ALWAYS BE BY YOUR SIDE

Novel remaja pertama atau novel terjemahan bahasa Jepang ke dua yang saya edit 🙂

Awalnya, saya membaca lowongan editor freelance di sebuah grup, untuk buku terjemahan bahasa Jepang. Berdasarkan pengalaman menyunting seri Little Witch Co. saya memberanikan diri untuk melamar. Saya di tes menyunting satu bab disertai teks asli bahasa Jepang. Alhamdulillah lolos.

Biasa membaca novel anak yang jauh dari tema serba nge-pink, begitu baca novel remaja yang ada cerita naksir-naksiran jadi berasa gimanaa gitu, hihi. Ups! Bersih dari adegan pacaran, lho.

Menariknya novel ini adalah memasukkan pelajaran sejarah di dalamnya. Cara pengemasannya menarik, tidak maksa, karena antara cerita dan fakta ditulis terpisah. Bagus juga kalau ada novel lokal seperti ini 🙂

Selama ini, saya tahunya M&C! menerbitkan komik, namun buku ini hanya bab awal dan akhir dibuat dalam bentuk komik, lainnya narasi biasa.
image

Judul: Always Be By Your Side
Penulis: Senkoi Seisaku Iinkai / Tsubasa Nanaki
Penerbit: M&C
Penerjemah: Sekar Arum Sonia Lalita
Penyunting: Sri Nurhayati dan Aan Wulandari U

Saat libur musim panas, tak sengaja Marina bertemu dengan seorang lelaki di perpustakaan. Lelaki itu ternyata penggemar berat tokoh sejarah Nobunaga Oda dan guru IPS baru di sekolah Marina! Pak Guru Sakamoto namanya. Sifatnya yang ceria dan penuh semangat langsung membuatnya menjadi guru favorit di kelas.

Awalnya, Marina merasa sudah cukup puas hanya dengan melihat senyumannya. Namun, seiring dengan bertambahnya waktu, perasaan Marina pun semakin berkembang. Kenangan tentang diskusi pelajaran di perpustakaan sepulang sekolah, studi tur ke Kamakura, dan festival sekolah semakin membuat Marina berdebar-debar. Perasaan apakah ini?

Operasi ‘Gara-Gara’ Bisul

Ceritanya, tahun ’94 suami saya bisulan di kepala, tapi ‘mata’nya belum keluar, bekas bisul itu seperti benjolan. Setahun belakangan ini, benjolan itu tumbuh, dan lumayan besar, sampai sebesar telur puyuh.

Ohya, walaupun membesar, benjolan itu tidak sakit, juga tidak menimbulkan pusing atau lainnya. Jadi emang bikin males berobat hihi. Tahu-tahu, si benjol nggak bisa disembunyikan dari rambut. Kan, nggak cakep banget, tuh, di kepala ada telur puyuh. Itulah yang akhirnya bikin niat operasi :p

Senin suami periksa. Kamar full. Jadi, kami pesan kamar dulu. Tak disangka, Selasa siang dikabari kalau ada kamar kosong. Weih, enggak ngira juga bakalan secepat itu. Belum siap-siap. Akhirnya asal gubrak-gabruk masukin baju ke koper.

Kami berangkat, saat hujan deras, sebelumnya jemput Shofie sekolah dulu. Niatnya, kami sekeluarga akan nginap di hotel eh di RS aja, tak perlu merepotkan keluarga, tetangga, teman atau lainnya. Anggap aja liburan.

Perjalanan lancar, walaupun menembus hujan deras dan banjir di beberapa tempat. Baru kali ini, lihat di bawah patung Diponegoro, Ngesrep, bisa banjir seperti itu. Padahal hujan deras belum sampai satu jam. Bagaimana kalau berjam-jam, atau berhari-hari, ya? Na’uzubillah, deh.

Sampailah kami di RS dengan selamat, pas hujan tinggal menyisakan gerimis. Parkir di dalam full, akhirnya parkir di jalan, di luar RS.
Ada cerita lucu juga, nih. Enggak nyangka, kan, kalau operasi tuh musti di infus. Kirain, mah, masuk kamar aja, sampai waktu operasi. Ternyata,  musti udah masuk obat dari infus. Jadilah waktu mau diinfus di UGD, suami izin parkir mobil dulu. Soalnya mobil masih di luar :p. Dokternya juga geli saat itu. Untung ga izin mau usung-usung koper sekalian. Ternyata, parkir masih full. Tak mungkin, dong, suami di luar kelamaan nunggu parkir kosong, sementara Mbak Perawat sudah siap dengan infusnya. Urusan mobil dipikirin nanti (akhirnya, sekitar pukul 8 malam, saya minta tolong tukang parkir untuk masukin mobil).

