Review Buku Anak: Peri Sikat Naik Pesawat

Judul : Peri Sikat Naik Pesawat
Karya: Edgard Xavier FG (10 tahun)
Penerbit: BIP Kelompok Gramedia
Harga: Rp58.000,00
Buku Edgard

 

Dulu, ketika membaca status Mba Dian kalau dongeng Edgard sedang diilustrasi, aku udah langsung kepengin baca buku ini. Hem, karya penulis cilik yang tidak biasa, nih. Bukan novel, kumpulan cerpen, dll, seperti yang sudah beredar di pasaran.

Pas saat itu juga, ada murid lesku yang suka menulis fantasi, dan tidak bisa panjang! Catat! Tidak bisa panjang. Tulisannya bagus, imajinasi keren, tapi ya paling 1-2 halaman aja. So, aku makin enggak sabar nunggu buku Edgard. Berharap buku ini bisa jadi contoh buatnya untuk menulis. Nah, harapan tahap selanjutnya adalah muridku ini bisa mengikuti jejak Edgard menerbitkan buku di sana

*****
Alhamdulillah, ‘hanya’ dengan kalimat di atas, aku bisa mendapatkan buku ini gratiss … tiss …! Yup, kalimat itu aku ikutkan kuis manis yang diselenggarakan ibunda sang penulis cilik pengarang buku ini. Kalau enggak salah, sih, pertanyaan kuis itu adalah, “Apa yang membuatmu ingin memiliki buku ini!” Dan itu adalah jawaban dari hati terdalam, dan kayaknya sampai ke hati Mbak Dian. So, Mba Dian  jadi terketuk untuk memilihku jadi pemenang! Yeay!

Membaca sepuluh dongeng di buku ini, aku langsung berpikir “Buku apa saja yang dibaca anak ini?”
Katanya, tulisan tak akan jauh-jauh dari bacaan, kan?
Pertanyaan ini terjawab saat membaca profil penulis di sampul belakang. “Aku amat suka cerita dongeng. Sejak kecil, Mama selalu membacakan dongeng untukku.”

Semua dongeng di buku ini mengalir lincah dan khas anak-anak dengan idenya yang di luar dugaan. Lucu, endingnya lumayan bikin gemes. Tak ada sisipan-sisipan moral, yang biasanya sengaja diselipkan oleh penulis dewasa (Nunjuk hidung sendiri :p)

Walaupun buku ini sebanyak 85 halaman cerita, jangan bayangkan, Anda akan membaca 10 dongeng dengan tulisan yang panjang-panjang. Satu cerita hanya terdiri dari 6-8 halaman, dan masing-masing halaman terdapat 3-5 kalimat saja. Tentu saja, layaknya pictorial book, buku ini didominasi dengan ilustrasi yang menarik. Uniknya, setiap cerita diilustrasi oleh orang yang berbeda-beda. Ada lima ilustrator yang mempercantik karya penulis cilik ini. Gaya tiap cerita jadi tidak monoton. (Jadi pengin tahu, nih kejar tayang apa emang ada niat biar gambar gak ngebosenin, Mbak? :d)

Inilah komen bebasku terhadap isi dongeng-dongeng ini.

1. Laci-Laci di Otak
Belum-belum udah nyengir. Kok, kepikir gitu, ada laci di otak. Isinya dongeng-dongeng nenek, dan dikeluarkan ketika buku setebal bantalnya hilang.

2.Adikku Takut Hantu
Keren deskripsinya, nih. Kayaknya, kalau aku yang nulis, hanya akan bilang, adikku takut ke kamar mandi karena gelap. Adikku enggak berani tidur sendiri kalau lampu dimatikan. Kalau ini, mah, enggak! Penasaran, kan? Endingnya juga di luar dugaan. Kirain bakal berani. Ternyataaaaa …!

3. Perjalanan ke Bulan
Nemu roket di lapangan dekat rumah. Pergi ke bulan dan ketemu alien warna-warni, terus bersahabat, deh. Kelihatannya biasa, ya? Namun, biasa yang enggak biasa, lho!

4. Bantal Pengabul Permintaan
Ini juga kelihatannya biasa. Sebelum baca udah nebak isinya. Ah, paling-paling minta yang asyik-asyik sama si bantal. Tapi … hohoho …! Keren banget, lah!

5.Peri Sikat Naik Pesawat
Judulnya emang menarik untuk dijadikan judul buku, ya! isinya juga menarik, kok! Waktu baca ini, sih, aku ingat film Tinker Bell, yang masing-masing peri punya tugas sendiri-sendiri. Nah, Peri Sikat ini bertugas menyikat daun :d

6.Kenari-Kenari Kiko
Nyambungin kenari sama gigi palsu menggelinding itu idenya dari mana, Edgard?! Kamu kecil-kecil emang bikin ngiri banget, deh!

7.Telur Misterius
Tadinya, saya pikir akan keluar naga atau apa … gitu. Mana gambar telurnya besar. ternyata … hoho … kayaknya kalau dibikin film kartun keren, nih!

8.Paus Berbando
Eh, di cerita ini, Mbak Dian digambarin keren banget, loh! Mentang-mentang penulis, tetep baca buku di pantai, pakai kaca mata item. (Kenyataannya apa, iya? Nek aku melu nyebur :d) Sayangnya, gambar si Mama ini joget-joget sama si paus gak digambarkan dengan heboh. (Kalimatnya lumayan bikin penasaran, kan? :p)

9.Baju Marah-Marah
Hahaha … aku tahu asal ide ini! Daster itu, yaaaa …! Kalau pakai baju itu … pasti marah-marah :p

10.Nunu Naga Ingin Mainan
Nah, di antara semua cerita, inilah tulisan yang ber-ending pesan moral hahaha! Tapi, ceritanya tetap unik. Kebayang enggak, bantuan yang bisa diberikan seekor naga pada tukang sate? Saya enggak pernah kepikiran sama sekali!

