[Terbit] Seri Aku Anak Sehat_Al Kautsar for Kids

Enam judul

Alhamdulillah, akhirnya terbit juga buku ini. Perjalanannya yang panjang membuat saya perlu memutar otak untuk mengingatnya.

Awalnya, saya ‘hanya’ ingin membuat sebuah cerpen anak fantasi, tentang anak yang tak suka makan sayur untuk dikirim ke media. Judulnya Raksasa Dize. Dize berasal dari kata disease, penyakit. Nila moralnya, kalau tak makan sayur, tubuh akan rentan terhadap penyakit. Ketika cerpen itu jadi, saya malah urung mengirimkan ke media. Tiba-tiba terpikir untuk membuat serial “Keajaiban Gizi” yang mengupas makanan sehat, dengan menambahkan tema karbohidrat, buah, dan lauk. Sengaja, tak saya sertakan susu, karena saya tak memberikan susu pada anak-anak secara rutin, baik susu formula maupun susu UHT atau susu segar. Bukan aliran fanatik tidak minum susu, lho, ya! Karena bila mereka mau, saya tidak melarang, kok. Saya hanya tidak menjadikan minum susu sebagai kebiasaan rutin, apalagi membuat susu itu seolah-olah makanan pokok.

Yup! Akhirnya empat judul buku pun selesai saya buat … tahun 2010! Haha …! Sudah lama sekali, ya!  Waktu itu sedang ‘musim’ buku bilingual. So, biar sesuai trend, dan membuat penerbit mau melirik, saya pun ikut-ikutan. Tapi … tapi … bahasa Inggris saya ini parah banget! Saya tidak mau buku ini asal nginggris. Akhirnya, seorang teman yang terkenal mumpuni bahasa Inggrisnya dan suka membaca (poin ini penting sekali menurut saya), juga seorang penerjemah dan editor, mau membantu saya dengan suka rela untuk menerjemahkan. Alhamdulillah.

Akhirnya, saya kirim cerita ini ke sebuah penerbit bulan Juni 2010 dan … diterima!! Senang, dong! Ya jelas, lah. Apalagi, waktu itu saya masih pemula banget. Kabar buku diterima penerbit itu luaaar biasa. (Eh, sekarang juga masih kalau menerima kabar naskah diterima tetep seneng, sih :d)

Tapi … setelah sekian lama menunggu kelanjutannya, rupanya naskah ini belum ditakdirkan untuk terbit. Ada pergantian kepemimpinan di penerbit itu. Banyak yang kena imbasnya, termasuk naskah saya yang sudah di-acc ini. Katanya … naskah ini tidak bisa diterbitkan!! Masya Allah. Kecewa? Sudah jelas. Tapi, saat itu perhatiannya saya malah lebih tertuju pada Mbak Editor. Dia sangat merasa bersalah, tidak enak hati, atas keputusan ini. Untuk ‘menebus’nya, dia selalu mengabarkan berita bila ada penerbit yang sedang mencari naskah, mengenalkan pada editor lain dengan memberikan kontak, pokoknya dia ikut mencarikan ‘rumah’ buat naskah saya ini. Duh, kasihan sekali saya melihatnya. Padahal jelas, itu bukan kesalahannya, tapi dia tampak ikut menanggung malu.

Setelah itu saya mendengar kabar lain. Kejadian ini tak hanya menimpa saya seorang. Banyak penulis lain yang bernasib sama, bahkan ada yang lebih parah. Ya, walaupun empat judul buku, tapi bentuknya pictorial book, jadi hanya terdiri dari beberapa halaman. Bayangkan penulis lain yang telah membuat novel ratusan halaman.

Ups! Eh, maksud saya menuliskan ini bukan untuk membuat penasaran penerbitnya, ya. Maaf, saya tidak akan menjawab pertanyaan, “Penerbit mana, sih?” Tujuan saya agar teman-teman mengambil pelajaran bahwa setiap naskah itu mempunyai jalannya sendiri. Jadi, kalau teman-teman mempunyai pengalaman seperti ini, jangan sampai membuat mood menulis drop, ya! Segera bangkit dan serbulah penerbit lain. Penerbit tak hanya satu, kok. Satu lagi, rezeki tak mungkin tertukar. Pasti itu.

