(Buah Hati) Tak Mencela Cuaca

Seperti janji saya di sini, ini adalah naskah saya yang dimuat di rubrik Buah Hati, Republika.
Apabila teman-teman mempunyai pengalaman mendidik anak, bisa ditulis untuk rubrik ini. Syaratnya adalah tulisan sebanyak 2500 karakter, foto yang berhubungan dengan tema, kirimkan ke leisure@rol.republika.co.id.
Semoga dimuat 🙂

image

Tak Mencela Cuaca

Beberapa hari lalu, kami sekeluarga liburan ke Bandung. Sebelum
berangkat, kami mendapat kabar bahwa di Bandung hujan deras setiap
hari. Padahal, di Semarang, tempat tinggal kami terang-benderang,
bahkan cukup panas, sampai-sampai kipas angin harus selalu menyala.

Hujan terus-menerus tentunya akan menghambat acara jalan-jalan selama
di Bandung. Saya berkata pada anak-anak agar jangan kesal, jengkel,
apalagi sampai uring-uringan, ketika hujan. Saya ingin agar anak-anak
tidaklah termasuk orang yang mencaci cuaca. Sebuah hal yang sering
terjadi (juga pada orang dewasa), padahal sudah jelas larangannya.

Untuk itu, saya minta anak-anak membawa segala macam barang yang bisa
dipakai untuk aktivitas di kamar hotel bila hujan. Si bungsu yang
berumur tujuh tahun membawa buku mewarnai, buku gambar, aneka buku
cerita, juga boneka beserta perlengkapannya. Semuanya  terdiri dari
tiga tas! Walaupun membuat barang bawaan semakin banyak, namun tetap
saya izinkan, daripada nanti rewel bila hujan. Si Sulung yang sudah
beranjak remaja mengatakan cukup berbekal laptop. Wifi di hotel, bisa
membuatnya bebas melakukan aktivitas yang tak membosankan. Apalagi
kalau bukan download di youtube aneka trik main bola kesukaannya!

Dini hari, ketika kami sampai Tasikmalaya, hujan deras mengguyur.
Bahkan beberapa ruas jalan banjir. Saya membayangkan, hari ini
benar-benar akan ‘mendekam’ di hotel. Namun, ketika shubuh menjelang,
dan kami sampai Bandung, hujan mereda. Bahkan, kami bisa shalat shubuh
jamaah di masjid Salman ITB, tanpa berpayung ria, sementara mobil kami
parkir di hotel.
Semakin siang, cuaca makin bersahabat.
“Alhamdulillah, Allah memberi kita nikmat cuaca cerah, sehingga bisa
jalan-jalan,” kata saya pada anak-anak, dan meminta mereka bersiap ke
Kebun Binatang yang cukup ditempuh dengan jalan kaki dari hotel.

Anak-anak cukup menikmati di kebun binatang. Si bungsu asyik melihat
aneka hewan dan bertanya segala macam, si sulung asyik dengan hobi
barunya, fotografi.
“Allah sayang pada kita. Saat kita di sini, cuaca cerah. Padahal sudah
berhari-hari hujan, ya,” kata saya pada anak-anak dan mengajak mereka
bersyukur atas karunia ini.
Pukul 11.00, mendung mulai menggelayut. Bahkan kami rasakan beberapa
titik hujan menimpa wajah.
“Kita pulang, yuk!” ajak saya pada anak-anak.
Namun, anak-anak masih ingin melihat kuda nil dan makan es krim. Saya
ikuti kemauan mereka. Namun, saya katakan konsekuensinya. Ada
kemungkinan hujan, dan kita akan kehujanan, karena saya lupa tak
membawa payung. Jadi, nanti jangan mengeluh. Anak-anak mengangguk
setuju.

