Kemping di Rumah

Sekarang ini mulai menjamur staycation. Berlibur di hotel, tapi hanya dalam kota sendiri. Sekedar bersenang-senang, mencari suasana yang berbeda. Nah, beberapa waktu sempat kepikiran juga. Pengin staycation di Bandungan, atau Semarang bawah, yang ada kolam renangnya. Eh, ternyata sepemikiran ma si Papa, yang pengin refreshing juga. Namun, idenya berbeda. Papa gak mau bawa saya jauh-jauh, apalagi sampai Bandungan. Pun di hotel, walaupun gak pergi ke mana-mana, pasti tetap banyak jalan. Nah, idenya adalah mendirikan tenda di lantai dua. Huahaha…

Okelah kalau begitu.
Sabtu sore, sepulang dari ngisi seminar di Unnes, si Papa langsung bersibuk ria dengan Shofie. Belanja gas untuk kompor kecil dan perbekalan (hehe… walaupun hanya di rumah, harus pakai bekal, dong). Selesai belanja, langsung bersih-bersih atas dan mendirikan tenda. Shofie semangat sekali. Riang gembira kerja bareng Papa. Mama ngapain? Teuteup… rebahan aja hihi. Pas akhir-akhir ikut packing peralatan yang mau dibawa, sih. Minum, teflon, dll. Semua masuk ember agar bisa sekali bawa.

Seusai shalat Magrib, barulah Mama naik. Kata Shofie, “Mama hanya boleh naik dan turun sekali”. Yup. Lebih dari dua bulan, Mama nggak pernah naik ke atas. Nggak berani, takut kontraksi.
Sampai di atas, Mama takjub juga lihat tenda yang sudah berdiri dan ditata rapi. Alas memakai terpal, juga dilapisi tikar dan selimut, plus bantal-bantal sudah disusun. Di depannya dipasang tikar, buat ngobrol-ngobrol dan makan-makan.

Sepulang dari masjid, Papa pun gabung. Mulai utak-atik kompor sambil ngobrol-ngobrol. Eh… ternyata kompor nggak mau nyala.
Akhirnya Papa beli korek api dulu. Alhamdulillah, setelah ‘dipancing’, kompor mau nyala juga. Pas saat azan Isya berkumandang. Papa ke masjid, Mama dan Shofie jamaah di rumah.

Nah, selesai shalat, masaklah makan malam. Ehem… menunya masih jauh dari ideal nih, hihi. Apalagi kalau bukan mie instan wkwk. Takut kelamaan masak air, akhirnya ambil air panas dari bawah, hehe.

Selesai makan, kami mencoba boardgame baru. Islamologi Kid Land. Permainan macam monopoli, tanpa dadu, pun banyak aturan yang lebih islami. Sambil main, sambil baca petunjuknya. Hem, sepertinya seru. Kalau anak terbiasa dengan permainan ini, bisa membentuk pola pikir bila sudah ‘kaya’ nanti. Ada banyak poin yang bisa diambil. Utamakan sedekah dengan ikhlas. Sebelum membeli aneka aset, maka haji harus diutamakan. Mendirikan hotel, ada aturannya. Tak boleh di area pertanian. Dan, tentu saja jangan lupakan zakat. Keren sekali idenya. Wajar kalau mainan ini cukup mahal. Bahannya sih sederhana, yang mahal adalah idenya.

Belum sampai satu putaran yang memperbolehkan pemain membeli aneka aset, Papa sudah mengantuk. Shofie pun mulai capek. Ya, sejak Shubuh pukul 04.00, sehabis Isya, biasanya udah tidur. Ini sudah jauh dari jam tidur. Alhasil, selesai beberes, Papa dan Shofie pun masuk tenda, dan langsung terlelap.
Setelah shalat Isya, makan malam. Tapi takut kelamaan, akhirnya ambil air panas untuk masak dari bawah wkwk.

