Gado-Gado yang Gagal: Tiga Pak Man

Tanggal 22 Januari 2013, saya mengirimkan naskah “Tiga Pak Man” ini ke redaksi Majalah Femina, untuk rubrik Gado-Gado, tapi rupanya belum berjodoh. Beberapa bulan kemudian, saya mendapat konfirmasi bahwa naskah ini tidak bisa dimuat.

Jadi, saya posting di sini, aja, ya 😉

*****

TIGA PAK MAN

Oleh Aan Wulandari U

Saya tinggal di sebuah perkampungan. Walaupun sudah banyak tanah terjual pada pendatang (seperti saya), namun masih banyak penduduk asli di sini. Nama beberapa warganya belum termodernisasi. Sebut saja, ada Ibu Ngasiyem dan Ibu Paikem. Juga Bapak Ratijan, Bapak Ramijan, dan juga nama-nama lain. Saya sering kesulitan menghafal nama mereka yang mirip-mirip ini. Bahkan, beberapa kali, saya salah orang.

Di antara mereka, ada tiga nama yang sangat dekat keluarga saya. Bapak Suliman, adalah tetangga sebelah rumah. Pak Ngasiman, tukang bangunan yang menjadi langganan kami kalau bebenah rumah. Beliau pun tinggalnya satu RT dengan saya. Satu lagi, Bapak Mantarso, tetangga beda RT. Dia adalah suami Bude, orang yang membantu saya mencuci dan menyeterika baju, juga bersih-bersih rumah. Nah,  ketiga oarng ini dipanggil dengan sebutan yang sama, yaitu Pak Man!

Suatu hari, di siang bolong, saya dikagetkan ketukan keras di pintu. Rupanya ada bapak-bapak dari RW lain mencari istrinya Pak Mantarso alias Bude. Saya ketahui namanya Pak Bani.  Saat itu, Bude sudah pulang. Biasanya pukul sepuluh, pekerjaan rumah tangga sudah selesai, dan dia melanjutkan bekerja di tempat lain.

“Kenapa, Pak?” tanya saya.

“Pak Man. Kecelakaan. Sekarang di rumah sakit!”

“Masya Allah! Ya, saya hubungi hapenya, Pak!” saya ikut panik.

Berkali-kali, saya coba telpon Bude, tapi tak ada jawaban. Mau sms, takut membuat Bude panik, dan nanti malah berakibat tidak baik. Saya coba telpon suami, meminta dia untuk ke rumah sakit. Tapi tidak diangkat juga. Maklum, kantornya terbuat dari tembok tebal, sinyal sering tak sampai ke hapenya. Akhirnya, saya sms agar pulang kantor kalau memungkinan.

Masih kebingungan, terbetik ide menelpon tetangga saya yang lain, yang rumahnya di depan rumah Bude. Namanya Bu Ati. Bisa! ayangnya, beliau sedang di luar rumah, sehingga tak mengetahui kabar ini. Mendengar kabar dari saya, beliau terkejut, dan berjanji secepat mungkin akan mengabari saya.

Sekitar setengah jam, ada telpon masuk dari Bu Ati.

“Bu, ini Pak Man sehat, kok! Sedang bekerja membetulkan rumah saya,” katanya. Untuk lebih meyakinkan, bahkan saya diminta untuk berbicara langsung dengan Pak Man.

Bu, niki kulo Pak Man. Mboten nopo-nopo, kok,” katanya yang artinya, Bu, ini saya, tidak ada apa-apa, kok.

Tentu saja saya bingung. Apakah salah orang?

Tak lama, Bude menelpon saya. “Maaf, Bu. Hape saya habis batrenya. Terus siapa yang kecelakaan ya, Bu? Apa Pak Suliman, tetangga sebelah?”

Saya katakan tidak mungkin, karena jelas-jelas Pak Bani mencari Bude. Bukan Bu Man, tetangga sebelah.