Kuda nil sudah dilihat, anak-anak pun masih sempat menikmati es krim
coklat. Alhamdulillah, gerimis tak jadi turun, walaupun langit semakin
pekat. Saatnya pulang. Kami berjalan cepat menuju hotel. Belum sampai
hotel, azan berkumandang. Kami pun shalat dhuhur jamaah di masjid.

Ketika pertengahan shalat, terdengar hujan deras mengguyur. Kami tak
bisa pulang ke hotel dengan hujan seperti itu. Namun, berdiam diri
terus di masjid juga membuat anak-anak bosan. Akhirnya, kami putuskan
makan siang sekalian di kantin dekat masjid, walaupun harus ikut
antrian yang mengular di kantin yang dikenal sangat murah ini.

Masya Allah, begitu kami selesai makan, hujan deras itu hanya
menyisakan gerimis. Kami pun berlari-lari kecil menembus rintik hujan
untuk pulang ke hotel. Kami pun berdiam di hotel sampai malam. Ada
satu agenda yang tak bisa terlaksana hari ini, yaitu jalan-jalan ke
kampus ITB, menghirup atmosfir belajar para mahasiswa di kampus
terkenal ini. Saya katakan pada anak-anak, agar tidak kecewa. Nikmat
yang Allah berikan pada kita dari pagi sampai siang tadi sudah sangat
cukup. Selain mengajar bersyukur, besar harapan saya, dengan sering
memberi pengertian seperti ini, anak-anak tidak menyalahkan hujan atau
cuaca buruk lainnya, apalagi sampai memakinya.

(Gado-Gado) Polisi Belanja

Seperti yang saya ceritakan di sini sebelumnya, inilah cerita waktu kalap di Pasar Baru 🙂
Alhamdulillah dimuat di Majalah Femina No 28, terbit Juli 2014. Femina ini ada bonus buklet Gado-Gado Istimewa. Puas, deh, bacanya 🙂
Tulisan yang saya posting sebelum diedit oleh redaksi, ya:)
Monggo dinikmati. Teman-teman yang mau kisahnya dimuat, bisa menulis maksimal tiga halaman folio, ketik 2 spasi, nama dan tokoh boleh fiktif, kirim ke kontak@femina.co.id
Semoga sukses 🙂
****

POLISI BELANJA
Oleh Aan Wulandari U

Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga liburan di Bandung. Selain
wisata, ada satu tempat yang saya incar. Pasar Baru! Apalagi kalau
bukan untuk belanja tas, baju, yang murah meriah?

Hari ke tiga liburan di Bandung, saya pun punya kesempatan ke Pasar
Baru. Bersama si sulung, laki-laki berusia 13 tahun, dan adiknya,
perempuan, umur tujuh tahun, saya di-drop oleh teman ke sana. Suami
tidak ikut karena menghadiri seminar.

Belanja pun dimulai! Dua rok harga miring (karena menghabiskan stok)
saya dapatkan. Dua blus juga udah masuk ke dalam tas. Baju anak-anak,
berikut oleh-oleh buat keponakan, orangtua, ipar, dan lain-lain. Ehh …
uang habis! Untung ada ATM bersama.
Si Sulung yang berusia 13 tahun mulai bersungut-sungut. “Ma, kita
sudah belanja banyak banget, lho! Jangan boros-boroslah!”
“Iya … iya … sebentar lagi. Mas belum dapat kaos bola, kan?”
Si sulung hanya mengangguk.
“Mau celana panjang?” tanya saya. Tepatnya, sih, berusaha merayu.
Maklum, dari tadi, dia belum beli barang satu pun.
“Enggak mau.” Dia menggeleng keras. “Aku masih punya. Lagian kalau
beli celana di mal aja, biar bisa nyobain. Nanti tahu-tahu kekecilan.”
Walaupun bersungut-sungut, dia masih belum mengajak pulang, karena
kaos bola berkerah incarannya belum dapat.