Contoh isi buku Edgard

Selesai baca buku ini, saatnya untuk membacakan buat Shofie. Ternyata, dia malah membaca sendiri. Dan … di keramaian! Kalaulah cerita ini tak menarik, tentunya dia tak bisa konsentrasi.
Buku ini saya bawa, ketika mengantar si Papa periksa ke dokter. Di ruang tunggu itulah Shofie membaca beberapa cerita.
“Wah, ceritanya sedikit-sedikit, ya, Ma,” katanya.
Setelah itu, dia sibuk dengan dunianya.
Lama-lama, dia capai membaca sendiri, kemudian minta dibacain. Sebelumnya read aloud, cari posisi enak dulu. Kami cari bangku yang lebih empuk, dan Shofie bisa bersandar santai pada saya. Kebiasaan kami sih, kalau baca cerita begini sambil tiduran :))

Dia terbahak-bahak saat baca “Kenari-Kenari Kiko”. Lupa kalau lagi di tempat umum, hihi.

Ketika sampai di cerita “Telur Misterius”, dia tertawa lagi, dengan tawa yang lebih elegan. “Pasti burung-burung itu mengira anak ini mamanya!”

Ohya, suka tidaknya Shofie dengan cerita yang saya bacakan, biasanya terlihat dari komen-komennya. Lebih sering, dia tersenyum puas, begitu aku selesai membacakan satu cerita.

Edgard … jangan tambah besar kepala baca semua ini, ya! Beneran, nih, Tante enggak menemukan ‘kejelekan’ dalam cerita-ceritamu. Makanya muji melulu.
Pesan Tante, baca terus cerita bermutu, ya! Itu nanti akan sangat … sangat … berpengaruh pada cerita-ceritamu! Yuk, ah! Ditunggu buku selanjutnya!

FESPER 2014 (5): Field Trip Anak-Anak – Shofie Berani!

Jadwal selanjutnya setelah acara Permainan Keluarga adalah sharing: Serba-Serbi Homeschooling. Wah, membacanya saja sudah kebayang bakalan seru. Dan … kenyataannya memang lebih seru!

Saat orangtua ikut acara sharing, anak-anak ada kegiatan sendiri, yaitu field trip (begitu yang tertulis di jadwal :d). Saya tidak terlalu yakin Shofie bakalan mau mengikuti kegiatan itu. Jadi, yang ada dalam pikiran saya adalah: Shofie nempel saya ikut sarasehan atau saya nempel Shofie eh menemani Shofie ikutan field trip 🙂 Saya menunggu inisiatif dari dia sendiri, mau pilih mana. Saya tak mau memaksa Shofie untuk lepas dari saya. Semakin dipaksa, semakin enggak karuan hasilnya. Kalau mood udah jelek, malah parah, bisa merusak acara ber-Fesper-ria.

Saya bahkan meminta Syafiq untuk diam. “Biar Mama yang ngomong sama Adik, lho, Mas,” kata saya pada Syafiq dengan penuh penekanan :)) Intinya, enggak usah bujuk-bujuk Shofie atau lainnya. Soalnya, kalau Syafiq yang ngomong, ujung-ujungnya bisa maksa :p. Nah, kalau sudah terintimidasi kakaknya, ujung-ujungnya, Shofie bakalan ngambek.
Alhamdulillah, Syafiq mau diajak kerjasama ;))

Malamnya, saya hanya bilang pada Shofie kalau besok ada field trip untuk anak-anak, sementara orangtua ada kegiatan juga. Titik. bener-bener ‘titik’ karena Shofie juga enggak jawab apa-apa :d

Paginya, tanpa diduga, Shofie bilang, “Shofie mau ikut field trip, Ma.” Suaranya pelaaan banget saat ngomong gitu.
Saya (yang sebenarnya kaget saking senangnya) berusaha menanggapi biasa saja. “Ohya, sip!” gitu aja komen pendek saya.
Sebenarnya masih tampak keraguan di wajahnya. Antara pengin dan takut. Tapi saya biarkan aja. Daripada saya sok memotivasi, tapi malah salah ngomong :d

Alhamdulillah, acara anak ini dimulai terlebih dahulu. Jadi ada kesempatan buat ortu untuk ‘melepas’ anaknya, terutama yang masih kecil, untuk ikut kegiatan.

Image

Pertama, anak-anak dibariskan sesuai warna sticker yang ditempelkan di kartu peserta. Saya melihat kelompok Shofie. ‘Kok, anaknya kecil-kecil amat, ya?’ pikir saya.
Rupanya Syafiq punya pikiran sama. Dia mendekati saya, “Ma, bilang ama panitia, Shofie tuh salah kelompok kali. Kok, anak lainnya masih kecil. Nanti shofie enggak menikmati, lho.”

Saya pun bertanya pada panitia. Jawabannya adalah hanya remaja yang dikelompokkan sesuai umur, sedangkan anak-anak umur di bawahnya campur. Oh, ya sudah.

Anak-anak pun berbaris dipimpin kakak pengasuh. Orangtua berdiri melepas anak-anak, sambil ber-bye-bye ria. Setelah anak-anak menjauh, semua pun menempatkan diri di tenda besar untuk mulai acara “Sharing: Serba-Serbi Homeschooling.”

Rupanya, acara field trip ini seru juga, lho!
Dari foto-foto bidikan Pak Pars, jadi tahu kegiatan anak-anak adalah membuat manisan kedondong, menyetek pohon, membuat kompos dari daun-daun kering. Waaah … padat!

Image

Image

Image

 

Apakah Shofie menikmati?
Jujur, walaupun dia sudah menyatakan diri berani sendiri, saya masih was-was. Jangan-jangan dia sendiri terus. Jangan-jangan dia diaaam aja. Jangan-jangan … jangan-jangan …!
Walah, ini emaknya parah juga. Kalau hati emaknya belum bisa melepas gini, apakah enggak ngefek ke hati anaknya, ya? 😦
Ternyata, si Papa pun merasakan hal yang sama :))  Saat menjelang istirahat siang, saya diminta nengok Shofie. “Kali pengin pipis, dia enggak berani ngomong. Kali mau ke sini tapi enggak berani. Tengokin aja, daripada dia sekarang enggak nyaman, terus nanti-nantinya malah kapok,” kata si Papa dengan nada khawatir :d

Oke, deh, saya turun ke bawah, tempat anak-anak berkegiatan.Dan … di sana melihat Shofie sendirian aja di belakang! Huhu …!
Segera saya dekati. Eh … anaknya malah kelihatan enggak suka, saya samperin gitu :p
“Mama ke sana aja! Jangan di sini!”
Weleh, malah ngusir.
“Ya sudah, Mama di sebelah, ya!” Saya menunjuk tenda sebelah yang tak lain adalah mushala. Pas waktu itu terdengar azan dhuhur.
Shofie mengangguk.
Selesai shalat, saya lihat lagi anak itu. Masih sendiri :((
Tapi … tetep, enggak mau ikut saya. Saya malah diminta membawa nasi box jatah makan siangnya. “Shofie enggak suka,” katanya.
“Shofie mau pipis, enggak?” tanya saya hati-hati.
Dia menggeleng cepat.

