ALWAYS BE BY YOUR SIDE

Novel remaja pertama atau novel terjemahan bahasa Jepang ke dua yang saya edit 🙂

Awalnya, saya membaca lowongan editor freelance di sebuah grup, untuk buku terjemahan bahasa Jepang. Berdasarkan pengalaman menyunting seri Little Witch Co. saya memberanikan diri untuk melamar. Saya di tes menyunting satu bab disertai teks asli bahasa Jepang. Alhamdulillah lolos.

Biasa membaca novel anak yang jauh dari tema serba nge-pink, begitu baca novel remaja yang ada cerita naksir-naksiran jadi berasa gimanaa gitu, hihi. Ups! Bersih dari adegan pacaran, lho.

Menariknya novel ini adalah memasukkan pelajaran sejarah di dalamnya. Cara pengemasannya menarik, tidak maksa, karena antara cerita dan fakta ditulis terpisah. Bagus juga kalau ada novel lokal seperti ini 🙂

Selama ini, saya tahunya M&C! menerbitkan komik, namun buku ini hanya bab awal dan akhir dibuat dalam bentuk komik, lainnya narasi biasa.
image

Judul: Always Be By Your Side
Penulis: Senkoi Seisaku Iinkai / Tsubasa Nanaki
Penerbit: M&C
Penerjemah: Sekar Arum Sonia Lalita
Penyunting: Sri Nurhayati dan Aan Wulandari U

Saat libur musim panas, tak sengaja Marina bertemu dengan seorang lelaki di perpustakaan. Lelaki itu ternyata penggemar berat tokoh sejarah Nobunaga Oda dan guru IPS baru di sekolah Marina! Pak Guru Sakamoto namanya. Sifatnya yang ceria dan penuh semangat langsung membuatnya menjadi guru favorit di kelas.

Awalnya, Marina merasa sudah cukup puas hanya dengan melihat senyumannya. Namun, seiring dengan bertambahnya waktu, perasaan Marina pun semakin berkembang. Kenangan tentang diskusi pelajaran di perpustakaan sepulang sekolah, studi tur ke Kamakura, dan festival sekolah semakin membuat Marina berdebar-debar. Perasaan apakah ini?

Seri Little Witch Co : Kepincut Silk dan Cotton yang Imut

PhotoGrid_1410753754490-1
Ketiga buku ini bukan buku baru. Namun, tak ada salah bila sekarang saya menulis kisah seru saat menyunting buku ini. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Inilah pertama kalinya saya mendapat order menyunting buku terjemahan. Bahasa Jepang pula. Kamus Jepang-Indonesia setebal bantal yang sudah lama pensiun pun kembali dibuka. Satu yang membuat saya kesal, laptop besar yang saya bawa dari Jepang rusak! Suami juga udah nggak punya laptop layak pakai yang dari Jepang. Maklum, kami pulang dari Jepang tahun 2006, banyak barang udah almarhum. Alhasil, saya tidak bisa browsing arti kata menggunakan huruf hiragana. Mau install huruf Jepang di netbook takut kelamaan, nanti malah nggak bisa kerja, deh.

Saya bersyukur, punya teman-teman yang sangat berbaik hati berbagi membantu kala saya pusing membaca terjemahannya, dan semakin bingung saat membaca naskah aslinya, haha! Yup, nihonggo alias bahasa Jepang saya itu masih ala kadarnya. Tahun 2005 lulus sankyu (level tiga sebuah tes bahasa Jepang, semacam TOEFL), sih. Namun, sejak pulang ke Indonesia jarang dipakai. Ohya, satu alasan lagi, soal-soal di JLPT mah beda ama naskah cerita. *Minta dijitak*. Pokoknya, makasih banyak buat Nesia, Dina, Bu Huda atas bantuannya :d

Bagaimana ceritanya sampai saya mendapat job ini?

Sebenarnya, kerjaan ini justru datang saat saya benar-benar ingin meng-up grade ilmu penyuntingan. Saya belum puas dengan ilmu yang saya miliki. Saya juga ingin merambah genre buku lain. Selama ini, pengalaman saya masih sebatas menyunting buku anak. Nah, waktu itu Bentang Pustaka membuka workshop editor. Kalau tidak salah selama tiga hari. Peminat diminta mengirimkan data diri, kemudian di tes awal. Yup, mengirimkan data diri, di tes, sih bukan masalah. Masalahnya adalah … workshop dilakukan di Yogya! Saya adalah emak-emak rumahan banget yang jaraaang (nyaris tidak pernah) meninggalkan anak-anak. (Anak saya hanya dua, sih. Satu udah SMP, satu SD. Udah besar-besar, nggak ada bayi menyusui :p. Namun, keduanya belum pernah saya tinggal sendirian di rumah apalagi sampai menginap)

Keinginan kuat untuk belajar itu membuat saya sedikit nekat. Pertama saya bilang sama mertua dulu. Suami menyusul :d. Saya bilang kalau akan mendaftar ‘kerja’ yang bisa dikerjakan di rumah. Sebelumnya ada pelatihan di Yogya. Jadi, kalau keterima, selama pelatihan saya nitip anak-anak. Mertua mendukung banget. Secara beliau itu sebenarnya sangat mendukung saya bekerja haha. Setelah mertua setuju, baru, deh saya bilang sama suami, hihi. Oke. Suami pun siap ‘nglaju’ Magelang-Semarang selama tiga hari. Ohya, orangtua/mertua tinggal di Magelang. jadi, nanti saya juga ‘nglaju’ Magelang-Yogya.
Kebayang, kan, betapa niatnya saya waktu itu??