Setelah itu, periksa darah dan lainnya. Sorenya kami diberitahu untuk foto kepala. Aih, mulai deg-degan, deh. Katanya, mengingat benjolan itu udah puluhan tahun, demi kehati-hatian, mau dilihat apakah ada penyebaran ke tempat lain. Hiks. Mulai parno. Parahnya lagi, saya baru tahu kalau suami harus bius total. Haiyah, makin berasa mau operasi beneran (Lah, emangnya operasi main-main? :p)

Menjelang magrib, tiba-tiba saya berubah pikiran. Terpikir untuk telpon adik ipar di Solo, minta tolong jagain anak-anak di rumah. Kamar yang kami dapat hanya ada satu sofa, tak memungkinkan untuk ditiduri berempat. Apalagi, hari Rabu, Shofie renang. Rasanya ribet banget musti antar dia ke sekolah, siang jemput lagi bawa ke RS.

Alhamdulillah. semua oke, Adik dan rombongan sampai RS sekitar pukul setengah sepuluh malam, dan bawa anak-anak pulang. Dan … honey moon is begin. Tinggal kami berdua di kamar. Halah.

Siang di hari Rabu dokter datang. Lega saat beliau mengatakan benjolan itu hanya ada di bawah kulit, operasi bisa dilakukan pukul empat sore. Alhamdulillah. Operasi berjalan lancar, tak sampai sejam, suami udah dibawa keluar dengan keadaan sadar sepenuhnya. Nggak ada tragedi mual sampai muntah segala (Yang mau muntah malah saya, akibat dikasih lihat jaringan yang diambil. Hoeek, nggak tahan, euy. Jijik, xixixi).

Sebelumnya, saya udah takut nungguin suami sendirian paska bius total. Pengalaman waktu Syafiq, dia cukup rewel, karena bekas operasinya mulai terasa sakit.  Makanya, saya minta ditemani ma ibu dan saudara lainnya, yang alhamdulillah bisa sampai RS pas suami masuk kamar kembali. Hihi … awalnya sok hero, nggak mau merepotkan saudara, ujung-ujungnya impor bantuan juga dari magelang :p

Alhamdulillah, catatan dokter juga oke. Kamis suami udah boleh pulang, kontrol lagi hari Senin.
Senin kemarin, saya mengantar kontrol. Hasil bagus, insya Allah, Jumat benang akan diambil.
Ngomongin benang, awalnya saya curiga, kok dikasih benang yang musti diambil lagi, bukan benang yang menyatu dengan daging? Apakah karena BPJS? Hihi …. Namun, kata dokter keluarga, karena kulit kepala keras, jadi pakai benang itu biar lebih kuat. Oooh ….

Alhamdulillah, sekarang udah lega. Si benjolan ini, yang emang disebut juga tumor jinak, udah hilang. Berasa parno, ya, dengar kata tumor, kanker, dls. Kalau di Jawa seringnya disebut uci-uci. Sebenarnya bisa diatasi dokter umum. Namun, karena letaknya di kepala, diperlukan tindakan bius total, jadilah kami musti ke rumah sakit. Beberapa teman ada benjolan uci-uci ini di tangan, perut, atau lainnya, cukup ‘diambil’ aja oleh dokter keluarga (dokter umum).

Yup itulah sedikit kisah dua malam di RS. Pengin berbagi aja, jangan sepelekan bisul, biarkan dia matang, pecah, matanya keluar. Penginnya, sih, ya, jangan sampai bisulan, ya 😉

Waktu saya share tulisan ini di FB, ada tips dari Mba Siti Nurhasanah tentang bisul, nih.

Bisul bisa diobati dengan daun lung atau daun ketela rambat. Caranya, cuci bersih daun itu, kemudian diremas-remas, dan tempelkan pada bisul. Nantinya bisul akan matang, bernanah dan pecah dengan sendirinya. Berdasarkan pengalaman beliau, nanahnya juga tidak bau. Alhamdulillah sembuh.