Akhirnya, saya naik lagi ke atas, menuju tenda kegiatan. Di sana, peserta sudah mulai makan siang.
“Shofie mana?” tanya suami.
“Enggak mau ikut. Padahal ya gitu …,” saya ceriterakan semuanya.
“Ya sudah kalau gitu.”

Tak lama, acara anak-anak selesai. Shofie berlari mendekati kami. Dan … langsung cerita, “Nanti ada acara anak-anak lagi. Shofie mau ikut!” katanya semangat. Dan, benar saja, dia selalu berangkat dengan riang gembira menuju tempat acara anak-anak, sementara saya dan papanya tetap di tenda besar mengikuti sarasehan demi sarasehan.

Mungkin dia menikmati semua itu dengan caranya sendiri. mencoba melawan rasa takut dan malunya dengan caranya juga. *Si emak berusaha usir galau dari hati :d

Selanjutnya, Shofie selalu semangat main ‘sendiri’. Ke sana ke mari sendiri. Dia terlihat menikmati walaupun belum berhasil membaur dengan anak lainnya, dia tetap senang. Hal ini tertuang dalam cerita tentang Fesper yang ditulisnya.
Kalimat pertamanya adalah “Dulu aku kemah. Namanya Fesper. Aku senang sekali. Tapi, aku enggak punya teman, tapi tetep seneng.”

Image

Yah, jangankan anak-anak. Ternyata orangtua pun bisa saja mengalami hal ini. Mbak Wiwiet membahasakannya dengan kata ‘diesel’. Lama panasnya. Bahkan, di statusnya, Mbak Wiwiet merasa kesepian, karena suaminya asyik foto-foto, putranya gabung sama teman-temannya, dan dia pun belum bisa berteman di tengah banyaak orang yang sebenarnya sudah menjadi teman-temannya di dumay.

 

FESPER 2014 (4) : Permainan Keluarga – Ternyata Tracking!

Hari ke dua kemah. Saya kaget, ketika terbangun melihat di luar rasanya terang benderang. Alhamdulillah, ternyata itu penerangan dari lampu. Masih pagi, tidak telat shalat subuh. Sebelum saya bangunkan, Shofie sudah nglilir duluan, dan semangat bangun. Kami pun ke kamar mandi, wudhu, dan menuju ‘mushala tenda’. Alhamdulillah masih bisa jamaah shalat subuh.

Selesai shalat, beres-beres tenda. Ngelipet sleeping bag, menata tas-tas, pokoknya biar tenda tetep rapi, deh. Malu, dong, sama teman sekamar kalau berantakan :p

Setelah itu kami ke atas, menunggu acara “Permainan Keluarga” yang dijadwalkan pukul 06.00.Bayangan saya, kami akan bermain games keluarga. Entah tebak-tebakan atau apa. Ada pengumuman dari panitia, kalau kami diminta membawa alat tulis. Wah, buat apa, ya?

Pukul enam, panitia yaitu kakak-kakak volunteer sudah siap. Sayangnya, peserta masih banyak yang belum kumpul. Satu di antara hal lain yang saya kagumi, semua kegiatan benar-benar on time. Keren, deh.

Pertama-tama, peserta kemah dikumpulkan berdasarkan kelompok. Setelah itu, dibagikan gelang dari dobel tips. Fungsinya untuk menempelkan benda-beda jatuh yang ditemui di jalan. Bisa biji-bijian, daun, buang, dan lainnya. Ingat! Yang jatuh, jadi bukan metik dari pohon, ya. Ide unik, nih.

Gelang dari dobeltip

Mulailah kami berjalan per kelompok. Shofie semangat sekali. Dia sibuk menempel semua benda yang ditemuinya dobel tip. Saking sibuknya, kami sampai tertinggal jauh di belakang hehe.

Jalan-Jalan

Tadinya, saya pikir acara jalan-jalan ini hanya keliling sekitar perkemahan. Ternyata, kami menyeberang jalan raya di depan lokasi dan masuk ke kebun kopi. Shofie Senang melihat pohon kopi yang pertama kali baru dilihatnya, juga menyapa ibu tani yang sedang mencabuti pohon jagung yang sudah dipanen. (Eh, yang menyapa saya, lho. Bukan Shofie, hehe) Selain itu juga melihat tanaman yang masih kecil yang ditutup pelepah batang pisang. Entah, tanaman apa yang di dalamnya. Saya duga itu tanaman cabe.

Tapi … tapi … lama-lama kelamaan, Shofie rewel juga! Kenapa? perjalanan ini ternyata jauh banget! Saya enggak persiapan. Selain pakai sepatu sandal yang kurang enak dipakai, juga enggak bawa minum. Weleh, mana suami dan Syafiq juga sudah berjalan di depan. Eh, emang mereka saya suruh duluan, sih. Habisnya … dua anak itu … -skip- :))

Pertama-tama, Shofie rewel karena gerah. Jaket dia lepas dan … mulai merengek-rengek. Haus dan capek! Waduh! Sempat kepikir nyegat orang yang naik motor xixi. Tapi malu, ah! Lagipula, kadar kerewelannya masih lumayan bisa ditolerir. Saya tidak perlu menggendongnya. Fiuh, salut juga dengan Mbak Ira yang masih kuat gendong Nara sambil tracking :d

Shofie juga ketakutan ketika melewati makam. Hihi … padahal tiap hari kami lewat pemakaman umum. lho. Untunglah kerewelan ini bisa terhenti sejenak, karena menemukan permainan tepuk daun, yang diajari Pak Sapta dari Yogya. Eh, bener enggak, ya, namanya tepuk daun. Ini mah kasih nama asal aja :p

Caranya:
Ambil daun yang agak lebar.
Satukan ujung ibujari dan kelingking sehingga membentuk rongga.
Letakkan daun di atasnya
Dan … pukul keras-keras.
Nanti akan terdengar suara “plok” lumayan keras, karena daun menjadi berlubang.

