Review Buku Anak: Peri Sikat Naik Pesawat

Judul : Peri Sikat Naik Pesawat
Karya: Edgard Xavier FG (10 tahun)
Penerbit: BIP Kelompok Gramedia
Harga: Rp58.000,00
Buku Edgard

 

Dulu, ketika membaca status Mba Dian kalau dongeng Edgard sedang diilustrasi, aku udah langsung kepengin baca buku ini. Hem, karya penulis cilik yang tidak biasa, nih. Bukan novel, kumpulan cerpen, dll, seperti yang sudah beredar di pasaran.

Pas saat itu juga, ada murid lesku yang suka menulis fantasi, dan tidak bisa panjang! Catat! Tidak bisa panjang. Tulisannya bagus, imajinasi keren, tapi ya paling 1-2 halaman aja. So, aku makin enggak sabar nunggu buku Edgard. Berharap buku ini bisa jadi contoh buatnya untuk menulis. Nah, harapan tahap selanjutnya adalah muridku ini bisa mengikuti jejak Edgard menerbitkan buku di sana

*****
Alhamdulillah, ‘hanya’ dengan kalimat di atas, aku bisa mendapatkan buku ini gratiss … tiss …! Yup, kalimat itu aku ikutkan kuis manis yang diselenggarakan ibunda sang penulis cilik pengarang buku ini. Kalau enggak salah, sih, pertanyaan kuis itu adalah, “Apa yang membuatmu ingin memiliki buku ini!” Dan itu adalah jawaban dari hati terdalam, dan kayaknya sampai ke hati Mbak Dian. So, Mba Dian  jadi terketuk untuk memilihku jadi pemenang! Yeay!

Membaca sepuluh dongeng di buku ini, aku langsung berpikir “Buku apa saja yang dibaca anak ini?”
Katanya, tulisan tak akan jauh-jauh dari bacaan, kan?
Pertanyaan ini terjawab saat membaca profil penulis di sampul belakang. “Aku amat suka cerita dongeng. Sejak kecil, Mama selalu membacakan dongeng untukku.”

Semua dongeng di buku ini mengalir lincah dan khas anak-anak dengan idenya yang di luar dugaan. Lucu, endingnya lumayan bikin gemes. Tak ada sisipan-sisipan moral, yang biasanya sengaja diselipkan oleh penulis dewasa (Nunjuk hidung sendiri :p)

Walaupun buku ini sebanyak 85 halaman cerita, jangan bayangkan, Anda akan membaca 10 dongeng dengan tulisan yang panjang-panjang. Satu cerita hanya terdiri dari 6-8 halaman, dan masing-masing halaman terdapat 3-5 kalimat saja. Tentu saja, layaknya pictorial book, buku ini didominasi dengan ilustrasi yang menarik. Uniknya, setiap cerita diilustrasi oleh orang yang berbeda-beda. Ada lima ilustrator yang mempercantik karya penulis cilik ini. Gaya tiap cerita jadi tidak monoton. (Jadi pengin tahu, nih kejar tayang apa emang ada niat biar gambar gak ngebosenin, Mbak? :d)

Inilah komen bebasku terhadap isi dongeng-dongeng ini.

1. Laci-Laci di Otak
Belum-belum udah nyengir. Kok, kepikir gitu, ada laci di otak. Isinya dongeng-dongeng nenek, dan dikeluarkan ketika buku setebal bantalnya hilang.

2.Adikku Takut Hantu
Keren deskripsinya, nih. Kayaknya, kalau aku yang nulis, hanya akan bilang, adikku takut ke kamar mandi karena gelap. Adikku enggak berani tidur sendiri kalau lampu dimatikan. Kalau ini, mah, enggak! Penasaran, kan? Endingnya juga di luar dugaan. Kirain bakal berani. Ternyataaaaa …!

3. Perjalanan ke Bulan
Nemu roket di lapangan dekat rumah. Pergi ke bulan dan ketemu alien warna-warni, terus bersahabat, deh. Kelihatannya biasa, ya? Namun, biasa yang enggak biasa, lho!

4. Bantal Pengabul Permintaan
Ini juga kelihatannya biasa. Sebelum baca udah nebak isinya. Ah, paling-paling minta yang asyik-asyik sama si bantal. Tapi … hohoho …! Keren banget, lah!

5.Peri Sikat Naik Pesawat
Judulnya emang menarik untuk dijadikan judul buku, ya! isinya juga menarik, kok! Waktu baca ini, sih, aku ingat film Tinker Bell, yang masing-masing peri punya tugas sendiri-sendiri. Nah, Peri Sikat ini bertugas menyikat daun :d

6.Kenari-Kenari Kiko
Nyambungin kenari sama gigi palsu menggelinding itu idenya dari mana, Edgard?! Kamu kecil-kecil emang bikin ngiri banget, deh!

7.Telur Misterius
Tadinya, saya pikir akan keluar naga atau apa … gitu. Mana gambar telurnya besar. ternyata … hoho … kayaknya kalau dibikin film kartun keren, nih!

