Shofie jadi PJ Craft

Beberapa hari lalu, Shofie pulang sekolah dengan wajah bete, dan langsung curhat.
“Aku disuruh jadi PJ buat bros dari flanel,” katanya dengan muka cemberut.
“Nggak papa. Santai aja,” jawab si Mama sok kalem. “Tuu, diajari buat bros kayak itu aja. Kan, mudah.” Saya menunjuk bros yang dulu dia buat saat ada parade tasmi’, dan dibagikan pada teman-temannya.
“Emoh. Itu jelek.”
Nah, mulai deh ‘kumat’ perfectionist-nya. Kalau udah begini, kadang bikin si emak senewen. Rewelnya itu lhoo… kalau yang diinginkan tak sesuai harapan :p *sabar… sabaar….

Masih dengan rada ngomel, ngeluh, dls, Shofie membuka netbook-nya. Langsung browsing bros dari kain flanel. Saya tidak ikut melihatnya, karena konsen dengan perut yang kenceng-kenceng :p
Tak lama, dia kelihatan uplek di ruang depan. Dan… jadilah sebuah bros yang selama ini belum pernah dibuatnya. Saya juga gak tahu cara bikinnya. Murni ini semua hasil usahanya sendiri. Melihat hasil buatannya, mukanya pun agak cerah, hehe. Dengan wajah puas, dia tunjukkan bros itu pada saya. Setelah saya apresiasi, sedikit saran saya berikan. Kalau warna dimodifikasi, mungkin akan lebih bagus lagi. Tidak satu warna aja. Rupanya dia menerima.

Alhamdulillah,
Sebenarnya berbagi dalam membuat prakarya seperti ini bukan hal baru bagi Shofie. Ketika ada kegiatan Pesantren Rajab Keluarga (PERAK) di desa Boro, Mei 2016 lalu, salah satu programnya adalah class for friend (CFF). Kegiatannya adalah berbagi. Anak-anak (dewasa juga boleh) berbagi keterampilan pada teman-temannya. Ada yang berbagi cara membuat sponge cake anti gagal, wayang kertas, kerajinan perca, aksesori dari manik-manik, dll.
Shofie waktu itu hanya menjadi peserta. Dia keliling ke sana ke mari, ikut aneka kelas.

Tak disangka, hal ini memantik rasa penginnya untuk bisa ikut andil lebih jauh. Ketika ada acara Family Camping, Community Based Education (CBE) Kampung Juara di Salatiga, Shofie ingin ikut CFF, mengajari teman-temannya membuat gelang dari loomband (Insya Allah, loomband-nya aman. Nitip temen, beli di Singapur, hehe). Saya agak tidak percaya dengan keinginannya itu. Maklum, anak ini kalau di luar lingkungannya, suaranya hilang. Pendiammm banget, juga pemalu. Tapi jangan tanya kalau di rumah, ya :p
Rupanya, dia benar-benar keukeuh ingin ikut. Bahkan, mau ikut fam camp sendiri agar bisa ikut CFF. Ya, sendiri, tanpa saya dan papanya. Waktu itu, saya dan suami ada acara, sehingga tidak bisa menginap, tidak mengikuti keseluruhan acara 😦

Tentu saja, saya tak tahu ceritanya saat dia ikut CFF. Syafiq juga ‘tidak berani’ mendekat untuk memoto apalagi merekam. Mba Septi saja memotret diam-diam, hihi. Takut anaknya pundung alias mutung wkwk. Waktu saya tanya, “gimana acara CFF?”, jawabnya cukup simple. “Ya biasa aja, to, Ma. Mama, kan, pernah lihat CFF.” Hihi…

Alhamdulillah,
Hari ini mendapat ‘cerita’ dari ustazahnya melalui statusnya di FB, kalau acara membuat bros dari flanel berjalan lancar, teman-temannya suka.

Berikut status Ustazah 😉share

Oleh-Oleh Mudik

photogrid_1480860129449
Saya lupa terakhir kali pulang ke Magelang. Yang saya ingat, terakhir kali pergi agak jauh adalah bulan Agustus, ketika menjemput anak-anak ikut Kamtasia (Kampung Komunitas) di Muncul, Salatiga. Lama juga, ya? Ujian bumil, yang lagi gak bisa ke mana-mana, hehe. Biasanya, asal nggak ada kegiatan, weekend selalu pulang kampung. Jumat berangkat, Ahad balik semarang. Saya ma suami sama-sama dari Magelang. Jadi sekali jalan, deh. Nginep semalam-semalam. Adil, kan?

