(Gado-Gado) Polisi Belanja

Seperti yang saya ceritakan di sini sebelumnya, inilah cerita waktu kalap di Pasar Baru 🙂
Alhamdulillah dimuat di Majalah Femina No 28, terbit Juli 2014. Femina ini ada bonus buklet Gado-Gado Istimewa. Puas, deh, bacanya 🙂
Tulisan yang saya posting sebelum diedit oleh redaksi, ya:)
Monggo dinikmati. Teman-teman yang mau kisahnya dimuat, bisa menulis maksimal tiga halaman folio, ketik 2 spasi, nama dan tokoh boleh fiktif, kirim ke kontak@femina.co.id
Semoga sukses 🙂
****

POLISI BELANJA
Oleh Aan Wulandari U

Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga liburan di Bandung. Selain
wisata, ada satu tempat yang saya incar. Pasar Baru! Apalagi kalau
bukan untuk belanja tas, baju, yang murah meriah?

Hari ke tiga liburan di Bandung, saya pun punya kesempatan ke Pasar
Baru. Bersama si sulung, laki-laki berusia 13 tahun, dan adiknya,
perempuan, umur tujuh tahun, saya di-drop oleh teman ke sana. Suami
tidak ikut karena menghadiri seminar.

Belanja pun dimulai! Dua rok harga miring (karena menghabiskan stok)
saya dapatkan. Dua blus juga udah masuk ke dalam tas. Baju anak-anak,
berikut oleh-oleh buat keponakan, orangtua, ipar, dan lain-lain. Ehh …
uang habis! Untung ada ATM bersama.
Si Sulung yang berusia 13 tahun mulai bersungut-sungut. “Ma, kita
sudah belanja banyak banget, lho! Jangan boros-boroslah!”
“Iya … iya … sebentar lagi. Mas belum dapat kaos bola, kan?”
Si sulung hanya mengangguk.
“Mau celana panjang?” tanya saya. Tepatnya, sih, berusaha merayu.
Maklum, dari tadi, dia belum beli barang satu pun.
“Enggak mau.” Dia menggeleng keras. “Aku masih punya. Lagian kalau
beli celana di mal aja, biar bisa nyobain. Nanti tahu-tahu kekecilan.”
Walaupun bersungut-sungut, dia masih belum mengajak pulang, karena
kaos bola berkerah incarannya belum dapat.

Sampai akhirnya, kalaplah saya di kios tas. Di sana sedang diskon
besar-besaran. Bagus-bagus pula. Merek terkenal yang biasanya di atas
Rp200 ribu jadi Rp50 ribu saja. Pilah-pilih … pilah-pilih. Untuk
sendiri, untuk ibu mertua, ibu sendiri, kakak ipar, adik, dan …
terkumpullah delapan tas!!
Namun begitu lihat dompet, uang enggak cukup. Untung bisa gesek!
Selesai borong tas, tambah manyunlah si Sulung karena dia yang
kebagian membawa tas segambreng ini! Mulutnya pun komat-kamit, ngomel
tak jelas.
“Sini, biar Mama yang bawa,” kata saya melihat dia bersungut-sungut.
Tapi ‘harga diri’nya sebagai lelaki rupanya tetap jalan. Dia menolak.
Bahkan juga tetap meraih tas yang berisi barang lainnya untuk
dibawanya. Saya pun bersyukur. Eh?!

Untunglah akhirnya ada juga toko yang menjual kaos idamannya, kaos
bola yang berkerah berukuran dewasa dengan ukuran paling kecil. Kaos
ini kami dapatkan setelah capai berkeliling di semua toko olahraga.
Alhasil, wajah yang udah kusut itu mulai bersinar kembali. Apalagi,
itulah belanjaan terakhir, setelah itu kami berjalan pulang. Namun,
wajah yang cerah itu kembali kusut melihat di luar hujaan! Dia sudah
membayangkan naik angkot, dua kali ganti, dengan bawaan segambreng.
Dia kembali tersenyum setelah saya memutuskan naik taksi!