Selain Shofie, Nara, Diffi-nya Irma sangat antusias mainan ini, lho!
Setelah itu, kakak dari bumi perkemahannya mengajari membuat kalung dari daun pohon ketela pohon. Shofie biasa aja melihatnya, karena sudah biasa. Tapi … sepertinya ini permainan baru buat Diffi si anak kota.

Dan … setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya sampai lagi di perkemahan. Karena jalan masuk lewat lokasi tenda tidur, maka saya langsung ke tenda, tidak ke tenda utama dulu. Males naik turun, hehe. Langsung ambil baju dan mandi. Setelah seger, baru naik ke atas untuk sarapan. Menunya nasi goreng! Eheeem … ! Saya ambil nasi sedikit banget dan acara timun hampir memenuhi piring plus kerupuk udang. Enggak pakai telur ceplok segala, deh.
Terus gabung sama Mbak Cantik yang putra-putranya diberi nama para nabi (Adam, Ibrahim), ihiks … saya kok lupa namanya, ya? Beliau langsung ngomentari, “Ih, suka timun, ya!”
Haha … maklum menu aneh. Acar lauk nasi!

Habis sarapan, masih ada waktu agak panjang untuk kegiatan berikutnya. Eeeh … baru keingat! Kudu tukar kaos, nih! Maklum saja, saya, kan menggantikan Mba Mutiara. Selain kurang satu, kaos bapak-ibunya berkebalikan, hihi. Suami Mba Mutiara ukuran XL, kalau suami saya cukup L. Sementara kalau Mba Muti cukup pakai M, saya harus … XXL, haha! Kaos Farrel bisa dipakai Shofie, kemudian nambah kaos dewasa ukuran M untuk Syafiq. Alhamdulillah, karena termasuk golongan pertama yang tukar kaos, semuanya masih dapat. Eeeh … enggak, ding. Saya akhirnya pakai kaos XL karena yang XXL habis (Hayooo … siapa yang pakai ukuran itu? :d). Alhamdulillah, masih cukup, deh. Walaupun, kalau ingin rada longgaran, yang badan kudu dikurusin lagi, xixi.

FESPER 2014 (3) : Perkenalan Kreatif – Dadakan, Tapi Lumayan :d

Sepulang field trip, saatnya untuk check in, masuk dalam tenda sesuai dengan nomor yang telah diperoleh. Tenda ini tidak per keluarga, lho. Jadi, bapak-bapak sendiri. Anak yang sudah besar juga sendiri. Saya dan Shofie satu tenda. Kami pun membawa tas sendiri-sendiri menuju ke tenda yang sudah disediakan. Yup! Semua barang sudah saya pisah, termasuk punya Shofie. Jadi, dia pun harus membawa tasnya sendiri. Latihan mandiri :d

Saya dan Shofie sempat ‘salah tenda’, karena informasi yang saya terima dari kakak volunteer, ternyata berbeda. Kakak volunteer mengatakan, saya tetap bisa ke tenda 35 (sesuai dengan tenda untuk Mba Muti) dengan Shofie satu tenda bersama saya. Namun, ketika kami ke sana, ternyata tenda 35 untuk peserta yang lain. Hohoho …! Untung, Mbak Ira, seksi bagi-bagi tenda, tak jauh dari saya. Segera saya temui beliau, dan ternyata benar, saya bukan di tenda 35 lagi, melainkan di tenda 10 menggantikan Mba Dian dan Qonita, yang tak bisa ikut karena Pak Seno sakit.

Begitu masuk, Mbak Idaul sudah ada di dalam. Haaa …! Enggak nyangka bisa ketemu di FESPER bahkan satu tenda! Namun kenyataannya, Mba Idaul enggak pernah tidur di tenda. Kami pun jarang ngobrol :((

Selesai beres-beres, saya dan Shofie ke kamar mandi. Wei … antri! Akhirnya, saya dan Shofie memilih mandi di toilet, xixi. Yang penting cepet! Ternyata, banyak juga yang mandi di toilet. Eh, jangan membayangkan gimana-gimana, ya. Toiletnya bersiiih banget! Bahkan lebih bersih dibandingkan toilet saya di rumah xixi.

Selesai mandi, saya mengajak Shofie untuk wudhu sekalian, karena sebentar lagi magrib. Benar saja, begitu ke luar ke kamar mandi, terdengar azan. Alhamdulillah. Kami pun membawa baju kotor dan lain-lain ke tenda. Saat itu, ada Mba Lia dan putranya yang lucu, Abi. Abi langsung menyapa Shofie. Namun, Shofie diem saja, hihi. Yah, begitulah anak saya itu :d

Kami pun pergi ke “Mushala Tenda”. Ya, alhamdulillah disediakan tempat shalat yang cukup luas. Bukan di dalam ruangan tentu saja, tapi di tenda besar. Keran untuk wudhu pun ada banyak. Ketika saya sampai di sana, sajadah sudah ditata menghadap kiblat. Beberapa mukena juga tersedia. Bener-bener nyaman untuk shalat berjamaah. Senangnya lagi, mushala ini letaknya satu tangga di bawah tenda kami.

Ohya, lokasi shalat dan tenda ada di bawah. Sementara tenda besar untuk kegiatan dan makan, ada di atas. Jadi, semua urusan di bawah harus diselesaikan dulu, baru naik ke tenda besar untuk makan malam, kemudian diam di sana menunggu waktu kegiatan. Ini harus dipikirkan, lho, kalau enggak mau bolak-balik naik turun tangga. Sudah memikirkan seperti itu saja, pulang-pulang kaki rasanya masih gempor :p Begitu selesai shalat, kami menyimpan mukena di tenda, dan bersiap ke atas, untuk makan malam serta kegiatan.

Nah, acara malam pertama adalah perkenalan kreatif. Sebelumnya saya sudah membaca di grup Fesper, perkenalan kreatif adalah memperkenal diri dengan cara sekreatif mungkin. Bisa dilakukan perkeluarga atau per wilayah. Nah, jelas belum ada bayangan kami mau ngapain. Saya sempat kepikir, memperkenalkan per orang dengan cerita berima. Tapi … enggak sempat menyusunnya. Saat perjalanan ke Salatiga, saya pun membahas hal ini sama suami. Ide waktu itu adalah suami ngomong pakai bahasa Jawa mlipit ala pranata cara, kemudian saya terjemahkan. Tapi, belum fix juga, sih. Pokoknya masih blank, enggak ada ide, sampai acara dimulai!

