FESPER 2014 (5): Field Trip Anak-Anak – Shofie Berani!

Jadwal selanjutnya setelah acara Permainan Keluarga adalah sharing: Serba-Serbi Homeschooling. Wah, membacanya saja sudah kebayang bakalan seru. Dan … kenyataannya memang lebih seru!

Saat orangtua ikut acara sharing, anak-anak ada kegiatan sendiri, yaitu field trip (begitu yang tertulis di jadwal :d). Saya tidak terlalu yakin Shofie bakalan mau mengikuti kegiatan itu. Jadi, yang ada dalam pikiran saya adalah: Shofie nempel saya ikut sarasehan atau saya nempel Shofie eh menemani Shofie ikutan field trip ūüôā Saya menunggu inisiatif dari dia sendiri, mau pilih mana. Saya tak mau memaksa Shofie untuk lepas dari saya. Semakin dipaksa, semakin enggak karuan hasilnya. Kalau mood udah jelek, malah parah, bisa merusak acara ber-Fesper-ria.

Saya bahkan meminta Syafiq untuk diam. “Biar Mama yang ngomong sama Adik, lho, Mas,” kata saya pada Syafiq dengan penuh penekanan :)) Intinya, enggak usah bujuk-bujuk Shofie¬†atau lainnya. Soalnya, kalau¬†Syafiq yang ngomong, ujung-ujungnya bisa maksa :p. Nah, kalau sudah terintimidasi kakaknya, ujung-ujungnya, Shofie bakalan ngambek.
Alhamdulillah, Syafiq mau diajak kerjasama ;))

Malamnya, saya hanya bilang pada Shofie kalau besok ada field trip untuk anak-anak, sementara orangtua ada kegiatan juga. Titik. bener-bener ‘titik’ karena Shofie juga enggak jawab apa-apa :d

Paginya, tanpa diduga, Shofie bilang, “Shofie mau ikut field trip, Ma.” Suaranya pelaaan banget saat ngomong gitu.
Saya (yang sebenarnya kaget saking senangnya) berusaha menanggapi biasa saja. “Ohya, sip!” gitu aja komen pendek saya.
Sebenarnya masih tampak keraguan di wajahnya. Antara pengin dan takut. Tapi saya biarkan aja. Daripada saya sok memotivasi, tapi malah salah ngomong :d

Alhamdulillah, acara anak ini dimulai terlebih dahulu. Jadi ada kesempatan buat ortu untuk ‘melepas’ anaknya, terutama yang masih kecil, untuk ikut kegiatan.

Image

Pertama, anak-anak dibariskan sesuai warna sticker yang ditempelkan di kartu peserta. Saya melihat kelompok Shofie. ‘Kok, anaknya kecil-kecil amat, ya?’ pikir saya.
Rupanya Syafiq punya pikiran sama. Dia mendekati saya, “Ma, bilang ama panitia, Shofie tuh salah kelompok kali. Kok, anak¬†lainnya masih kecil. Nanti shofie enggak menikmati, lho.”

Saya pun bertanya pada panitia. Jawabannya adalah hanya remaja yang dikelompokkan sesuai umur, sedangkan anak-anak umur di bawahnya campur. Oh, ya sudah.

Anak-anak pun berbaris dipimpin kakak pengasuh. Orangtua berdiri melepas anak-anak, sambil ber-bye-bye ria. Setelah anak-anak menjauh, semua pun menempatkan diri di tenda besar untuk mulai acara “Sharing: Serba-Serbi Homeschooling.”

Rupanya, acara field trip ini seru juga, lho!
Dari foto-foto bidikan Pak Pars, jadi tahu kegiatan anak-anak adalah membuat manisan kedondong, menyetek pohon, membuat kompos dari daun-daun kering. Waaah … padat!

Image

Image

Image

 

Apakah Shofie menikmati?
Jujur, walaupun dia sudah menyatakan diri berani sendiri, saya masih was-was. Jangan-jangan dia sendiri terus. Jangan-jangan dia diaaam aja. Jangan-jangan … jangan-jangan …!
Walah, ini emaknya parah juga. Kalau hati emaknya belum bisa melepas gini, apakah enggak ngefek ke hati anaknya, ya? ūüė¶
Ternyata, si Papa pun merasakan hal yang sama :))¬† Saat menjelang istirahat siang, saya diminta nengok Shofie. “Kali pengin pipis, dia enggak berani ngomong. Kali mau ke sini tapi enggak berani. Tengokin aja, daripada dia sekarang enggak nyaman, terus nanti-nantinya malah kapok,” kata si Papa dengan nada khawatir :d

Oke, deh, saya turun ke bawah, tempat anak-anak berkegiatan.Dan … di sana melihat Shofie sendirian aja di belakang! Huhu …!
Segera saya dekati. Eh … anaknya malah kelihatan enggak suka, saya samperin gitu :p
“Mama ke sana aja! Jangan di sini!”
Weleh, malah ngusir.
“Ya sudah, Mama di sebelah, ya!” Saya menunjuk tenda sebelah yang tak lain adalah mushala. Pas waktu itu terdengar azan dhuhur.
Shofie mengangguk.
Selesai shalat, saya lihat lagi anak itu. Masih sendiri :((
Tapi … tetep, enggak mau ikut saya. Saya malah diminta membawa nasi box jatah makan siangnya. “Shofie enggak suka,” katanya.
“Shofie mau pipis, enggak?” tanya saya hati-hati.
Dia menggeleng cepat.

Akhirnya, saya naik lagi ke atas, menuju tenda kegiatan. Di sana, peserta sudah mulai makan siang.
“Shofie mana?” tanya suami.
“Enggak mau ikut. Padahal ya gitu …,” saya ceriterakan semuanya.
“Ya sudah kalau gitu.”

Tak lama, acara anak-anak selesai. Shofie berlari mendekati kami. Dan … langsung cerita, “Nanti ada acara anak-anak lagi. Shofie mau ikut!” katanya semangat. Dan, benar saja,¬†dia selalu berangkat dengan riang gembira menuju tempat acara anak-anak, sementara¬†saya dan papanya tetap di tenda besar mengikuti sarasehan demi sarasehan.

Mungkin dia menikmati semua itu dengan caranya sendiri. mencoba melawan rasa takut dan malunya dengan caranya juga. *Si emak berusaha usir galau dari hati :d

Selanjutnya, Shofie selalu semangat main ‘sendiri’. Ke sana ke mari sendiri. Dia terlihat menikmati walaupun belum berhasil membaur dengan anak lainnya, dia tetap senang. Hal ini tertuang dalam cerita tentang Fesper yang ditulisnya.
Kalimat pertamanya adalah “Dulu aku kemah. Namanya Fesper. Aku senang sekali. Tapi, aku enggak punya teman, tapi tetep seneng.”

Image

Yah, jangankan anak-anak. Ternyata orangtua pun bisa saja mengalami hal ini. Mbak Wiwiet membahasakannya dengan kata ‘diesel’. Lama panasnya. Bahkan, di statusnya, Mbak Wiwiet merasa kesepian, karena suaminya asyik foto-foto, putranya gabung sama teman-temannya, dan dia pun belum bisa berteman di tengah banyaak orang yang sebenarnya sudah menjadi teman-temannya di dumay.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s