Sampai di hotel, mengalirlah curhatan si Sulung pada papanya. “Mama,
boros banget, Pa. Lihat aja, tuh, belanjaannya.”
Rupanya, penyebab dia bete, tak sekedar karena lama menunggu dan jadi
porter. Dia juga protes dengan kegilaan belanja saya. Ya, selama ini
saya memang sangat menekankan pada anak-anak agar jangan boros. Beli
barang seperlu saja. Kalau barang lama masih bisa dipakai, enggak usah
beli baru. Kalau ada barang yang lebih murah dan bagus, tak perlu beli
yang mahal. Dan nasihat penghematan lainnya.
“Mama belanja banyak bukan untuk Mama sendiri, lho, Mas. Buat
oleh-oleh juga, kan?” kata saya membela diri. “Tas Mama banyak yang
rusak. Lagipula, sudah bertahun-tahun Mama enggak beli tas, lho!”
Dan, mengalirlah cerita tentang tas. Sejak pulang dari Jepang, tahun
2006, saya belum pernah membeli tas. Wiiih … irit, ya? Eh, irit apa
pelit? Ya, saya membawa banyak tas dari Jepang. Kebanyakan tas itu
saya beli saat bazaar, dan hampir semuanya tas bekas namun masih
bagus. Tas berkualitas bagus itu saya beli seharga 100-200 yen. Paling
mahal 500 yen, sekitar Rp50 ribu.
Selama hampir delapan tahun, tas itu saya keluarkan satu persatu, dan
dipakai secara bergantian.
Sampai akhirnya … tas-tas itu rusak
bersamaan! Ada yang rusak ritsletingnya, rusak di tali, sobek, dan
lainnya. Padahal, tas-tas itu yang saya pakai sehari-hari. Untung
masih ada satu tas yang bisa dipakai. Sayangnya, tas itu tak ada
ritsletingnya. Penutupnya hanya sebuah kancing. Wah, bisa-bisa,
dompet, hape, bisa berjatuhan saat posisi tak benar. Nah, wajar
banget, kan, kalau saya ingin beli tas?
Mendengar penjelasan saya, si Sulung mengangguk-angguk. Semoga dia
benar-benar paham, walaupun saya kalap, namun tetap kalap yang terarah
dan sesuai kebutuhan, hehe ….

Beberapa hari setelah pulang dari Bandung, kami pergi ke mal untuk
membeli sepatu bola si Sulung. Ketika melewati rak berisi tas, saya
berhenti.
“Ma, udah, Ma! Udah beli tas banyak banget, kan?” protes si Sulung.
“Enggak, Mama cuma lihat harga aja, kok. Tas yang kita beli di Bandung
beneran lebih murah, enggak, sih?”
Dari sudut mata, saya lihat si Sulung geleng-geleng. Saya nyengir.
Setelah saya melihat-lihat, si Sulung bertanya, “Gimana harga tas
tadi, Ma? Mahal?”
“Iyaa … mahal! Udah diskon 50% masih Rp75 ribu! Modelnya juga
bagus-bagus yang di Bandung. Tas yang enggak di diskon apalagi. Wuih,
ratusan ribu,” kata saya semangat.
“Puas, Ma?” katanya sambil nyengir lebar.
Saya ngakak! Wah, sekarang dia jadi polisi belanja, nih! Siap-siap
nyemprit kalau mamanya boros!
image

Advertisements

Gado-Gado yang Gagal: Tiga Pak Man

Tanggal 22 Januari 2013, saya mengirimkan naskah “Tiga Pak Man” ini ke redaksi Majalah Femina, untuk rubrik Gado-Gado, tapi rupanya belum berjodoh. Beberapa bulan kemudian, saya mendapat konfirmasi bahwa naskah ini tidak bisa dimuat.

Jadi, saya posting di sini, aja, ya 😉

*****

TIGA PAK MAN

Oleh Aan Wulandari U

Saya tinggal di sebuah perkampungan. Walaupun sudah banyak tanah terjual pada pendatang (seperti saya), namun masih banyak penduduk asli di sini. Nama beberapa warganya belum termodernisasi. Sebut saja, ada Ibu Ngasiyem dan Ibu Paikem. Juga Bapak Ratijan, Bapak Ramijan, dan juga nama-nama lain. Saya sering kesulitan menghafal nama mereka yang mirip-mirip ini. Bahkan, beberapa kali, saya salah orang.

