Teka-Teki Dongeng Nusantara

Teringat satu buku, yang sudah lama hampir kuabaikan, nyaris terlupakan. Hiks… berasa jadi emak tiri banget, deh.

nusantara3

Kok tiba-tiba ingat? Ceritanya begini. Beberapa waktu lalu, seorang teman lama memesan satu set buku Seri Pengalaman Seruku. Masya Allah, katanya anak sukaaa banget. Kembang kempis, dong, hidung saya mendengarnya. Apalagi, sampai minta saya nulis buku lagi, dan pesen pakai nama dia hihi. Rupanya, si bocah lucu ini cemburu, karena nama dia gak ada, sementara nama temennya ada. Haha. Saya ceritain ini sama suami, dia pun ikutan ngakak.

Berlanjut, temen saya nanya ada buku apa lagi. Alhamdulillah, ketika pembaca puas dengan satu buku kita, insya Allah, mereka akan ketagihan. So, pertahankan selalu kualitas penulisan. Ciee. Eh, ditanya ada buku apa lagi, saya malah bingung. Punya pictorial book apa lagi, ya? Ubek-ubek, nemu buku “Teka-Teki Dongeng Nusantara”. Ya Allah… kok sampai lupa punya buku ini?? Nggak pernah promosi, nggak pernah jualan. Padahal buku ini asyik, loh.

Akhirnya, deal deh. Teman saya beli buku itu. Dan… lagi-lagi, doi puas. Malah lebih seneng dibandingkan waktu baca seri Pengalaman Seruku, kayaknya hehe. Kelihatan di BBM, kayak lebih semangat gitu, deh. Dia mengabarkan anaknya sukaaa banget ama bukunya. Langsung ambil pensil, mengerjakan aktivitasnya. Anaknya paling suka aktivitas yang mencari rintangan (baca: maze). Katanya, lebih seneng lagi, karena di bukunya aku kasih nama dia, dan ada tanda lope-lope hihi.

img_20161030_214829

Sebentar… ini buku aktivitas atau pictorial book?
Jawabnya adalah dua-duanya, hehe.
Buku tentang cerita rakyat sudah buanyaak sekali ada di pasaran. Namun, selalu saja ada buku baru dengan tema ini. Artinya apa? Buku tema ini laku di pasaran. Nah, agar tidak membosankan, tentulah harus mencari diferensiasi, alias kekhasan tersendiri yang membuatnya berbeda dengan buku kebanyakan.

Berasa terhormat banget, ketika saya yang diminta untuk menuliskannya. Ide dari editor ini keren sekali. Jadi, buku ini berbentuk pictorial book, tapi ilustrasinya tak sekedar gambar biasa. Di sana ada permainannya. Bisa maze, mencari dan menghitung gambar, memadu-padankan kata, dan lain-lain. Saya jadi mikir dua kali ketika menuliskan panduan ilustrasi. Repot? Iya, sih. Tapi asyik. Seperti main teka-teki juga akhirnya, walaupun tugas saya kali ini adalah sebagai si pembuat soal teka-teki hehe.

Dalam buku ini ada empat cerita rakyat yang dipilih berdasarkan isi ceritanya. Tentang apa? Tentunya yang berhikmah dan pas buat anak. Ortu biasanya cinta banget deh ama si hikmah ini, hihi. Awalnya, saya diminta mengajukan beberapa judul cerita rakyat, dan terpilihlah; Timun Mas, Biwar Penakluk Naga, Semangka Emas, dan Malin Kundang. Semuanya dengan hikmah yang berbeda-beda, tentang keberanian, sifat dermawan, dan bakti kepada orangtua. Semuanya ditulis dengan gaya anak kecil banget. Namanya juga buku aktivitas 🙂

photogrid_1452924609807

***
TEKA-TEKI DONGENG NUSANTARA
Penulis : Aan Wulandari U
Penerbit : Tiga Ananda
Ukuran : 23 x 21 cm
Cover : Soft Cover
Isbn : 9786023660872
Berat : 200 gram

Harga : 36.000

 

SINOPSIS

“Kalian suka membaca dongeng nusantara?
Kalau hanya membaca, itu, sih, biasa.

Di buku ini, selain membaca kisah serunya, kalian juga dapat memecahkan berbagai teka-teki di dalamnya.
Kalian dapat membantu Timun Mas mengalahkan raksasa, membantu Biwar mengalahkan sang naga, membantu Dermawan menemukan semangka emas, dan membantu tokoh-tokoh yang lain. Seru, kan?

