Kilas Balik “45 Kisah Wanita Shalehah”

Alhamdulillah ….
image

Laporan penjualan buku “45 Kisah Wanita Shalehah” sudah saya terima. Selama satu semester atau enam bulan, menembus angka 500 eksemplar kurang 7 eks, alias 493 eksemplar. Ya, memang bukan angka yang ‘wow’, tapi tetap alhamdulillah, dong. Apalagi, royalti juga tetap tujuh digit, dengan kepala tak hanya satu, hehe. *Matre banget, sih:p*

Jadi pengin kilas balik, mengenang masa-masa penulisan buku ini. Tak hanya lika-liku teknik penulisan yang penuh ‘irama’, tapi juga dipengaruhi dengan jalan hidup yang tiba-tiba berubah. #halah!Lebay poll.

Awalnya, saya mencari tema menarik tentang buku agama untuk anak. Bingung pasti. Apalagi kalau lihat lihat toko buku. Buku tema ini ada, tema itu ada, bahkan tak hanya satu dua buku dengan tema yang sama. Semuanya dikemas dengan konsep menarik. Akhirnya, daripada bingung, saya fokus pada penerbit tujuan. Tema apa yang belum diterbitkan penerbit itu? Setelah itu, cari diferensiasi dengan tema yang sudah ada di pasaran.

Saya pun tertarik untuk menuliskan kisah shahabiyah untuk anak. Waktu itu, saya lihat belum banyak buku dengan tema itu. Sebenarnya, sih, alasan utama buat belajar sendiri hihi. Kalau bukan karena nulis buku, kayaknya buku sirah nggak masuk dalam list bacaan saya, astaghfirullah.

Nulis pun dimulai. Dua judul naskah saya tulis. Namun, saya tidak pede dengan tulisan saya. Kok, gayanya jadul sekali? Berbeda dengan buku-buku yang ada di pasaran dengan gaya pop, lincah, ceria, dll. Akhirnya, saya kirimkan satu judul naskah saya pada teman, minta pendapatnya.
“Lanjut aja, An. Emang style penulisan kamu kayak gitu. Kalau dipaksain dengan gaya lain, malah nggak enak.”
Komentar ini cukup meningkatkan rasa percaya diri saya untuk melanjutkan menulis.
Naskah itu kemudian saya kirimkan kepada teman lainnya.
“Bagus, An. Kayak baca dongeng klasik.”
Waaah … makin terdongkraklah PeDe saya. Apalagi, dalam perjalanan menulis naskah, saya mengenal istilah Living Book. Semakin mantaplah saya menulis dengan gaya itu.
image

Berbekal dua contoh cerita, saya kirimkan konsep naskah ke penerbit. Alhamdulillah diterima. Awalnya, saya berencana menuliskan 50 kisah. Namun, akhirnya hanya jadi 45 kisah. Itu pun melalui proses penulisan yang cukup lama. Saya kesulitan mencari referensi yang akurat. Tak hanya mencari di toko buku, saya sampai berburu online untuk mendapatkan sumber yang bagus. Ya, menulis buku seperti ini tak cukup bermodal artikel dari internet, apalagi banyak yang keshahihannya diragukan. (Setahunan setelah naskah ditulis, saya baru menemukan seri lengkap kisah shahabiyah :p)
Alasan ke dua, mencari kisah yang aman dikonsumsi anak juga ternyata agak susah.
Saya pun minta keringanan untuk nyicil setor naskah. Berdasarkan arsip email, setor pertama saya tanggal 19 Februari 2012, terdiri dari dua bab dengan 11 cerita. Waks! Memalukan sekali. Setelah itu, bab 3 saya kirimkan tanggal 22 Maret 2012.
Ternyata … muncul masalah lain yang membuat penulisan naskah ini macet. Dalam perjalanan penulisan naskah, ada masalah berat yang membuat saya benar-benar tak bisa melanjutkan. Karena satu hal dan banyak sebab, si sulung saya tarik dari sekolah. Saya memutuskan untuk homeschooling.

Fiuhhh … awal-awal HS adalah masa-masa sulit. Banyak adaptasi yang harus saya lakukan, baik jiwa dan raga. Iyalah. Biasanya ‘aman-aman’ saja dari pukul 07.00 sampai ashar, tiba-tiba harus menemani anak full day. Proses deschooling, mencari cara yang oke untuk belajar, dan lain-lain … dan lain-lain, benar-benar menguras tenaga dan pikiran, bahkan kadang menimbulkan emosi jiwa, xixixi.

Alhamdulillah, mbak Dewi editor kala itu baik hati. Beliau memahami kondisi saya saat itu. Namun, masa, sih, saya enak-enakan saja karena dimaklumi? Tanggung jawab … mana tanggung jawab? Akhirnya, saya mencuri waktu membaca referensi setiap ada kesempatan, dan langsung menuliskannya di kertas, atau buku atau apa saja. Malam harinya atau sesempatnya, baru saya salin di laptop. Lumayan, ada peningkatan. Satu, dua, nambah terus sampai mentok 40 naskah!l. Dan, 40 naskah itulah yang saya setorkan. Kurang 10 judul dibandingkan proposal awal. Di tengah proses, saya ‘nemu’ lagi, sehingga jadi 45. Naskah 41-45 saya emailkan tanggal 1 Mei 2012. Fiuuuh, lega rasanya.