Ehhmm… harusnya, sih, acara ini no gadget. Namun, Papa lagi sedang berkomunikasi penting ma temannya. Yasud, hape dibawa naik. Mama ikutan, deh. Alasannya follow up jualan hihi. Namun, kami gak pegang hape, kok. Papa hanya balas-balas saja. Untung juga bawa hape, jadi Mama bisa poto-poto pas udah pada tidur, hehe.

Besok deadline sampai jam 5 aja di atas. Padahal udah ‘bekel’ sarapan. Namun, mau ada tamu dari Jakarta transit ke rumah sebentar, lanjut isi acara di kampus. Kudu bersih-bersih rumah lah yaw, wkwk.
Eh, alhamdulillah seusai Shubuh, kami masih sempat sarapan di atas. Bakar roti dan manasin tahu baxo. Setelah itu, barulah turun, lanjut bersih-bersih. Juga belanja jajanan buat suguhan, tak lupa lauk sayur buat sarapan (lagi).
Alhamdulillah, sepertinya lain waktu bisa camping lagi, nih. Sekaligus rapat keluarga untuk lebih serius lagi memantapkan Family Strategic Planning juga Family Branding, yang selama ini kayaknya diabaikan begitu saja 😦2016-11-20-07-40-56

Advertisements

Minta Ditabok :)

Sabtu pagi, suami pulang dari stasiun, menjemput kakak dan keponakan dari Jakarta, yang mau mudik Magelang (kereta ke Yogya habis, akhirnya turun Semarang, hehe). Saat itu, di rumah pas ada teman yang mengambil buku.

Ketika kakak mandi, dan keponakan main di atas sama Shofie, suami menanyakan si tamu. Siapa? Maka, mengalirlah cerita dari saya.
Temen tadi beli buku. Semalam, saya lihat ada beberapa buku belum terjual numpuk di kardus. Padahal, weekend niat mau beres-beres kamar untuk persiapan debay. Alhamdulillah, Jumat adalah waktu promo di sebuah grup. Maka, iseng aja saya posting buku-buku itu. Karena hanya ngabisin stok, pun dijual sama anggota grup yang saya kenal dengan baik, saya sedikit mengobral buku itu, apabila beli tiga buku ini sekaligus.

photogrid_1477021904392
Eh… gak tahunya banjir pembeli. Habis, deh, semua bukunya, bahkan pesan lagi ke penerbit, masing-masing buku lebih dari 10 exp. Bahkan,berlanjut sampai beberapa hari, karena ada teman yang menjual lagi buku-buku itu (menjadi reseller). Alhamdulillah, kan?

Kebayang, kan, betapa menggebunya saya cerita jualan yang sukses itu? Namun, apa jawaban suami mendengar berita menggembirakan seorang bakul ini? Uhuks, dah. Bukannya ikutan seneng, malah bilang gini. “Terus, Tita (keponakan yang lagi di rumah) kebagian nggak?”
Eeeaaa… he knows me so well, yang suka main jual-jual aja. Kadang, buku punya Shofie juga saya jual, hihi.

Langsung saya jawab dengan cengiran. “Habis. Semua udah pesanan. Nanti dikirim aja, ya.”
Suami diem. Jelas bedalah ‘rasanya’ ngasih di rumah sama nanti dikirim. Hehe. Lama, doi gak bicara. Kali dia galau, perang batin. Mau ngatain istri pelit atau bakul profesional yang mengutamakan pelanggan wkwkwk.

Sebagai istri yang tahu diri, otak langsung berputar. Buku apa yang kira-kira bisa dikasihkan keponakan hari ini, ya? Masuklah saya ke kamar, lihat-lihat lemari yang berantakan, dan taraaa… tampaklah seri Fun Cican.

photogrid_1477752002386
Sebenarnya, buku itu disimpan untuk keponakan juga. Tapi keponakan yang lain lagi, bukan si Tita ini hihi. Maklum, punya banyak keponakan. Suami lima bersaudara. Saya tiga bersaudara.