Advertisements

Minta Ditabok :)

Sabtu pagi, suami pulang dari stasiun, menjemput kakak dan keponakan dari Jakarta, yang mau mudik Magelang (kereta ke Yogya habis, akhirnya turun Semarang, hehe). Saat itu, di rumah pas ada teman yang mengambil buku.

Ketika kakak mandi, dan keponakan main di atas sama Shofie, suami menanyakan si tamu. Siapa? Maka, mengalirlah cerita dari saya.
Temen tadi beli buku. Semalam, saya lihat ada beberapa buku belum terjual numpuk di kardus. Padahal, weekend niat mau beres-beres kamar untuk persiapan debay. Alhamdulillah, Jumat adalah waktu promo di sebuah grup. Maka, iseng aja saya posting buku-buku itu. Karena hanya ngabisin stok, pun dijual sama anggota grup yang saya kenal dengan baik, saya sedikit mengobral buku itu, apabila beli tiga buku ini sekaligus.

photogrid_1477021904392
Eh… gak tahunya banjir pembeli. Habis, deh, semua bukunya, bahkan pesan lagi ke penerbit, masing-masing buku lebih dari 10 exp. Bahkan,berlanjut sampai beberapa hari, karena ada teman yang menjual lagi buku-buku itu (menjadi reseller). Alhamdulillah, kan?

Kebayang, kan, betapa menggebunya saya cerita jualan yang sukses itu? Namun, apa jawaban suami mendengar berita menggembirakan seorang bakul ini? Uhuks, dah. Bukannya ikutan seneng, malah bilang gini. “Terus, Tita (keponakan yang lagi di rumah) kebagian nggak?”
Eeeaaa… he knows me so well, yang suka main jual-jual aja. Kadang, buku punya Shofie juga saya jual, hihi.

Langsung saya jawab dengan cengiran. “Habis. Semua udah pesanan. Nanti dikirim aja, ya.”
Suami diem. Jelas bedalah ‘rasanya’ ngasih di rumah sama nanti dikirim. Hehe. Lama, doi gak bicara. Kali dia galau, perang batin. Mau ngatain istri pelit atau bakul profesional yang mengutamakan pelanggan wkwkwk.

Sebagai istri yang tahu diri, otak langsung berputar. Buku apa yang kira-kira bisa dikasihkan keponakan hari ini, ya? Masuklah saya ke kamar, lihat-lihat lemari yang berantakan, dan taraaa… tampaklah seri Fun Cican.

photogrid_1477752002386
Sebenarnya, buku itu disimpan untuk keponakan juga. Tapi keponakan yang lain lagi, bukan si Tita ini hihi. Maklum, punya banyak keponakan. Suami lima bersaudara. Saya tiga bersaudara.

Langsung, deh, buku itu saya ambil. Kasih lihat ama suami. “Ada buku yang lain lagi, nih. Kasih ini, ya.”
Jawabannya lagi-lagi bikin surprised, deh.
“Keren, ya, bukunya. Ada tulisan Aan Wulandari di bukunya.”
Eeeaaa… dari puluhan buku yang ditulis si istri, emang baru tahu, ya, kalau di kaver selalu ditulis nama. Minta ditabok, nih, suaaamiiii….

Ohya, keponakan yang ke rumah ini kelas dua SD. Sebenarnya udah nggak levelnya baca Cican, sih. Jadi, saya bilangnya gini.
“Kak, ini buku buat Dik Qonit, ya. Nanti Kak Tita yang bacain.”
Hihi… cerdas, kan? Qonit adalah adiknya, yang baru masuk playgrup.

Nah, kalau jawaban keponakan ini bikin nyeesss, deh.
“Makasih, Tante. Qonit emang lagi minta dibacain buku terus. Dia pasti senang dapat buku ini.”

Romantis ala Penerbit-Penulis ;)

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar kalau penerbit mau stok opname selama sepekan. Pernah dengar kalimat itu, makna yang saya tangkap, sih, selama stok opname saya gak bisa pesan-pesan buku, hehe. Biar jelas, saya tanya lagi arti stok opname. Jawabannya adalah, selama sepekan itu penerbit akan menghitung keseluruhan buku yang ada di gudang area masing-masing, baik gudang besar, gudang pemasaran di seluruh Indonesia. Selama masa itu, tidak boleh ada transaksi barang.