Setelah sempat mutar-mutar di beberapa penerbit, alhamdulillah, naskah ini tidak terduga diterima di Al Kautsar for Kids. Ooh … Kautsar, ya? Sudah langganan diterbitkan di sana, sih. Jadinya gampang ‘masuknya’. Eiitts … jangan bilang gitu, ya. Walaupun sudah kenal akrab sama editornya dan beberapa buku saya terbit di sana, tapi … naskah saya juga sering ditolak, lho! Haha …. makanya, enggak nyangka juga naskah ini bisa diterima. Soalnya, saya tahu ‘selera’ si Mbak editor ini tinggi banget! Dan, gaya penulisannya agak berbeda dengan gaya buku Al Kautsar for Kids.

Dan benar saja …. Si Mbak Editor ini memang tertarik dengan tema dan ceritanya, namun penampilan perlu dipermak total! Ya, dia tidak puas dengan tulisan saya :p. Saya perlu revisi yang enggak main-main, haha! Ampuuuun.  Dia mengatakan bahasa inggrisnya enggak perlu, jumlah halaman dikurangi, dari 32 halaman jadi 24 halaman saja, dan saya perlu menambahkan fakta ilmiah yang dituliskan dalam bentuk komik di setiap halaman! Nah, lho! berapa komik lagi yang perlu saya bikin untuk naskah pictorial book 24 halaman? Yup! 11 komik setiap judul. Jadi, satu buku itu ada cerita, komik, dan fakta ilmiah sebagai pengetahuan,!! Beuh, benar-benar tipe emak-emak yang enggak mau rugi, deh. Sekali membelikan buku anak, kalau bisa dapat macam-macam! Haha …!

Terus … dia meminta lagi untuk menambahkan susu, jadi biar empat sehat lima sempurna. Nah, ini yang susah! Soalnya tidak sesuai dengan idealisme saya, haha. Saya komunikasikan hal ini padanya.

“Rasulullah Saw., kan, minum susu,” katanya.

Jawaban yang membuat saya garuk-garuk kepala. Ya, dalam hati saya membenarkan. Dan memang, hal ini yang terus menjadi tanda tanya. Bagaimanakah cara Rasulullah Saw. minum susu? Apakah setiap hari? Seberapa banyak? Sebatas yang saya tahu, Rasulullah Saw. minum susu kambing. Apalagi saat beliau kecil dan dalam pangasuhan Halimah As Sa’diyah ra. Dari pemikiran itu, dan juga terinspirasi novel klasik “Heidi” saya pun menuliskan tentang susu kambing! Jadilah judul “Cairan Ajaib Nak Eta” dalam seri ini. Eta berasal dari kata kambing etawa. Soalnya, setiap browsing susu kambing, ketemunya susu kambing Etawa :d

Oke, satu judul sudah beres. Ilustrasi juga sudah oke. Sampai kemudian … datang lagi sebuah kabar dari Mbak editor ini. Toko buku terkenal yang biasa menjadi distributor andalan tidak mau menjual buku yang terlalu murah. Buku bergambar 24 halaman paling dijual dengan harga tidak sampai Rp20.000,00. Apalagi buku Al kautsar for Kids, yang dikenal bisa memberi harga murah namun tetap menjaga kualitas. (Muji-muji penerbitnya, dong. Biar makin disayang, huehe …)

“Lha, terus gimana?” Saya sudah khawatir aja enggak jadi diterbitkan :p

“Satu buku untuk dua cerita, ya.”

“Oooh, siap!” Langsung bernapas lega. Saya, sih, oke, saja. Bahkan begitu mendengar satu buku dua cerita, langsung teringat sebuah buku anak dengan dua kaver di sampul depan atau belakang. Segera saya foto buku itu, dan dikirim ke Mbak editor yang langsung menerima dengan suka cita ide saya ini. *Bangga*

Dia kaver satu buku

Tapi, bukunya jadi ganjil, dong! Kan baru lima judul. Nambah satu judul lagi, apa, ya? Sempat konsultasi dengan teman penulis. Beliau menganjurkan buku dengan tema makanan tidak sehat. Ada yang mengandung pengawet, pewarna, dll. Menarik. Tapi … saya perlu banyak riset! Haha … dasar pemalas! Akhirnya kepikiran, deh, tentang olahraga.

Saat menulis tema olahraga ini, sebenarnya saya enggak enak hati, nih. Soalnya, saya juga masih jarang olahraga rutin, xixi.  Alhamdulillah, beberapa minggu lalu, sebelum buku ini terbit, saya sudah rutin ikut senam, lho! Jadi, sekarang enggak beban moral, karena saya enggak sekedar omdo alias omong doang!