Sampai akhirnya, kalaplah saya di kios tas. Di sana sedang diskon
besar-besaran. Bagus-bagus pula. Merek terkenal yang biasanya di atas
Rp200 ribu jadi Rp50 ribu saja. Pilah-pilih … pilah-pilih. Untuk
sendiri, untuk ibu mertua, ibu sendiri, kakak ipar, adik, dan …
terkumpullah delapan tas!!
Namun begitu lihat dompet, uang enggak cukup. Untung bisa gesek!
Selesai borong tas, tambah manyunlah si Sulung karena dia yang
kebagian membawa tas segambreng ini! Mulutnya pun komat-kamit, ngomel
tak jelas.
“Sini, biar Mama yang bawa,” kata saya melihat dia bersungut-sungut.
Tapi ‘harga diri’nya sebagai lelaki rupanya tetap jalan. Dia menolak.
Bahkan juga tetap meraih tas yang berisi barang lainnya untuk
dibawanya. Saya pun bersyukur. Eh?!

Untunglah akhirnya ada juga toko yang menjual kaos idamannya, kaos
bola yang berkerah berukuran dewasa dengan ukuran paling kecil. Kaos
ini kami dapatkan setelah capai berkeliling di semua toko olahraga.
Alhasil, wajah yang udah kusut itu mulai bersinar kembali. Apalagi,
itulah belanjaan terakhir, setelah itu kami berjalan pulang. Namun,
wajah yang cerah itu kembali kusut melihat di luar hujaan! Dia sudah
membayangkan naik angkot, dua kali ganti, dengan bawaan segambreng.
Dia kembali tersenyum setelah saya memutuskan naik taksi!

Sampai di hotel, mengalirlah curhatan si Sulung pada papanya. “Mama,
boros banget, Pa. Lihat aja, tuh, belanjaannya.”
Rupanya, penyebab dia bete, tak sekedar karena lama menunggu dan jadi
porter. Dia juga protes dengan kegilaan belanja saya. Ya, selama ini
saya memang sangat menekankan pada anak-anak agar jangan boros. Beli
barang seperlu saja. Kalau barang lama masih bisa dipakai, enggak usah
beli baru. Kalau ada barang yang lebih murah dan bagus, tak perlu beli
yang mahal. Dan nasihat penghematan lainnya.
“Mama belanja banyak bukan untuk Mama sendiri, lho, Mas. Buat
oleh-oleh juga, kan?” kata saya membela diri. “Tas Mama banyak yang
rusak. Lagipula, sudah bertahun-tahun Mama enggak beli tas, lho!”
Dan, mengalirlah cerita tentang tas. Sejak pulang dari Jepang, tahun
2006, saya belum pernah membeli tas. Wiiih … irit, ya? Eh, irit apa
pelit? Ya, saya membawa banyak tas dari Jepang. Kebanyakan tas itu
saya beli saat bazaar, dan hampir semuanya tas bekas namun masih
bagus. Tas berkualitas bagus itu saya beli seharga 100-200 yen. Paling
mahal 500 yen, sekitar Rp50 ribu.
Selama hampir delapan tahun, tas itu saya keluarkan satu persatu, dan
dipakai secara bergantian.
Sampai akhirnya … tas-tas itu rusak
bersamaan! Ada yang rusak ritsletingnya, rusak di tali, sobek, dan
lainnya. Padahal, tas-tas itu yang saya pakai sehari-hari. Untung
masih ada satu tas yang bisa dipakai. Sayangnya, tas itu tak ada
ritsletingnya. Penutupnya hanya sebuah kancing. Wah, bisa-bisa,
dompet, hape, bisa berjatuhan saat posisi tak benar. Nah, wajar
banget, kan, kalau saya ingin beli tas?
Mendengar penjelasan saya, si Sulung mengangguk-angguk. Semoga dia
benar-benar paham, walaupun saya kalap, namun tetap kalap yang terarah
dan sesuai kebutuhan, hehe ….