Semua pun berjalan biasa saja. Setelah saya mengirimkan CV, dikirimlah naskah untuk tes. Langsung saya kerjakan dan saya kirim balik. Yakin banget saya bakalan lolos ikut workshop itu (pede tingkat tinggi). Saya semakin yakin diterima karena tak lama setelah saya kirim hasil tes, sebuah email masuk di inbok. Saya ditawari menyunting sebuah novel anak terjemahan bahasa Jepang. Wow! Belum workshop, kok sudah dapat job? Girang banget, nggak, tuh?

Ehh … tentu saja, nggak langsung kerja, ya. Saya dites dulu. Materi tesnya adalah beberapa halaman dari Bab 1 naskah yang akan saya sunting. Dag dig dug banget saat mengerjakan. Walaupun sudah berpengalaman menyunting naskah anak, namun kali ini beda! Akhirnya … satu hari setelah naskah dikirim, saya pun dinyatakan LOLOS!!

Akhirnya, saya pun menyunting seri pertama Little Witch Co, “Daur Ulang Pakaian”. begitu selesai seri pertama, lanjut seri ke dua, “Perjalanan Sihir”, dan seri ke tiga “Gaun Bintang Kejora”. Ketiga buku ini benar-benar menarik sekali. Sebagai penulis juga (yup, sebelum terjun ke dunia penyuntingan, saya terlebih dulu terjun sebagai penulis, khususnya penulis bacaan anak), saya pun belajar dari buku-buku ini. Imajinasinya sungguh keren. Pesan moralnya ‘kena banget’. Namun, jangan dibayangkan cerita di dalamnya penuh petatah-petitih, ya. Jauh … jauh banget dari kata-kata menggurui itu.

Ketiga buku ini saya bacakan buat Shofie (7 tahun). Ya, buku ini mungkin bisa dikategorikan chapter book, pertengahan antara pictorial book dan novel. Ilustrasi di dalamnya cukup banyak, jadi lumayan menarik hati Shofie. Selesai saya bacakan, Shofie jadi sering ‘netah’ si Wonka, kucing di rumah, untuk berjalan dengan dua kaki. “Biar kayak Cotton,” katanya. Cotton adalah seekor kucing pelayan, salah satu tokoh di buku ini.
contoh isi buku

contoh isi buku 2

Walaupun judulnya penyihir, namun buku ini jauh dari cerita sihir-sihiran. Bahkan, Silk, tokoh utama di buku ini, seorang penyihir penjahit tidak pernah memakai kekuatan sihirnya untuk menjahit baju. Semua dikerjakan sendiri. Dia mau bekerja keras demi hasil yang sempurna. (Moral lagi :d)

Wah, kalau saya yang membuat resensinya, bakalan muji-muji melulu, nih. Silakan baca di goodreads, ya.
Seri 1: https://www.goodreads.com/book/show/18689904-little-witch-co-1
Seri 2: http://www.goodreads.com/book/show/18961204-little-witch-co-2
Seri 3: http://www.goodreads.com/book/show/18961274-little-witch-co-3

Berharap banget semua seri ini diterjemahkan (dan saya diminta menjadi penyuntingnya. Aamiin :d). Kata Mba Astri, kalau penjualan bagus, insya Allah akan lanjut seri berikutnya. Ada 20 seri kalau nggak salah. Yuk, ah, pada beli, dong. Biar saya dapat kerjaan lagi. Eh, biar bisa menikmati seri Little Witch Co ini :d

Ohya, kembali pada workshop Bentang. Apakah akhirnya saya diterima untuk ikut workshop itu? Ternyata tidak, Saudara! Haha. Alhamdulillah, nggak perlu ninggal anak yang merepotkan mertua dan suami, namun pekerjaan tetap dapat :d

Guru Tak Langsung

Lebih dari setahun ini, selain masih menekuni profesi sebagai penulis, saya pun menjadi editor lepas. Profesi yang tak ada hubungannya dengan kuliah saya dulu di Fakultas Pertanian, sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Jawa Barat.

Lantas, apakah karir yang saya rintis ini hasil belajar sendiri? Tanpa seorang guru? Tentu saja tidak. Saya pernah mengikuti workshop online penyuntingan naskah dengan seorang editor. Setelah itu pun, saya pun masih sering bertanya-tanya, dan belajar dengan beliau selama beberapa waktu. Dan, selang beberapa bulan kemudian, saya memberanikan diri melamar menjadi editor lepas di sebuah penerbit. Setelah dites satu buah naskah, alhamdulillah diterima, namun dengan berbagai catatan. Ya, masih ada kesalahan saat mengedit, yang harus saya perbaiki. Kini, saya dipercaya menjadi editor di beberapa penerbit. Tentu saja tetap sebagai editor lepas.