Langsung, deh, buku itu saya ambil. Kasih lihat ama suami. “Ada buku yang lain lagi, nih. Kasih ini, ya.”
Jawabannya lagi-lagi bikin surprised, deh.
“Keren, ya, bukunya. Ada tulisan Aan Wulandari di bukunya.”
Eeeaaa… dari puluhan buku yang ditulis si istri, emang baru tahu, ya, kalau di kaver selalu ditulis nama. Minta ditabok, nih, suaaamiiii….

Ohya, keponakan yang ke rumah ini kelas dua SD. Sebenarnya udah nggak levelnya baca Cican, sih. Jadi, saya bilangnya gini.
“Kak, ini buku buat Dik Qonit, ya. Nanti Kak Tita yang bacain.”
Hihi… cerdas, kan? Qonit adalah adiknya, yang baru masuk playgrup.

Nah, kalau jawaban keponakan ini bikin nyeesss, deh.
“Makasih, Tante. Qonit emang lagi minta dibacain buku terus. Dia pasti senang dapat buku ini.”

Perdarahan

Horor
Menjelang magrib, ketika ke toilet untuk BAK, tampak darah mengalir deras. Bahkan ada yang tercecer di lantai, ketika saya berdiri. Hiks. Langsung, deh, minta suami siap-siap untuk segera antar ke IGdD. Pikiran sudah gak enak, tapi pasrah mengingat kondisi kehamilan selama ini, yang bisa dibilang tidak berjalan mulus, alias rada bermasalah (walaupun tidak berat). Apapun yang terjadi nanti, harus ikhlas, pasrah …. Bener-bener, mikirnya udah ke mana-mana.

Kehamilan ke tiga ini memang lumayan beda dengan yang pertama dan ke dua. Sempat dua pekan, nyaris ga aktivitas. Aktivitas sedikit saja, perut bakalan kenceng-kenceng. Setelah dua pekanan bedrest, akhirnya mulai bisa masak (hanya racik bumbu, instruksi dikit, lalu yang melanjutkan suami dan anak, dan saya kembali ke tempat tidur), yang penting ada yang buat makan. Bosan jajan terus. Pun ga enak.

Alhamdulillah, keadaan membaik. Aktivitas meningkat lagi, masaknya bisa full. Sempat bisa bangkit ketika ada acara keluarga besar di rumah. Musti beberes rumah, siapin ini itu, dll. Walaupun hari berikutnya tepar :p.

Setelah istirahat beberapa hari, mendingan lagi, dan bisa pergi agak jauh. Bahkan dua hari berturut-turut ke Gramedia, kulakan buku hihi… (kalau ke Gramed kok sehat, yooo). Hari ke tiga ke ekspedisi kirim buku, belanja daster (daster e suwek kabeh :p) plus ketemuan teman, setelah itu tepar lagi hihi. Wis, poko’e gitulah. Kalau rada pethakilan, harus menerima konsekuensi, dibalas dengan istirahat lebih lama :p

Lanjut ke cerita perdarahan tadi …
Saat ganti baju kepikir kemungkinan lain sumber si darah. Ya… bisa jadi itu dari wasir. Panik menurun. Maka, saya putuskan ke dokter keluarga saja, gak jadi ke RS.

Syukurlah sampai klinik tidak antre. Begitu dicek, bener… penyebabnya wasir. Legaaaa… alhamdulillah, Allah mengingatkan. Coba kalau tadi ke IGD, ada kemungkinan diperiksa dokter laki-laki, terus bisa diketawain juga. Walah, jebul wasir e. Tiwas deg-degan :p

Operasi ‘Gara-Gara’ Bisul

Ceritanya, tahun ’94 suami saya bisulan di kepala, tapi ‘mata’nya belum keluar, bekas bisul itu seperti benjolan. Setahun belakangan ini, benjolan itu tumbuh, dan lumayan besar, sampai sebesar telur puyuh.