Terus, apakah sejak Agustus itu kami tak pernah mengengok orangtua di Magelang? Ooh… tidak. Tetap sering. Sebulan bisa dua kali. Namun, hanya suami dan anak-anak. Juga tidak menginap. Kan, saya di rumah. Masa saya tidur sendirian di rumah? Cukuplah ditinggal seharian. Biasanya suami berangkat sehabis Shubuh, sampai rumah Isya’.

Foto di atas adalah oleh-oleh suami ketika mudik Ahad lalu. Mau cerita bawaan kala mudik selama saya nggak pernah ikutan? Hehe… Bukan berarti kalau saya ikut mudik nggak pernah bawa-bawa, ya. Kalau saya ikut pulang, saya akan mengambil secukupnya saja. Atau… kalau ibu mertua memaksa saya untuk membawa agak banyak, maka saya akan mengambil porsi lebih untuk tetangga sebelah-sebelah dan beberapa teman. Itu pun sudah saya paketin dalam satu wadah dan dihitung. Mau kasih oleh-oleh buat berapa orang. Paling ada cadangan beberapa, takut kelupaan. Yup, semua ini saya lakukan biar tak ada yang mubazir.

Nah, sejak saya gak ikut pulang ini oleh-olehnya selalu WOW! Over, dah. Apa pasal? Biasanya ibu mertua menyuruh Mbok Nah, orang yang biasa bantu-bantu di sawah, untuk ‘memasukkan’ semua yang ada di rumah dalam mobil, hahahaha.

Mbok Nah ini tipenya setia banget. Dia akan berusaha membawakan sebanyak-banyaknya barang buat oleh-oleh. Kadang, apa yang gak ada, dicari-carikan dulu. Entah ke sawah, kebun, atau tegal (ladang)

Lihat, ya, aneka logistik yang pernah dimasukkan dalam mobil kami hihi…

Pernah kejadian, saking penginnya bawain oleh-oleh, pepaya belum tua juga udah dipetik. Alhasil, sampai Semarang muspro alias sia-sia, karena gak bisa matang. Padahal, metiknya lebih dari lima buah. Oalaa….

Lihat daun yang ada di kresek itu? Saat mudik kemarin, katanya dia pergi ke tegal untuk mencari daun tempuh wiyung dulu. Saya dari dulu penasaran, apa nama tanaman ini? Kalau dilihat dari bunganya, seperti dandelion. Enak kalau diurap. (Duh, kenapa gak dibawain sambel urapnya sekalian? Saya kan males bikinnya hihi. Paling-paling nanti dipecel aja).

Tak jarang, dia nginclik ke sawah, untuk metik cabe, kacang panjang, atau hasil lainnya. Tahukah yang masuk mobil? Sekresek sedang isi cabe campur-campur. Kacang panjang satu ikat buesaaar… (duh, pengin ta titipin tukang sayur buat dijual, deh). Dibagi-bagi tetangga juga masih sisa banyak.

Telur bebek biasanya dibawain sebakul nasi. Isinya lebih dari 15 butir, deh. Kalau ini, sih, seneng. Mayan. Awet, kan? Hihi.
Ehya, bebek di rumah ini lucu poll. Mertua hanya memelihara 10 ekor. Tiap hari, selalu panen minimal 8 butir, jadi hampir semuanya bertelur. Namun, kalau Mbok Nah lagi ‘cuti’, bisa-bisa sehari hanya ada dua butir hihi. Cintanya ama Mbok Nah, nih, si bebek.
Kebayang, numpuknya telur-telur ini di rumah, kan? Soalnya hanya ada bapak dan ibu soalnya. Makanya, begitu ada yang mau bawa, apalagi untuk cucu kesayangan, semangat packing, deh. Cara packing agar tidak pecah, selamat sampai Semarang adalah, telur dibungkus kertas dulu.

Sepekan lalu, saya terbelalak kaget melihat yang dibawa suami. Setundun pisang kepok matang!! Setundun, ya! Alias setandan. Bukan selirang. (Pakai boso Jowo, nih. Bahasa Indonesia-nya apa, sih?) Huaaa…. Akhirnya tiap pagi goreng pisang. Karena mateng bareng, sebagian sampai saya masukin kulkas hihi. Ini belum habis, kemarin sore mantan ibu kos suami saat kuliah datang ke rumah. “Mbak, nyoh iki ono panenan sithik. Mau bar ngopek nang tegal,” katanya sambil mengangsurkan kresek putih. Isinya? Yang katanya ‘sithik’ itu adalah dua lirang pisang buesaaar-buesaaar hahaha.