Sesudah setor naskah itu, hati rasanya plooong. Masa, sih, mau ada ‘sesuatu’ lagi yang menghambat proses terbitanya buku itu, haha …! Alhamdulillah, memang setelah itu, saya tinggal menunggu, kok. Tahu-tahu, ada kabar dari penerbit kalau buku ini sudah proses cetak. Terus, ada inbok di Facebook dari mbak administrasi menanyakan alamat saya lagi. Berubah atau tidak?

Dan … sampailah tigapuluh eksemplar buku dengan ilustrasi warna-warni yang menggairahkan ini di rumah.

Dan inilah semua judul buku itu:

1a. Negeri Warna-Warni, cerita Dio terdampar di Negeri Warna-Warni yang semua rumahnya berbentuk buah-buahan.

1b. Melawan Raksasa Dize, pengalaman sayuran bersatu melawan Raksasa Dize yang bersiap menyerang manusia.

2a. Kakek Omega, petualangan Dio memancing di tengah laut dan bertemu dengan Kakek Omega di dasar laut.

2b. Karbo Si Anak Super, Dio diajak Karbo mencari harta karun yang membuat tenaga super

3a. Si Bulat Sporty, ini, nih, yang mengajarkan olahraga, biar tidak lihat teve atau nge-game terus :d. Sentilan buat saya, biar enggak di depan laptop terus :p

3b. Cairan Ajaib Nak Eta, pengalaman Dio ikut menggembala kambing bersama anak kambing lucu bernama Nak Eta.

Ini ya, salah satu contoh gambar dalamnya. Pas tengah, di bagian bawah cerita, dituliskan, “Baliklah buku ini, untuk menenikmati cerita lainnya” :d

Ilustrasi dalam pas di tengah

Harga setiap buku Rp30.000,00 saja, lho! Kalau beli semua seri dari saya, tentu ada diskon menarik selain dapat tanda tangan cantik dari penulisnya :d

Yuk, ah, dikoleksi untuk anak, keponakan, saudara, teman, dan lainnya :d

Advertisements

Penemuan Shofie di Tahun Baru

Sebenarnya, saya termasuk orang yang menanggapi biasa-biasa saja dengan pergantian tahun. Yah, sama dengan hari lainnya. Tapi, rupanya pergantian tahun kali ini mempunyai arti penting buat Shofie, karena dia jadi menemukan ‘sesuatu’. Emaknya lebay :p

Rupanya, pergantian tahun yang diikuti dengan pergantian kalender di rumah, membuat Shofie jadi lebih sering memperhatikan kalender lama dan baru. Pengamatan itu menjadi pembelajaran tersendiri buat Shofie. Dia bisa menemukan beberapa hal, tanpa saya harus ‘mencekoki’nya.

Hal pertama yang menjadi penemuannya adalah pergantian tahun.
“Oh, jadi … kalau bulan Desember sudah habis, terus Januari, tahunnya ganti, ya! Kemarin, kan, 2013, setelah Januari jadi 2014.” Dia berkata sambil manggut-manggut :d

Beberapa waktu kemudian, dia terlihat membandingkan satu kalender dengan kalender lainnya. Tiba-tiba dia berteriak kebingungan. “Mama! Di kalender ini, tanggal 31 bulan Maret merah, kok, yang ini enggak ada?”
“Masa, sih, Dik?” Saya pun ikut memperhatikan kalendarnya.
Ternyata, karena di kalendar yang satu, angka 31 tertulis kecil, yang membuat luput dari perhatiannya.
Obrolan ini menunjukkan, dia paham bahwa semua kalender apapun modelnya harusnya sama.

Dan terakhir, lama berselang dari obrolan di atas … dia cengar-cengir memberi tebakan pada saya.
“Mama, aku tahu, lho, satu tahun itu ada berapa bulan. Mama tahu enggak?”
Saya sempat bingung sebentar, mau menjawab atau enggak, ya? Tapi akhirnya saya jawab juga, “Duabelas bulan, ya?”
“Lho, kok, Mama tahu, sih?” katanya heran :d “Aku tuh mikir-mikir sendiri, lihat-lihat di kalender, jadi tahu kalau setahun ada duabelas. Mama dulu tahunya gimana?”
“Wah, Mama lupa, Dik,” jawab sambil nyengir. Iya, ya? Dulu kok bisa tahu, prosesnya gimana, ya?

Yah, sebenarnya hanya penemuan sepele untuk anak yang berusia menjelang tujuh tahun. Tapi hal ini membuat saya semakin yakin, bahwa anak benar-benar seorang self learner sejati, dia bisa berpikir mandiri.