Flow, Hanyut dalam Pekerjaan

Beberapa waktu lalu, saya menyunting sebuah buku teks manajemen tentang soft skill. Salah satu pengetahuan baru yang saya dapatkan dari naskah itu adalah tentang ‘flow’ saat bekerja. Artinya kita ikut hanyut dalam pekerjaan kita, sehingga tak merasakan itu sebagai beban kerjaan, namun menikmatinya. Enak sekali kalau bisa kerja dengan asyik masyuk seperti itu, ya!

Apakah saat menyunting naskah itu, saya pun mengalami flow? Ups! Langsung meringis serasa tertampar, deh. Apalagi, ini adalah pengalaman pertama saya menyunting naskah non fiksi dewasa. Baiklah, jujur saya katakan, ada banyak hal yang membuat saya sering mengerutkan kening, meremas atau menjambak rambut, juga tanpa sadar mengetuk tuts keyboard keras-keras (begitu sadar, langsung berhenti, karena kalau keyboard rusak, rugi sendiri :p) bila menemukan kalimat yang salah, namun tidak bisa memperbaikinya, bahkan mendapati jalan buntu. Pusing, kan?

Tapi, tentu saja tidak keseluruhan naskah membuat saya seperti itu! Ada juga bagian yang membuat saya manggut-manggut, termasuk saat menemukan bahasan tentang flow ini. Bahkan, ada beberapa bagian naskah yang memang bisa membuat hanyut, sehingga tak merasa sedang bekerja melainkan membaca sebuah buku menarik yang banyak pelajaran di dalamnya.

Paling menyenangkan adalah saat mengoreksi setelah editing pertama (proof). Saya juga merasakan kepuasan batin karena bisa membuat tulisan lebih menarik dan lebih mudah dipahami dibandingkan sebelumnya.

Hem, kenapa saya tiba-tiba mikir pekerjaan lain, ya? Apakah seorang asisten rumah tangga, penyapu jalan, tukang sampah, atau profesi sejenis bisa merasakan flow? Masya Allah, maka nikmat manakah yang kau dustakan?

Eh, setelah menulis ini, saya tiba-tiba memikirkan profesi saya yang lain. Apalagi kalau bukan sebagai ibu rumah tangga. Pernahkah saya bisa hanyut saat menyapu, mengepel, beres-beres, memasak, memilah-milah baju yang akan dimasukkan mesin cuci, mengucek baju anak yang terkena lumpur atau noda, menjemur, dan  lainnya? Hihi ….

Ah, ini, sih pembahasannya lain lagi, kali, ya. Enggak usah merasa berdosa, deh, kalau tidak bisa flow. Ingat-ingat aja materi pengajian yang sering saya ikuti. Kalaupun enggak flow, tetap harus selalu berusaha ikhlas … ikhlas … dan ikhlas. Lagipula, semuanya itu hanya masalah pembiasaan. Kalau terbiasa, pekerjaan itu terasa ringan. Dan, insya Allah, baju yang kita cuci, lantai yang kita sapu atau pel, kompor, alat-alat masak, dll, akan menjadi saksi amal shalih saya di akhirat nanti. Aamiin …:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s