Ohya, walaupun membesar, benjolan itu tidak sakit, juga tidak menimbulkan pusing atau lainnya. Jadi emang bikin males berobat hihi. Tahu-tahu, si benjol nggak bisa disembunyikan dari rambut. Kan, nggak cakep banget, tuh, di kepala ada telur puyuh. Itulah yang akhirnya bikin niat operasi :p

Senin suami periksa. Kamar full. Jadi, kami pesan kamar dulu. Tak disangka, Selasa siang dikabari kalau ada kamar kosong. Weih, enggak ngira juga bakalan secepat itu. Belum siap-siap. Akhirnya asal gubrak-gabruk masukin baju ke koper.

Kami berangkat, saat hujan deras, sebelumnya jemput Shofie sekolah dulu. Niatnya, kami sekeluarga akan nginap di hotel eh di RS aja, tak perlu merepotkan keluarga, tetangga, teman atau lainnya. Anggap aja liburan.

Perjalanan lancar, walaupun menembus hujan deras dan banjir di beberapa tempat. Baru kali ini, lihat di bawah patung Diponegoro, Ngesrep, bisa banjir seperti itu. Padahal hujan deras belum sampai satu jam. Bagaimana kalau berjam-jam, atau berhari-hari, ya? Na’uzubillah, deh.

Sampailah kami di RS dengan selamat, pas hujan tinggal menyisakan gerimis. Parkir di dalam full, akhirnya parkir di jalan, di luar RS.
Ada cerita lucu juga, nih. Enggak nyangka, kan, kalau operasi tuh musti di infus. Kirain, mah, masuk kamar aja, sampai waktu operasi. Ternyata,  musti udah masuk obat dari infus. Jadilah waktu mau diinfus di UGD, suami izin parkir mobil dulu. Soalnya mobil masih di luar :p. Dokternya juga geli saat itu. Untung ga izin mau usung-usung koper sekalian. Ternyata, parkir masih full. Tak mungkin, dong, suami di luar kelamaan nunggu parkir kosong, sementara Mbak Perawat sudah siap dengan infusnya. Urusan mobil dipikirin nanti (akhirnya, sekitar pukul 8 malam, saya minta tolong tukang parkir untuk masukin mobil).

Setelah itu, periksa darah dan lainnya. Sorenya kami diberitahu untuk foto kepala. Aih, mulai deg-degan, deh. Katanya, mengingat benjolan itu udah puluhan tahun, demi kehati-hatian, mau dilihat apakah ada penyebaran ke tempat lain. Hiks. Mulai parno. Parahnya lagi, saya baru tahu kalau suami harus bius total. Haiyah, makin berasa mau operasi beneran (Lah, emangnya operasi main-main? :p)

Menjelang magrib, tiba-tiba saya berubah pikiran. Terpikir untuk telpon adik ipar di Solo, minta tolong jagain anak-anak di rumah. Kamar yang kami dapat hanya ada satu sofa, tak memungkinkan untuk ditiduri berempat. Apalagi, hari Rabu, Shofie renang. Rasanya ribet banget musti antar dia ke sekolah, siang jemput lagi bawa ke RS.

Alhamdulillah. semua oke, Adik dan rombongan sampai RS sekitar pukul setengah sepuluh malam, dan bawa anak-anak pulang. Dan … honey moon is begin. Tinggal kami berdua di kamar. Halah.

Siang di hari Rabu dokter datang. Lega saat beliau mengatakan benjolan itu hanya ada di bawah kulit, operasi bisa dilakukan pukul empat sore. Alhamdulillah. Operasi berjalan lancar, tak sampai sejam, suami udah dibawa keluar dengan keadaan sadar sepenuhnya. Nggak ada tragedi mual sampai muntah segala (Yang mau muntah malah saya, akibat dikasih lihat jaringan yang diambil. Hoeek, nggak tahan, euy. Jijik, xixixi).