Beberapa hari setelah pulang dari Bandung, kami pergi ke mal untuk
membeli sepatu bola si Sulung. Ketika melewati rak berisi tas, saya
berhenti.
“Ma, udah, Ma! Udah beli tas banyak banget, kan?” protes si Sulung.
“Enggak, Mama cuma lihat harga aja, kok. Tas yang kita beli di Bandung
beneran lebih murah, enggak, sih?”
Dari sudut mata, saya lihat si Sulung geleng-geleng. Saya nyengir.
Setelah saya melihat-lihat, si Sulung bertanya, “Gimana harga tas
tadi, Ma? Mahal?”
“Iyaa … mahal! Udah diskon 50% masih Rp75 ribu! Modelnya juga
bagus-bagus yang di Bandung. Tas yang enggak di diskon apalagi. Wuih,
ratusan ribu,” kata saya semangat.
“Puas, Ma?” katanya sambil nyengir lebar.
Saya ngakak! Wah, sekarang dia jadi polisi belanja, nih! Siap-siap
nyemprit kalau mamanya boros!
image

Menangkap Ide di Mana Pun

Sekitar bulan Maret, saya jalan-jalan ke Bandung. Di sana sempat main
ke Kebun Binatang, Saung Angklung Mang Udjo, Musium Geologi, Musim
Kantor Pos, dan … Pasar Baru! Nggak ada wisata kuliner, karena selama
di sana makannya di kantin Salman hihi. Irit, euy! Ya, waktu itu, kami
menginap di Wisma Dago, di depan Masjid Salman. Tujuannya, biar tetap
bisa shalat jamaah walaupun sedang pergi. Pun, suami ada cara di ITB,
jadi tinggal jalan aja ke sana. Nggak perlu ribet cari parkir mobil.

Dulu … setiap jalan-jalan, selalu ada hasil tulisan travelling. Namun,
lama-kelamaan tempat wisata yang kami kunjungi ‘biasa-biasa saja’ atau
sudah umum, jadi tak bisa ditulis lagi. Apalagi, dua majalah langganan
yang setia memuat tulisan saya juga sudah almarhum.

Alhamdulillah, tak bisa menulis travelling, tulisan lain pun jadi.
Saya menulis dua tema naskah untuk dua media. Pertama naskah
parenting, untuk Republika. Sedangkan yang ke dua adalah naskah
Gado-Gado untuk Majalah Femina. Dua jenis tulisan yang sangat berbeda.
Satu serius, untuk media Islam, satu tulisan ngocol. Saya sangat
bersyukur, kedua naskah itu lolos semua di media! Tak perlu menunggu
lama, naskah parenting itu langsung dimuat. Sedangkan, naskah
Gado-Gado antri dulu.

Naskah Gado-Gado, bisa.dilihat di sini.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah ada cerita dalam setiap kehidupan
kita yang insya Allah bisa kita bagikan melalui tulisan. Tak
harus kisah nyata. Barangkali saat bepergian, kita menemukan hal unik yang
bisa kita angkat jadi cerpen.

Ini adalah salah satu contoh ide yang nemu di jalan. Saat macet pula!
Mana siang-siang, panas terik, naik motor bawa Syafiq dan Shofie.
Lengkap sudah penderitaan. *Lebay :p. Tak tahunya, dua anak itu malah
nyanyi, “Di sini macet … di sana macet … di mana-mana semua macet ….”
Dan mereka berdua tertawa terbahak-bahak tanpa peduli beberapa pasang
mata menatap mereka heran. (Untung saya pakai tutup muka, hihi).

image

MACET LALALA ….
(Dimuat di Mombi SD)

Riri menghentakkan kaki kesal. “Huh! Macet lagi … macet lagi …!”
Ibu mendesah. “Yah, beginilah ibu kota. Mobil dan motor berlimpah,
namun jalannya belum memadai.”
Riri melirik jam tangannya. “Ketinggalan, deh.”
“Ketinggalan apa, Ri?” Ayah melirik Riri dari kaca spion.
“Riri janjian sore ini mau main sepeda, Yah. Riri pikir, pukul empat
sudah sampai rumah. Nggak tahunya, macet.”
Ayah diam. Dia tahu Riri kecewa. Tapi, bagaimana lagi?

