(Buah Hati) Tak Mencela Cuaca

Seperti janji saya di sini, ini adalah naskah saya yang dimuat di rubrik Buah Hati, Republika.
Apabila teman-teman mempunyai pengalaman mendidik anak, bisa ditulis untuk rubrik ini. Syaratnya adalah tulisan sebanyak 2500 karakter, foto yang berhubungan dengan tema, kirimkan ke leisure@rol.republika.co.id.
Semoga dimuat 🙂

image

Tak Mencela Cuaca

Beberapa hari lalu, kami sekeluarga liburan ke Bandung. Sebelum
berangkat, kami mendapat kabar bahwa di Bandung hujan deras setiap
hari. Padahal, di Semarang, tempat tinggal kami terang-benderang,
bahkan cukup panas, sampai-sampai kipas angin harus selalu menyala.

Hujan terus-menerus tentunya akan menghambat acara jalan-jalan selama
di Bandung. Saya berkata pada anak-anak agar jangan kesal, jengkel,
apalagi sampai uring-uringan, ketika hujan. Saya ingin agar anak-anak
tidaklah termasuk orang yang mencaci cuaca. Sebuah hal yang sering
terjadi (juga pada orang dewasa), padahal sudah jelas larangannya.

Untuk itu, saya minta anak-anak membawa segala macam barang yang bisa
dipakai untuk aktivitas di kamar hotel bila hujan. Si bungsu yang
berumur tujuh tahun membawa buku mewarnai, buku gambar, aneka buku
cerita, juga boneka beserta perlengkapannya. Semuanya  terdiri dari
tiga tas! Walaupun membuat barang bawaan semakin banyak, namun tetap
saya izinkan, daripada nanti rewel bila hujan. Si Sulung yang sudah
beranjak remaja mengatakan cukup berbekal laptop. Wifi di hotel, bisa
membuatnya bebas melakukan aktivitas yang tak membosankan. Apalagi
kalau bukan download di youtube aneka trik main bola kesukaannya!

Dini hari, ketika kami sampai Tasikmalaya, hujan deras mengguyur.
Bahkan beberapa ruas jalan banjir. Saya membayangkan, hari ini
benar-benar akan ‘mendekam’ di hotel. Namun, ketika shubuh menjelang,
dan kami sampai Bandung, hujan mereda. Bahkan, kami bisa shalat shubuh
jamaah di masjid Salman ITB, tanpa berpayung ria, sementara mobil kami
parkir di hotel.
Semakin siang, cuaca makin bersahabat.
“Alhamdulillah, Allah memberi kita nikmat cuaca cerah, sehingga bisa
jalan-jalan,” kata saya pada anak-anak, dan meminta mereka bersiap ke
Kebun Binatang yang cukup ditempuh dengan jalan kaki dari hotel.

Anak-anak cukup menikmati di kebun binatang. Si bungsu asyik melihat
aneka hewan dan bertanya segala macam, si sulung asyik dengan hobi
barunya, fotografi.
“Allah sayang pada kita. Saat kita di sini, cuaca cerah. Padahal sudah
berhari-hari hujan, ya,” kata saya pada anak-anak dan mengajak mereka
bersyukur atas karunia ini.
Pukul 11.00, mendung mulai menggelayut. Bahkan kami rasakan beberapa
titik hujan menimpa wajah.
“Kita pulang, yuk!” ajak saya pada anak-anak.
Namun, anak-anak masih ingin melihat kuda nil dan makan es krim. Saya
ikuti kemauan mereka. Namun, saya katakan konsekuensinya. Ada
kemungkinan hujan, dan kita akan kehujanan, karena saya lupa tak
membawa payung. Jadi, nanti jangan mengeluh. Anak-anak mengangguk
setuju.

Kuda nil sudah dilihat, anak-anak pun masih sempat menikmati es krim
coklat. Alhamdulillah, gerimis tak jadi turun, walaupun langit semakin
pekat. Saatnya pulang. Kami berjalan cepat menuju hotel. Belum sampai
hotel, azan berkumandang. Kami pun shalat dhuhur jamaah di masjid.

Ketika pertengahan shalat, terdengar hujan deras mengguyur. Kami tak
bisa pulang ke hotel dengan hujan seperti itu. Namun, berdiam diri
terus di masjid juga membuat anak-anak bosan. Akhirnya, kami putuskan
makan siang sekalian di kantin dekat masjid, walaupun harus ikut
antrian yang mengular di kantin yang dikenal sangat murah ini.

Masya Allah, begitu kami selesai makan, hujan deras itu hanya
menyisakan gerimis. Kami pun berlari-lari kecil menembus rintik hujan
untuk pulang ke hotel. Kami pun berdiam di hotel sampai malam. Ada
satu agenda yang tak bisa terlaksana hari ini, yaitu jalan-jalan ke
kampus ITB, menghirup atmosfir belajar para mahasiswa di kampus
terkenal ini. Saya katakan pada anak-anak, agar tidak kecewa. Nikmat
yang Allah berikan pada kita dari pagi sampai siang tadi sudah sangat
cukup. Selain mengajar bersyukur, besar harapan saya, dengan sering
memberi pengertian seperti ini, anak-anak tidak menyalahkan hujan atau
cuaca buruk lainnya, apalagi sampai memakinya.

Advertisements

2 thoughts on “(Buah Hati) Tak Mencela Cuaca

    • Hari itu iya, hanya bisa ke bonbin. Hari Berikutnya alhamdulillah cerah, bisa ke musium Geologi, musium Kantor Pos, Saung Angklung, Mang Udjo. Terus ke Pasar Baru, hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s