Di antara mereka, ada tiga nama yang sangat dekat keluarga saya. Bapak Suliman, adalah tetangga sebelah rumah. Pak Ngasiman, tukang bangunan yang menjadi langganan kami kalau bebenah rumah. Beliau pun tinggalnya satu RT dengan saya. Satu lagi, Bapak Mantarso, tetangga beda RT. Dia adalah suami Bude, orang yang membantu saya mencuci dan menyeterika baju, juga bersih-bersih rumah. Nah,  ketiga oarng ini dipanggil dengan sebutan yang sama, yaitu Pak Man!

Suatu hari, di siang bolong, saya dikagetkan ketukan keras di pintu. Rupanya ada bapak-bapak dari RW lain mencari istrinya Pak Mantarso alias Bude. Saya ketahui namanya Pak Bani.  Saat itu, Bude sudah pulang. Biasanya pukul sepuluh, pekerjaan rumah tangga sudah selesai, dan dia melanjutkan bekerja di tempat lain.

“Kenapa, Pak?” tanya saya.

“Pak Man. Kecelakaan. Sekarang di rumah sakit!”

“Masya Allah! Ya, saya hubungi hapenya, Pak!” saya ikut panik.

Berkali-kali, saya coba telpon Bude, tapi tak ada jawaban. Mau sms, takut membuat Bude panik, dan nanti malah berakibat tidak baik. Saya coba telpon suami, meminta dia untuk ke rumah sakit. Tapi tidak diangkat juga. Maklum, kantornya terbuat dari tembok tebal, sinyal sering tak sampai ke hapenya. Akhirnya, saya sms agar pulang kantor kalau memungkinan.

Masih kebingungan, terbetik ide menelpon tetangga saya yang lain, yang rumahnya di depan rumah Bude. Namanya Bu Ati. Bisa! ayangnya, beliau sedang di luar rumah, sehingga tak mengetahui kabar ini. Mendengar kabar dari saya, beliau terkejut, dan berjanji secepat mungkin akan mengabari saya.

Sekitar setengah jam, ada telpon masuk dari Bu Ati.

“Bu, ini Pak Man sehat, kok! Sedang bekerja membetulkan rumah saya,” katanya. Untuk lebih meyakinkan, bahkan saya diminta untuk berbicara langsung dengan Pak Man.

Bu, niki kulo Pak Man. Mboten nopo-nopo, kok,” katanya yang artinya, Bu, ini saya, tidak ada apa-apa, kok.

Tentu saja saya bingung. Apakah salah orang?

Tak lama, Bude menelpon saya. “Maaf, Bu. Hape saya habis batrenya. Terus siapa yang kecelakaan ya, Bu? Apa Pak Suliman, tetangga sebelah?”

Saya katakan tidak mungkin, karena jelas-jelas Pak Bani mencari Bude. Bukan Bu Man, tetangga sebelah.

Sampai asar, saya masih belum mengetahui orang yang dimaksud Pak Bani. Rumah sebelah kosong, tak ada orang. Tapi saya ketahui pasti, Bu Man sedang masak di rumah orang yang sedang hajatan. Sedangkan Pak Suliman tentunya masih bekerja.

Sampai kemudian, Bude telpon lagi. “Bu, jangan-jangan yang kecelakaan Pak Suliman, ya? Saya sudah ngecek pak Man Ngasiman, dia juga tidak apa-apa. Sekarang sedang kerja,” katanya.

Lho, kok bisa? Saya pergi ke sebelah rumah. Rumahnya masih kosong. Saya masih tetap berpikir, istri Pak Suliman sedang memasak di rumah tetangga, dan Pak Suliman sedang bekerja.

Menjelang magrib, barulah semua ini terjawab. Yang kecelakaan benar-benar Pak Man Suliman. Ternyata, Pak Bani ke rumah sebelah, tapi tidak ada orang. Akhirnya, dia mencari Bude, untuk mencari tahu, tetangga sebelah saya pergi ke mana.

Setelah itu, Bude juga cerita. Begitu Bu Ati sampai di rumah, dia langsung ke rumah Bude. Dan bertanya dengan nada panik, “Bude, gimana Pakde? Tidak apa-apa?”