“Ibu …!” Rendi, adik Riri mulai merengek. Dia bosan dan capai.
Mereka sekeluarga baru saja menghadiri acara pernikahan yang cukup
melelahkan.
Ibu memangku Rendi, berusaha menidurkannya. Tapi, baru beberapa saat,
Rendi rewel lagi. Kakinya dihentak-hentakkan. Lama-lama tangisnya pun
pecah.
Kepala Riri serasa mau meledak. Sudah jengkel gara-gara macet,
ditambah raungan tangis Rendi.

“Di sini macet, di sana macet, di mana-mana jalannya macet ….”
Ya, ampun! Ayah malah nyanyi-nyanyi. Riri mau protes. Tapi ….
Ajaib! Rendi terdiam. Dia heran mendengar lagu “Di sini senang di sana
senang” berubah syairnya. Melihat itu, Ibu pun ikut bernyanyi.

Lama-lama, Rendi mulai bertepuk tangan. Riri jadi geli. Akhirnya, dia
pun ikut bernyanyi.
 “Lalalala … Lalalala … Lalalala …. ”
“Plok! Plok!” Ayah bertepuk tangan. “Inilah lagu “Macet Lalala” yang
dinyanyikan oleh paduan suara Riren, Riri-Rendi,” katanya seperti
penyiar radio.
Semua terbahak.

Ternyata, dalam suasana macet pun, masih bisa bergembira, ya!

[Terbit] Anakku Tiket Surgaku

image

Alhamdulillah, buku “Anakku Tiket Surgaku” sudah terbit dan tersedia di toko buku. 
Buku ini bercerita tentang kisah para orangtua dalam mengajak anak-anak beribadah. Mulai shalat, puasa, mengaji, dan ibadah lainnya seperti memakai jilbab, membaca buku cerita agama, sampai … menjelaskan mimpi basah!!

Buku ini saya tulis bersama dua teman keren dari IIDN Semarang, Wuri dan Uniek. Cerita dikemas dengan gaya santai (bahkan cenderung gokil :p). Maksudnya, tidak lain tidak bukan, agar buku ini tidak terkesan menggurui atau bahkan membuat kita terintimidasi :d

Kadang, tiap anak punya alasan ‘khas’ yang sering bikin kita jengkel setengah mati ketika mereka tak mau shalat, puasa, atau lainnya.Seperti endors dari Mbak Dian Kristiani ini, “Aku suka baca tulisan ini. Lucu. Juga membuatku jadi lega, “Ooh, aku nggak sendirian. Ternyata, anak orang lain juga sama anehnya dengan anakku … haha …!” 

Mau tahu anehnya kisah itu? Ada di sini! Judulnya “Cambuk Rasulullah”. 

Endors dari Mba Faizza juga mewakili isi buku. “Mendidik anak untuk beribadah itu gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Ibunya jungkir balik memberi contoh dan mengingatkan, si anak tetap bergeming. Saat si ibu mentok cari ide, eee … anaknya ‘sadar’! Di buku ini, semua pergulatan ibu-anak tersaji manis dan membuat kita senyum-senyum bahagia. (Faizzati Itsnaini).

