FESPER 2014 (2): Field Trip – Rumah Wisata Kedelai

Seperti yang saya ceritakan di sini, kami telat datang ke Fesper. Sampai sana seppii, karena semua peserta sudah berangkat fieldtrip. Ihiks. Ketika saya tanya pada Mbak Yuni, panitia, apakah memungkinkan kalau kami menyusul ke lokasi? Mbak Yuni malah menyuruh kami istirahat aja di tenda besar. Weleh, lha kami mah enggak capai. Hanya Semarang- Salatiga gitu, lho! Walaupun macet, sih.
Rupanya, suami disarankan Pak Dodik untuk menyusul ke Du Vektor (Duver) saja. Lokasinya paling dekat dari tempat kami kemah dan paling gampang dicari.

Saat mau bersiap ke mobil, Mba Wieda datang. Weleh, ini orang Salatiga, kok, telat juga, sih? pikir saya. Ternyata, Via enggak mau ikut field trip karena mau renang dulu!

Siip! Saya pikir aman, deh, kalau bareng Mba Wieda. Penduduk asli, gitu,loh! Ternyata … Mba Wieda juga belum pernah ke Duver haha! Malah suami akhirnya yang tahu, ketika Pak Satpam bumi perkemahan ini bilang, lokasinya depan Hotel Ngawen.

Tak sampai 10 menit, kami sampai di Duver. Seneng lihat ada bus kecil berisi rombongan di sana! Yey, ketemu teman juga! Namun, mereka sudah selesai menjelajah Duver, dan bersiap menuju lokasi ke dua. Dan lagi, itu bukan rombongan kami!

Waaa … sempat bingung juga, nih! Mau masuk ke Duver sendiri, menyusul rombongan kami (yang katanya sedang di tempat pembuatan yoghhurt), atau gimana? Akhirnya suami dan Mba Wieda memutuskan ikut rombongan ini saja. Jelas dan pasti. Kalau kami mencari-cari rombongan kami, nanti malah muter-muter. Belum lagi kalau kejadian kayak gini. Begitu ketemu, eh … mereka sudah selesai!
Alhamdulillah, keputusan tepat, karena kami menikmati banget di lokasi berikutnya, Rumah Wisata kedelai! Menikmati cemilan dan minumannya, sertaaa mendapatkan banyak ilmu! Suami aja semangat, lho! Haha … emang, sih, yang kelihatan semangat lebih ke ortunya. Anak-anak mah sibuk sendiri! Paling heboh ketika ada es sunduk! Waa … langsung, deh, semangat ’45 beli es itu :d

Es Sunduk Aneka Rasa

Emang ada apa, sih di sana? Nih, cerita lengkapnya:

Begitu datang, kami diterima di teras rumah yang dindingnya terdapat berbagai poster tentang kedelai. Seorang ibu langsung menyambut kemudian menjelaskan tentang macam-macam kedelai dan cara memilah/menyortir kedelai yang bagus dan tidak.

Menyortir Kedelai

Namun, konsentrasi terpecah dengan stoples kecil yang berjejer di meja, dilengkapi dengan cup dari kertas untuk tempat camilan dalam stoples yang akan kami icip. Apa, sih, isinya? Kedelai goreng! Eits, tentu saja tidak kedelai goreng biasa. Ada kedelai rendah lemak rasa bawang, rasa keju, rasa vegetarian, dan … kedelai goreng tepung rasa keju, rasa manis. Hihi … siapa yang tak tergoda untuk icip-icip? Shofie paling suka kedelai goreng tepung rasa keju. Waaa … ambilnya sampai berkali-kali! Selain itu, di meja satu lagi, tersedia sari kedelai dan sari kacang hijau. Komplit!

Setelah itu kami masuk ke dalam rumah. Ya, Rumah Wisata Kedelai ini benar-benar rumah, bukan bangunan seperti pabrik. Di sana, dijelaskan aneka mesin yang digunakan untuk produksi kedelai. Ada mesin pelumur bumbu, pelumur tepung, dan mesin ayakan! Konon, dengan menggunakan mesin ini, untuk memproduksi 15kg kedelai yang semula memakan waktu 4-5 jam dengan tenaga kerja sebanyak dua orang, kini hanya membutuhkan waktu 40 menit dan hanya satu orang!! Ckckck … hebat, ya? Mesin ini kreasi sendiri, lho! Pak Eko, pemilik usaha ini, memodifikasi dari mesin bekas. Keren, enggak, sih?!

