Romantis ala Penerbit-Penulis ;)

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar kalau penerbit mau stok opname selama sepekan. Pernah dengar kalimat itu, makna yang saya tangkap, sih, selama stok opname saya gak bisa pesan-pesan buku, hehe. Biar jelas, saya tanya lagi arti stok opname. Jawabannya adalah, selama sepekan itu penerbit akan menghitung keseluruhan buku yang ada di gudang area masing-masing, baik gudang besar, gudang pemasaran di seluruh Indonesia. Selama masa itu, tidak boleh ada transaksi barang.

Btw, ini penulis kok ngurusin begituan, sih? Haruskah?
Hehe… dalam SPP ( Surat Perjanjian Penerbit ), jelas tidak ada pasal yang mewajibkan penulis jualan, apalagi sampai ngurusi stok opname segala. Jadi, tidak melanggar hukum, kalau penulis gak mau tahu.

Kenapa saya begini?
Jawaban pertama, saya gak merasa terpaksa, dan ternyata saya suka diajak diskusi masalah ini dengan pihak marketing. Sama seperti kesukaan saya jualan buku (Pada akhirnya, saya sering juga menjual buku yang bukan karya sendiri). Puas rasanya bisa memberikan informasi dan ikut mencari buku-buku yang dibutuhkan pembeli.

Persaingan di dunia penerbit lumayan ketat. Buku-buku bagus dengan tema sejenis, terbit hampir bersamaan. Toko buku penuh. Display kadang tak maksimal. Bahkan, kalau tak beruntung nyaris tak kelihatan karena penataan yang … begitulah.

Rasanya, tak ada salahnya penulis ikut membantu pemasaran buku sendiri. Toh, keuntungan juga buat kita. Siapa, sih, yang nggak suka kalau bukunya laku?

Caranya?
1. Tak sekedar narsis mengabarkan buku terbit. Bahasa ‘narsis’ bisa dikemas lebih baik lagi, sehingga bernada promosi manis yang bisa menarik pembeli. Seorang teman bahkan membuat video bukunya. (Saya gaptek. Belum pernah nyobain hihi).

2. Penulisan behind the scene, sepak terjang dalam menulis buku insya Allah bermanfaat. Selain bisa belajar dari pengalaman, tak jarang isinya bisa memantik semangat penulis lainnya.

3. Nah, berikutnya adalah jualan bukunya hehe. Kadang, buku bertanda-tangan penulis mempunyai nilai lebih, loh 🙂

Ohya, tentang jualan ini, beberapa penulis mempunyai kendala masalah modal. Yup, saya juga pernah berada di posisi itu. Makanya, senang sekali ketika ada penerbit yang memberikan keringanan dengan cara potong royalti. Jadi, saya tak perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buku. Malah, menjadi sumber pendapatan. Masya Allah walhamdulillah.

Ada juga penerbit yang menawarkan konsinyasi. Kita bisa ambil buku, dijual dalam waktu sebulan atau sesuai kesepakatan. Setelah itu, baru bayar bukunya. Kalau ada buku yang tak laku, bisa dikembalikan. Lumayan, kan?

Kalau ketemu penerbit yang harus bayar dulu ketika kulakan, ya, terima saja. Tidak usah mengomel, apalagi pasang status di FB. Weih, bunuh diri itu, sih. Bisa-bisa penerbit nggak mau lagi kerja sama :p

Sama-sama merasa memiliki, kemudian memperjuangkan agar buku bisa lebih banyak diterima (baca: dibeli), adalah hubungan yang romantis antara penerbit dan penulis, bukan? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s