Kemping Ekstrim di Mangli

Kemah sekarang enak. Bawanya mi instan, sarden, kornet. Makan bisa katering. Tenda juga sudah tersedia, terpasang di bumi perkemahan.

IMG-20151201-WA0007

Dan… Jumat-Ahad kemarin, saya kembali merasakan kemah seperti saat SD. Harus bawa ember, panci yang ada gagangnya (berfungsi juga sebagai gayung), gelas, piring, sendok, juga lampu badai dengan bahan bakar minyak tanah. Kenyataannya, saya tetap membawa beberapa emergensi dan senter, sih. Nggak pede mau bawa lampu badai aja :p

1.Lampu badai

Selain itu, saya dapat tugas belanja ubi dan singkong untuk sarapan dan snacking. Lumayan, singkong 40 lonjor ukuran sedang, plus 80-an buah ubi ukuran sedang. Total, beratnya sekitar 20 kg. Ohya, tenda, matras, sleeping bag, tongkat dan tali pramuka, juga harus membawa sendiri. Tidak disediakan oleh panitia kemah. Makin keren, kan? :p

Lokasi kemah adalah di Mangli, kecamatan Ngablak, Magelang. Lumayan jauh dari kota. Namun, masih oke. Jalan aspal, lumayan lebar, pun tidak begitu curam. Nah, masalah muncul begitu sampai di lokasi. Jarak antara tempat parkir sampai lokasi kemah lumayan jauuuh dan menanjak. Huhu. Penuh perjuangan untuk menuju ke sana, dengan membawa gembolan segitu banyak. Si Papa dan si Sulung dapat tugas terberat. Dengan tongkat sebagai tandu, semua barang pun diangkat. Saya dan Shofie kebagian bawa ransel dan beberapa tentengan. Alhamdulillah, ubi dan singkong diangkut oleh seorang ibu yang diupah untuk membawakan barang-barang bersama ke lokasi. Fiuuuh.

Momot

 

Lima belas menit lebih saya menempuh jarak itu. Beberapa kali berhenti karena menggeh-menggeh poll. Berasa, deh, kalau sudah tua, menunggu hari menuju kepala empat (hiks). Lega sekali ketika sampai di lokasi, tapi tidak bisa langsung leyeh-leyeh. Harus segera mendirikan tenda, sebelum hari gelap dan hujan. Maklum, lokasi ini benar-benar di tengah hutan, tidak ada penerangan listrik sama sekali. Bukan bumi perkemahan yang sudah tersedia kapling dengan rapi. Kami juga musti cari lokasi yang datar, menambal sedikit ‘jeglongan’ dengan daun pinus,mencari lahan yang luasnya satu ukuran tenda, dan lainnya.

Perjuangan di hutan pun dimulai!

IMG-20151201-WA0011
Begitu sampai sana, beberapa teman yang sudah datang duluan sudah menyalakan api di tungku yang terbuat dari batu besar, menggunakan kayu bakar (Kayu seharusnya nyari sendiri, ternyata tidak ada, akhirnya beli). Tungku itu tengah dipakai untuk masak air dan kacang. Ya, air minum wajib tersedia. Tak ada galon air minum besar selama kemah. (Tapi saya bawa galon kecil ukuran 4 liter, hihi. ) Di hari ke dua, minuman bau sangit. Beberapa anak tampak protes. Tapi inilah saatnya belajar, tak semuanya sesuai harapan. Hari terakhir, mengambil air langsung dari mata air, tanpa dimasak langsung minum. Dan… rasanya jauh lebih segar!

Makannya? Apakah masak sendiri juga?
Alhamdulillah, belum ekstrim banget yang musti masak sendiri tiap mau makan, dengan bahan seadanya di hutan. Makan malam hari pertama, makan siang dan malam hari kedua, serta makan siang hari terakhir pesan. Mengingat banyak aktivitas yang tak memungkinkan kalau masak sendiri.

Jadwal masak sendiri adalah snacking beruba ubi, singkong, pisang, dan kacang rebus. Dan, sekali untuk makan malam di hari kedua. Menunya sop dan mendoan, dan dijadikan aktivitas masak bersama. Anak-anak membantu iris-iris sayuran. Tadinya mau masak nasi juga, tapi tidak jadi, karena nasi jatah makan siang masih sisa banyak.