Sebelumnya, saya udah takut nungguin suami sendirian paska bius total. Pengalaman waktu Syafiq, dia cukup rewel, karena bekas operasinya mulai terasa sakit.  Makanya, saya minta ditemani ma ibu dan saudara lainnya, yang alhamdulillah bisa sampai RS pas suami masuk kamar kembali. Hihi … awalnya sok hero, nggak mau merepotkan saudara, ujung-ujungnya impor bantuan juga dari magelang :p

Alhamdulillah, catatan dokter juga oke. Kamis suami udah boleh pulang, kontrol lagi hari Senin.
Senin kemarin, saya mengantar kontrol. Hasil bagus, insya Allah, Jumat benang akan diambil.
Ngomongin benang, awalnya saya curiga, kok dikasih benang yang musti diambil lagi, bukan benang yang menyatu dengan daging? Apakah karena BPJS? Hihi …. Namun, kata dokter keluarga, karena kulit kepala keras, jadi pakai benang itu biar lebih kuat. Oooh ….

Alhamdulillah, sekarang udah lega. Si benjolan ini, yang emang disebut juga tumor jinak, udah hilang. Berasa parno, ya, dengar kata tumor, kanker, dls. Kalau di Jawa seringnya disebut uci-uci. Sebenarnya bisa diatasi dokter umum. Namun, karena letaknya di kepala, diperlukan tindakan bius total, jadilah kami musti ke rumah sakit. Beberapa teman ada benjolan uci-uci ini di tangan, perut, atau lainnya, cukup ‘diambil’ aja oleh dokter keluarga (dokter umum).

Yup itulah sedikit kisah dua malam di RS. Pengin berbagi aja, jangan sepelekan bisul, biarkan dia matang, pecah, matanya keluar. Penginnya, sih, ya, jangan sampai bisulan, ya 😉

Waktu saya share tulisan ini di FB, ada tips dari Mba Siti Nurhasanah tentang bisul, nih.

Bisul bisa diobati dengan daun lung atau daun ketela rambat. Caranya, cuci bersih daun itu, kemudian diremas-remas, dan tempelkan pada bisul. Nantinya bisul akan matang, bernanah dan pecah dengan sendirinya. Berdasarkan pengalaman beliau, nanahnya juga tidak bau. Alhamdulillah sembuh.

FESPER 2014 (5): Field Trip Anak-Anak – Shofie Berani!

Jadwal selanjutnya setelah acara Permainan Keluarga adalah sharing: Serba-Serbi Homeschooling. Wah, membacanya saja sudah kebayang bakalan seru. Dan … kenyataannya memang lebih seru!

Saat orangtua ikut acara sharing, anak-anak ada kegiatan sendiri, yaitu field trip (begitu yang tertulis di jadwal :d). Saya tidak terlalu yakin Shofie bakalan mau mengikuti kegiatan itu. Jadi, yang ada dalam pikiran saya adalah: Shofie nempel saya ikut sarasehan atau saya nempel Shofie eh menemani Shofie ikutan field trip 🙂 Saya menunggu inisiatif dari dia sendiri, mau pilih mana. Saya tak mau memaksa Shofie untuk lepas dari saya. Semakin dipaksa, semakin enggak karuan hasilnya. Kalau mood udah jelek, malah parah, bisa merusak acara ber-Fesper-ria.

Saya bahkan meminta Syafiq untuk diam. “Biar Mama yang ngomong sama Adik, lho, Mas,” kata saya pada Syafiq dengan penuh penekanan :)) Intinya, enggak usah bujuk-bujuk Shofie atau lainnya. Soalnya, kalau Syafiq yang ngomong, ujung-ujungnya bisa maksa :p. Nah, kalau sudah terintimidasi kakaknya, ujung-ujungnya, Shofie bakalan ngambek.
Alhamdulillah, Syafiq mau diajak kerjasama ;))

Malamnya, saya hanya bilang pada Shofie kalau besok ada field trip untuk anak-anak, sementara orangtua ada kegiatan juga. Titik. bener-bener ‘titik’ karena Shofie juga enggak jawab apa-apa :d

