Teka-Teki Dongeng Nusantara

Teringat satu buku, yang sudah lama hampir kuabaikan, nyaris terlupakan. Hiks… berasa jadi emak tiri banget, deh.

nusantara3

Kok tiba-tiba ingat? Ceritanya begini. Beberapa waktu lalu, seorang teman lama memesan satu set buku Seri Pengalaman Seruku. Masya Allah, katanya anak sukaaa banget. Kembang kempis, dong, hidung saya mendengarnya. Apalagi, sampai minta saya nulis buku lagi, dan pesen pakai nama dia hihi. Rupanya, si bocah lucu ini cemburu, karena nama dia gak ada, sementara nama temennya ada. Haha. Saya ceritain ini sama suami, dia pun ikutan ngakak.

Berlanjut, temen saya nanya ada buku apa lagi. Alhamdulillah, ketika pembaca puas dengan satu buku kita, insya Allah, mereka akan ketagihan. So, pertahankan selalu kualitas penulisan. Ciee. Eh, ditanya ada buku apa lagi, saya malah bingung. Punya pictorial book apa lagi, ya? Ubek-ubek, nemu buku “Teka-Teki Dongeng Nusantara”. Ya Allah… kok sampai lupa punya buku ini?? Nggak pernah promosi, nggak pernah jualan. Padahal buku ini asyik, loh.

Akhirnya, deal deh. Teman saya beli buku itu. Dan… lagi-lagi, doi puas. Malah lebih seneng dibandingkan waktu baca seri Pengalaman Seruku, kayaknya hehe. Kelihatan di BBM, kayak lebih semangat gitu, deh. Dia mengabarkan anaknya sukaaa banget ama bukunya. Langsung ambil pensil, mengerjakan aktivitasnya. Anaknya paling suka aktivitas yang mencari rintangan (baca: maze). Katanya, lebih seneng lagi, karena di bukunya aku kasih nama dia, dan ada tanda lope-lope hihi.

img_20161030_214829

Sebentar… ini buku aktivitas atau pictorial book?
Jawabnya adalah dua-duanya, hehe.
Buku tentang cerita rakyat sudah buanyaak sekali ada di pasaran. Namun, selalu saja ada buku baru dengan tema ini. Artinya apa? Buku tema ini laku di pasaran. Nah, agar tidak membosankan, tentulah harus mencari diferensiasi, alias kekhasan tersendiri yang membuatnya berbeda dengan buku kebanyakan.

Berasa terhormat banget, ketika saya yang diminta untuk menuliskannya. Ide dari editor ini keren sekali. Jadi, buku ini berbentuk pictorial book, tapi ilustrasinya tak sekedar gambar biasa. Di sana ada permainannya. Bisa maze, mencari dan menghitung gambar, memadu-padankan kata, dan lain-lain. Saya jadi mikir dua kali ketika menuliskan panduan ilustrasi. Repot? Iya, sih. Tapi asyik. Seperti main teka-teki juga akhirnya, walaupun tugas saya kali ini adalah sebagai si pembuat soal teka-teki hehe.

Dalam buku ini ada empat cerita rakyat yang dipilih berdasarkan isi ceritanya. Tentang apa? Tentunya yang berhikmah dan pas buat anak. Ortu biasanya cinta banget deh ama si hikmah ini, hihi. Awalnya, saya diminta mengajukan beberapa judul cerita rakyat, dan terpilihlah; Timun Mas, Biwar Penakluk Naga, Semangka Emas, dan Malin Kundang. Semuanya dengan hikmah yang berbeda-beda, tentang keberanian, sifat dermawan, dan bakti kepada orangtua. Semuanya ditulis dengan gaya anak kecil banget. Namanya juga buku aktivitas 🙂

photogrid_1452924609807

***
TEKA-TEKI DONGENG NUSANTARA
Penulis : Aan Wulandari U
Penerbit : Tiga Ananda
Ukuran : 23 x 21 cm
Cover : Soft Cover
Isbn : 9786023660872
Berat : 200 gram

Harga : 36.000

 

SINOPSIS

“Kalian suka membaca dongeng nusantara?
Kalau hanya membaca, itu, sih, biasa.

Di buku ini, selain membaca kisah serunya, kalian juga dapat memecahkan berbagai teka-teki di dalamnya.
Kalian dapat membantu Timun Mas mengalahkan raksasa, membantu Biwar mengalahkan sang naga, membantu Dermawan menemukan semangka emas, dan membantu tokoh-tokoh yang lain. Seru, kan?

