Shofie jadi PJ Craft

Beberapa hari lalu, Shofie pulang sekolah dengan wajah bete, dan langsung curhat.
“Aku disuruh jadi PJ buat bros dari flanel,” katanya dengan muka cemberut.
“Nggak papa. Santai aja,” jawab si Mama sok kalem. “Tuu, diajari buat bros kayak itu aja. Kan, mudah.” Saya menunjuk bros yang dulu dia buat saat ada parade tasmi’, dan dibagikan pada teman-temannya.
“Emoh. Itu jelek.”
Nah, mulai deh ‘kumat’ perfectionist-nya. Kalau udah begini, kadang bikin si emak senewen. Rewelnya itu lhoo… kalau yang diinginkan tak sesuai harapan :p *sabar… sabaar….

Masih dengan rada ngomel, ngeluh, dls, Shofie membuka netbook-nya. Langsung browsing bros dari kain flanel. Saya tidak ikut melihatnya, karena konsen dengan perut yang kenceng-kenceng :p
Tak lama, dia kelihatan uplek di ruang depan. Dan… jadilah sebuah bros yang selama ini belum pernah dibuatnya. Saya juga gak tahu cara bikinnya. Murni ini semua hasil usahanya sendiri. Melihat hasil buatannya, mukanya pun agak cerah, hehe. Dengan wajah puas, dia tunjukkan bros itu pada saya. Setelah saya apresiasi, sedikit saran saya berikan. Kalau warna dimodifikasi, mungkin akan lebih bagus lagi. Tidak satu warna aja. Rupanya dia menerima.

Alhamdulillah,
Sebenarnya berbagi dalam membuat prakarya seperti ini bukan hal baru bagi Shofie. Ketika ada kegiatan Pesantren Rajab Keluarga (PERAK) di desa Boro, Mei 2016 lalu, salah satu programnya adalah class for friend (CFF). Kegiatannya adalah berbagi. Anak-anak (dewasa juga boleh) berbagi keterampilan pada teman-temannya. Ada yang berbagi cara membuat sponge cake anti gagal, wayang kertas, kerajinan perca, aksesori dari manik-manik, dll.
Shofie waktu itu hanya menjadi peserta. Dia keliling ke sana ke mari, ikut aneka kelas.

Tak disangka, hal ini memantik rasa penginnya untuk bisa ikut andil lebih jauh. Ketika ada acara Family Camping, Community Based Education (CBE) Kampung Juara di Salatiga, Shofie ingin ikut CFF, mengajari teman-temannya membuat gelang dari loomband (Insya Allah, loomband-nya aman. Nitip temen, beli di Singapur, hehe). Saya agak tidak percaya dengan keinginannya itu. Maklum, anak ini kalau di luar lingkungannya, suaranya hilang. Pendiammm banget, juga pemalu. Tapi jangan tanya kalau di rumah, ya :p
Rupanya, dia benar-benar keukeuh ingin ikut. Bahkan, mau ikut fam camp sendiri agar bisa ikut CFF. Ya, sendiri, tanpa saya dan papanya. Waktu itu, saya dan suami ada acara, sehingga tidak bisa menginap, tidak mengikuti keseluruhan acara 😦

Tentu saja, saya tak tahu ceritanya saat dia ikut CFF. Syafiq juga ‘tidak berani’ mendekat untuk memoto apalagi merekam. Mba Septi saja memotret diam-diam, hihi. Takut anaknya pundung alias mutung wkwk. Waktu saya tanya, “gimana acara CFF?”, jawabnya cukup simple. “Ya biasa aja, to, Ma. Mama, kan, pernah lihat CFF.” Hihi…

Alhamdulillah,
Hari ini mendapat ‘cerita’ dari ustazahnya melalui statusnya di FB, kalau acara membuat bros dari flanel berjalan lancar, teman-temannya suka.

Berikut status Ustazah 😉share

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s