Ketika acara dimulai, ternyata, acara perkenalan ini per daerah, bukan per keluarga.Nah, lho! Ada tiga keluarga dari Semarang, tapi kami belum komunikasi sama sekali. Sampai acara dimulai pun, kami tidak ‘saling bicara’.

Setelah acara berjalan beberapa saat, saya mendekati Mbak Ellen. Dan kami sama-sama bingung, hihi. Ya sudahlah, nanti perkenalan biasa saja, begitu jawab Mbak Ellen. Bahkan kami sempat bercanda, semoga saja panitia lupa kalau ada keluarga dari Semarang, jadi enggak perlu maju, haha! Terus, saya bilang sama Mbak Ellen, semoga keluarga Pak Ilik punya acara. Mereka, kan, keluarga seniman! Yah, semoga … semoga …, tapi karena tempat yang berjauhan, saya tidak sempat mengobrol dengan keluarga Pak Ilik. Sudahlah, gimana nanti aja!

Melihat acara perkenalan yang seru-seru, rupanya memantik ide Mba Ellen. Dan … tahu tidak idenya? Sama persis seperti yang saya obrolkan sama suami! Mbak Ellen mengusulkan perkenalan memakai bahasa jawa halu sehalus-halusnya, kemudian diterjemahkan! Nah, yang bertugas sebagai pranatacara tentu saja suami! Dan … penerjemahnya adalah Pak Thay, suami Mbak Ellen!

Yey! Saatnya maju.
Di panggung, Mbak Ellen bertanya pada putra Pak ilik yang remaja, mereka punya cara tidak? Ternyata jawabnya tidak.Ya sudah, sesuai rencana semula.

Mulai!
“Para pinilenggah kakung soho putri ingkang … bla … bla ….”

Belum-belum sudah terdengar teriakan, “Ora mudheng! Ora ngerti!”
Hahaha …! Ssstt … saya juga kalau udah bahasa seperti itu, tahunya dikit-dikit, lho! Ternyata, segitunya, yah, generasi kita meninggalkan bahasa daerah! *jewer telinga sendiri :p

Semarang

Setelah suami bicara beberapa kalimat, dengan kocaknya, Pak Thay berkata, “Artinya …bla …bla …”

Nah, saat ini, yang dari Yogya kelihatan ketawa-tawa, tapi yang lainnya tidak. Apa pasal? Bahasa terjemahannya juga salah! Hihihi …!

Sampai tiga kali terjemah aja, akhirnya kami memperkenalkan diri secara normal menggunakan bahasa Indonesia. Walaupun dadakan, tapi acara perkenalan kami lumayanlah, bisa bikin gerrr. Emang gerr ini penting banget, ya? Kalau enggak gitu, kok, rasanya enggak diperhatikan, haha!

Yeee … ini yang diceritain kok diri sendiri! Peserta lainnya juga seru-seru, lho! Apalagi yang sudah mempersiapkan diri.

Perserta terjauh dari Payahkumbuh memainkan musik dan nyanyian Minang (eh, bener, ya?).

Perkenalan Payahkumbuh1

Dari Bandung, walaupun spontanitas, lumayan gerr juga. Pak Otong (suami Mba Dina Sulaeman) memperkenalkan diri menggunakan pantun yang menarik.

Peserta dari Salatiga kayaknya juga spontanitas. Tapi keren juga. Lagunya tuh, asyik banget. Awalnya lupa, tapi endingnya, “Tan … tan … orangutan.” Siapa, tuh, yang orangutan?
Dan, inilah komentar dari Irma, yang menjelaskan pada saya di komen Facebook tentang orangutan itu 😀

Perkenalan Salatiga

Irma: Aku pertamanya juga ga ngerti maksud orang utan. Ternyata itu lagu yang dinyanyikan anak-anak SD di daerah Mba Septi untuk mendorong anak-anak bersekolah, supaya ga jadi orangutan. Sama-sama punya mata, hidung, tangan, kaki, tapi kalau manusia sekolah, orangutan enggak. Harusnya menyinggung HS-er, eh malah dipake jadi lagu kenegaraan HS-er, hahaha …!

Versi lengkapnya:
matanya sama, hidungnya juga sama
tangannya sama, kakinya juga sama
tapi ada satu yang berbeda
mereka sekolah kita tidak sekolah (harusnya kita sekolah)
tan … tan … orang utan … tan … orangutan … tan …!

Dan … ini, nih, yang heboh! Ketika peserta dari Jakarta yang naik panggung. Haiyaa … serasa semua penonton pindah ke panggung. maklum, peserta dari Jakarta ini paling banyak. Ada 89 orang (kalau enggak salah), dan kabarnya menempati satu gerbong sendiri di kereta dengan segala kehebohan anak-anak. Ditambah lagi, sempat latihan angklung di kereta malam-malam. Huaaa …! Untung, katanya hanya ada dua orang yang bukan rombongan. Dan … sering ditawari kue, biar enggak kesal, xixi. Wah, jadi pengin ngerasain gabung dengan rombongan ini :d

Kalau mau dengar cerita hebohnya saat di kereta, bisa baca tulisan Pak Aar di sini, nih.

Perkenalan Jabodetabek

Biar pun sendiri, peserta dari Bali juga memperkenalkan diri, lho!

Perkenalan Bali

Dari Yogya tak kalah heboh.
“Eee..haaa..eee..haaa..eeee…hopyaaa …!” Terdengar teriakan ramai seperti itu. Wah, serasa mau ikutan ber-hopya-hopya, deh :)) Cara perkenalan tiap keluarga juga unik. Setiap keluarga maju dengan memperagakan hobi masing-masing. Paling asik saat melihat Mba Ella, deh. Luwes banget gayanya :d

Perkenalan dari Yogyakarta

Terus peserta Jawa Timur, Cirebon, mana lagi, ya? Aduuuh, maaf enggak terekam dengan baik di otak yang sudah mulai menua ini. Pokoknya mah, acara perkenalan ini serrruuu!