Advertisements

Minta Ditabok :)

Sabtu pagi, suami pulang dari stasiun, menjemput kakak dan keponakan dari Jakarta, yang mau mudik Magelang (kereta ke Yogya habis, akhirnya turun Semarang, hehe). Saat itu, di rumah pas ada teman yang mengambil buku.

Ketika kakak mandi, dan keponakan main di atas sama Shofie, suami menanyakan si tamu. Siapa? Maka, mengalirlah cerita dari saya.
Temen tadi beli buku. Semalam, saya lihat ada beberapa buku belum terjual numpuk di kardus. Padahal, weekend niat mau beres-beres kamar untuk persiapan debay. Alhamdulillah, Jumat adalah waktu promo di sebuah grup. Maka, iseng aja saya posting buku-buku itu. Karena hanya ngabisin stok, pun dijual sama anggota grup yang saya kenal dengan baik, saya sedikit mengobral buku itu, apabila beli tiga buku ini sekaligus.

photogrid_1477021904392
Eh… gak tahunya banjir pembeli. Habis, deh, semua bukunya, bahkan pesan lagi ke penerbit, masing-masing buku lebih dari 10 exp. Bahkan,berlanjut sampai beberapa hari, karena ada teman yang menjual lagi buku-buku itu (menjadi reseller). Alhamdulillah, kan?

Kebayang, kan, betapa menggebunya saya cerita jualan yang sukses itu? Namun, apa jawaban suami mendengar berita menggembirakan seorang bakul ini? Uhuks, dah. Bukannya ikutan seneng, malah bilang gini. “Terus, Tita (keponakan yang lagi di rumah) kebagian nggak?”
Eeeaaa… he knows me so well, yang suka main jual-jual aja. Kadang, buku punya Shofie juga saya jual, hihi.

Langsung saya jawab dengan cengiran. “Habis. Semua udah pesanan. Nanti dikirim aja, ya.”
Suami diem. Jelas bedalah ‘rasanya’ ngasih di rumah sama nanti dikirim. Hehe. Lama, doi gak bicara. Kali dia galau, perang batin. Mau ngatain istri pelit atau bakul profesional yang mengutamakan pelanggan wkwkwk.

Sebagai istri yang tahu diri, otak langsung berputar. Buku apa yang kira-kira bisa dikasihkan keponakan hari ini, ya? Masuklah saya ke kamar, lihat-lihat lemari yang berantakan, dan taraaa… tampaklah seri Fun Cican.

photogrid_1477752002386
Sebenarnya, buku itu disimpan untuk keponakan juga. Tapi keponakan yang lain lagi, bukan si Tita ini hihi. Maklum, punya banyak keponakan. Suami lima bersaudara. Saya tiga bersaudara.

Langsung, deh, buku itu saya ambil. Kasih lihat ama suami. “Ada buku yang lain lagi, nih. Kasih ini, ya.”
Jawabannya lagi-lagi bikin surprised, deh.
“Keren, ya, bukunya. Ada tulisan Aan Wulandari di bukunya.”
Eeeaaa… dari puluhan buku yang ditulis si istri, emang baru tahu, ya, kalau di kaver selalu ditulis nama. Minta ditabok, nih, suaaamiiii….

Ohya, keponakan yang ke rumah ini kelas dua SD. Sebenarnya udah nggak levelnya baca Cican, sih. Jadi, saya bilangnya gini.
“Kak, ini buku buat Dik Qonit, ya. Nanti Kak Tita yang bacain.”
Hihi… cerdas, kan? Qonit adalah adiknya, yang baru masuk playgrup.

Nah, kalau jawaban keponakan ini bikin nyeesss, deh.
“Makasih, Tante. Qonit emang lagi minta dibacain buku terus. Dia pasti senang dapat buku ini.”

ALWAYS BE BY YOUR SIDE

Novel remaja pertama atau novel terjemahan bahasa Jepang ke dua yang saya edit 🙂

Awalnya, saya membaca lowongan editor freelance di sebuah grup, untuk buku terjemahan bahasa Jepang. Berdasarkan pengalaman menyunting seri Little Witch Co. saya memberanikan diri untuk melamar. Saya di tes menyunting satu bab disertai teks asli bahasa Jepang. Alhamdulillah lolos.