8.Paus Berbando
Eh, di cerita ini, Mbak Dian digambarin keren banget, loh! Mentang-mentang penulis, tetep baca buku di pantai, pakai kaca mata item. (Kenyataannya apa, iya? Nek aku melu nyebur :d) Sayangnya, gambar si Mama ini joget-joget sama si paus gak digambarkan dengan heboh. (Kalimatnya lumayan bikin penasaran, kan? :p)

9.Baju Marah-Marah
Hahaha … aku tahu asal ide ini! Daster itu, yaaaa …! Kalau pakai baju itu … pasti marah-marah :p

10.Nunu Naga Ingin Mainan
Nah, di antara semua cerita, inilah tulisan yang ber-ending pesan moral hahaha! Tapi, ceritanya tetap unik. Kebayang enggak, bantuan yang bisa diberikan seekor naga pada tukang sate? Saya enggak pernah kepikiran sama sekali!

Contoh isi buku Edgard

Selesai baca buku ini, saatnya untuk membacakan buat Shofie. Ternyata, dia malah membaca sendiri. Dan … di keramaian! Kalaulah cerita ini tak menarik, tentunya dia tak bisa konsentrasi.
Buku ini saya bawa, ketika mengantar si Papa periksa ke dokter. Di ruang tunggu itulah Shofie membaca beberapa cerita.
“Wah, ceritanya sedikit-sedikit, ya, Ma,” katanya.
Setelah itu, dia sibuk dengan dunianya.
Lama-lama, dia capai membaca sendiri, kemudian minta dibacain. Sebelumnya read aloud, cari posisi enak dulu. Kami cari bangku yang lebih empuk, dan Shofie bisa bersandar santai pada saya. Kebiasaan kami sih, kalau baca cerita begini sambil tiduran :))

Dia terbahak-bahak saat baca “Kenari-Kenari Kiko”. Lupa kalau lagi di tempat umum, hihi.

Ketika sampai di cerita “Telur Misterius”, dia tertawa lagi, dengan tawa yang lebih elegan. “Pasti burung-burung itu mengira anak ini mamanya!”

Ohya, suka tidaknya Shofie dengan cerita yang saya bacakan, biasanya terlihat dari komen-komennya. Lebih sering, dia tersenyum puas, begitu aku selesai membacakan satu cerita.

Edgard … jangan tambah besar kepala baca semua ini, ya! Beneran, nih, Tante enggak menemukan ‘kejelekan’ dalam cerita-ceritamu. Makanya muji melulu.
Pesan Tante, baca terus cerita bermutu, ya! Itu nanti akan sangat … sangat … berpengaruh pada cerita-ceritamu! Yuk, ah! Ditunggu buku selanjutnya!

HADIAH RESENSI

hadiah resensi 

Seperti yang sudah saya tuliskan di sini, salah satu enaknya bila resensi kita dimuat adalah mendapat hadiah dari penerbit yang bukunya kita resensi.

Alhamdulillah, beberapa hari lalu, saya mendapat hadiah dua buku dari penerbit Bhuana Ilmu Populer, karena resensi “50 Dongeng Aesop Fabel Flanel, Unik & Seru” dimuat di Kompas Anak.

Lumayan, kan, dua buku gitu, lho! Harganya berapa, tuh? Eh, matre banget, sih :p

Saya bagikan tulisan yang dimuat itu, ya. Di bawah ini adalah tulisan asli dari saya. Silakan dibandingkan dengan tulisan yang dimuat (lihat di gambar). Tuh, judulnya diedit, lho.

****

Judul               : 50 Dongeng Aesop Fabel Flanel, Unik & Seru

Penulis Ulang  : Watiek Ideo

Ilustrasi           : Dini Capungmungil

Penerbit           : BIP Kelompok Gramedia

CERITA KEBAIKAN DALAM AESOP FABEL

Aesop fabel adalah cerita binatang yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu, dan masih terus lestari hingga kini. Aesop fabel mengandung pesan moral yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Walaupun begitu, cerita tetap menarik, unik, dan tidak terlalu panjang, sehingga disukai anak-anak.

“Semut dan Merpati” menceriterakan tentang seekor semut yang nyaris tenggelam terseret arus sungai. Namun, dia selamat karena ditolong merpati yang menjatuhkan sehelai daun. Lain waktu, semut menggigit seorang pemburu yang akan menembak merpati, sehingga selamatlah merpati yang dulu pernah menolongnya.

“Kelinci dan Kura-Kura” mengajarkan kita untuk tidak sombong seperti kelinci yang mengejek kura-kura karena jalannya sangat lamban.  Pelajaran apa yang bisa didapatkan dari cerita seekor gagak yang berusaha menyelam ke dalam danau, karena ingin bulunya seputih dan secantik angsa?

Ada banyak pelajaran dalam limapuluh cerita pendek ini. Uniknya, ilustrasi dibuat dari kain flanel yang membuat semakin seru. (Aan Wulandari-Semarang)Aesop