Ohya, selama saya hamil, ada bawaan wajib kalau pulang. Kelapa muda!! Hihi…. sekarung besar tuh, dibawain. Suami loh yang metik kelapanya. Eits… jangan bayangin dia manjat pohon kelapa, ya. Untunglah hanya kelapa gading yang pendek. Jadi bisa pakai tangga, hihi.

Nah, belakangan ini ada bawaan yang gak pernah lupa. Tempe. Bukan bikinan sendiri, sih. Tetangga yang bikin, dan dijual di warungnya. Tempe bungkus daun, rasanya lebih enak dibanding bungkus plastik. Kalau tahu kami mau pulang, biasanya ibu pesen dibikinkan tempe tipis, yang kayak dibikin mendoan gitu. Terus pesennya juga dua jenis. Yang udah jadi, dan masih kedelai. Jadi, bisa awet. Enaak. Shofie suka banget.

Nah, ini yang gak pernah lupa. Beras! Haha…. Jangan tanya harga beras ama saya, ya. Dijamin gak tahu. Selama nikah, sepertinya saya tak pernah beli beras. Bahkan, ketika kami mulai makan beras merah, bapak dan ibu sengaja menanam beras merah di sepetak sawah, khusus buat kami.
Nah, untuk beras ini, saya pesan dulu kalau beras di rumah habis. Dua tiga hari sebelum pulang, ngabarin kalau mau minta beras. Jadi, Mbok Nah persiapan jemur gabah, lalu diselep. Kadang, malah ditumbuk sendiri juga. Enaknya emang ditumbuk, sih. Namun, gak tega juga kalau dia harus selalu numbuk. Apalagi kalau kerjaan di sawah lagi banyak.
Mbok Nah ini kalau bawain beras juga suka nggak kira-kira, deh. Sekarung full. Sebulan lebih nggak habis. Padahal, kalau lama nggak minta beras, Ibu akan bilang, “Ora tau masak po, kok, beras e ora kelong?” Hiyaaa… akhirnya, beras suka saya bagiin ke teman-teman, deh, hihi.

Suami tuh kadang gak tahu, barang apa aja yang dimasukkan Mbok Nah di mobil. Kalau udah sampai Semarang, dia slemengeren nurunin dari mobil. Dan, saya slemengeren nata dan nyimpennya, hahahaha.
Alhamdulillah 🙂

Kemping di Rumah

Sekarang ini mulai menjamur staycation. Berlibur di hotel, tapi hanya dalam kota sendiri. Sekedar bersenang-senang, mencari suasana yang berbeda. Nah, beberapa waktu sempat kepikiran juga. Pengin staycation di Bandungan, atau Semarang bawah, yang ada kolam renangnya. Eh, ternyata sepemikiran ma si Papa, yang pengin refreshing juga. Namun, idenya berbeda. Papa gak mau bawa saya jauh-jauh, apalagi sampai Bandungan. Pun di hotel, walaupun gak pergi ke mana-mana, pasti tetap banyak jalan. Nah, idenya adalah mendirikan tenda di lantai dua. Huahaha…

Okelah kalau begitu.
Sabtu sore, sepulang dari ngisi seminar di Unnes, si Papa langsung bersibuk ria dengan Shofie. Belanja gas untuk kompor kecil dan perbekalan (hehe… walaupun hanya di rumah, harus pakai bekal, dong). Selesai belanja, langsung bersih-bersih atas dan mendirikan tenda. Shofie semangat sekali. Riang gembira kerja bareng Papa. Mama ngapain? Teuteup… rebahan aja hihi. Pas akhir-akhir ikut packing peralatan yang mau dibawa, sih. Minum, teflon, dll. Semua masuk ember agar bisa sekali bawa.

Seusai shalat Magrib, barulah Mama naik. Kata Shofie, “Mama hanya boleh naik dan turun sekali”. Yup. Lebih dari dua bulan, Mama nggak pernah naik ke atas. Nggak berani, takut kontraksi.
Sampai di atas, Mama takjub juga lihat tenda yang sudah berdiri dan ditata rapi. Alas memakai terpal, juga dilapisi tikar dan selimut, plus bantal-bantal sudah disusun. Di depannya dipasang tikar, buat ngobrol-ngobrol dan makan-makan.