Biasa membaca novel anak yang jauh dari tema serba nge-pink, begitu baca novel remaja yang ada cerita naksir-naksiran jadi berasa gimanaa gitu, hihi. Ups! Bersih dari adegan pacaran, lho.

Menariknya novel ini adalah memasukkan pelajaran sejarah di dalamnya. Cara pengemasannya menarik, tidak maksa, karena antara cerita dan fakta ditulis terpisah. Bagus juga kalau ada novel lokal seperti ini 🙂

Selama ini, saya tahunya M&C! menerbitkan komik, namun buku ini hanya bab awal dan akhir dibuat dalam bentuk komik, lainnya narasi biasa.
image

Judul: Always Be By Your Side
Penulis: Senkoi Seisaku Iinkai / Tsubasa Nanaki
Penerbit: M&C
Penerjemah: Sekar Arum Sonia Lalita
Penyunting: Sri Nurhayati dan Aan Wulandari U

Saat libur musim panas, tak sengaja Marina bertemu dengan seorang lelaki di perpustakaan. Lelaki itu ternyata penggemar berat tokoh sejarah Nobunaga Oda dan guru IPS baru di sekolah Marina! Pak Guru Sakamoto namanya. Sifatnya yang ceria dan penuh semangat langsung membuatnya menjadi guru favorit di kelas.

Awalnya, Marina merasa sudah cukup puas hanya dengan melihat senyumannya. Namun, seiring dengan bertambahnya waktu, perasaan Marina pun semakin berkembang. Kenangan tentang diskusi pelajaran di perpustakaan sepulang sekolah, studi tur ke Kamakura, dan festival sekolah semakin membuat Marina berdebar-debar. Perasaan apakah ini?

Testimoni Mengharukan

Alhamdulillah,
Hanya satu kata itu yang pantas diucapkan ketika karya kita diapresiasi orang lain. Ada kepuasan batin tersendiri bila membaca buku-buku saya bermanfaat buat orang lain.
Menjelang magrib, terdengar notifikasi FB di hape. Saya yang akan beranjak wudhu jadi sedikit tergoda membukanya. Hem, tag dari seorang kontak yang belum pernah menge-tag saya saya sekali. Sepertinya tak mungkin di tag kuis. Penasaran, akhirnya saya buka. Dan … masya Allah. Postingannya benar-benar membuat saya meleleh. Testimoni buku “99 Nama Indah Allah” yang baru saja dibelinya di sebuah toko buku online.
image

Kadang muncul juga rasa malu bila mengetahui hal-hal seperti ini. Bahkan, saya, penulisnya tak bisa mengapresiasi sedemikian rupa. Hal ini saya rasakan ketika ada cerita yang lain. Seorang teman mengatakan, salah satu tulisan di buku “99 Nama Indah Allah’ pernah dipakai putrinya saat TK untuk deklamasi saat acara perpisahan TK. Dan sampai sekarang, putrinya masih hafal teksnya. Masya Allah. Bagaimana tidak terharu? Anak saya saja nggak sampai segitunya dengan buku yang ditulis ibunya ini.

Cerita lain lagi adalah apreasiasi buku “Anakku Tiket Surgaku”. Ketika seorang teman membeli buku itu, kemudian dia kembali memesan lagi untuk kado buat saudaranya. Alhamdulillah, berarti dia puas dengan isinya sehingga berniat untuk berbagi. Ternyata … saudaranya yang dikasih buku itu pun memberikan buku ini untuk kado lagi buat temannya. Bahkan tak hanya sekali. Masya Allah.

Ada lagi cerita seorang teman yang memberikan paket buku saya untuk temannya. Buku parenting untuk orangtuanya, dan buku anak untuk putranya. Beliau meminta saya menuliskan kalimat atau puisi persahabatan di bukunya. Masya Allah.

Kadang, saya merasa malu bila mengatakan, semoga yang saya tulis bisa menjadi tabungan ke surga sebagai amal jariyah. Sepertinya, yang layak berkata itu adalah para ulama dengan kitab-kitabnya yang tebal. Namun kali ini, saya berharap, semua itu bisa menjadi nyata. Walaupun sumbangsih saya teramat sangat kecil. Insya Allah.

Yuk, semangat menulis yang manfaat. Aamiin.