Bagi yang berminat membaca 75 kisah ibu, 
bisa PO, ya.
Harga buku 57 ribu. Beli langsung dari saya, dapat bonus tanda tangan, lho,.hehe

Monggo, silakan tinggalkan pesan di komen, ya. Saya mau order lagi ke Tiga Serangkai, nih. Kemarin pesan 10 eksemplar, langsung ludes. Bukti terbit juga udah kejual :d

****

Judul: Anakku Tiket Surgaku (Mengajak Anak Beribadah dengan Cinta)
Penulis: Wuri Nugraeni, Aan Wulandari U., Uniek Kaswarganti
Penerbit: Tinta Media, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Terbit: 2014
Tebal: 334 halaman
ISBN: 9786022579328

Anak malas shalat? Puasa juga bolong-bolong? Susah disuruh mengaji? Hemmm … jangan langsung disalahkan apalagi diomeli. Mereka adalah anak-anak yang masih membutuhkan perhatian Ibu, momen yang mampu mewarnai hari-hari sebagai ibu. Bisa jadi, kelak ketika menua, Ibu akan merindukan masa itu.

Seri Little Witch Co : Kepincut Silk dan Cotton yang Imut

PhotoGrid_1410753754490-1
Ketiga buku ini bukan buku baru. Namun, tak ada salah bila sekarang saya menulis kisah seru saat menyunting buku ini. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Inilah pertama kalinya saya mendapat order menyunting buku terjemahan. Bahasa Jepang pula. Kamus Jepang-Indonesia setebal bantal yang sudah lama pensiun pun kembali dibuka. Satu yang membuat saya kesal, laptop besar yang saya bawa dari Jepang rusak! Suami juga udah nggak punya laptop layak pakai yang dari Jepang. Maklum, kami pulang dari Jepang tahun 2006, banyak barang udah almarhum. Alhasil, saya tidak bisa browsing arti kata menggunakan huruf hiragana. Mau install huruf Jepang di netbook takut kelamaan, nanti malah nggak bisa kerja, deh.

Saya bersyukur, punya teman-teman yang sangat berbaik hati berbagi membantu kala saya pusing membaca terjemahannya, dan semakin bingung saat membaca naskah aslinya, haha! Yup, nihonggo alias bahasa Jepang saya itu masih ala kadarnya. Tahun 2005 lulus sankyu (level tiga sebuah tes bahasa Jepang, semacam TOEFL), sih. Namun, sejak pulang ke Indonesia jarang dipakai. Ohya, satu alasan lagi, soal-soal di JLPT mah beda ama naskah cerita. *Minta dijitak*. Pokoknya, makasih banyak buat Nesia, Dina, Bu Huda atas bantuannya :d

Bagaimana ceritanya sampai saya mendapat job ini?

Sebenarnya, kerjaan ini justru datang saat saya benar-benar ingin meng-up grade ilmu penyuntingan. Saya belum puas dengan ilmu yang saya miliki. Saya juga ingin merambah genre buku lain. Selama ini, pengalaman saya masih sebatas menyunting buku anak. Nah, waktu itu Bentang Pustaka membuka workshop editor. Kalau tidak salah selama tiga hari. Peminat diminta mengirimkan data diri, kemudian di tes awal. Yup, mengirimkan data diri, di tes, sih bukan masalah. Masalahnya adalah … workshop dilakukan di Yogya! Saya adalah emak-emak rumahan banget yang jaraaang (nyaris tidak pernah) meninggalkan anak-anak. (Anak saya hanya dua, sih. Satu udah SMP, satu SD. Udah besar-besar, nggak ada bayi menyusui :p. Namun, keduanya belum pernah saya tinggal sendirian di rumah apalagi sampai menginap)

Keinginan kuat untuk belajar itu membuat saya sedikit nekat. Pertama saya bilang sama mertua dulu. Suami menyusul :d. Saya bilang kalau akan mendaftar ‘kerja’ yang bisa dikerjakan di rumah. Sebelumnya ada pelatihan di Yogya. Jadi, kalau keterima, selama pelatihan saya nitip anak-anak. Mertua mendukung banget. Secara beliau itu sebenarnya sangat mendukung saya bekerja haha. Setelah mertua setuju, baru, deh saya bilang sama suami, hihi. Oke. Suami pun siap ‘nglaju’ Magelang-Semarang selama tiga hari. Ohya, orangtua/mertua tinggal di Magelang. jadi, nanti saya juga ‘nglaju’ Magelang-Yogya.
Kebayang, kan, betapa niatnya saya waktu itu??