Sepulang dari masjid, Papa pun gabung. Mulai utak-atik kompor sambil ngobrol-ngobrol. Eh… ternyata kompor nggak mau nyala.
Akhirnya Papa beli korek api dulu. Alhamdulillah, setelah ‘dipancing’, kompor mau nyala juga. Pas saat azan Isya berkumandang. Papa ke masjid, Mama dan Shofie jamaah di rumah.

Nah, selesai shalat, masaklah makan malam. Ehem… menunya masih jauh dari ideal nih, hihi. Apalagi kalau bukan mie instan wkwk. Takut kelamaan masak air, akhirnya ambil air panas dari bawah, hehe.

Selesai makan, kami mencoba boardgame baru. Islamologi Kid Land. Permainan macam monopoli, tanpa dadu, pun banyak aturan yang lebih islami. Sambil main, sambil baca petunjuknya. Hem, sepertinya seru. Kalau anak terbiasa dengan permainan ini, bisa membentuk pola pikir bila sudah ‘kaya’ nanti. Ada banyak poin yang bisa diambil. Utamakan sedekah dengan ikhlas. Sebelum membeli aneka aset, maka haji harus diutamakan. Mendirikan hotel, ada aturannya. Tak boleh di area pertanian. Dan, tentu saja jangan lupakan zakat. Keren sekali idenya. Wajar kalau mainan ini cukup mahal. Bahannya sih sederhana, yang mahal adalah idenya.

Belum sampai satu putaran yang memperbolehkan pemain membeli aneka aset, Papa sudah mengantuk. Shofie pun mulai capek. Ya, sejak Shubuh pukul 04.00, sehabis Isya, biasanya udah tidur. Ini sudah jauh dari jam tidur. Alhasil, selesai beberes, Papa dan Shofie pun masuk tenda, dan langsung terlelap.
Setelah shalat Isya, makan malam. Tapi takut kelamaan, akhirnya ambil air panas untuk masak dari bawah wkwk.

Ehhmm… harusnya, sih, acara ini no gadget. Namun, Papa lagi sedang berkomunikasi penting ma temannya. Yasud, hape dibawa naik. Mama ikutan, deh. Alasannya follow up jualan hihi. Namun, kami gak pegang hape, kok. Papa hanya balas-balas saja. Untung juga bawa hape, jadi Mama bisa poto-poto pas udah pada tidur, hehe.

Besok deadline sampai jam 5 aja di atas. Padahal udah ‘bekel’ sarapan. Namun, mau ada tamu dari Jakarta transit ke rumah sebentar, lanjut isi acara di kampus. Kudu bersih-bersih rumah lah yaw, wkwk.
Eh, alhamdulillah seusai Shubuh, kami masih sempat sarapan di atas. Bakar roti dan manasin tahu baxo. Setelah itu, barulah turun, lanjut bersih-bersih. Juga belanja jajanan buat suguhan, tak lupa lauk sayur buat sarapan (lagi).
Alhamdulillah, sepertinya lain waktu bisa camping lagi, nih. Sekaligus rapat keluarga untuk lebih serius lagi memantapkan Family Strategic Planning juga Family Branding, yang selama ini kayaknya diabaikan begitu saja 😦2016-11-20-07-40-56

Arena Kerja Darurat

20161102_195835

Arena kerja selama dua bulanan ini 🙂
Pagi, begitu selesai masak dan makan (hanya ini pekerjaan utama saya), langsung deh tempat tidur diubah fungsinya. Segala macam diangkut. Sore menjelang magrib, atau kadang sampai Isya, baru diberesin lagi.

Awalnya, saya menulis tangan di notebook. Lama-lama, males mindahin. Lalu, nulis di laptop sambil berbaring. Ternyata, capek juga. Posisi miring ga enak. Lalu, menemukan cara lain yang lebih efektif. Oret-oretan saya tulis di hape, lalu saya email. Jadi, kerja di laptop tinggal ngedit aja.