[Writerpreneur] Tips Jualan: Paket Buku

Sudah bukan hal aneh lagi, sekarang ini banyak penulis jualan buku yang ditulisnya sendiri. Hal yang rasanya masih jarang dilakukan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir industri buku sepertinya telah membentuk penulis untuk melakukan ini.

Selain itu, pembeli juga lebih suka bila mendapatkan buku langsung dari penulisnya. Selain tanda-tangan, tak jarang penulis memberikan diskon. Hubungan pembaca-penulis juga semakin dekat.

Seorang penulis, biasanya menulis beberapa buku. Baik dari penerbit yang sama maupun berbeda. Nah, agar jualan semakin oke, menjual buku dalam bentuk paketan bisa menarik perhatian pembeli. Apalagi masih ditambah diskon.
image

Hal ini pernah saya lakukan saat punya dua buku yang terbit bersamaan. Satu buku anak, “99 Nama dan Sifat Allah”, satu lagi buku parenting (kocak), “Oyako no Hanashi”. Satu paket buku itu saya jual Rp65.000,-. Murah banget. Harga buku “99 Nama Indah Allah” adalah Rp49.000,- dan “Oyako no Hanashi” Rp36.000,- Lumayan, bisai irit Rp23.000,-. Hehehe … kebetulan pihak penerbit memberikan diskon buku pada penulis agak lumayan. Jadi bisa murah. Namun, nggak harus banting-banting harga banget, sih. Pokoknya jangan sampai kita rugi. Harus tetep untung minimal lima ribu. Biaya bungkus dan wira-wiri ke kurir, kan, lumayan.
 image

Kini, saya kembali jual paket buku.

Buku “99 Nama dan Sifat Allah” cetak ulang ke tiga, dengan kaver dan judul baru, “99 Nama Indah Allah”. Pada saat hampir bersamaan saya juga mempunyai buku “Anakku Tiket Surgaku”. Kedua buku ini saya jual paket dengan harga Rp90.000,-.

Harga “99 Nama Indah Allah” adalah Rp55.000,- dan “Anakku Tiket Surgaku”, Rp57.000,-. Ada penghematan sebesar Rp22.000,-. Lumayan juga, kan?

Alhamdulillah, paket ini cukup ‘berhasil’ menarik minat pembeli. Sampai saat ini, lebih dari 20 paket sudah terjual. 

Monggo, barangkali ada yang mau mencoba jualan paketan :d

[Terbit] Anakku Tiket Surgaku

image

Alhamdulillah, buku “Anakku Tiket Surgaku” sudah terbit dan tersedia di toko buku. 
Buku ini bercerita tentang kisah para orangtua dalam mengajak anak-anak beribadah. Mulai shalat, puasa, mengaji, dan ibadah lainnya seperti memakai jilbab, membaca buku cerita agama, sampai … menjelaskan mimpi basah!!

Buku ini saya tulis bersama dua teman keren dari IIDN Semarang, Wuri dan Uniek. Cerita dikemas dengan gaya santai (bahkan cenderung gokil :p). Maksudnya, tidak lain tidak bukan, agar buku ini tidak terkesan menggurui atau bahkan membuat kita terintimidasi :d

Kadang, tiap anak punya alasan ‘khas’ yang sering bikin kita jengkel setengah mati ketika mereka tak mau shalat, puasa, atau lainnya.Seperti endors dari Mbak Dian Kristiani ini, “Aku suka baca tulisan ini. Lucu. Juga membuatku jadi lega, “Ooh, aku nggak sendirian. Ternyata, anak orang lain juga sama anehnya dengan anakku … haha …!” 

Mau tahu anehnya kisah itu? Ada di sini! Judulnya “Cambuk Rasulullah”. 

Endors dari Mba Faizza juga mewakili isi buku. “Mendidik anak untuk beribadah itu gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Ibunya jungkir balik memberi contoh dan mengingatkan, si anak tetap bergeming. Saat si ibu mentok cari ide, eee … anaknya ‘sadar’! Di buku ini, semua pergulatan ibu-anak tersaji manis dan membuat kita senyum-senyum bahagia. (Faizzati Itsnaini).