FESPER 2014 (2): Field Trip – Rumah Wisata Kedelai

Seperti yang saya ceritakan di sini, kami telat datang ke Fesper. Sampai sana seppii, karena semua peserta sudah berangkat fieldtrip. Ihiks. Ketika saya tanya pada Mbak Yuni, panitia, apakah memungkinkan kalau kami menyusul ke lokasi? Mbak Yuni malah menyuruh kami istirahat aja di tenda besar. Weleh, lha kami mah enggak capai. Hanya Semarang- Salatiga gitu, lho! Walaupun macet, sih.
Rupanya, suami disarankan Pak Dodik untuk menyusul ke Du Vektor (Duver) saja. Lokasinya paling dekat dari tempat kami kemah dan paling gampang dicari.

Saat mau bersiap ke mobil, Mba Wieda datang. Weleh, ini orang Salatiga, kok, telat juga, sih? pikir saya. Ternyata, Via enggak mau ikut field trip karena mau renang dulu!

Siip! Saya pikir aman, deh, kalau bareng Mba Wieda. Penduduk asli, gitu,loh! Ternyata … Mba Wieda juga belum pernah ke Duver haha! Malah suami akhirnya yang tahu, ketika Pak Satpam bumi perkemahan ini bilang, lokasinya depan Hotel Ngawen.

Tak sampai 10 menit, kami sampai di Duver. Seneng lihat ada bus kecil berisi rombongan di sana! Yey, ketemu teman juga! Namun, mereka sudah selesai menjelajah Duver, dan bersiap menuju lokasi ke dua. Dan lagi, itu bukan rombongan kami!

Waaa … sempat bingung juga, nih! Mau masuk ke Duver sendiri, menyusul rombongan kami (yang katanya sedang di tempat pembuatan yoghhurt), atau gimana? Akhirnya suami dan Mba Wieda memutuskan ikut rombongan ini saja. Jelas dan pasti. Kalau kami mencari-cari rombongan kami, nanti malah muter-muter. Belum lagi kalau kejadian kayak gini. Begitu ketemu, eh … mereka sudah selesai!
Alhamdulillah, keputusan tepat, karena kami menikmati banget di lokasi berikutnya, Rumah Wisata kedelai! Menikmati cemilan dan minumannya, sertaaa mendapatkan banyak ilmu! Suami aja semangat, lho! Haha … emang, sih, yang kelihatan semangat lebih ke ortunya. Anak-anak mah sibuk sendiri! Paling heboh ketika ada es sunduk! Waa … langsung, deh, semangat ’45 beli es itu :d

Es Sunduk Aneka Rasa

Emang ada apa, sih di sana? Nih, cerita lengkapnya:

Begitu datang, kami diterima di teras rumah yang dindingnya terdapat berbagai poster tentang kedelai. Seorang ibu langsung menyambut kemudian menjelaskan tentang macam-macam kedelai dan cara memilah/menyortir kedelai yang bagus dan tidak.

Menyortir Kedelai

Namun, konsentrasi terpecah dengan stoples kecil yang berjejer di meja, dilengkapi dengan cup dari kertas untuk tempat camilan dalam stoples yang akan kami icip. Apa, sih, isinya? Kedelai goreng! Eits, tentu saja tidak kedelai goreng biasa. Ada kedelai rendah lemak rasa bawang, rasa keju, rasa vegetarian, dan … kedelai goreng tepung rasa keju, rasa manis. Hihi … siapa yang tak tergoda untuk icip-icip? Shofie paling suka kedelai goreng tepung rasa keju. Waaa … ambilnya sampai berkali-kali! Selain itu, di meja satu lagi, tersedia sari kedelai dan sari kacang hijau. Komplit!

Setelah itu kami masuk ke dalam rumah. Ya, Rumah Wisata Kedelai ini benar-benar rumah, bukan bangunan seperti pabrik. Di sana, dijelaskan aneka mesin yang digunakan untuk produksi kedelai. Ada mesin pelumur bumbu, pelumur tepung, dan mesin ayakan! Konon, dengan menggunakan mesin ini, untuk memproduksi 15kg kedelai yang semula memakan waktu 4-5 jam dengan tenaga kerja sebanyak dua orang, kini hanya membutuhkan waktu 40 menit dan hanya satu orang!! Ckckck … hebat, ya? Mesin ini kreasi sendiri, lho! Pak Eko, pemilik usaha ini, memodifikasi dari mesin bekas. Keren, enggak, sih?!

Mesin Ayak

 

Nahh … ada mesin yang paling menarik, nih! Namanya mesin cuci! Eh, bukan … mesin itu persis mesin pengering pada mesin cuci. Bedanya … ini untuk memeras minyak setelah digoreng! Dulu … pertama kali memulai usaha ini, Pak Eko dan istri membuat kacang telor yang dijual di warung-warung. Namun, belum sampai seminggu kacang itu sudah tengik dan tidak enak. Kebayang, enggak, kerugiannya? Terinspirasi dari mesin cuci, Pak Eko membuat mesin peniris. Ternyata, setelah memakai mesin ini, kacang jadi lebih awet dan tahan lama, bisa sampai enam bulan lebih! Olala …! (Sayang, saya enggak punya foto mesin peniris)

Proses menggoreng sebelum kedelai sampai di mesin peniris adalah seperti ini:
Kedelai basah digoreng di sebuah wajan. Setelah setengah matang, diangkat. Kemudian digoreng (dimasukkan dalam wajan lain). Jadi, menggorengnya dua tahap. Katanya, hal ini untuk mempercepat proses penggorengan, dibandingkan menggoreng dari kedelai basah, dan menunggu sampai kering.

Setelah matang, kedelai dimasukkan dalam mesin peniris, yang diletakkan di samping kompor. Mesin berputar … dan mengalirlah minyak di bawah. Persis mesin cuci!

Nah, kedelai goreng pun sudah siap, dan tinggal menunggu proses selanjutnya. Mau dibuat kedelai goreng aneka rasa, kedelai goreng tepung, dan lainnya. Ssst … walaupun begitu, kedelai ini juga udah enak, lho! Saya ambil beberapa kali untuk cemal-cemil sambil dengerin aneka penjelasan Pak Eko hehe!

Waktu itu, ada ibu-ibu yang bertanya tentang penggunaan minyaknya. Katanya, minyak hanya dipakai untuk enam kali goreng saja. karena bila lebih dari itu, akan mempengaruhi rasa. Pun, menggunakan minyak dengan merek yang sama, yaitu Barco. Katanya, kalau menggunakan minyak lain juga akan beda rasa.