Sampai asar, saya masih belum mengetahui orang yang dimaksud Pak Bani. Rumah sebelah kosong, tak ada orang. Tapi saya ketahui pasti, Bu Man sedang masak di rumah orang yang sedang hajatan. Sedangkan Pak Suliman tentunya masih bekerja.

Sampai kemudian, Bude telpon lagi. “Bu, jangan-jangan yang kecelakaan Pak Suliman, ya? Saya sudah ngecek pak Man Ngasiman, dia juga tidak apa-apa. Sekarang sedang kerja,” katanya.

Lho, kok bisa? Saya pergi ke sebelah rumah. Rumahnya masih kosong. Saya masih tetap berpikir, istri Pak Suliman sedang memasak di rumah tetangga, dan Pak Suliman sedang bekerja.

Menjelang magrib, barulah semua ini terjawab. Yang kecelakaan benar-benar Pak Man Suliman. Ternyata, Pak Bani ke rumah sebelah, tapi tidak ada orang. Akhirnya, dia mencari Bude, untuk mencari tahu, tetangga sebelah saya pergi ke mana.

Setelah itu, Bude juga cerita. Begitu Bu Ati sampai di rumah, dia langsung ke rumah Bude. Dan bertanya dengan nada panik, “Bude, gimana Pakde? Tidak apa-apa?”

Alhasil Bude bingung. “Lho kenapa? Bukankah Pakde bekerja di rumah Bu Ati?”

Ternyata, saking paniknya, Bu Ati tidak memperhatikan kalau Pakde alias Man sedang memperbaiki rumahnya. Menurut cerita Pak Man, Bu Ati bahkan melewatinya saat bergegas ke rumah Bude. Tapi, dia tak memperhatikan kalau itu Pak Man. Ya ampun!

Selain itu, Bude juga bertanya pada istri Pak Ngasiman. Wanita setengah baya itu mengirim sms yang bertuliskan, “Bojomu ora popo?” yang artinya, suamimu enggak papa?

Alhasil, istri Pak Ngasiman langsung telpon dengan panik. “Memangnya suamiku kenapa?” katanya kaget setengah curiga. Kenapa wanita lain yang menanyakan suaminya?

Setelah dijelaskan duduk permasalahannya, istri Pak Ngasiman pun mengecek ke tempat kerja suaminya. Dia lega, ketika suaminya tak kenapa-kenapa.

Rupanya, tiga Pak Man, ini menjadi cerita seru di antara tetangga satu RT. Bahkan, selalu ada cerita ini setiap ada membezuk Pak Man Suliman, membuat semua tergelak, di depan Pak Man yang babak belur dan terbaring di rumah sakit.

“Oalah … harusnya ada nama Pak Man A, Man B, dan Man C, atau ganti nama sekalian saja, biar tidak keliru!”

****

Alhamdulillah, walaupun yang ini tak dimuat, naskah lain yang berjudul “Paparazzi” tayang di Femina. Udah lama, sih. Femina no 37, September 2013.

Paparazzi

Buat teman-teman yang mau kirim naskah untuk “Gado-Gado” Majalah Femina, berikut informasinya:

Tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik dua spasi, nama dan tokoh bisa disamarkan, kirim ke kontak@femina.co.id

Lapbook dari Kardus Snack

Beberapa hari ini, setiap malam Shofie belajar aqidah dari buku “Pendidikan Tauhid untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas 1”. Sebuah buku yang disusun berdasarkan kurikulum standar kerajaan Saudi Arabia.

Saya mendapat rekomendasi buku bagus ini dari teman, pada saat Shofie sering minta ‘buku belajar’, sebutan Shofie untuk buku aktivitas. Untuk anak seumur dia, buku aktvitas yang ada palingan matematika, mewarnai, dan, menghubungkan titik, lain sebagainya. Dia sudah tidak begitu tertarik. Apalagi, saya juga ingin buku aktivitas lain yang lebih ‘manfaat’. Sebenarnya, di internet banyak lembar kerja yang bertema agama, sains, dan lainnya. Namun, semua itu berbahasa inggris. Shofie tidak mau :p

Setelah beberapa hari belajar dengan cara membaca dan mengerjakan soal dari buku itu, saya jadi mikir-mikir. ‘Seharusnya, Shofie enggak hanya begini dalam mempelajari buku ini. Baca dan mengerjakan soal saja apakah ‘masuk’ dalam benak dan hatinya, ya?’ Namun, saya tak mendapatkan solusi.