Dua kali sarapan pun masak sendiri, yaitu singkong, dan telur rebus (Kenyataannya masih ada sisa nasi makan malam, jadi banyak yang sarapan pakai nasi dan lauk makan malam).
Mi instan, sarden, kornet kalengan? Semua lewat. Dalam acara ini, sangat dianjurkan untuk tidak membawa makanan instan. (Pengakuan dosa: Ehem, tapi saya bawa minuman instan, sih, hihi. Cokelat, susu sereal, juga bandrek. Walaupun bawa jahe dan gula jawa juga, tapi tidak sempat memasaknya). Anak-anak lebih banyak nyemil buah-buahan yang berlimpah, juga ubi, singkong, jagung rebus. Tak sekali dua kali, terdengar suara ibu-ibu yang mengingatkan putra’putrinya untuk makan buah dan sayur.

MCK?

IMG-20151201-WA0009
Cukuplah dengan tirai yang diselubungkan pada beberapa pohon. Panitia sudah membuat lubang, dan menyediakan sekop. Silakan bayangkan kucing saat pup, ya! :p

Dan… tidak dibuat tempat khusus untuk mandi. Huaa! Beberapa teman mandi saat malam, sehingga tidak terlihat asal senter dimatikan. Ada juga yang mandi di kamar mandi umum, di dekat area parkir. Tapi untuk mencapai ke sana musti menggeh-menggeh dulu, jadi saya memilih mandi menggunakan lap basah di tenda. Itu pun cuma sekali :p

Acara hari ke dua cukup ekstrim. Naik gunung Andong!! Memang, tidak wajib. Sesuaikan dengan kemampuan. Ada tiga tahap, hijau, oranye, merah. Hijau adalah jarak terendah. Dan… hanya saya, Shofie, serta Mba Ellen (Karena menggendong baby Nesh, 8 bulan) yang sampai hijau. Beberapa sampai oranye, serta sebagian besar sampai puncak!! Menakjubkan. Karena saat briefing, beberapa peserta menyatakan dirinya sampai oranye saja. Ternyata, mereka sampai puncak.

4.Ladang

Tiga hari menyisakan banyak makna, terutama pembelajaran dari teman-teman selama ngALAM. Ketika ada banyak kasus para remaja yang mengaku ‘pecinta alam’ naik gunung, tapi menyisakan banyak sampah, merusak tanaman demi sebuah foto selfie, maka di sini kami belajar dan untuk minim sampah. Anak-anak diajarkan memilah sampah. Diajarkan juga mengubur aneka sampah organik yang dihasilkan selama kemah. Bahkan, makanan yang kami pesan tidak dibungkus (walaupun daun pisang). Kami prasmanan memakai piring yang sudah dibawa.

Tak hanya itu, seminimal mungkin disarankan untuk tidak membawa bahan kimia yang bisa mengganggu ekosistem hutan. Kami mencuci piring menggunakan lerak. Mandi disarankan memakai jeruk nipis. Saya pun jadi tahu, bagian dalam kulit jeruk bisa dipakai untuk membersihkan gigi dan membuat gigi menjadi lebih putih.

Dan satu lagi tema menarik tiada habisnya yang menjadi topic perbincangan kami. Homeschooling! Walaupun cerita ini dan itu pernah dengar, terasa diulang-ulang, tapi ini menguatkan saya sebagai orangtua homeschooler. Ya, acara ini bukanlah kegiatan keluarga homeschooler, tapi kebanyakan keluarga yang ikut adalah yang tidak menyekolahkan anaknya. Mereka pun menjadi penebar racun semangat HS-er hehe.

Pegel-pegel belum hilang walaupun sudah diistirahatkan. Kaki juga belum menyusut dari bengkak karena… entahlah, sepertinya harus rajin olahraga dan makan sehat :p. Alhamdulillah, segala cucian sudah beres, alat-alat juga sudah tertata. Dan, rasanya musti bersabar menunggu setengah tahun untuk kemah lagi dengan nuansa dan tantangan yang berbeda. Semoga bisa ikut. Aamiin.

IMG-20151201-WA0008

Kegiatan diselenggarakan oleh potTrack Regular Hiking – one Track one Tree

Advertisements