Ssst … saat ngobrolin mesin peniris ini, suami bilang, “Wah, kalau gorengan di jalan-jalan itu pakai minyak peniris, asyik kali, ya!”
Haha … dia (eh, saya juga sih:p) emang hobi banget sama gorengan, walaupun sudah tahu itu makanan tak sehat :p

Selesai masuk ‘dapur’, kami melihat cara packing kedap udara kemudian … masuk sebuah toko kecil. Waaa … heboh belanja, deh! Habisnya, kedelainya enak. Eh, walaupun kedelainya enak, ini bukan kedelai impor, lho! Ternyata, ‘kunci’nya bukanlah di kualitas lokal atau impor, namun kedelai itu harus baru, dan masih ada kulit arinya! Bukan kedelai yang sudah dipanen lama dan disimpan di gudang. Kedelai ini dibeli di Grobogan (semoga gak salah dengar atau salah inget, ya).

Ohya, setelah kami di sini, suami cerita. Dia sempat bertanya pada Pak Eko, bagaimana kalau ada yang meniru mesin-mesin ini? Jawaban beliau sungguh aduhai!
Ya, pertama kali memang muncul kekhawatiran seperti itu. Bagaimana kalau ditiru,dan akhirnya banyak saingan yang membuat usaha sendiri tidak laku? Namun, dengan niat berbagi, semua ketakutan tak terbukti sama sekali. Sampai sekarang usaha tetap berjalan lancar jaya. Keren, Pak Eko! Semoga sukses selalu 🙂

Teman-teman yang mau ke sana, ini alamatnya: Perumahan Argomas Timur No. 31 Kota Salatiga Jawa Tengah. Tempat ini juga menjadi paket wisata One Day Tour dari Semarang.

Pak Eko Rumah Wisata Kedelai

FESPER 2014 (1): Qadarullah – Perjalanan Berliku Menuju Fesper 2014

Fesper

Benar-benar di luar dugaan, saya bisa ikutan FESPER 2014. Fesper atau Festival Pendidikan Rumah ke dua ini dilaksanakan di Salatiga, diikuti oleh 250 peserta yang terdiri dari 75 keluarga homeschooling se-Indonesia.

Tahun lalu, Fesper pertama dilaksanakan di Yogyakarta. Saya ikut juga, namun tidak ikut kemahnya, hanya mengikuti sarasehannya. Hal yang sangat saya sesali. Saya pun berniat ikut Fesper ke dua. Bahkan, walaupun di tengah perjalanan, anak-anak sudah tidak HS. Juni lalu, ketika Syafiq resmi masuk sekolah dia bilang, “Walaupun Syafiq sekolah, tetep ikut Fesper, ya, Ma.”

Ya, Syafiq akhirnya masuk sekolah formal, dengan sebuah alasan yang tak bisa saya kemukakan di sini. Adapun Shofie, sebenarnya tetap saya ‘gendoli’ untuk HS, dengan berbagai idealisme :p. Sayangnya, anak ini ‘ngeyel’ mau sekolah. Di saat yang sama, ada pembukaan sebuah pondok di dekat rumah. Pondok ini tidak ikut kurnas. Melihat visi misi dan kurikulumnya, saya pun memasukkan Shofie ke sana.

Akhirnya pendaftaran Fesper 2014 pun dibuka. Saya tidak buru-buru mendaftar. Enggak menyangka animo peserta sangat banyak. Baru sehari dibuka sudah … TUTUP!! Haiyaa …!

Kecewa? Hem, waktu yang hampir setahun itu rupanya perjalanan panjang yang bisa mengubah hati. Dibandingkan beberapa teman yang sepertinya sangat ingin ikut, dan sangat kecewa karena tidak mendapat kursi, ‘kekecewaan’ saya sepertinya tidak ada artinya. “Ya sudah,” begitu saja komentar Syafiq dan suami ketika saya beritahu bahwa kami tak bisa ikut Fesper. Fesper pun ‘hilang’ begitu saja dari pikiran saya.

Tak disangka, beberapa hari sebelum Fesper, Mbak Mutiara di Jakarta menelpon, meminta saya menggantikannya, karena kondisi kesehatannya tak memungkinkan untuk bepergian jauh dan ikut kemah. Saat itu, saya sedang bersama Syafiq di toko buku. Begitu saya beritahu hal ini, Syafiq senang sekali. Tapi … saya yang meringis. Menyediakan dana mendadak sebesar itu, membuat saya berpikir juga. Biaya per orang adalah Rp350.000,00. Dikalikan empat orang lumayan, juga, kan? Seharga sepeda lipat yang sedang diinginkan Shofie saat ini, menggantikan sepedanya yang sudah kekecilan. Terus, setelah diskusi dengan suami, beliau juga kurang antusias.

Saya pun mikir begini; Mungkin ada orang lain yang sebenarnya jauuuh lebih ingin dan membutuhkan ikut Fesper, jadi kesempatan ini bisa diberikan kepada mereka. Semoga ada orang lain yang bisa menggantikan Mba Muti. Esok paginya, saya lihat di FB Mba Muti, beliau memutuskan untuk tetap ikut Fesper. Alhamdulillaah ….

Tak disangka ….
Kamis pagi (sehari sebelum Fesper), Mba Muti telpon lagi. Saat itu saya sedang kursus nyetir ditemani Syafiq (Gara-gara srempetan dengan truk, saya kursus untuk menghilangkan trauma). Karena menelpon berkali-kali, saya minta Syafiq menerimanya, sekedar mengabarkan kalau saya sedang nyetir.

Selesai kursus, saya langsung pergi lagi karena ada acara lain. Jadi, telpon dari Mba Muti terlupakan. Baru ingat lagi sekitar pukul 10-an. Ternyata ada SMS. Hah?! Mba Muti nggak bisa ikut Fesper? Dan … saya diminta menggantikan! Dan … masya Allah, diberikan begitu saja, hadiah untuk Syafiq, katanya!! Olalala …!

Langsung telpon suami. “Ya, ikut aja, An. Mungkin memang jalanNya kita ikut.”

Nah, gantian saya yang bingung. Kami berempat, sementara Mbak Muti hanya bertiga. Jadi, nambah satu anak lagi. Bisa tidak? Ada tempat tidak? Saya harus menghubungi panitia. Mba Muti sudah SMS kontak Mbak Raken. Saya berkali-kali telpon Mbak Raken tidak diangkat. Lalu ingat, kalau di wa, ada kontak Mbak Septi. Saya wa beliau. Tak ada respon juga. Terpikir nama Mbak Ully. Beliau ini panitia Fesper Yogya. Saya pun SMS Mbak Ully. Enggak dibalas juga. Gimana ini? (Baru tahu, ternyata Mba Ully tidak ikut Fesper).