Selesailah semua naskah yang terbagi menjadi lima bab, yaitu :
1. Bab Istri Para Nabi
2. Bab Wanita Shalehah (susah membuat judul babnya, hehe. Isinya seperti Ratu Saba’, Asiyah istri Fir’aun, Ibu dan kakak Nabi Musa As. Dll)
3. Kisah Ummul Mukminin
4. Bab Putri-Putri Rasulullah Saw.
5. Bab Shahabiyah
image

Mulailah proses ilustrasi. Pertama, saya tidak ingin ada gambar tokoh yang jelas disebutkan namanya. Misalnya, kisah Aisyah ra. Saya tidak mau muka Aisyah terjelas jelas. Saya takut di benak anak terpikir, “Oh, Aisyah kayak begini, ya?” Juga dengan tokoh-tokoh yang lain. Kalaupun tokoh digambarkan, penginnya wajah tidak kelihatan. Misalnya, tokoh menghadap pada suatu objek, sehingga tak menghadap depan, atau wajahnya tertutup jilbab yang tertiup angin. Hihi … ribet, yak. Alhamdulillah, penerbit mau bekerja sama. Bahkan malah menyarankan agar tidak ada gambar manusia sekalian. Waks! Tantangan baru, nih. Apa bagusnya ilustrasi tanpa tokoh? Huhuhu … Alhamdulillah, ilustrator, innerchild, juga mau diribetin idealisme saya. Big thanks banget, deh.
Permainan warna. Itulah kuncinya agar ilustrasi tidak monoton. Setelah beberapa kali revisi, akhirnya ilustrasi selesai. Saya puas sekali. Ilustrator bisa memvisualisasi semua cerita dengan keren. Dan … karena saya rewel begini, atau mungkin sebab lain, proses ilustrasi ini juga cukup memakan waktu. Preview pertama saya terima 4 Desember 2012 dan … selesai 13 Mei 2013.

Ternyata, Mbak Dewi hanya mengawal saya sampai di sini. Beliau pindah ke divisi lain. Dan, entah kenapa, setelah itu, saya tak mendapat kabar sekali tentang buku ini. Saya sampai tidak yakin, buku ini jadi terbit, xixi.
Tiba-tiba, sekitar bulan April 2014 (satu tahun kemudian) saya mendapat email dari Mba Nova (editor pengganti Mba Dewi), ada revisi sebuah ilustrasi! Alhamdulillah, ini menunjukkan bahwa buku saya masih terus diproses, hehe. Bulan Mei 2014, saya melakukan proof terakhir. Senang sekali melihat tampilan buku ini walaupun masih dalam bentuk PDF.

Akhirnya,Juni 2014 resmilah “45 Kisah Wanita Shalehah” beredar di toko buku. Bukti terbit 10 eksemplar langsung dibagi buat keponakan-keponakan, sisanya dijual dengan harga khusus xixixi. Promo sekaligus gak mau rugi :p
Senangnya, beberapa hari setelah terbit, Ramadhan tiba. Penerbit BIP selalu melakukan diskon khusus untuk buku-buku agama. Buku ini pun tak tanggung-tanggung, diskon 30%. Keren banget!

Saat Ramadhan itu juga, saya sempat mengadakan talkshow di Gramedia Pandanaran, Semarang. Cocok, deh, launching buku agama. Fiuh, bicara di depan umum sendiri pertama kalinya. Untung, ada moderator keren, Mba Nanda dari pihak Gramed yang bisa memandu acara. Saya berbicara mengalir saja sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan dari Mba Nanda. Padahal, saya sudah siapkan ‘materi talkshow’, loh. Hahah.
image

Ohya, ada kesan dari Mba Nova selaku editor, nih. Mba Nova menuliskan di komen FB saat saya promosi.
“Novalya Putri menulis: Alhamdulillah… seneng banget lihatnya. Sedikit sharing, waktu kebagian naskah ini, saya agak kepecut. Naskah yang saya kira mudah, ternyata tidak sama sekali. Butuh dua bulan lebih bagi nyicil-nyicil edit naskah ini. Namun, yang luar biasa adalah prosesnya, kadang… saya menitikkan air mata membaca teladan wanita-wanita hebat dalam buku ini. Yang saya rasakan adalah… saya tersentil (tapi syakit uhuk :p).
Setelah di-setting, eh kok ilustrasinya bagus bener. Tambah semangat edit final. Dengan sedikit ngotot, saya katakan naskah ini bisa dinikmati semua umur, bukan hanya segmen untuk anak, dan akhirnya cetak. Nggak sok lebay, tapi ini salah satu editan master piece saya sbg editor selama ini, walau masih banyak juga salahnya. Hihihi.”

Ya, buku ini akhirnya ditasbihkan sebagai buku umum. (Jadi, kalau mencari jangan di buku anak, ya :d) Namun, tetap bisa dibacakan untuk anak. Saya mencoba membacakan untuk anak saya, Shofie (8 tahun). Alhamdulillah, dia sukaaa. Jarang-jarang dia menikmati buku emaknya :p. Justru saya yang deg-degan saat membaca, karena takut ada kesalahan. Bacanya memang loncat-loncat, sih. Dia tidak mau dibacakan bab istri para nabi, karena sudah tahu ceritanya. Saat itu, dia juga sedang membaca kisah nabi, tentu saja diceriterakan juga tentang istri-istrinya, dia enggak mau baca ulang lagi 
Nah, itulah jungkir balik saya menyusun buku ini. Semoga bisa diambil pelajaran, ya 🙂

Kalau ada yang berminat, boleh, lho, pesan sama saya langsung. Namun, beli di Gramedia terdekat juga oke banget. Saya malah senang, dan sangat berterima kasih, karena akan memperpanjang umur display buku ini di rak buku, hehe.
image

Judul: 45 KISAH WANITA SHALEHAH
Penulis: Aan Wulandari
Ilustrator : InnerChild Studio
Penyunting : Novalya Putri
Desain : Aditya Ramadita
Penerbit : Qibla, imprint dari BIP
Harga : Rp115.000,00

Advertisements