Kecelakaan : Mobil Selalu Salah?

Sabtu di ujung Januari, saya menempuh perjalan dari Magelang mau ke Purwokerto menghadiri acara silaturahim dengan calon mertua seorang sepupu. Biasanya, saat luar seperti ini, kami pasti merencanakan main ke sana dan ke sini, mencari tempat wisata terdekat, yang bisa kami sambangi. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitulah.

Namun, kali ini suami punya acara lain. “Kali ini kita khususkan untuk silaturahim, ya. Kita menemui teman-teman lama Papa yang sudah lama tak bertemu.”

Biasanya anak-anak manyun mendengar acara bertamu kayak gini. Namun, waktu itu seperti ‘pasrah’. Saya juga nggak menolak. Soalnya, lumayan akrab juga dengan istri-istri teman si Papa, sih.

Untuk itulah, pukul 03.00 dini hari, kami sekeluarga bersama seorang keponakan sudah meluncur, sedangkan saudara-saudara yang lain berangkat pukul 09.00.
Perjalanan alhamdulillah lancar. Kami shalat shubuh di deket stasiun Kutoarjo, yang sayangnya tidak ada jamaah shubuh 😦
Setelah itu, sarapan dan mandi pagi di pom bensin Gombong. Beberapa kali, kami mampir di sini bila perjalanan ke arah ‘barat’ lewat jalur selatan. Tempatnya enak. Ada gazebo dengan pemandangan sawah hijau, pun kamar mandi ada banyak dan bersih. Cocoklah.
image

Perut kenyang, badan bersih, siap melaju lagi. Perjalanan masih lancar, tak terlalu crowded. Si Papa masih yang pegang kemudi. Saya duduk di depan menemani. Sesekali, dengan rasa nggak enak, saya mainin hape, ngecek wa atau BBM. Ya, tahu, sih, nggak sopan banget mainan hape saat suami nyopir. Harusnya, mah, jadi kernet atau teman bicara :p

Hingga tiba-tiba, saat saya megang hape, terdengar ‘glodhak-glodhak’ dari samping mobil.
Masya Allah!! Mobil menyerempet motor yang dikendarai anak sekolah dan terseret. Anakku itu juga terdengar teriak-teriak. Segera suami berhenti. Hati saya sudah deg-deg plash tidak karuan. Keponakan dan si sulung langsung turun, sementara suami meminggirkan mobil. Saya di dalam, meminta si bungsu yang penasaran untuk tidak ikut turun. Saya takut dia trauma.
Si korban langsung diangkat mau dimasukkan ke mobil kami.
“Pak, bannya kempes!” kata seseorang.
Ya Allah, ban depan benar-benar habis anginnya.
Si sulung lumayan tanggap saat itu. Dia memanggil-manggil mini bus yang lewat, minta membawa korban. Sayang, bus nya tak mau berhenti, juga dengan beberapa mobil lain yang lewat. Hingga ada sebuah mobil dikendarai ibu-ibu yang mau berhenti mengangkut sang anak (Ternyata, ibu ini seorang dokter di puskesmas tak jauh dari lokasi).

Suami dan si sulung membawa korban ke rumah sakit, saya dan keponakan mengurus mobil.

Saat kejadian ini, saya sudah takut bakal ‘dikeroyok’ penduduk setempat. Yah, tak dikeroyok secara fisik, sih, paling nggak ada omongan tak enak yang akan terus menyalah-nyalahkan kami. Apalagi plat mobil kami luar kota. Seringnya, entah apapun sebabnya, mobil selalu disalahkan bila menabrak motor. Alhamdulillah, ketakutan saya tak beralasan.

Beberapa orang sigap membereskan motor dan lainnya sehingga jalan kembali normal, seolah-olah tak terjadi kecelakaan.
Komen-komen mereka yang membuat saya ‘gimanaaa gitu’ adalah, “Ayo, cepet. Selak ono polisi, dowo urusane. Ndang beresi … ndang beresi!”
Nggak mau bahas ini panjang lebar, ah :p

Setelah itu, beberapa bapak-bapak menolong membawakan motor korban ke bengkel.
“Bu, saya bawakan motornya ke bengkel, nggih,” katanya kemudian menerangkan letak bengkel terdekat. “Nanti saya bilang, njenengan yang mau mengurus semua.”
Saya mengiyakan dan mengucapkan terima kasih.