Paginya, tanpa diduga, Shofie bilang, “Shofie mau ikut field trip, Ma.” Suaranya pelaaan banget saat ngomong gitu.
Saya (yang sebenarnya kaget saking senangnya) berusaha menanggapi biasa saja. “Ohya, sip!” gitu aja komen pendek saya.
Sebenarnya masih tampak keraguan di wajahnya. Antara pengin dan takut. Tapi saya biarkan aja. Daripada saya sok memotivasi, tapi malah salah ngomong :d

Alhamdulillah, acara anak ini dimulai terlebih dahulu. Jadi ada kesempatan buat ortu untuk ‘melepas’ anaknya, terutama yang masih kecil, untuk ikut kegiatan.

Image

Pertama, anak-anak dibariskan sesuai warna sticker yang ditempelkan di kartu peserta. Saya melihat kelompok Shofie. ‘Kok, anaknya kecil-kecil amat, ya?’ pikir saya.
Rupanya Syafiq punya pikiran sama. Dia mendekati saya, “Ma, bilang ama panitia, Shofie tuh salah kelompok kali. Kok, anak lainnya masih kecil. Nanti shofie enggak menikmati, lho.”

Saya pun bertanya pada panitia. Jawabannya adalah hanya remaja yang dikelompokkan sesuai umur, sedangkan anak-anak umur di bawahnya campur. Oh, ya sudah.

Anak-anak pun berbaris dipimpin kakak pengasuh. Orangtua berdiri melepas anak-anak, sambil ber-bye-bye ria. Setelah anak-anak menjauh, semua pun menempatkan diri di tenda besar untuk mulai acara “Sharing: Serba-Serbi Homeschooling.”

Rupanya, acara field trip ini seru juga, lho!
Dari foto-foto bidikan Pak Pars, jadi tahu kegiatan anak-anak adalah membuat manisan kedondong, menyetek pohon, membuat kompos dari daun-daun kering. Waaah … padat!

Image

Image

Image

 

Apakah Shofie menikmati?
Jujur, walaupun dia sudah menyatakan diri berani sendiri, saya masih was-was. Jangan-jangan dia sendiri terus. Jangan-jangan dia diaaam aja. Jangan-jangan … jangan-jangan …!
Walah, ini emaknya parah juga. Kalau hati emaknya belum bisa melepas gini, apakah enggak ngefek ke hati anaknya, ya? 😦
Ternyata, si Papa pun merasakan hal yang sama :))  Saat menjelang istirahat siang, saya diminta nengok Shofie. “Kali pengin pipis, dia enggak berani ngomong. Kali mau ke sini tapi enggak berani. Tengokin aja, daripada dia sekarang enggak nyaman, terus nanti-nantinya malah kapok,” kata si Papa dengan nada khawatir :d

Oke, deh, saya turun ke bawah, tempat anak-anak berkegiatan.Dan … di sana melihat Shofie sendirian aja di belakang! Huhu …!
Segera saya dekati. Eh … anaknya malah kelihatan enggak suka, saya samperin gitu :p
“Mama ke sana aja! Jangan di sini!”
Weleh, malah ngusir.
“Ya sudah, Mama di sebelah, ya!” Saya menunjuk tenda sebelah yang tak lain adalah mushala. Pas waktu itu terdengar azan dhuhur.
Shofie mengangguk.
Selesai shalat, saya lihat lagi anak itu. Masih sendiri :((
Tapi … tetep, enggak mau ikut saya. Saya malah diminta membawa nasi box jatah makan siangnya. “Shofie enggak suka,” katanya.
“Shofie mau pipis, enggak?” tanya saya hati-hati.
Dia menggeleng cepat.

Akhirnya, saya naik lagi ke atas, menuju tenda kegiatan. Di sana, peserta sudah mulai makan siang.
“Shofie mana?” tanya suami.
“Enggak mau ikut. Padahal ya gitu …,” saya ceriterakan semuanya.
“Ya sudah kalau gitu.”

