisan Mbak Ary itu, pikiran tentang mendongeng jadi berubah. Saya justru terinspirasi. Mendongeng bisa menjadi solusi atas masalah saya selama ini! Ya, saya akan mendongeng untuk cerita-cerita yang belum disukai Shofie.

Maksudnya?

Saya hobi mengumpulkan buku bacaan untuk anak-anak. Baik buku-buku lama (cerita klasik, karya enid blyton, road dahl, dll) maupun buku baru, yang terdiri dari cerita fiksi, sains, maupun kisah Islami. Dari semua buku itu, Shofie sangat pilah-pilih. Ada banyak buku yang ditolaknya, kalau saya mau membacakan untuknya. Terutama buku agama, seperti kisah nabi dan rasul, shahih bukhari, dan lainnya. Padahal, menurut saya itu bagus dan penting! Wajib baca, deh.

Sebenarnya, saya pernah curhat masalah Shofie belum mau dibacain buku-buku agama  di Facebook. Sharing dari Retno dan Mba Ary Susanti sangat menarik. Retno melakukan read aloud ketika anak-anak main, juga bermain semacam sandiwara bersama anak-anak.

 

Sementara Mba Ary Susanti mendongeng dan membuat anak penasaran dengan cerita yang sengaja dibuat menggantung. Atau sengaja membuka dengan kalimat yang sudah membuat anak-anak penasaran. “Kalian sudah tahu, kan, cerita tentang ini?” Biasanya, pertanyaan anak-anak adalah, “Belum. Cerita apa? Cerita apa?” Langkah awal yang bagus untuk mendongeng!

Setelah mendapat hal itu dari Retno dan Mba Ary, saya sempat mempraktikkan read aloud ketika Shofie sedang main. Awalnya dia menolak.

buku agama

“Shofie, enggak mau baca itu!”

“Shofie main aja. Enggak dengerin juga enggak papa. Mama lagi pengin baca keras, kok.”

Dia manyun sambil tetap melanjutkan main. Saya pun tetap membaca :d

Shofie masih terus menunjukkan wajah tidak antusias, sampai saya selesai membacakan kisah pendek tentang nabi Adam as.

Tapi … ternyata, yang saya bacakan tetap dia tangkap, lho! Suatu hari, sepulang TPQ, dia bercerita, “Ma, tadi Ustazah cerita kayak yang diceritain Mama dulu itu, lho! Tentang Nabi Adam.”

Oalala … tiwas, asal membaca keras saat dia sedang beraktivitas itu tidak saya lanjutkan :((

Untuk memulai sebuah kegiatan positif, kadang kita (eh, saya :p) memang perlu ada ‘sesuatu’ dulu sebagai pembangkit, yak. Tulisan Mba Ary  di blog itu pun jadi pembangkit saya untuk memulai kebiasaan baik saya kali ini. Ya, saya akan memulai mendongeng kisah nabi dan rasul, juga cerita lainnya, yang selama ini Shofie belum tertarik dengan bukunya.

Dua malam ini, setelah read aloud buku pilihannya (edu comics tentang penemuan dan penciptaan), lampu sudah dimatikan, dan dia mulai kriyep-kriyep mengantuk, saya pun mendongeng Nabi Nuh as. Ohya, tentu saja, sebelumnya, saya baca dulu bukunya, dong! Saya baca buku kisah nabi dan rasul versi anak, bukan karya Ibnu katsir yang tebal itu.Yah, saya, kan, lupa! Eh, saya pun tidak hafal juga dengan kisah para nabi itu :p

Alhamdulillah … acara mendongeng sukses! Shofie tertarik. Tidak menolak sama sekali saat saya mulai bercerita. Bahkan sempat diskusi sebentar, sebelum akhirnya dia terlelap 🙂 Hari ke dua, dia malah minta diceriterakan lagi, usai saya mendongeng Nabi Hud as. Akhirnya, saya mendongeng kisah kelahiran Rasulullah Saw. Tapi, kurang maksimal, karena saya kurang persiapan, hanya mengandalkan ingatan saja :p

Alhamdulillah. Satu masalah terpecahkan. Sekarang, masalahnya adalah saya bisa konsisten atau tidak dengan kebiasaan ini? Hehe … konsisten alias istiqamah memang bukan sesuatu yang mudah. Tapi, harus … harus … harus … diupayakan. Iya, kan? Yuk, semangat!