Semua pun berjalan biasa saja. Setelah saya mengirimkan CV, dikirimlah naskah untuk tes. Langsung saya kerjakan dan saya kirim balik. Yakin banget saya bakalan lolos ikut workshop itu (pede tingkat tinggi). Saya semakin yakin diterima karena tak lama setelah saya kirim hasil tes, sebuah email masuk di inbok. Saya ditawari menyunting sebuah novel anak terjemahan bahasa Jepang. Wow! Belum workshop, kok sudah dapat job? Girang banget, nggak, tuh?

Ehh … tentu saja, nggak langsung kerja, ya. Saya dites dulu. Materi tesnya adalah beberapa halaman dari Bab 1 naskah yang akan saya sunting. Dag dig dug banget saat mengerjakan. Walaupun sudah berpengalaman menyunting naskah anak, namun kali ini beda! Akhirnya … satu hari setelah naskah dikirim, saya pun dinyatakan LOLOS!!

Akhirnya, saya pun menyunting seri pertama Little Witch Co, “Daur Ulang Pakaian”. begitu selesai seri pertama, lanjut seri ke dua, “Perjalanan Sihir”, dan seri ke tiga “Gaun Bintang Kejora”. Ketiga buku ini benar-benar menarik sekali. Sebagai penulis juga (yup, sebelum terjun ke dunia penyuntingan, saya terlebih dulu terjun sebagai penulis, khususnya penulis bacaan anak), saya pun belajar dari buku-buku ini. Imajinasinya sungguh keren. Pesan moralnya ‘kena banget’. Namun, jangan dibayangkan cerita di dalamnya penuh petatah-petitih, ya. Jauh … jauh banget dari kata-kata menggurui itu.

Ketiga buku ini saya bacakan buat Shofie (7 tahun). Ya, buku ini mungkin bisa dikategorikan chapter book, pertengahan antara pictorial book dan novel. Ilustrasi di dalamnya cukup banyak, jadi lumayan menarik hati Shofie. Selesai saya bacakan, Shofie jadi sering ‘netah’ si Wonka, kucing di rumah, untuk berjalan dengan dua kaki. “Biar kayak Cotton,” katanya. Cotton adalah seekor kucing pelayan, salah satu tokoh di buku ini.
contoh isi buku

contoh isi buku 2

Walaupun judulnya penyihir, namun buku ini jauh dari cerita sihir-sihiran. Bahkan, Silk, tokoh utama di buku ini, seorang penyihir penjahit tidak pernah memakai kekuatan sihirnya untuk menjahit baju. Semua dikerjakan sendiri. Dia mau bekerja keras demi hasil yang sempurna. (Moral lagi :d)

Wah, kalau saya yang membuat resensinya, bakalan muji-muji melulu, nih. Silakan baca di goodreads, ya.
Seri 1: https://www.goodreads.com/book/show/18689904-little-witch-co-1
Seri 2: http://www.goodreads.com/book/show/18961204-little-witch-co-2
Seri 3: http://www.goodreads.com/book/show/18961274-little-witch-co-3

Berharap banget semua seri ini diterjemahkan (dan saya diminta menjadi penyuntingnya. Aamiin :d). Kata Mba Astri, kalau penjualan bagus, insya Allah akan lanjut seri berikutnya. Ada 20 seri kalau nggak salah. Yuk, ah, pada beli, dong. Biar saya dapat kerjaan lagi. Eh, biar bisa menikmati seri Little Witch Co ini :d

Ohya, kembali pada workshop Bentang. Apakah akhirnya saya diterima untuk ikut workshop itu? Ternyata tidak, Saudara! Haha. Alhamdulillah, nggak perlu ninggal anak yang merepotkan mertua dan suami, namun pekerjaan tetap dapat :d