Tak lama, acara anak-anak selesai. Shofie berlari mendekati kami. Dan … langsung cerita, “Nanti ada acara anak-anak lagi. Shofie mau ikut!” katanya semangat. Dan, benar saja, dia selalu berangkat dengan riang gembira menuju tempat acara anak-anak, sementara saya dan papanya tetap di tenda besar mengikuti sarasehan demi sarasehan.

Mungkin dia menikmati semua itu dengan caranya sendiri. mencoba melawan rasa takut dan malunya dengan caranya juga. *Si emak berusaha usir galau dari hati :d

Selanjutnya, Shofie selalu semangat main ‘sendiri’. Ke sana ke mari sendiri. Dia terlihat menikmati walaupun belum berhasil membaur dengan anak lainnya, dia tetap senang. Hal ini tertuang dalam cerita tentang Fesper yang ditulisnya.
Kalimat pertamanya adalah “Dulu aku kemah. Namanya Fesper. Aku senang sekali. Tapi, aku enggak punya teman, tapi tetep seneng.”

Image

Yah, jangankan anak-anak. Ternyata orangtua pun bisa saja mengalami hal ini. Mbak Wiwiet membahasakannya dengan kata ‘diesel’. Lama panasnya. Bahkan, di statusnya, Mbak Wiwiet merasa kesepian, karena suaminya asyik foto-foto, putranya gabung sama teman-temannya, dan dia pun belum bisa berteman di tengah banyaak orang yang sebenarnya sudah menjadi teman-temannya di dumay.

 

FESPER 2014 (4) : Permainan Keluarga – Ternyata Tracking!

Hari ke dua kemah. Saya kaget, ketika terbangun melihat di luar rasanya terang benderang. Alhamdulillah, ternyata itu penerangan dari lampu. Masih pagi, tidak telat shalat subuh. Sebelum saya bangunkan, Shofie sudah nglilir duluan, dan semangat bangun. Kami pun ke kamar mandi, wudhu, dan menuju ‘mushala tenda’. Alhamdulillah masih bisa jamaah shalat subuh.

Selesai shalat, beres-beres tenda. Ngelipet sleeping bag, menata tas-tas, pokoknya biar tenda tetep rapi, deh. Malu, dong, sama teman sekamar kalau berantakan :p

Setelah itu kami ke atas, menunggu acara “Permainan Keluarga” yang dijadwalkan pukul 06.00.Bayangan saya, kami akan bermain games keluarga. Entah tebak-tebakan atau apa. Ada pengumuman dari panitia, kalau kami diminta membawa alat tulis. Wah, buat apa, ya?

Pukul enam, panitia yaitu kakak-kakak volunteer sudah siap. Sayangnya, peserta masih banyak yang belum kumpul. Satu di antara hal lain yang saya kagumi, semua kegiatan benar-benar on time. Keren, deh.

Pertama-tama, peserta kemah dikumpulkan berdasarkan kelompok. Setelah itu, dibagikan gelang dari dobel tips. Fungsinya untuk menempelkan benda-beda jatuh yang ditemui di jalan. Bisa biji-bijian, daun, buang, dan lainnya. Ingat! Yang jatuh, jadi bukan metik dari pohon, ya. Ide unik, nih.

Gelang dari dobeltip

Mulailah kami berjalan per kelompok. Shofie semangat sekali. Dia sibuk menempel semua benda yang ditemuinya dobel tip. Saking sibuknya, kami sampai tertinggal jauh di belakang hehe.

Jalan-Jalan

Tadinya, saya pikir acara jalan-jalan ini hanya keliling sekitar perkemahan. Ternyata, kami menyeberang jalan raya di depan lokasi dan masuk ke kebun kopi. Shofie Senang melihat pohon kopi yang pertama kali baru dilihatnya, juga menyapa ibu tani yang sedang mencabuti pohon jagung yang sudah dipanen. (Eh, yang menyapa saya, lho. Bukan Shofie, hehe) Selain itu juga melihat tanaman yang masih kecil yang ditutup pelepah batang pisang. Entah, tanaman apa yang di dalamnya. Saya duga itu tanaman cabe.