Alhamdulillah… dimudahkan dalam segala kondisi. Bersyukur juga, mendapat amanah untuk menulis beberapa tema selama hamil ini.
Btw, kenapa ngoyo banget kerja, sih? Mbok istirahat aja kalau emang kehamilannya bermasalah ( sstt… alhamdulillah, masalahnya ‘hanya’ gak bisa terlalu banyak gerak, sih. Berdiri atau duduk terlalu lama, membuat perut langsung kenceng. Begitu rebahan, nyaman lagi. Namun, gak ada flek atau apa…)

Iya, ya. Kenapa ngoyo kerja? Ehem… kayaknya kalau gak ada kerjaan, saya malah bosen, deh. Kalau tidak, malah menggunakan waktu dengan sia-sia. Baringan sambil buka sosmed apalah… apalah. Lha wong ada kerjaan aja, kayaknya saya jadi lebih melek berita, nih, gegara pegang hape terus. Biasanya mah ga mudheng blas masalah politik. Eh… sekarang tahu aja berita Dahlan Iskan (hiks, kasihan sekali beliau, ya?), pro kontra demo dan tahu satu-satu kontak FB saya ada di kubu mana, karena suka jadi silent reader (ampun, deh), bahkan kadang tergoda buka berita artis (ish!). Belum lagi komen2 di fb :p. Astaghfirullah… *elus perut.

*Cerita usia kehamilan 7 bulan. Semoga sehat dan lancar sampai melahirkan nanti. Kondisi terakhir periksa, air ketuban kurang, ada dua lilitan tali pusar :(. Semoga bisa melahirkan normal (saya takut RS, hiii…)*

Teka-Teki Dongeng Nusantara

Teringat satu buku, yang sudah lama hampir kuabaikan, nyaris terlupakan. Hiks… berasa jadi emak tiri banget, deh.

nusantara3

Kok tiba-tiba ingat? Ceritanya begini. Beberapa waktu lalu, seorang teman lama memesan satu set buku Seri Pengalaman Seruku. Masya Allah, katanya anak sukaaa banget. Kembang kempis, dong, hidung saya mendengarnya. Apalagi, sampai minta saya nulis buku lagi, dan pesen pakai nama dia hihi. Rupanya, si bocah lucu ini cemburu, karena nama dia gak ada, sementara nama temennya ada. Haha. Saya ceritain ini sama suami, dia pun ikutan ngakak.

Berlanjut, temen saya nanya ada buku apa lagi. Alhamdulillah, ketika pembaca puas dengan satu buku kita, insya Allah, mereka akan ketagihan. So, pertahankan selalu kualitas penulisan. Ciee. Eh, ditanya ada buku apa lagi, saya malah bingung. Punya pictorial book apa lagi, ya? Ubek-ubek, nemu buku “Teka-Teki Dongeng Nusantara”. Ya Allah… kok sampai lupa punya buku ini?? Nggak pernah promosi, nggak pernah jualan. Padahal buku ini asyik, loh.

Akhirnya, deal deh. Teman saya beli buku itu. Dan… lagi-lagi, doi puas. Malah lebih seneng dibandingkan waktu baca seri Pengalaman Seruku, kayaknya hehe. Kelihatan di BBM, kayak lebih semangat gitu, deh. Dia mengabarkan anaknya sukaaa banget ama bukunya. Langsung ambil pensil, mengerjakan aktivitasnya. Anaknya paling suka aktivitas yang mencari rintangan (baca: maze). Katanya, lebih seneng lagi, karena di bukunya aku kasih nama dia, dan ada tanda lope-lope hihi.

img_20161030_214829

Sebentar… ini buku aktivitas atau pictorial book?
Jawabnya adalah dua-duanya, hehe.
Buku tentang cerita rakyat sudah buanyaak sekali ada di pasaran. Namun, selalu saja ada buku baru dengan tema ini. Artinya apa? Buku tema ini laku di pasaran. Nah, agar tidak membosankan, tentulah harus mencari diferensiasi, alias kekhasan tersendiri yang membuatnya berbeda dengan buku kebanyakan.

Berasa terhormat banget, ketika saya yang diminta untuk menuliskannya. Ide dari editor ini keren sekali. Jadi, buku ini berbentuk pictorial book, tapi ilustrasinya tak sekedar gambar biasa. Di sana ada permainannya. Bisa maze, mencari dan menghitung gambar, memadu-padankan kata, dan lain-lain. Saya jadi mikir dua kali ketika menuliskan panduan ilustrasi. Repot? Iya, sih. Tapi asyik. Seperti main teka-teki juga akhirnya, walaupun tugas saya kali ini adalah sebagai si pembuat soal teka-teki hehe.