Btw, ini penulis kok ngurusin begituan, sih? Haruskah?
Hehe… dalam SPP ( Surat Perjanjian Penerbit ), jelas tidak ada pasal yang mewajibkan penulis jualan, apalagi sampai ngurusi stok opname segala. Jadi, tidak melanggar hukum, kalau penulis gak mau tahu.

Kenapa saya begini?
Jawaban pertama, saya gak merasa terpaksa, dan ternyata saya suka diajak diskusi masalah ini dengan pihak marketing. Sama seperti kesukaan saya jualan buku (Pada akhirnya, saya sering juga menjual buku yang bukan karya sendiri). Puas rasanya bisa memberikan informasi dan ikut mencari buku-buku yang dibutuhkan pembeli.

Persaingan di dunia penerbit lumayan ketat. Buku-buku bagus dengan tema sejenis, terbit hampir bersamaan. Toko buku penuh. Display kadang tak maksimal. Bahkan, kalau tak beruntung nyaris tak kelihatan karena penataan yang … begitulah.

Rasanya, tak ada salahnya penulis ikut membantu pemasaran buku sendiri. Toh, keuntungan juga buat kita. Siapa, sih, yang nggak suka kalau bukunya laku?

Caranya?
1. Tak sekedar narsis mengabarkan buku terbit. Bahasa ‘narsis’ bisa dikemas lebih baik lagi, sehingga bernada promosi manis yang bisa menarik pembeli. Seorang teman bahkan membuat video bukunya. (Saya gaptek. Belum pernah nyobain hihi).

2. Penulisan behind the scene, sepak terjang dalam menulis buku insya Allah bermanfaat. Selain bisa belajar dari pengalaman, tak jarang isinya bisa memantik semangat penulis lainnya.

3. Nah, berikutnya adalah jualan bukunya hehe. Kadang, buku bertanda-tangan penulis mempunyai nilai lebih, loh 🙂

Ohya, tentang jualan ini, beberapa penulis mempunyai kendala masalah modal. Yup, saya juga pernah berada di posisi itu. Makanya, senang sekali ketika ada penerbit yang memberikan keringanan dengan cara potong royalti. Jadi, saya tak perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buku. Malah, menjadi sumber pendapatan. Masya Allah walhamdulillah.

Ada juga penerbit yang menawarkan konsinyasi. Kita bisa ambil buku, dijual dalam waktu sebulan atau sesuai kesepakatan. Setelah itu, baru bayar bukunya. Kalau ada buku yang tak laku, bisa dikembalikan. Lumayan, kan?

Kalau ketemu penerbit yang harus bayar dulu ketika kulakan, ya, terima saja. Tidak usah mengomel, apalagi pasang status di FB. Weih, bunuh diri itu, sih. Bisa-bisa penerbit nggak mau lagi kerja sama :p

Sama-sama merasa memiliki, kemudian memperjuangkan agar buku bisa lebih banyak diterima (baca: dibeli), adalah hubungan yang romantis antara penerbit dan penulis, bukan? 😉

Decoupage Kotak Pensil Pandan

Late post, acara decoupage tanggal 21 Agustus 2016 🙂

img-20160822-wa0059

Alhamdulillah,
Acara BMC alias Busy Momy Community berjalan lancar.
Kali ini, acara khusus untuk anak-anak, yaitu menghias boks pensil menggunakan teknik decoupage. Gambar napkin yang lucu-lucu menarik perhatian anak-anak 🙂

Sebenarnya acara ini berjalan setiap Ahad selama bulan Agustus. Namun, peserta membludak tanggal 21 Agustus. Mungkin karena tempat yang lebih dekat dengan rumah peserta, yaitu Tembalang.

Mulai gencar promosi sepekan sebelumnya, tapi bisa menjaring 15 peserta. Melebihi kuota yang hanya 12 orang. Agak dag dig dug juga, karena banyak anggota BMC yang berhalangan, sehingga tak bisa menjadi coach. Pun, hair dryer ternyata hanya ada satu biji. Huaaa… Untuk 5 peserta dewasa saja, dengan memakai 2 hair dryer lumayan lama antre, apalagi 15 anak dengan satu hairdryer. Waks…. Bismillah aja, deh 😉

Hari H pun tiba,
Pukul sembilan kurang, sudah ada peserta yang datang, bersamaan dengan datangnya perlengkapan. Sip, acara bisa dimulai tepat waktu, insya Allah. Seusai menata tempat dan barang, coach mulai berdatangan. Dengan tiga peserta di awal, acara bisa dimulai. Satu per satu, peserta berdatangan, dan… selalu pas dengan datangnya para coach. Alhamdulillah, semuanya seperti sudah diatur Yang Kuasa 🙂

Bagaimana dengan antrean hairdryer? Hihi… tetap mengular, tapi sebagian berinisiatif mengeringkan langsung di bawah mentari yang lumayan panas. Alhamdulillah.

