Oleh-Oleh Mudik

photogrid_1480860129449
Saya lupa terakhir kali pulang ke Magelang. Yang saya ingat, terakhir kali pergi agak jauh adalah bulan Agustus, ketika menjemput anak-anak ikut Kamtasia (Kampung Komunitas) di Muncul, Salatiga. Lama juga, ya? Ujian bumil, yang lagi gak bisa ke mana-mana, hehe. Biasanya, asal nggak ada kegiatan, weekend selalu pulang kampung. Jumat berangkat, Ahad balik semarang. Saya ma suami sama-sama dari Magelang. Jadi sekali jalan, deh. Nginep semalam-semalam. Adil, kan?

Terus, apakah sejak Agustus itu kami tak pernah mengengok orangtua di Magelang? Ooh… tidak. Tetap sering. Sebulan bisa dua kali. Namun, hanya suami dan anak-anak. Juga tidak menginap. Kan, saya di rumah. Masa saya tidur sendirian di rumah? Cukuplah ditinggal seharian. Biasanya suami berangkat sehabis Shubuh, sampai rumah Isya’.

Foto di atas adalah oleh-oleh suami ketika mudik Ahad lalu. Mau cerita bawaan kala mudik selama saya nggak pernah ikutan? Hehe… Bukan berarti kalau saya ikut mudik nggak pernah bawa-bawa, ya. Kalau saya ikut pulang, saya akan mengambil secukupnya saja. Atau… kalau ibu mertua memaksa saya untuk membawa agak banyak, maka saya akan mengambil porsi lebih untuk tetangga sebelah-sebelah dan beberapa teman. Itu pun sudah saya paketin dalam satu wadah dan dihitung. Mau kasih oleh-oleh buat berapa orang. Paling ada cadangan beberapa, takut kelupaan. Yup, semua ini saya lakukan biar tak ada yang mubazir.

Nah, sejak saya gak ikut pulang ini oleh-olehnya selalu WOW! Over, dah. Apa pasal? Biasanya ibu mertua menyuruh Mbok Nah, orang yang biasa bantu-bantu di sawah, untuk ‘memasukkan’ semua yang ada di rumah dalam mobil, hahahaha.

Mbok Nah ini tipenya setia banget. Dia akan berusaha membawakan sebanyak-banyaknya barang buat oleh-oleh. Kadang, apa yang gak ada, dicari-carikan dulu. Entah ke sawah, kebun, atau tegal (ladang)

Lihat, ya, aneka logistik yang pernah dimasukkan dalam mobil kami hihi…

Pernah kejadian, saking penginnya bawain oleh-oleh, pepaya belum tua juga udah dipetik. Alhasil, sampai Semarang muspro alias sia-sia, karena gak bisa matang. Padahal, metiknya lebih dari lima buah. Oalaa….

Lihat daun yang ada di kresek itu? Saat mudik kemarin, katanya dia pergi ke tegal untuk mencari daun tempuh wiyung dulu. Saya dari dulu penasaran, apa nama tanaman ini? Kalau dilihat dari bunganya, seperti dandelion. Enak kalau diurap. (Duh, kenapa gak dibawain sambel urapnya sekalian? Saya kan males bikinnya hihi. Paling-paling nanti dipecel aja).

Tak jarang, dia nginclik ke sawah, untuk metik cabe, kacang panjang, atau hasil lainnya. Tahukah yang masuk mobil? Sekresek sedang isi cabe campur-campur. Kacang panjang satu ikat buesaaar… (duh, pengin ta titipin tukang sayur buat dijual, deh). Dibagi-bagi tetangga juga masih sisa banyak.

Telur bebek biasanya dibawain sebakul nasi. Isinya lebih dari 15 butir, deh. Kalau ini, sih, seneng. Mayan. Awet, kan? Hihi.
Ehya, bebek di rumah ini lucu poll. Mertua hanya memelihara 10 ekor. Tiap hari, selalu panen minimal 8 butir, jadi hampir semuanya bertelur. Namun, kalau Mbok Nah lagi ‘cuti’, bisa-bisa sehari hanya ada dua butir hihi. Cintanya ama Mbok Nah, nih, si bebek.
Kebayang, numpuknya telur-telur ini di rumah, kan? Soalnya hanya ada bapak dan ibu soalnya. Makanya, begitu ada yang mau bawa, apalagi untuk cucu kesayangan, semangat packing, deh. Cara packing agar tidak pecah, selamat sampai Semarang adalah, telur dibungkus kertas dulu.

Sepekan lalu, saya terbelalak kaget melihat yang dibawa suami. Setundun pisang kepok matang!! Setundun, ya! Alias setandan. Bukan selirang. (Pakai boso Jowo, nih. Bahasa Indonesia-nya apa, sih?) Huaaa…. Akhirnya tiap pagi goreng pisang. Karena mateng bareng, sebagian sampai saya masukin kulkas hihi. Ini belum habis, kemarin sore mantan ibu kos suami saat kuliah datang ke rumah. “Mbak, nyoh iki ono panenan sithik. Mau bar ngopek nang tegal,” katanya sambil mengangsurkan kresek putih. Isinya? Yang katanya ‘sithik’ itu adalah dua lirang pisang buesaaar-buesaaar hahaha.

Ohya, selama saya hamil, ada bawaan wajib kalau pulang. Kelapa muda!! Hihi…. sekarung besar tuh, dibawain. Suami loh yang metik kelapanya. Eits… jangan bayangin dia manjat pohon kelapa, ya. Untunglah hanya kelapa gading yang pendek. Jadi bisa pakai tangga, hihi.

Nah, belakangan ini ada bawaan yang gak pernah lupa. Tempe. Bukan bikinan sendiri, sih. Tetangga yang bikin, dan dijual di warungnya. Tempe bungkus daun, rasanya lebih enak dibanding bungkus plastik. Kalau tahu kami mau pulang, biasanya ibu pesen dibikinkan tempe tipis, yang kayak dibikin mendoan gitu. Terus pesennya juga dua jenis. Yang udah jadi, dan masih kedelai. Jadi, bisa awet. Enaak. Shofie suka banget.

Nah, ini yang gak pernah lupa. Beras! Haha…. Jangan tanya harga beras ama saya, ya. Dijamin gak tahu. Selama nikah, sepertinya saya tak pernah beli beras. Bahkan, ketika kami mulai makan beras merah, bapak dan ibu sengaja menanam beras merah di sepetak sawah, khusus buat kami.
Nah, untuk beras ini, saya pesan dulu kalau beras di rumah habis. Dua tiga hari sebelum pulang, ngabarin kalau mau minta beras. Jadi, Mbok Nah persiapan jemur gabah, lalu diselep. Kadang, malah ditumbuk sendiri juga. Enaknya emang ditumbuk, sih. Namun, gak tega juga kalau dia harus selalu numbuk. Apalagi kalau kerjaan di sawah lagi banyak.
Mbok Nah ini kalau bawain beras juga suka nggak kira-kira, deh. Sekarung full. Sebulan lebih nggak habis. Padahal, kalau lama nggak minta beras, Ibu akan bilang, “Ora tau masak po, kok, beras e ora kelong?” Hiyaaa… akhirnya, beras suka saya bagiin ke teman-teman, deh, hihi.

Suami tuh kadang gak tahu, barang apa aja yang dimasukkan Mbok Nah di mobil. Kalau udah sampai Semarang, dia slemengeren nurunin dari mobil. Dan, saya slemengeren nata dan nyimpennya, hahahaha.
Alhamdulillah πŸ™‚

Advertisements

3 thoughts on “Oleh-Oleh Mudik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s