Kemping di Rumah

Sekarang ini mulai menjamur staycation. Berlibur di hotel, tapi hanya dalam kota sendiri. Sekedar bersenang-senang, mencari suasana yang berbeda. Nah, beberapa waktu sempat kepikiran juga. Pengin staycation di Bandungan, atau Semarang bawah, yang ada kolam renangnya. Eh, ternyata sepemikiran ma si Papa, yang pengin refreshing juga. Namun, idenya berbeda. Papa gak mau bawa saya jauh-jauh, apalagi sampai Bandungan. Pun di hotel, walaupun gak pergi ke mana-mana, pasti tetap banyak jalan. Nah, idenya adalah mendirikan tenda di lantai dua. Huahaha…

Okelah kalau begitu.
Sabtu sore, sepulang dari ngisi seminar di Unnes, si Papa langsung bersibuk ria dengan Shofie. Belanja gas untuk kompor kecil dan perbekalan (hehe… walaupun hanya di rumah, harus pakai bekal, dong). Selesai belanja, langsung bersih-bersih atas dan mendirikan tenda. Shofie semangat sekali. Riang gembira kerja bareng Papa. Mama ngapain? Teuteup… rebahan aja hihi. Pas akhir-akhir ikut packing peralatan yang mau dibawa, sih. Minum, teflon, dll. Semua masuk ember agar bisa sekali bawa.

Seusai shalat Magrib, barulah Mama naik. Kata Shofie, “Mama hanya boleh naik dan turun sekali”. Yup. Lebih dari dua bulan, Mama nggak pernah naik ke atas. Nggak berani, takut kontraksi.
Sampai di atas, Mama takjub juga lihat tenda yang sudah berdiri dan ditata rapi. Alas memakai terpal, juga dilapisi tikar dan selimut, plus bantal-bantal sudah disusun. Di depannya dipasang tikar, buat ngobrol-ngobrol dan makan-makan.

Sepulang dari masjid, Papa pun gabung. Mulai utak-atik kompor sambil ngobrol-ngobrol. Eh… ternyata kompor nggak mau nyala.
Akhirnya Papa beli korek api dulu. Alhamdulillah, setelah ‘dipancing’, kompor mau nyala juga. Pas saat azan Isya berkumandang. Papa ke masjid, Mama dan Shofie jamaah di rumah.

Nah, selesai shalat, masaklah makan malam. Ehem… menunya masih jauh dari ideal nih, hihi. Apalagi kalau bukan mie instan wkwk. Takut kelamaan masak air, akhirnya ambil air panas dari bawah, hehe.

Selesai makan, kami mencoba boardgame baru. Islamologi Kid Land. Permainan macam monopoli, tanpa dadu, pun banyak aturan yang lebih islami. Sambil main, sambil baca petunjuknya. Hem, sepertinya seru. Kalau anak terbiasa dengan permainan ini, bisa membentuk pola pikir bila sudah ‘kaya’ nanti. Ada banyak poin yang bisa diambil. Utamakan sedekah dengan ikhlas. Sebelum membeli aneka aset, maka haji harus diutamakan. Mendirikan hotel, ada aturannya. Tak boleh di area pertanian. Dan, tentu saja jangan lupakan zakat. Keren sekali idenya. Wajar kalau mainan ini cukup mahal. Bahannya sih sederhana, yang mahal adalah idenya.

Belum sampai satu putaran yang memperbolehkan pemain membeli aneka aset, Papa sudah mengantuk. Shofie pun mulai capek. Ya, sejak Shubuh pukul 04.00, sehabis Isya, biasanya udah tidur. Ini sudah jauh dari jam tidur. Alhasil, selesai beberes, Papa dan Shofie pun masuk tenda, dan langsung terlelap.
Setelah shalat Isya, makan malam. Tapi takut kelamaan, akhirnya ambil air panas untuk masak dari bawah wkwk.

Ehhmm… harusnya, sih, acara ini no gadget. Namun, Papa lagi sedang berkomunikasi penting ma temannya. Yasud, hape dibawa naik. Mama ikutan, deh. Alasannya follow up jualan hihi. Namun, kami gak pegang hape, kok. Papa hanya balas-balas saja. Untung juga bawa hape, jadi Mama bisa poto-poto pas udah pada tidur, hehe.

Besok deadline sampai jam 5 aja di atas. Padahal udah ‘bekel’ sarapan. Namun, mau ada tamu dari Jakarta transit ke rumah sebentar, lanjut isi acara di kampus. Kudu bersih-bersih rumah lah yaw, wkwk.
Eh, alhamdulillah seusai Shubuh, kami masih sempat sarapan di atas. Bakar roti dan manasin tahu baxo. Setelah itu, barulah turun, lanjut bersih-bersih. Juga belanja jajanan buat suguhan, tak lupa lauk sayur buat sarapan (lagi).
Alhamdulillah, sepertinya lain waktu bisa camping lagi, nih. Sekaligus rapat keluarga untuk lebih serius lagi memantapkan Family Strategic Planning juga Family Branding, yang selama ini kayaknya diabaikan begitu saja 😦2016-11-20-07-40-56

Advertisements

Arena Kerja Darurat

20161102_195835

Arena kerja selama dua bulanan ini 🙂
Pagi, begitu selesai masak dan makan (hanya ini pekerjaan utama saya), langsung deh tempat tidur diubah fungsinya. Segala macam diangkut. Sore menjelang magrib, atau kadang sampai Isya, baru diberesin lagi.

Awalnya, saya menulis tangan di notebook. Lama-lama, males mindahin. Lalu, nulis di laptop sambil berbaring. Ternyata, capek juga. Posisi miring ga enak. Lalu, menemukan cara lain yang lebih efektif. Oret-oretan saya tulis di hape, lalu saya email. Jadi, kerja di laptop tinggal ngedit aja.

Alhamdulillah… dimudahkan dalam segala kondisi. Bersyukur juga, mendapat amanah untuk menulis beberapa tema selama hamil ini.
Btw, kenapa ngoyo banget kerja, sih? Mbok istirahat aja kalau emang kehamilannya bermasalah ( sstt… alhamdulillah, masalahnya ‘hanya’ gak bisa terlalu banyak gerak, sih. Berdiri atau duduk terlalu lama, membuat perut langsung kenceng. Begitu rebahan, nyaman lagi. Namun, gak ada flek atau apa…)

Iya, ya. Kenapa ngoyo kerja? Ehem… kayaknya kalau gak ada kerjaan, saya malah bosen, deh. Kalau tidak, malah menggunakan waktu dengan sia-sia. Baringan sambil buka sosmed apalah… apalah. Lha wong ada kerjaan aja, kayaknya saya jadi lebih melek berita, nih, gegara pegang hape terus. Biasanya mah ga mudheng blas masalah politik. Eh… sekarang tahu aja berita Dahlan Iskan (hiks, kasihan sekali beliau, ya?), pro kontra demo dan tahu satu-satu kontak FB saya ada di kubu mana, karena suka jadi silent reader (ampun, deh), bahkan kadang tergoda buka berita artis (ish!). Belum lagi komen2 di fb :p. Astaghfirullah… *elus perut.

*Cerita usia kehamilan 7 bulan. Semoga sehat dan lancar sampai melahirkan nanti. Kondisi terakhir periksa, air ketuban kurang, ada dua lilitan tali pusar :(. Semoga bisa melahirkan normal (saya takut RS, hiii…)*