Acara yang dijadwalkan berakhir pukul 12, bisa selesai sebelum waktunya. Kecuali beberapa peserta yang datang terlambat. Pun, sebelum pukul 1 juga sudah kelar semua, termasuk selesai beres-beres tempat 🙂 Alhamdulillah… alhamdulillah… Segala kekhawatiran sirna sudah.

Ohya, ehem… sedikit cerita, ya. Sebenarnya, si PJ punya satu kekhawatiran yang lumayan bikin deg-degan, loh. Membuat event seperti dengan cara pembayaran bisa on the spot, cukup membuat dag dig dug. Bagaimana kalau peserta ternyata tidak datang? Padahal barang sudah dibelikan? Alhasil, tak hanya sekali dua kali, PJ selalu mengingatkan akan butuhnya sebuah pengertian masalah bayar-membayar ini, hihi. Maaf, bila nyebelin, ya. Bahkan sehari sebelum hari H pun, lagi-lagi kirim broadcast, mengingatkan akan acara, dan memohon dengan sangat agar peserta tidak membatalkan. Rasanya khawatir banget bila wa itu tidak dibalas. Pikiran jelek yang muncul. Jangan-jangan…. jangan-jangan… hehehe.
Alhamdulillah… bersyukur sekali, semua peserta datang. Terima kasih banyak atas kerjasamanya, yaaa … 🙂

Kursus Jahit Maraton: Sehari Jadi Gamis

Late post. Acara ini sudah dilaksanakan tanggal 16 Agustus lalu, hehe

Kursus pola dan jahit maraton, sehari jadi gamis. Menarik, ya?
Dulu… awal-awal nikah, baper dibilang pengangguran, saya pun ambil kursus jahit. Hasilnya? Ora iso opo-opo wkwkwk. Padahal, kursus di tempat terkenal di Yogya pada masa itu. Maklum, bukan passion kali, ya. (Alesan :p)

Nah, rupanya si anak wedok, Shofie, lebih punya darah utinya (bukan emaknya). Dia suka nak-nik aneka kerajinan, salah satunya menjahit. Bahkan, puasa kemarin minta hadiah mesin jahit kalau puasa penuh. Weks. Seumuran dia, puasa penuh itu udah ga ada hadiah-hadiahnya lah :p

Oke, ketika sang Cikgu Noor kursus jahit maraton mau ke Semarang, langsung aja saya samber untuk ngisi pelatihan. Tadinya, yang mau saya ikutkan ya, Shofie hihi. Saya cukup jadi EO (halah) dibantu para emak di BMC (Busy Momy Community) yang asyik tentu saja.

Namun, setelah dipikir-pikir, gak mungkin lah, Shofie yang ikut. Namanya anak 9 tahun, tentunya belum ‘nyandak’ bicara teori, pun seharian begitu. Akhirnya saya yang ikut, nanti ilmu bisa ditransfer lah…

Deal waktu dll, peserta juga cukup banyak. Yang tadinya hanya khusus anggota BMC, teryata bisa nambah teman-teman BMC hehe.

Nah, masalah pun datang. Namanya juga newbie semua di dunia jahit-menjahit, hanya ada satu orang yang punya mesin jahit portable, dua orang punya mesin jahit jadul. Padahal perlu 6 mesin jahit per hari, untuk dipakai selama dua hari, pun mesin itu harus diangkut ke rumah saya di lantai 2. Pingsan, deh.

Skip… gak mungkin. Carilah penyewaan mesin jahit. Mbak Endah mendapat mesin jahit di LPK. Info awal, mesin jahit bisa diantar ke rumah. Namun, akhirnya ketua LPK minta kita yang datang saja ke sana. Oke, deh. Kalau begitu bisa sekalian sehari 15 orang (nambah kuota, yang tadinya 12 orang, karena mesinnya banyak, jadi 15 orang hehe)
Udah seneng, tuh. Sampai akhirnya, kami survey ke sana. Apa yang dilihat? Olala… mesin jahitnya high speed!! Sang Cikgu langsung menolak mentah-mentah. Gak bisa! Apalagi dipakai buat pemula.

