Kecelakaan : Mobil Selalu Salah?

Sabtu di ujung Januari, saya menempuh perjalan dari Magelang mau ke Purwokerto menghadiri acara silaturahim dengan calon mertua seorang sepupu. Biasanya, saat luar seperti ini, kami pasti merencanakan main ke sana dan ke sini, mencari tempat wisata terdekat, yang bisa kami sambangi. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitulah.

Namun, kali ini suami punya acara lain. “Kali ini kita khususkan untuk silaturahim, ya. Kita menemui teman-teman lama Papa yang sudah lama tak bertemu.”

Biasanya anak-anak manyun mendengar acara bertamu kayak gini. Namun, waktu itu seperti ‘pasrah’. Saya juga nggak menolak. Soalnya, lumayan akrab juga dengan istri-istri teman si Papa, sih.

Untuk itulah, pukul 03.00 dini hari, kami sekeluarga bersama seorang keponakan sudah meluncur, sedangkan saudara-saudara yang lain berangkat pukul 09.00.
Perjalanan alhamdulillah lancar. Kami shalat shubuh di deket stasiun Kutoarjo, yang sayangnya tidak ada jamaah shubuh 😦
Setelah itu, sarapan dan mandi pagi di pom bensin Gombong. Beberapa kali, kami mampir di sini bila perjalanan ke arah ‘barat’ lewat jalur selatan. Tempatnya enak. Ada gazebo dengan pemandangan sawah hijau, pun kamar mandi ada banyak dan bersih. Cocoklah.
image

Perut kenyang, badan bersih, siap melaju lagi. Perjalanan masih lancar, tak terlalu crowded. Si Papa masih yang pegang kemudi. Saya duduk di depan menemani. Sesekali, dengan rasa nggak enak, saya mainin hape, ngecek wa atau BBM. Ya, tahu, sih, nggak sopan banget mainan hape saat suami nyopir. Harusnya, mah, jadi kernet atau teman bicara :p

Hingga tiba-tiba, saat saya megang hape, terdengar ‘glodhak-glodhak’ dari samping mobil.
Masya Allah!! Mobil menyerempet motor yang dikendarai anak sekolah dan terseret. Anakku itu juga terdengar teriak-teriak. Segera suami berhenti. Hati saya sudah deg-deg plash tidak karuan. Keponakan dan si sulung langsung turun, sementara suami meminggirkan mobil. Saya di dalam, meminta si bungsu yang penasaran untuk tidak ikut turun. Saya takut dia trauma.
Si korban langsung diangkat mau dimasukkan ke mobil kami.
“Pak, bannya kempes!” kata seseorang.
Ya Allah, ban depan benar-benar habis anginnya.
Si sulung lumayan tanggap saat itu. Dia memanggil-manggil mini bus yang lewat, minta membawa korban. Sayang, bus nya tak mau berhenti, juga dengan beberapa mobil lain yang lewat. Hingga ada sebuah mobil dikendarai ibu-ibu yang mau berhenti mengangkut sang anak (Ternyata, ibu ini seorang dokter di puskesmas tak jauh dari lokasi).

Suami dan si sulung membawa korban ke rumah sakit, saya dan keponakan mengurus mobil.

Saat kejadian ini, saya sudah takut bakal ‘dikeroyok’ penduduk setempat. Yah, tak dikeroyok secara fisik, sih, paling nggak ada omongan tak enak yang akan terus menyalah-nyalahkan kami. Apalagi plat mobil kami luar kota. Seringnya, entah apapun sebabnya, mobil selalu disalahkan bila menabrak motor. Alhamdulillah, ketakutan saya tak beralasan.

Beberapa orang sigap membereskan motor dan lainnya sehingga jalan kembali normal, seolah-olah tak terjadi kecelakaan.
Komen-komen mereka yang membuat saya ‘gimanaaa gitu’ adalah, “Ayo, cepet. Selak ono polisi, dowo urusane. Ndang beresi … ndang beresi!”
Nggak mau bahas ini panjang lebar, ah :p

Setelah itu, beberapa bapak-bapak menolong membawakan motor korban ke bengkel.
“Bu, saya bawakan motornya ke bengkel, nggih,” katanya kemudian menerangkan letak bengkel terdekat. “Nanti saya bilang, njenengan yang mau mengurus semua.”
Saya mengiyakan dan mengucapkan terima kasih.