Sekian lama berkutat dengan pekerjaan ‘mencoret-coret naskah’ saya pun teringat masa lalu. Ternyata, saya pernah diajar secara tak langsung oleh dua orang guru, untuk menjadi seorang editor. Beliau adalah ibu dan dosen saya.

Sekitar tahun 80-an, saat surat-menyurat masih menjadi satu-satunya cara untuk menjalin komunikasi jarak jauh, saya sering diminta Ibu untuk menulis surat pada Bude yang tinggal di Jakarta. Minimal setahun tiga kali, setelah terima rapor. Yang saya tulis, biasanya nilai-nilai rapor yang selalu bagus dan ranking 1 *sombong :p*. Bukan … bukan masalah itu yang ingin saya ceritakan :p.

Saat menulis surat itu, saya disuruh Ibu menggunakan bahasa jawa kromo alus! Bukan hal yang mudah buat anak seusia SD seperti saya. Setelah saya berusaha menulis semampunya, kertas saya berikan kepada Ibu. Dan … Ibu akan mencoret kalimat-kalimat yang salah, meminta saya untuk membetulkan. Tidak seperti menulis di komputer seperti sekarang, tinggal tekan delete bagian yang salah, waktu itu, saya harus menulis ulang lagi di kertas yang lain! Tak hanya sekali dua kali tentu saja. Kalau saya salah menulis pun, harus kembali menulis ulang. Ibu tak mengizinkan ada coretan dalam tulisan saya. Dan … sepertinya saya belum kenal tip ex. Kalaupun tahu, barang itu terlalu mewah buat saya waktu itu.

Saat itu, dalam otak saya, tentunya belum mengenal kata editor. Mungkin begitu juga dalam pikiran Ibu, beliau pun mungkin tak mengenal profesi editor, apalagi meniatkan diri mengajar putrinya menjadi seorang editor. Tapi tanpa disadari, saya sedang ‘dididik’ oleh Ibu untuk menjadi seorang editor.

Pengalaman ke dua adalah ketika kuliah. Saat tingkat akhir, saya dan teman-teman sibuk mencari dosen pembimbing. Ada seorang dosen yang ‘dijauhi’ oleh teman-teman. Selidik punya selidik, masalahnya adalah beliau sangat teliti! Bukan teliti masalah penelitian, namun lebih pada cara penulisan. Awalnya, saya pun tidak berani meminta beliau menjadi dosen pembimbing. Tapi setelah dipikir ulang, daripada mendapat dosen antik yang kadang ‘tidak jelas maunya’, mending dosen ini!

Benar saja! Ketika membuat proposal penelitian, saya mulai merasakan ‘ketelitian’ beliau. Tapi, semua itu bisa saya lalui. Ya, makalah proposal tidaklah banyak. Hanya beberapa lembar. Sekali dua kali perbaikan, semua sudah oke.

Setelah itu, saya pun melakukan penelitian selama hampir setahun. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Begitu penelitian selesai saya mulai menulis hasilnya dan menyerahkan draft pertama pada beliau. Dan begitu dikembalikan pada saya … alamaak … coretannya banyak sekali!! Mulai dari tata bahasa, EYD, kalimat yang benar, juga isinya!

Naskah segera saya perbaiki. Ternyata, saat ke dua kalinya menyerahkan draft pun, masih banyaaak sekali coretannya! Demikian juga yang ke tiga. Benar juga kata teman-teman saya. Beliau sangat teliti! Tapi kepalang tanggung. Yang penting, penelitian sudah selesai! Itulah yang membuat saya tetap semangat. Melihat penelitian teman-teman yang belum selesai, saya merasa jauh lebih beruntung. Sekarang, saya ‘hanya’ fokus pada penulisan. Ya, dibandingkan dengan penelitian yang kadang gagal, bukankah membetulkan tulisan jauh lebih ‘ringan’? Walaupun, seringan-ringannya saya tetap bolak-balik nge-draft sama beliau. Dan akhirnya … setelah hanya beberapa coretan saja, beliau berkata, “Besok bawa draft yang saya coret ini berikut yang sudah diperbaiki! bagian yang saya coret, tolong ditandai dengan lipatan!”

Fiuhh … lega rasanya. Bukankah ini tanda bahwa semua ‘penderitaan’ ini akan berakhir? Betul juga, itulah terakhir kalinya saya nge-draft, dan setelah itu diizinkan untuk menjilid skripsi saya itu.

Ibu dan Pak Dosen. Secara tak langsung, beliau berdua telah mengajar saya untuk menjadi seorang ‘pencorat-coret naskah’. Terima kasih tak terhingga pada Ibu Waryati, SPd dan Bapak DR.Ir. Bambang Sapto Purwoko, MSc. Semoga tulisan saya kali ini, sudah tidak ada coretannya lagi. Hehehe.