Pasrah, wis. Belajar pola aja juga gak papalah, gak usah sampai jahit. Alhamdulillah, Mb Indah gigih browsing, akhirnya nemu SMK Diponegoro, ada jurusan busana, di dekat rumah (walaupun tempatnya mblusuk). Langsung, deh, ditelpon. Dan dibilang oke!! Keesokan harinya langsung survey. Siip. Mesin jahitnya biasa walaupun jadul, sebagian pakai dinamo, sebagian pedal. Saya hitung ada 16. Alhamdulillah….
Begitu fix tempat, Cikgu pun langsung belanja kain hihi… Untunglah, belanjanya dibantu Qoulan, ya. Soalnya para emak ini request motif kain, mulai hitam polos sampai shabby chic yang cocok buat mahmud.
Jujur, saya rada deg-degan. Akankah acara akan lancar? Gimana kalau tiba-tiba jadwal bentrok karena kurang koordinasi? Gimana kalau mesin jahit ngadat? Gimana… gimana… Akhirnya yang ada hanya pasrah. Insya Allah, udah usaha maksimal.

Hari H pun tiba. Berangkat ke lokasi, sebelumnya ngampiri aneka perlengkapan dulu, sampai lokasi pukul 08.00 (sesuai jadwal). Masuk ruang kepala sekolah, izin, dll. Lalu, langsung dipersilakan ke lab. Ternyata… pintu digembok. Huaaa… Was-was lagi, deh. Jangan-jangan ruangan belum siap? Hiks….
Seorang guru pun datang membuka pintu. Begitu masuk, lega rasanya. Lab sudah bersih, rapi, dan dipel. Jadi malu udah su’uzhan.

Mbak Noor langsung nulis-nulis di white board, sementara saya… cari toilet wkwkwk. Hamil baru 4 bulan, tapi kok sudah beser banget. Di dekat lab ada masjid, pastilah ada toilet. Bener ada, sih. Dan, tahukah saudara-saudara? Toilet tak berpintu. Saya lihat di sekeliling, berasa terlempar ke zaman batu. Ya, kondisinya masih ndeesoo banget.

Akhirnya, yang berikutnya kalau mau ke toilet kita gantian rame-rame. Dua orang berperan sebagai penjaga pintu dengan membentangkan kain yang mau dibuat gamis, hahahaha. Mantap, dah!

Belum cerita kursus kok udah panjang banget, ya? Hiks….
Alhamdulillah, peserta datang bersamaan walaupun telat dikit. Jadi, acara bisa langsung dimulai. Kayak belajar di kelas beneran. Ada bu guru di depan yang menerangkan. Kami ndeprok di lantai.
Pertama belajar buat pola. Teori – praktik – teori – praktik. Begitu terus, dan langsung diperiksa bu guru. Pas dhuhur, pola sudah selesai. Pas, makan siang juga datang.

13975447_843238339109685_5028016978822580998_o

Acara gunting-menggunting dilanjut setelah maksi dan shalat, juga makan cemilan potluck dari peserta.

Kehebohan muncul lagi. Begitu diperiksa, ternyata beberapa mesin jahit itu tidak ada sekocinya. Bu guru mumet, dah. Alhamdulillah, Mb Indhy siap sedia membelikan, sekaligus jemput krucil yang pulang siang. Rupanya, masalah belum terpecahkan, karena hanya dapat tiga sekoci hihi….

Lalu gimana, dong?
Nah, ini juga ada cerita sendiri. Dari 16 mesin jahit itu hanya ada empat yang pakai dinamo. Lainnya masih pancal. Rupanya, buat pemula, mancal ini jauh lebih sulit daripada yang tinggal nginjek dinamo. Jahitan malah maju mundur tak karuan xixi. Alhasil, beberapa teman pun menjahit jelujur gamisnya wkwk.

Sebelum sore, saya melihat ke atas. Rupanya, tak ada lampu sama sekali di ruang jahit ini. So, mau tak mau, kelas harus selesai sebelum petang. Tadinya, menjadwalkan pukul 16.15 kegiatan dihentikan, lanjut semua beres-beres, setengah lima pulang. Tapi, masih pada keasyikan hihi… molor deh, jadi jam lima baru kelar.