Tak lama, ada balasan dari Mbak Septi, mengabarkan kalau Mbak Raken di pesawat, dan beliau sendiri yang akan menanyakan ke panitia.

Setelah beberapa saat menunggu, ada jawaban dari Mba Septi. Alhamdulillah … bisa!

Nah, sekarang bingung beberes, deh! Saya pun izin gak ikut taklim, agar bisa menyelesaikan beberapa urusan domestik. Ehh … saat itu ada email, menanyakan saya sibuk atau enggak? Ada job menyunting. Waduh! Saya jawab, kalau deadline sampai Selasa insya Allah bisa. Ternyata, job itu butuh waktu cepat, saya tak dikontak lagi. Belum rezeki :d. Hikmahnya adalah saat Fesper enggak kepikiran kerjaan 🙂

‘Gara-gara’ mikirin Fesper, hampir saja lupa, kalau sore ini, kami ketempatan pengajian bapak-bapak. Waks! Padahal waktu itu menjelang ashar, dan pengajian dilaksanakan pukul 17.00. Walaupun hanya 15 orang, tapi harus persiapan juga, kan? Langsung deh, ngibrit pesan nasi kotak. Sepulang dari tempat pesan, terus pinjam gelas tetangga (hihi … saya hanya punya mug beberapa biji :p), beresin rumah. Namanya panik, ada aajaaaa yang lupa …! Pas mau bikin teh, eeehhh … kita gak punya teh celup! (Maklum, kami sudah jarang sekali minum teh). Menjelang magrib, kepikiran beli rambutan untuk buah. Langsung ngacir beli beberapa ikat. Sampai rumah, tetangga ngasih rambutan sebakul. “Ini, Bu, kalau mau buat buah pengajiannya Bapak.” Huaa … kenapa enggak dari tadi? *Ups! Dan … Tahukah yang terjadi? Udah rambutannya banyak, dapat tambahan dari tetangga, ehh …rambutannya lupa enggak dikeluarin! Haha! Rezeki kita, deh, bisa makan rambutan banyak-banyak. Jenis rafiah dan binjai, pula!

Sehabis Isya, baru ingat juga kalau harus ke dokter. Jempol Syafiq infeksi gara-gara kemasukan kulit rambutan saat mengupas. Sampai bernanah! Dua hari lalu sudah dibawa ke dokter, dikasih antibiotik, dan malam ini juga harus kontrol!

Pulang dari dokter, udah teler aja. Mau siap-siap baju, enggak ada daya. Akhirnya tiduran sambil lihat file-file di grup Fesper, untuk mempelajari persiapan yang diperlukan, sekalian melihat gambaran kegiatannya.

Pukul satu malam, adik di Magelang SMS. Katanya dia ke rumah sakit, karena suaminya sakit. Pusing dan muntah terus. Oalala …. Biasanya, kami kalau diberitahu ada keluarga sakit, langsung pulang. Kondisi sekarang, ya, enggak mungkin, dong. Saat di SMS itu, saya mikirnya dia hanya ke RS periksa dan pulang lagi.

Pagi harinya, saya masih ada jadwal kursus nyetir lagi yang terakhir. Setelah itu, beli perlengkapan Syafiq. Karena mendadak, banyak baju-baju yang tidak dibawa pulang, sehingga tidak cukup untuk kemah. (Ya, Syafiq boarding di Yogya, dan kebetulan lagi ‘bolos’ sekolah, hehe ).

Sekitar pukul 11.00, ada SMS dari adik. Dan … saya baru nyadar kalau adik ipar saya itu ternyata opname!! Haiyaaa …. Lha, gimana ma anak-anaknya? Sebenarnya, kewajiban saya adalah pulang, dan membantu menjaga anak-anak.

Ketika saya ceritakan pada suami, dia memutuskan untuk pulang. Ikut Fesper-nya, hari Sabtu aja, atau lihat kondisi. Pokoknya pulang dulu! Duuuh, gimana ini?

Akhirnya, saya ngomong terus-terang sama adik, sudah ‘telanjur’ mau ikut kemah. Saya menawarkan untuk mengajak anak-anaknya kemah sekalian. Pikir saya, yang jadi ‘masalah’ kan, anak-anak. Di rumah sama siapa, kalau bapak-ibunya di RS.

Akhirnya, keputusan kami adalah pergi dulu ke Salatiga, registrasi sekalian menanyakan apakah masih memungkinkan menambah dua anak untuk ikut kemah? Setelah itu baru ke Magelang ‘ambil’ dua keponakan saya.

Pukul satu siang, kami baru bisa berangkat. Sudah jelas telatnya. Tapi, pikirnya ‘hanya’ tidak ikut pembukaan. Saat fieldtrip udah bisa sampai Salatiga. Tapi, harapan itu pupus sudah, karena begitu keluar tol Ungaran, mobil sudah berbaris rapi!! Kami langsung ambil jalur alternatif. Sudah hafal, sih, sama jalur ini. Kan, sering pulang Magelang dengan jalur yang sama. Tapi … berniat lebih cepat lagi, kami ambil jalur alternatif lainnya lagi. Ternyataaa … kondisi jalannya parah!! Untuk jenis mobil kami yang sekarang, enggak bisa jalan cepat!! Kata Syafiq, “Duh, kalau lewat jalan begini, emang enak pakai Panther, ya!”

Alhasil, sampai Salatiga sudah seppiiii! Semua sudah berangkat fieldtrip. Saat itu terpikir untuk ‘ambil’ dua keponakan dulu di Magelang. Tapi, ada SMS dari adik, katanya anak-anak enggak usah diajak kemah. Biar bermalam di RS aja. Yo wis, ditegain aja tetep ‘bersenang-senang’ di atas penderitaannya.

Itulah perjalanan berliku, semua ini tentu atas kehendakNya, kuasaNya, qadarullah kami akhirnya bisa ikut Fesper 2014 ini.

Terima kasih tak terhingga untuk Mba Mutiara sekeluarga. Mbak Muti semoga segera sembuh, dan keluarga diberi keberkahan dan pahala yang berlipat. Aamiin. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.