Bagi yang berminat membaca 75 kisah ibu, 
bisa PO, ya.
Harga buku 57 ribu. Beli langsung dari saya, dapat bonus tanda tangan, lho,.hehe

Monggo, silakan tinggalkan pesan di komen, ya. Saya mau order lagi ke Tiga Serangkai, nih. Kemarin pesan 10 eksemplar, langsung ludes. Bukti terbit juga udah kejual :d

****

Judul: Anakku Tiket Surgaku (Mengajak Anak Beribadah dengan Cinta)
Penulis: Wuri Nugraeni, Aan Wulandari U., Uniek Kaswarganti
Penerbit: Tinta Media, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Terbit: 2014
Tebal: 334 halaman
ISBN: 9786022579328

Anak malas shalat? Puasa juga bolong-bolong? Susah disuruh mengaji? Hemmm … jangan langsung disalahkan apalagi diomeli. Mereka adalah anak-anak yang masih membutuhkan perhatian Ibu, momen yang mampu mewarnai hari-hari sebagai ibu. Bisa jadi, kelak ketika menua, Ibu akan merindukan masa itu.

Review Buku Anak: Peri Sikat Naik Pesawat

Judul : Peri Sikat Naik Pesawat
Karya: Edgard Xavier FG (10 tahun)
Penerbit: BIP Kelompok Gramedia
Harga: Rp58.000,00
Buku Edgard

 

Dulu, ketika membaca status Mba Dian kalau dongeng Edgard sedang diilustrasi, aku udah langsung kepengin baca buku ini. Hem, karya penulis cilik yang tidak biasa, nih. Bukan novel, kumpulan cerpen, dll, seperti yang sudah beredar di pasaran.

Pas saat itu juga, ada murid lesku yang suka menulis fantasi, dan tidak bisa panjang! Catat! Tidak bisa panjang. Tulisannya bagus, imajinasi keren, tapi ya paling 1-2 halaman aja. So, aku makin enggak sabar nunggu buku Edgard. Berharap buku ini bisa jadi contoh buatnya untuk menulis. Nah, harapan tahap selanjutnya adalah muridku ini bisa mengikuti jejak Edgard menerbitkan buku di sana

*****
Alhamdulillah, ‘hanya’ dengan kalimat di atas, aku bisa mendapatkan buku ini gratiss … tiss …! Yup, kalimat itu aku ikutkan kuis manis yang diselenggarakan ibunda sang penulis cilik pengarang buku ini. Kalau enggak salah, sih, pertanyaan kuis itu adalah, “Apa yang membuatmu ingin memiliki buku ini!” Dan itu adalah jawaban dari hati terdalam, dan kayaknya sampai ke hati Mbak Dian. So, Mba Dian  jadi terketuk untuk memilihku jadi pemenang! Yeay!

Membaca sepuluh dongeng di buku ini, aku langsung berpikir “Buku apa saja yang dibaca anak ini?”
Katanya, tulisan tak akan jauh-jauh dari bacaan, kan?
Pertanyaan ini terjawab saat membaca profil penulis di sampul belakang. “Aku amat suka cerita dongeng. Sejak kecil, Mama selalu membacakan dongeng untukku.”

Semua dongeng di buku ini mengalir lincah dan khas anak-anak dengan idenya yang di luar dugaan. Lucu, endingnya lumayan bikin gemes. Tak ada sisipan-sisipan moral, yang biasanya sengaja diselipkan oleh penulis dewasa (Nunjuk hidung sendiri :p)

Walaupun buku ini sebanyak 85 halaman cerita, jangan bayangkan, Anda akan membaca 10 dongeng dengan tulisan yang panjang-panjang. Satu cerita hanya terdiri dari 6-8 halaman, dan masing-masing halaman terdapat 3-5 kalimat saja. Tentu saja, layaknya pictorial book, buku ini didominasi dengan ilustrasi yang menarik. Uniknya, setiap cerita diilustrasi oleh orang yang berbeda-beda. Ada lima ilustrator yang mempercantik karya penulis cilik ini. Gaya tiap cerita jadi tidak monoton. (Jadi pengin tahu, nih kejar tayang apa emang ada niat biar gambar gak ngebosenin, Mbak? :d)

Inilah komen bebasku terhadap isi dongeng-dongeng ini.

1. Laci-Laci di Otak
Belum-belum udah nyengir. Kok, kepikir gitu, ada laci di otak. Isinya dongeng-dongeng nenek, dan dikeluarkan ketika buku setebal bantalnya hilang.