Alhasil Bude bingung. “Lho kenapa? Bukankah Pakde bekerja di rumah Bu Ati?”

Ternyata, saking paniknya, Bu Ati tidak memperhatikan kalau Pakde alias Man sedang memperbaiki rumahnya. Menurut cerita Pak Man, Bu Ati bahkan melewatinya saat bergegas ke rumah Bude. Tapi, dia tak memperhatikan kalau itu Pak Man. Ya ampun!

Selain itu, Bude juga bertanya pada istri Pak Ngasiman. Wanita setengah baya itu mengirim sms yang bertuliskan, “Bojomu ora popo?” yang artinya, suamimu enggak papa?

Alhasil, istri Pak Ngasiman langsung telpon dengan panik. “Memangnya suamiku kenapa?” katanya kaget setengah curiga. Kenapa wanita lain yang menanyakan suaminya?

Setelah dijelaskan duduk permasalahannya, istri Pak Ngasiman pun mengecek ke tempat kerja suaminya. Dia lega, ketika suaminya tak kenapa-kenapa.

Rupanya, tiga Pak Man, ini menjadi cerita seru di antara tetangga satu RT. Bahkan, selalu ada cerita ini setiap ada membezuk Pak Man Suliman, membuat semua tergelak, di depan Pak Man yang babak belur dan terbaring di rumah sakit.

“Oalah … harusnya ada nama Pak Man A, Man B, dan Man C, atau ganti nama sekalian saja, biar tidak keliru!”

****

Alhamdulillah, walaupun yang ini tak dimuat, naskah lain yang berjudul “Paparazzi” tayang di Femina. Udah lama, sih. Femina no 37, September 2013.

Paparazzi

Buat teman-teman yang mau kirim naskah untuk “Gado-Gado” Majalah Femina, berikut informasinya:

Tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik dua spasi, nama dan tokoh bisa disamarkan, kirim ke kontak@femina.co.id

HADIAH RESENSI

hadiah resensi 

Seperti yang sudah saya tuliskan di sini, salah satu enaknya bila resensi kita dimuat adalah mendapat hadiah dari penerbit yang bukunya kita resensi.

Alhamdulillah, beberapa hari lalu, saya mendapat hadiah dua buku dari penerbit Bhuana Ilmu Populer, karena resensi “50 Dongeng Aesop Fabel Flanel, Unik & Seru” dimuat di Kompas Anak.

Lumayan, kan, dua buku gitu, lho! Harganya berapa, tuh? Eh, matre banget, sih :p

Saya bagikan tulisan yang dimuat itu, ya. Di bawah ini adalah tulisan asli dari saya. Silakan dibandingkan dengan tulisan yang dimuat (lihat di gambar). Tuh, judulnya diedit, lho.

****

Judul               : 50 Dongeng Aesop Fabel Flanel, Unik & Seru

Penulis Ulang  : Watiek Ideo

Ilustrasi           : Dini Capungmungil

Penerbit           : BIP Kelompok Gramedia

CERITA KEBAIKAN DALAM AESOP FABEL

Aesop fabel adalah cerita binatang yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu, dan masih terus lestari hingga kini. Aesop fabel mengandung pesan moral yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Walaupun begitu, cerita tetap menarik, unik, dan tidak terlalu panjang, sehingga disukai anak-anak.

“Semut dan Merpati” menceriterakan tentang seekor semut yang nyaris tenggelam terseret arus sungai. Namun, dia selamat karena ditolong merpati yang menjatuhkan sehelai daun. Lain waktu, semut menggigit seorang pemburu yang akan menembak merpati, sehingga selamatlah merpati yang dulu pernah menolongnya.

“Kelinci dan Kura-Kura” mengajarkan kita untuk tidak sombong seperti kelinci yang mengejek kura-kura karena jalannya sangat lamban.  Pelajaran apa yang bisa didapatkan dari cerita seekor gagak yang berusaha menyelam ke dalam danau, karena ingin bulunya seputih dan secantik angsa?

Ada banyak pelajaran dalam limapuluh cerita pendek ini. Uniknya, ilustrasi dibuat dari kain flanel yang membuat semakin seru. (Aan Wulandari-Semarang)Aesop