Tapi … tapi … lama-lama kelamaan, Shofie rewel juga! Kenapa? perjalanan ini ternyata jauh banget! Saya enggak persiapan. Selain pakai sepatu sandal yang kurang enak dipakai, juga enggak bawa minum. Weleh, mana suami dan Syafiq juga sudah berjalan di depan. Eh, emang mereka saya suruh duluan, sih. Habisnya … dua anak itu … -skip- :))

Pertama-tama, Shofie rewel karena gerah. Jaket dia lepas dan … mulai merengek-rengek. Haus dan capek! Waduh! Sempat kepikir nyegat orang yang naik motor xixi. Tapi malu, ah! Lagipula, kadar kerewelannya masih lumayan bisa ditolerir. Saya tidak perlu menggendongnya. Fiuh, salut juga dengan Mbak Ira yang masih kuat gendong Nara sambil tracking :d

Shofie juga ketakutan ketika melewati makam. Hihi … padahal tiap hari kami lewat pemakaman umum. lho. Untunglah kerewelan ini bisa terhenti sejenak, karena menemukan permainan tepuk daun, yang diajari Pak Sapta dari Yogya. Eh, bener enggak, ya, namanya tepuk daun. Ini mah kasih nama asal aja :p

Caranya:
Ambil daun yang agak lebar.
Satukan ujung ibujari dan kelingking sehingga membentuk rongga.
Letakkan daun di atasnya
Dan … pukul keras-keras.
Nanti akan terdengar suara “plok” lumayan keras, karena daun menjadi berlubang.

Selain Shofie, Nara, Diffi-nya Irma sangat antusias mainan ini, lho!
Setelah itu, kakak dari bumi perkemahannya mengajari membuat kalung dari daun pohon ketela pohon. Shofie biasa aja melihatnya, karena sudah biasa. Tapi … sepertinya ini permainan baru buat Diffi si anak kota.

Dan … setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya sampai lagi di perkemahan. Karena jalan masuk lewat lokasi tenda tidur, maka saya langsung ke tenda, tidak ke tenda utama dulu. Males naik turun, hehe. Langsung ambil baju dan mandi. Setelah seger, baru naik ke atas untuk sarapan. Menunya nasi goreng! Eheeem … ! Saya ambil nasi sedikit banget dan acara timun hampir memenuhi piring plus kerupuk udang. Enggak pakai telur ceplok segala, deh.
Terus gabung sama Mbak Cantik yang putra-putranya diberi nama para nabi (Adam, Ibrahim), ihiks … saya kok lupa namanya, ya? Beliau langsung ngomentari, “Ih, suka timun, ya!”
Haha … maklum menu aneh. Acar lauk nasi!

Habis sarapan, masih ada waktu agak panjang untuk kegiatan berikutnya. Eeeh … baru keingat! Kudu tukar kaos, nih! Maklum saja, saya, kan menggantikan Mba Mutiara. Selain kurang satu, kaos bapak-ibunya berkebalikan, hihi. Suami Mba Mutiara ukuran XL, kalau suami saya cukup L. Sementara kalau Mba Muti cukup pakai M, saya harus … XXL, haha! Kaos Farrel bisa dipakai Shofie, kemudian nambah kaos dewasa ukuran M untuk Syafiq. Alhamdulillah, karena termasuk golongan pertama yang tukar kaos, semuanya masih dapat. Eeeh … enggak, ding. Saya akhirnya pakai kaos XL karena yang XXL habis (Hayooo … siapa yang pakai ukuran itu? :d). Alhamdulillah, masih cukup, deh. Walaupun, kalau ingin rada longgaran, yang badan kudu dikurusin lagi, xixi.