2.Adikku Takut Hantu
Keren deskripsinya, nih. Kayaknya, kalau aku yang nulis, hanya akan bilang, adikku takut ke kamar mandi karena gelap. Adikku enggak berani tidur sendiri kalau lampu dimatikan. Kalau ini, mah, enggak! Penasaran, kan? Endingnya juga di luar dugaan. Kirain bakal berani. Ternyataaaaa …!

3. Perjalanan ke Bulan
Nemu roket di lapangan dekat rumah. Pergi ke bulan dan ketemu alien warna-warni, terus bersahabat, deh. Kelihatannya biasa, ya? Namun, biasa yang enggak biasa, lho!

4. Bantal Pengabul Permintaan
Ini juga kelihatannya biasa. Sebelum baca udah nebak isinya. Ah, paling-paling minta yang asyik-asyik sama si bantal. Tapi … hohoho …! Keren banget, lah!

5.Peri Sikat Naik Pesawat
Judulnya emang menarik untuk dijadikan judul buku, ya! isinya juga menarik, kok! Waktu baca ini, sih, aku ingat film Tinker Bell, yang masing-masing peri punya tugas sendiri-sendiri. Nah, Peri Sikat ini bertugas menyikat daun :d

6.Kenari-Kenari Kiko
Nyambungin kenari sama gigi palsu menggelinding itu idenya dari mana, Edgard?! Kamu kecil-kecil emang bikin ngiri banget, deh!

7.Telur Misterius
Tadinya, saya pikir akan keluar naga atau apa … gitu. Mana gambar telurnya besar. ternyata … hoho … kayaknya kalau dibikin film kartun keren, nih!

8.Paus Berbando
Eh, di cerita ini, Mbak Dian digambarin keren banget, loh! Mentang-mentang penulis, tetep baca buku di pantai, pakai kaca mata item. (Kenyataannya apa, iya? Nek aku melu nyebur :d) Sayangnya, gambar si Mama ini joget-joget sama si paus gak digambarkan dengan heboh. (Kalimatnya lumayan bikin penasaran, kan? :p)

9.Baju Marah-Marah
Hahaha … aku tahu asal ide ini! Daster itu, yaaaa …! Kalau pakai baju itu … pasti marah-marah :p

10.Nunu Naga Ingin Mainan
Nah, di antara semua cerita, inilah tulisan yang ber-ending pesan moral hahaha! Tapi, ceritanya tetap unik. Kebayang enggak, bantuan yang bisa diberikan seekor naga pada tukang sate? Saya enggak pernah kepikiran sama sekali!

Contoh isi buku Edgard

Selesai baca buku ini, saatnya untuk membacakan buat Shofie. Ternyata, dia malah membaca sendiri. Dan … di keramaian! Kalaulah cerita ini tak menarik, tentunya dia tak bisa konsentrasi.
Buku ini saya bawa, ketika mengantar si Papa periksa ke dokter. Di ruang tunggu itulah Shofie membaca beberapa cerita.
“Wah, ceritanya sedikit-sedikit, ya, Ma,” katanya.
Setelah itu, dia sibuk dengan dunianya.
Lama-lama, dia capai membaca sendiri, kemudian minta dibacain. Sebelumnya read aloud, cari posisi enak dulu. Kami cari bangku yang lebih empuk, dan Shofie bisa bersandar santai pada saya. Kebiasaan kami sih, kalau baca cerita begini sambil tiduran :))

Dia terbahak-bahak saat baca “Kenari-Kenari Kiko”. Lupa kalau lagi di tempat umum, hihi.

Ketika sampai di cerita “Telur Misterius”, dia tertawa lagi, dengan tawa yang lebih elegan. “Pasti burung-burung itu mengira anak ini mamanya!”

Ohya, suka tidaknya Shofie dengan cerita yang saya bacakan, biasanya terlihat dari komen-komennya. Lebih sering, dia tersenyum puas, begitu aku selesai membacakan satu cerita.

Edgard … jangan tambah besar kepala baca semua ini, ya! Beneran, nih, Tante enggak menemukan ‘kejelekan’ dalam cerita-ceritamu. Makanya muji melulu.
Pesan Tante, baca terus cerita bermutu, ya! Itu nanti akan sangat … sangat … berpengaruh pada cerita-ceritamu! Yuk, ah! Ditunggu buku selanjutnya!