Sekarang, bingunglah saya dan keponakan. Gimana cara ganti ban? Bahkan letak dongkrak saja saya tak tahu. Alhamdulillah, ada seorang bapak muda yang menemani kami. Dia pun ikut mencari peralatannya, bahkan yang membuka sekrup ban mobil.
Sayangnya, entah kenapa, ban tak bisa kami lepas. Seolah-olah terkunci. Di saat saya kebingungan, si bapak muda tadi berinisiatif mencarikan tukang. Dia pun memacu motornya, dan sekitar 10 menit kemudian kembali bersama seorang tukang. Alhamdulillah selesailah urusan ban.

Sebenarnya, saya ingin berterima kasih pada si bapak penolong. Ketika dia pergi mencari tukang, saya memberi keponakan sejumlah uang untuk diberikan pada si bapak itu. Namun, bapak itu menolak dengan halus. Beliau hanya bilang, “Bapak e niko mawon sing dibayar.”
Maksudnya, kami disuruh membayar tukang. Dan ternyata, si tukang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, hehe. Untuk bongkar pasang ban, kami harus mengeluarkan uang yang lumayan besar. It’s oke. Bukan rezeki kami.

Setelah itu, kami menuju bengkel. Sempat curiga saat orang bengkel menyebutkan sejumlah rupiah untuk perbaikan motor. Namun, setelah dicek lagi, itu adalah jumlah yang wajar. Pemilik bengkel tidak ‘nuthuk’, mentang-mentang kami dari luar kota.

Terus, kami ke rumah sakit. Sampai di sana, suami baru menunggu hasil rongent. Alhamdulillah semua oke. ‘Hanya’ kaki yang lecet, sepatu dan celana rusak. Lainnya tidak apa-apa. Kami pun mengantar anak itu pulang.

Sampai rumah, kami ditemui saudara-saudaranya. Alhamdulillah, urusan bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Setelah itu, kami bahas ‘penyebab’ kecelakaan ini, berdasarkan cerita si korban. Waktu itu, motor posisi ‘aman’ untuk disalip. Rupanya, saat mobil kami menyalip (motor berada di samping mobil), si anak menghindari jalan rusak, dan banting kemudi ke kanan. Sebenarnya, sih, bukan rusak. jadi, jalan itu dulunya berlubang, namun sudah ditambal. Saat dia ke kanan itulah, motornya nyerempet mobil kami. Entah, gimana kejadiannya, kayaknya pijakan kaki ‘nunclep’ di ban mobil. Akhirnya motor terseret mobil beberapa meter. Saat mendengar anak itu teriak-teriak, rasanya sudah nggak karuan. Untungnya, sang anak tidak jatuh. Posisi dia di atas motor saat terseret.

Semua ini qadarullah. Mau mencari yang salah, tentunya tak akan menyelesaikan masalah. Saya bersyukur, semua berjalan baik-baik saja, bahkan banyak sekali pertolongan yang kami dapatkan selama kecelakaan itu. Apakah ini hikmah niat kami bersilaturahim? Allahu a’lam. Semoga selanjutnya berjalan baik. Karena, beberapa hari berselang, keluarga korban menelpon meminta tambahan biaya berobat. Katanya, “Di mana-mana, mau gimana-gimana, yang salah itu mobil”. Dezigh! Bukankah waktu ketemuan, semua sudah saling mengikhlaskan? Ya, kalimat mobil selalu salah memang sering dijadikan ‘senjata’ kebanyakan orang. Padahal tidak demikian.

Saya kopikan dari penjelasan di situs hukum online:

“Mengenai pertanyaan Anda apakah pengguna mobil harus selalu mengalah untuk menanggung biaya pengobatan dan kerugian kerusakan kendaraan, hal tersebut tidaklah benar. UU LLAJ menindak siapapun pengguna jalan yang terlibat dalam kecelakaan yang menyebabkan luka pada seseorang dengan tidak memandang apakah pelakunya adalah pengendara motor maupun pengendara mobil.”

Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini

Setelah kami jelaskan semua, keluarga itu pun bisa memahami, bahkan kemudian mengaku kalau ‘dikompori’ oleh tetangga sekitar.

Alhamdulillah, urusan kembali selesai. Semoga Allah segera menyembuhkan si anak. Semoga semua ini menjadi pelajaran bagi kami. Aamiin.