Qadarullah, teman saya Retnadi Nuraini, sharing tentang lapbook. Jujur, saya kurang kreatif untuk membuat seperti itu. Tapi, melihat link yang dia tautkan, saya jadi tertarik. Apalagi, contoh lapbook itu adalah “Allah Maha Pencipta”, pas sekali dengan yang sedang dipelajari Shofie di buku Tauhid itu.

Dengan membuat lapbook, tentunya materi ini akan lebih tertanam di hati anak, selain dia juga akan lebih kreatif. Ya, sebenarnya Shofie sangat suka craft. Namun, karena saya orangnya tidak kreatif dan … malas (alasan utama yang harus dibasmi, nih!), saya sangat kurang memfasilitasinya.
Suatu siang setelah rutinitas tiduran (istirahat) sambil baca buku (Shofie tak pernah tidur siang), saya perlihatkan gambar lapbook dari internet ini pada Shofie. Dia semangat untuk membuat.

Saya ambil kardus bekas snack untuk kartonnya. Tentu saja dibuka steplesnya. Shofie sendiri yang membuka steples-steplesnya itu. Dan setelah dibuka, malah tamak bagus, karena lipatannya sudah terbentuk. Selesai dibuka, mulailah saya membuat judul. Shofie langsung paham. Kardus dia minta, dan dia buat sendiri lanjutannya. Setelah itu dia juga yang menggambar.

Saya terpikir untuk menjadikan ini sebagai bahan belajar bahasa Arab dan Inggris sekalian. Emak enggak mau rugi :p Jadilah, saya tuliskan gunung, bintang, dan lainnya dalam dua bahasa. Saya pintar bahasa Arab? Hohoho … enggak, dong! Saya nyontek dari kamus online, kok.

Tuh, kan kelihatan penuh sekali gambarnya! Penuh tulisan!

lapbook
Kami mengerjakan ini sekitar satu jam, namun baru sampai membuat gunung dan malam hari saja. Kegiatan kami hentikan karena Shofie mau ngaji ke mushala dekat rumah. Bagi dia, ngaji adalah main, jadi ya tetap semangat berangkat walaupun sedang asyik membuat lapbook :d

Malamnya, baru kami lanjutkan lagi. Yaitu tentang Allah menciptakan tumbuhan dan hewan. Shofie punya ide menempel gambar hewan, jadi tidak digambar. Dia mencari sendiri buku yang ada gambar hewannya, kemudian difotokopi warna, baru digunting dan ditempel. Hewannya kebanyakan dinoasaurus, jadi enggak saya tulis bahasa Arabnya haha! Awalnya, padahal saya udah kepikir menggambar atau mencarikan gambar hewan seperti kelinci, kuda, unta, dan lain-lain (hewan-hewan ini sedang dipelajari bahasa Arabnya di pondoknya :d). Tapi karena Shofie sudah memutuskan itu, ya, sudah :d

Sedangkan untuk bab tumbuhan, dia gambar sendiri. Katanya, “kalau tumbuhan, sih, gampang!” Apalagi dia lagi suka gambar pohon kelapa. Saya ikut gambar juga. Tangannya ikutan gatel pengin corat-coret juga, hihi.
Dan … inilah lapbook perdana buatan Shofie dan Mama :d

Kebetulan sore tadi, Papa membawa pulang snack yang dikardusin. Kata Shofie, “Nanti bikin lagi pakai kardus itu ya, Ma!
Wew! Bikin tema apa, ya? Kardusnya agak besar, nih!