Dalam buku ini ada empat cerita rakyat yang dipilih berdasarkan isi ceritanya. Tentang apa? Tentunya yang berhikmah dan pas buat anak. Ortu biasanya cinta banget deh ama si hikmah ini, hihi. Awalnya, saya diminta mengajukan beberapa judul cerita rakyat, dan terpilihlah; Timun Mas, Biwar Penakluk Naga, Semangka Emas, dan Malin Kundang. Semuanya dengan hikmah yang berbeda-beda, tentang keberanian, sifat dermawan, dan bakti kepada orangtua. Semuanya ditulis dengan gaya anak kecil banget. Namanya juga buku aktivitas 🙂

photogrid_1452924609807

***
TEKA-TEKI DONGENG NUSANTARA
Penulis : Aan Wulandari U
Penerbit : Tiga Ananda
Ukuran : 23 x 21 cm
Cover : Soft Cover
Isbn : 9786023660872
Berat : 200 gram

Harga : 36.000

 

SINOPSIS

“Kalian suka membaca dongeng nusantara?
Kalau hanya membaca, itu, sih, biasa.

Di buku ini, selain membaca kisah serunya, kalian juga dapat memecahkan berbagai teka-teki di dalamnya.
Kalian dapat membantu Timun Mas mengalahkan raksasa, membantu Biwar mengalahkan sang naga, membantu Dermawan menemukan semangka emas, dan membantu tokoh-tokoh yang lain. Seru, kan?

Minta Ditabok :)

Sabtu pagi, suami pulang dari stasiun, menjemput kakak dan keponakan dari Jakarta, yang mau mudik Magelang (kereta ke Yogya habis, akhirnya turun Semarang, hehe). Saat itu, di rumah pas ada teman yang mengambil buku.

Ketika kakak mandi, dan keponakan main di atas sama Shofie, suami menanyakan si tamu. Siapa? Maka, mengalirlah cerita dari saya.
Temen tadi beli buku. Semalam, saya lihat ada beberapa buku belum terjual numpuk di kardus. Padahal, weekend niat mau beres-beres kamar untuk persiapan debay. Alhamdulillah, Jumat adalah waktu promo di sebuah grup. Maka, iseng aja saya posting buku-buku itu. Karena hanya ngabisin stok, pun dijual sama anggota grup yang saya kenal dengan baik, saya sedikit mengobral buku itu, apabila beli tiga buku ini sekaligus.

photogrid_1477021904392
Eh… gak tahunya banjir pembeli. Habis, deh, semua bukunya, bahkan pesan lagi ke penerbit, masing-masing buku lebih dari 10 exp. Bahkan,berlanjut sampai beberapa hari, karena ada teman yang menjual lagi buku-buku itu (menjadi reseller). Alhamdulillah, kan?

Kebayang, kan, betapa menggebunya saya cerita jualan yang sukses itu? Namun, apa jawaban suami mendengar berita menggembirakan seorang bakul ini? Uhuks, dah. Bukannya ikutan seneng, malah bilang gini. “Terus, Tita (keponakan yang lagi di rumah) kebagian nggak?”
Eeeaaa… he knows me so well, yang suka main jual-jual aja. Kadang, buku punya Shofie juga saya jual, hihi.

Langsung saya jawab dengan cengiran. “Habis. Semua udah pesanan. Nanti dikirim aja, ya.”
Suami diem. Jelas bedalah ‘rasanya’ ngasih di rumah sama nanti dikirim. Hehe. Lama, doi gak bicara. Kali dia galau, perang batin. Mau ngatain istri pelit atau bakul profesional yang mengutamakan pelanggan wkwkwk.

Sebagai istri yang tahu diri, otak langsung berputar. Buku apa yang kira-kira bisa dikasihkan keponakan hari ini, ya? Masuklah saya ke kamar, lihat-lihat lemari yang berantakan, dan taraaa… tampaklah seri Fun Cican.

photogrid_1477752002386
Sebenarnya, buku itu disimpan untuk keponakan juga. Tapi keponakan yang lain lagi, bukan si Tita ini hihi. Maklum, punya banyak keponakan. Suami lima bersaudara. Saya tiga bersaudara.

