Testimoni Mengharukan

Alhamdulillah,
Hanya satu kata itu yang pantas diucapkan ketika karya kita diapresiasi orang lain. Ada kepuasan batin tersendiri bila membaca buku-buku saya bermanfaat buat orang lain.
Menjelang magrib, terdengar notifikasi FB di hape. Saya yang akan beranjak wudhu jadi sedikit tergoda membukanya. Hem, tag dari seorang kontak yang belum pernah menge-tag saya saya sekali. Sepertinya tak mungkin di tag kuis. Penasaran, akhirnya saya buka. Dan … masya Allah. Postingannya benar-benar membuat saya meleleh. Testimoni buku “99 Nama Indah Allah” yang baru saja dibelinya di sebuah toko buku online.
image

Kadang muncul juga rasa malu bila mengetahui hal-hal seperti ini. Bahkan, saya, penulisnya tak bisa mengapresiasi sedemikian rupa. Hal ini saya rasakan ketika ada cerita yang lain. Seorang teman mengatakan, salah satu tulisan di buku “99 Nama Indah Allah’ pernah dipakai putrinya saat TK untuk deklamasi saat acara perpisahan TK. Dan sampai sekarang, putrinya masih hafal teksnya. Masya Allah. Bagaimana tidak terharu? Anak saya saja nggak sampai segitunya dengan buku yang ditulis ibunya ini.

Cerita lain lagi adalah apreasiasi buku “Anakku Tiket Surgaku”. Ketika seorang teman membeli buku itu, kemudian dia kembali memesan lagi untuk kado buat saudaranya. Alhamdulillah, berarti dia puas dengan isinya sehingga berniat untuk berbagi. Ternyata … saudaranya yang dikasih buku itu pun memberikan buku ini untuk kado lagi buat temannya. Bahkan tak hanya sekali. Masya Allah.

Ada lagi cerita seorang teman yang memberikan paket buku saya untuk temannya. Buku parenting untuk orangtuanya, dan buku anak untuk putranya. Beliau meminta saya menuliskan kalimat atau puisi persahabatan di bukunya. Masya Allah.

Kadang, saya merasa malu bila mengatakan, semoga yang saya tulis bisa menjadi tabungan ke surga sebagai amal jariyah. Sepertinya, yang layak berkata itu adalah para ulama dengan kitab-kitabnya yang tebal. Namun kali ini, saya berharap, semua itu bisa menjadi nyata. Walaupun sumbangsih saya teramat sangat kecil. Insya Allah.

Yuk, semangat menulis yang manfaat. Aamiin.

Advertisements

[Writerpreneur] Tips Jualan: Paket Buku

Sudah bukan hal aneh lagi, sekarang ini banyak penulis jualan buku yang ditulisnya sendiri. Hal yang rasanya masih jarang dilakukan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir industri buku sepertinya telah membentuk penulis untuk melakukan ini.

Selain itu, pembeli juga lebih suka bila mendapatkan buku langsung dari penulisnya. Selain tanda-tangan, tak jarang penulis memberikan diskon. Hubungan pembaca-penulis juga semakin dekat.

Seorang penulis, biasanya menulis beberapa buku. Baik dari penerbit yang sama maupun berbeda. Nah, agar jualan semakin oke, menjual buku dalam bentuk paketan bisa menarik perhatian pembeli. Apalagi masih ditambah diskon.
image

Hal ini pernah saya lakukan saat punya dua buku yang terbit bersamaan. Satu buku anak, “99 Nama dan Sifat Allah”, satu lagi buku parenting (kocak), “Oyako no Hanashi”. Satu paket buku itu saya jual Rp65.000,-. Murah banget. Harga buku “99 Nama Indah Allah” adalah Rp49.000,- dan “Oyako no Hanashi” Rp36.000,- Lumayan, bisai irit Rp23.000,-. Hehehe … kebetulan pihak penerbit memberikan diskon buku pada penulis agak lumayan. Jadi bisa murah. Namun, nggak harus banting-banting harga banget, sih. Pokoknya jangan sampai kita rugi. Harus tetep untung minimal lima ribu. Biaya bungkus dan wira-wiri ke kurir, kan, lumayan.
 image

Kini, saya kembali jual paket buku.

Buku “99 Nama dan Sifat Allah” cetak ulang ke tiga, dengan kaver dan judul baru, “99 Nama Indah Allah”. Pada saat hampir bersamaan saya juga mempunyai buku “Anakku Tiket Surgaku”. Kedua buku ini saya jual paket dengan harga Rp90.000,-.

Harga “99 Nama Indah Allah” adalah Rp55.000,- dan “Anakku Tiket Surgaku”, Rp57.000,-. Ada penghematan sebesar Rp22.000,-. Lumayan juga, kan?

Alhamdulillah, paket ini cukup ‘berhasil’ menarik minat pembeli. Sampai saat ini, lebih dari 20 paket sudah terjual. 

Monggo, barangkali ada yang mau mencoba jualan paketan :d