Mesin Ayak

 

Nahh … ada mesin yang paling menarik, nih! Namanya mesin cuci! Eh, bukan … mesin itu persis mesin pengering pada mesin cuci. Bedanya … ini untuk memeras minyak setelah digoreng! Dulu … pertama kali memulai usaha ini, Pak Eko dan istri membuat kacang telor yang dijual di warung-warung. Namun, belum sampai seminggu kacang itu sudah tengik dan tidak enak. Kebayang, enggak, kerugiannya? Terinspirasi dari mesin cuci, Pak Eko membuat mesin peniris. Ternyata, setelah memakai mesin ini, kacang jadi lebih awet dan tahan lama, bisa sampai enam bulan lebih! Olala …! (Sayang, saya enggak punya foto mesin peniris)

Proses menggoreng sebelum kedelai sampai di mesin peniris adalah seperti ini:
Kedelai basah digoreng di sebuah wajan. Setelah setengah matang, diangkat. Kemudian digoreng (dimasukkan dalam wajan lain). Jadi, menggorengnya dua tahap. Katanya, hal ini untuk mempercepat proses penggorengan, dibandingkan menggoreng dari kedelai basah, dan menunggu sampai kering.

Setelah matang, kedelai dimasukkan dalam mesin peniris, yang diletakkan di samping kompor. Mesin berputar … dan mengalirlah minyak di bawah. Persis mesin cuci!

Nah, kedelai goreng pun sudah siap, dan tinggal menunggu proses selanjutnya. Mau dibuat kedelai goreng aneka rasa, kedelai goreng tepung, dan lainnya. Ssst … walaupun begitu, kedelai ini juga udah enak, lho! Saya ambil beberapa kali untuk cemal-cemil sambil dengerin aneka penjelasan Pak Eko hehe!

Waktu itu, ada ibu-ibu yang bertanya tentang penggunaan minyaknya. Katanya, minyak hanya dipakai untuk enam kali goreng saja. karena bila lebih dari itu, akan mempengaruhi rasa. Pun, menggunakan minyak dengan merek yang sama, yaitu Barco. Katanya, kalau menggunakan minyak lain juga akan beda rasa.

Ssst … saat ngobrolin mesin peniris ini, suami bilang, “Wah, kalau gorengan di jalan-jalan itu pakai minyak peniris, asyik kali, ya!”
Haha … dia (eh, saya juga sih:p) emang hobi banget sama gorengan, walaupun sudah tahu itu makanan tak sehat :p

Selesai masuk ‘dapur’, kami melihat cara packing kedap udara kemudian … masuk sebuah toko kecil. Waaa … heboh belanja, deh! Habisnya, kedelainya enak. Eh, walaupun kedelainya enak, ini bukan kedelai impor, lho! Ternyata, ‘kunci’nya bukanlah di kualitas lokal atau impor, namun kedelai itu harus baru, dan masih ada kulit arinya! Bukan kedelai yang sudah dipanen lama dan disimpan di gudang. Kedelai ini dibeli di Grobogan (semoga gak salah dengar atau salah inget, ya).

Ohya, setelah kami di sini, suami cerita. Dia sempat bertanya pada Pak Eko, bagaimana kalau ada yang meniru mesin-mesin ini? Jawaban beliau sungguh aduhai!
Ya, pertama kali memang muncul kekhawatiran seperti itu. Bagaimana kalau ditiru,dan akhirnya banyak saingan yang membuat usaha sendiri tidak laku? Namun, dengan niat berbagi, semua ketakutan tak terbukti sama sekali. Sampai sekarang usaha tetap berjalan lancar jaya. Keren, Pak Eko! Semoga sukses selalu 🙂

Teman-teman yang mau ke sana, ini alamatnya: Perumahan Argomas Timur No. 31 Kota Salatiga Jawa Tengah. Tempat ini juga menjadi paket wisata One Day Tour dari Semarang.

Pak Eko Rumah Wisata Kedelai

Advertisements

One thought on “FESPER 2014 (2): Field Trip – Rumah Wisata Kedelai

  1. Pingback: FESPER 2014 (3) : Perkenalan Kreatif – Dadakan, Tapi Lumayan :d | Oyako no Hanashi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s