Langsung, deh, buku itu saya ambil. Kasih lihat ama suami. “Ada buku yang lain lagi, nih. Kasih ini, ya.”
Jawabannya lagi-lagi bikin surprised, deh.
“Keren, ya, bukunya. Ada tulisan Aan Wulandari di bukunya.”
Eeeaaa… dari puluhan buku yang ditulis si istri, emang baru tahu, ya, kalau di kaver selalu ditulis nama. Minta ditabok, nih, suaaamiiii….

Ohya, keponakan yang ke rumah ini kelas dua SD. Sebenarnya udah nggak levelnya baca Cican, sih. Jadi, saya bilangnya gini.
“Kak, ini buku buat Dik Qonit, ya. Nanti Kak Tita yang bacain.”
Hihi… cerdas, kan? Qonit adalah adiknya, yang baru masuk playgrup.

Nah, kalau jawaban keponakan ini bikin nyeesss, deh.
“Makasih, Tante. Qonit emang lagi minta dibacain buku terus. Dia pasti senang dapat buku ini.”

Romantis ala Penerbit-Penulis ;)

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar kalau penerbit mau stok opname selama sepekan. Pernah dengar kalimat itu, makna yang saya tangkap, sih, selama stok opname saya gak bisa pesan-pesan buku, hehe. Biar jelas, saya tanya lagi arti stok opname. Jawabannya adalah, selama sepekan itu penerbit akan menghitung keseluruhan buku yang ada di gudang area masing-masing, baik gudang besar, gudang pemasaran di seluruh Indonesia. Selama masa itu, tidak boleh ada transaksi barang.

Btw, ini penulis kok ngurusin begituan, sih? Haruskah?
Hehe… dalam SPP ( Surat Perjanjian Penerbit ), jelas tidak ada pasal yang mewajibkan penulis jualan, apalagi sampai ngurusi stok opname segala. Jadi, tidak melanggar hukum, kalau penulis gak mau tahu.

Kenapa saya begini?
Jawaban pertama, saya gak merasa terpaksa, dan ternyata saya suka diajak diskusi masalah ini dengan pihak marketing. Sama seperti kesukaan saya jualan buku (Pada akhirnya, saya sering juga menjual buku yang bukan karya sendiri). Puas rasanya bisa memberikan informasi dan ikut mencari buku-buku yang dibutuhkan pembeli.

Persaingan di dunia penerbit lumayan ketat. Buku-buku bagus dengan tema sejenis, terbit hampir bersamaan. Toko buku penuh. Display kadang tak maksimal. Bahkan, kalau tak beruntung nyaris tak kelihatan karena penataan yang … begitulah.

Rasanya, tak ada salahnya penulis ikut membantu pemasaran buku sendiri. Toh, keuntungan juga buat kita. Siapa, sih, yang nggak suka kalau bukunya laku?

Caranya?
1. Tak sekedar narsis mengabarkan buku terbit. Bahasa ‘narsis’ bisa dikemas lebih baik lagi, sehingga bernada promosi manis yang bisa menarik pembeli. Seorang teman bahkan membuat video bukunya. (Saya gaptek. Belum pernah nyobain hihi).

2. Penulisan behind the scene, sepak terjang dalam menulis buku insya Allah bermanfaat. Selain bisa belajar dari pengalaman, tak jarang isinya bisa memantik semangat penulis lainnya.

3. Nah, berikutnya adalah jualan bukunya hehe. Kadang, buku bertanda-tangan penulis mempunyai nilai lebih, loh 🙂

Ohya, tentang jualan ini, beberapa penulis mempunyai kendala masalah modal. Yup, saya juga pernah berada di posisi itu. Makanya, senang sekali ketika ada penerbit yang memberikan keringanan dengan cara potong royalti. Jadi, saya tak perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buku. Malah, menjadi sumber pendapatan. Masya Allah walhamdulillah.

Ada juga penerbit yang menawarkan konsinyasi. Kita bisa ambil buku, dijual dalam waktu sebulan atau sesuai kesepakatan. Setelah itu, baru bayar bukunya. Kalau ada buku yang tak laku, bisa dikembalikan. Lumayan, kan?

Kalau ketemu penerbit yang harus bayar dulu ketika kulakan, ya, terima saja. Tidak usah mengomel, apalagi pasang status di FB. Weih, bunuh diri itu, sih. Bisa-bisa penerbit nggak mau lagi kerja sama :p

Sama-sama merasa memiliki, kemudian memperjuangkan agar buku bisa lebih banyak diterima (baca: dibeli), adalah hubungan yang romantis antara penerbit dan penulis, bukan? 😉