Sekarang, bingunglah saya dan keponakan. Gimana cara ganti ban? Bahkan letak dongkrak saja saya tak tahu. Alhamdulillah, ada seorang bapak muda yang menemani kami. Dia pun ikut mencari peralatannya, bahkan yang membuka sekrup ban mobil.
Sayangnya, entah kenapa, ban tak bisa kami lepas. Seolah-olah terkunci. Di saat saya kebingungan, si bapak muda tadi berinisiatif mencarikan tukang. Dia pun memacu motornya, dan sekitar 10 menit kemudian kembali bersama seorang tukang. Alhamdulillah selesailah urusan ban.

Sebenarnya, saya ingin berterima kasih pada si bapak penolong. Ketika dia pergi mencari tukang, saya memberi keponakan sejumlah uang untuk diberikan pada si bapak itu. Namun, bapak itu menolak dengan halus. Beliau hanya bilang, “Bapak e niko mawon sing dibayar.”
Maksudnya, kami disuruh membayar tukang. Dan ternyata, si tukang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, hehe. Untuk bongkar pasang ban, kami harus mengeluarkan uang yang lumayan besar. It’s oke. Bukan rezeki kami.

Setelah itu, kami menuju bengkel. Sempat curiga saat orang bengkel menyebutkan sejumlah rupiah untuk perbaikan motor. Namun, setelah dicek lagi, itu adalah jumlah yang wajar. Pemilik bengkel tidak ‘nuthuk’, mentang-mentang kami dari luar kota.

Terus, kami ke rumah sakit. Sampai di sana, suami baru menunggu hasil rongent. Alhamdulillah semua oke. ‘Hanya’ kaki yang lecet, sepatu dan celana rusak. Lainnya tidak apa-apa. Kami pun mengantar anak itu pulang.

Sampai rumah, kami ditemui saudara-saudaranya. Alhamdulillah, urusan bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Setelah itu, kami bahas ‘penyebab’ kecelakaan ini, berdasarkan cerita si korban. Waktu itu, motor posisi ‘aman’ untuk disalip. Rupanya, saat mobil kami menyalip (motor berada di samping mobil), si anak menghindari jalan rusak, dan banting kemudi ke kanan. Sebenarnya, sih, bukan rusak. jadi, jalan itu dulunya berlubang, namun sudah ditambal. Saat dia ke kanan itulah, motornya nyerempet mobil kami. Entah, gimana kejadiannya, kayaknya pijakan kaki ‘nunclep’ di ban mobil. Akhirnya motor terseret mobil beberapa meter. Saat mendengar anak itu teriak-teriak, rasanya sudah nggak karuan. Untungnya, sang anak tidak jatuh. Posisi dia di atas motor saat terseret.

Semua ini qadarullah. Mau mencari yang salah, tentunya tak akan menyelesaikan masalah. Saya bersyukur, semua berjalan baik-baik saja, bahkan banyak sekali pertolongan yang kami dapatkan selama kecelakaan itu. Apakah ini hikmah niat kami bersilaturahim? Allahu a’lam. Semoga selanjutnya berjalan baik. Karena, beberapa hari berselang, keluarga korban menelpon meminta tambahan biaya berobat. Katanya, “Di mana-mana, mau gimana-gimana, yang salah itu mobil”. Dezigh! Bukankah waktu ketemuan, semua sudah saling mengikhlaskan? Ya, kalimat mobil selalu salah memang sering dijadikan ‘senjata’ kebanyakan orang. Padahal tidak demikian.

Saya kopikan dari penjelasan di situs hukum online:

“Mengenai pertanyaan Anda apakah pengguna mobil harus selalu mengalah untuk menanggung biaya pengobatan dan kerugian kerusakan kendaraan, hal tersebut tidaklah benar. UU LLAJ menindak siapapun pengguna jalan yang terlibat dalam kecelakaan yang menyebabkan luka pada seseorang dengan tidak memandang apakah pelakunya adalah pengendara motor maupun pengendara mobil.”

Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini

Setelah kami jelaskan semua, keluarga itu pun bisa memahami, bahkan kemudian mengaku kalau ‘dikompori’ oleh tetangga sekitar.

Alhamdulillah, urusan kembali selesai. Semoga Allah segera menyembuhkan si anak. Semoga semua ini menjadi pelajaran bagi kami. Aamiin.

Advertisements

2 thoughts on “Kecelakaan : Mobil Selalu Salah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s