13920643_843238615776324_2659292565208790498_n

Ada tiga orang yang gamis sudah selesai. Walaupun begitu, sebagian besar sudah berbentuk gamis, kok. Berasa lah buat gamis hari ini hihi.

Esoknya… buat yang belum selesai, bisa melanjutkan jahit atau tanya-tanya di rumah. Alhamdulillah, mesin jahit portable Mbak Ria dipinjamkan.

Weih… selesai juga ceritanya. Seru-seru, heboh, hihi. Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan yang ada, acara bisa dibilang sukses. Jazakillah khoiran katsiran ya, Mba Noor … 🙂

Oleh-Oleh Seminar: Blocknote

Setiap kali ada seminar, suami sering banget bawa oleh-oleh… block note hihi. Bukan blocknote bersih, yang bisa dikasihkan lagi (eh… masa bikin kuis hadiah blocknote seminar? :p) Yup, blocknote ini biasanya udah ada tulisan ceker ayamnya walaupun hanya beberapa lembar. Biasalah… sok-sok nyatat pas seminar. Ups!

Sebagai mak irit, harta itu bagai buah simalakama. Buang sayang, simpen makan tempat. Tapi atas nama pengiritan dan go green, dikumpulin lah buku-buku kecil itu.

Nah, rupanya manfaat itu berasa sekarang. Si bumil dapat anugerah gak bisa duduk terlalu lama untuk ngetik di komputer, juga capek ngetik di laptop dengan posisi berbaring atau nyandar. Blocknote ini lumayan membantu. Bisa buat coret-coretan tulisan. Saat fit, tinggal mindah ke komputer.

Eh, beneran belum ada software yang memindahkan tulisan tangan dalam words, kan? Yah, siapa tahu aja ada, saya yang gak tahu :p
Hihi… manusia emang selalu digoda untuk tidak bisa bersyukur, ya. Setelah merasa senang ada blocknote, timbul masalah lagi. Males mindah tulisan. Kayak kerja dua kali gitu, loh. Padahal, dengan tulisan ceker ayam begini, siapa juga yang mau ngetikin? Lah, saya aja kadang gak bisa bacanya, kok, wkwkwk.

***
Berjalannya waktu….
Saya akhirnya merasakan capek juga mindah-mindah tulisan ke kompie dari blocknote.
Nah, sekarang ini, saya mending ketak-ketuk jari di hape. Lalu tinggal di email, deh.
Lumayan juga loh 🙂

Terus, blocknote buat apa, ya?
Ada ide?

Gerr … di Meja Makan

Pagi tadi, si emak rada pusing. Jadi ga masak buat sarapan. (Ketahuan siangnya, ada petugas dinkes pendampingan bumil datang, ternyata tensinya 90/70. Weks. Padahal malamnya periksa ke dokter keluarga, 110/70. Kalau hb emang rendah, sih. 9.7)

Akhirnya, buat sarapan belilah mi goreng dan teman-temannya (baca: gorengan wkwk), sama mbah-mbah yang lewat di depan rumah.

Pas makan, Shofie bilang, “Kok, mi nya gak panas.”
Radar emak langsung bunyi. Perilaku ‘protesan’ kayak gini gak boleh jadi kebiasaan.
“Shofie… ” (Rada melotot). “Ya jelaslah nggak panas. Mi goreng dimasak sejak kapan… bla… bla…”.

Sang penyelamat suasana pun angkat bicara. “Mau diangetin lagi, po?”
“Enggak, ah. Nanti malah gosong,” Shofie menolak saran papanya, dengan wajah yang… begitulah :p

Emak rada ga terima sebenarnya. Baik saran ngangetin, dan cara penolakan Shofie. Saran si Papa memperlihatkan kalau kami sebagai ortu gak kompak. Harusnya saling mendukung, untuk mengajarkan sikap nrimo pada anak.
Jawaban Shofie bener-bener gak bener, deh. Udah protes, dikasih saran, menolak mentah-mentah. Duh, adab… adab….

Siap-siap ‘kuliah’ lagi, dong. Namun, belum juga mulai buka mulut….

“Gak gosong wis. Bungkus lagi, terus kekep di sini, nih….” kata si Papa sambil cengar-cengir.
Dan… meja makan penuh suara cekakan. Soalnya njelehi banget, si Papa memperagakan mi dikepit di ketiak :p