Menangkap Ide di Mana Pun

Sekitar bulan Maret, saya jalan-jalan ke Bandung. Di sana sempat main
ke Kebun Binatang, Saung Angklung Mang Udjo, Musium Geologi, Musim
Kantor Pos, dan … Pasar Baru! Nggak ada wisata kuliner, karena selama
di sana makannya di kantin Salman hihi. Irit, euy! Ya, waktu itu, kami
menginap di Wisma Dago, di depan Masjid Salman. Tujuannya, biar tetap
bisa shalat jamaah walaupun sedang pergi. Pun, suami ada cara di ITB,
jadi tinggal jalan aja ke sana. Nggak perlu ribet cari parkir mobil.

Dulu … setiap jalan-jalan, selalu ada hasil tulisan travelling. Namun,
lama-kelamaan tempat wisata yang kami kunjungi ‘biasa-biasa saja’ atau
sudah umum, jadi tak bisa ditulis lagi. Apalagi, dua majalah langganan
yang setia memuat tulisan saya juga sudah almarhum.

Alhamdulillah, tak bisa menulis travelling, tulisan lain pun jadi.
Saya menulis dua tema naskah untuk dua media. Pertama naskah
parenting, untuk Republika. Sedangkan yang ke dua adalah naskah
Gado-Gado untuk Majalah Femina. Dua jenis tulisan yang sangat berbeda.
Satu serius, untuk media Islam, satu tulisan ngocol. Saya sangat
bersyukur, kedua naskah itu lolos semua di media! Tak perlu menunggu
lama, naskah parenting itu langsung dimuat. Sedangkan, naskah
Gado-Gado antri dulu.

Naskah Gado-Gado, bisa.dilihat di sini.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah ada cerita dalam setiap kehidupan
kita yang insya Allah bisa kita bagikan melalui tulisan. Tak
harus kisah nyata. Barangkali saat bepergian, kita menemukan hal unik yang
bisa kita angkat jadi cerpen.

Ini adalah salah satu contoh ide yang nemu di jalan. Saat macet pula!
Mana siang-siang, panas terik, naik motor bawa Syafiq dan Shofie.
Lengkap sudah penderitaan. *Lebay :p. Tak tahunya, dua anak itu malah
nyanyi, “Di sini macet … di sana macet … di mana-mana semua macet ….”
Dan mereka berdua tertawa terbahak-bahak tanpa peduli beberapa pasang
mata menatap mereka heran. (Untung saya pakai tutup muka, hihi).

image

MACET LALALA ….
(Dimuat di Mombi SD)

Riri menghentakkan kaki kesal. “Huh! Macet lagi … macet lagi …!”
Ibu mendesah. “Yah, beginilah ibu kota. Mobil dan motor berlimpah,
namun jalannya belum memadai.”
Riri melirik jam tangannya. “Ketinggalan, deh.”
“Ketinggalan apa, Ri?” Ayah melirik Riri dari kaca spion.
“Riri janjian sore ini mau main sepeda, Yah. Riri pikir, pukul empat
sudah sampai rumah. Nggak tahunya, macet.”
Ayah diam. Dia tahu Riri kecewa. Tapi, bagaimana lagi?

“Ibu …!” Rendi, adik Riri mulai merengek. Dia bosan dan capai.
Mereka sekeluarga baru saja menghadiri acara pernikahan yang cukup
melelahkan.
Ibu memangku Rendi, berusaha menidurkannya. Tapi, baru beberapa saat,
Rendi rewel lagi. Kakinya dihentak-hentakkan. Lama-lama tangisnya pun
pecah.
Kepala Riri serasa mau meledak. Sudah jengkel gara-gara macet,
ditambah raungan tangis Rendi.

“Di sini macet, di sana macet, di mana-mana jalannya macet ….”
Ya, ampun! Ayah malah nyanyi-nyanyi. Riri mau protes. Tapi ….
Ajaib! Rendi terdiam. Dia heran mendengar lagu “Di sini senang di sana
senang” berubah syairnya. Melihat itu, Ibu pun ikut bernyanyi.

Lama-lama, Rendi mulai bertepuk tangan. Riri jadi geli. Akhirnya, dia
pun ikut bernyanyi.
 “Lalalala … Lalalala … Lalalala …. ”
“Plok! Plok!” Ayah bertepuk tangan. “Inilah lagu “Macet Lalala” yang
dinyanyikan oleh paduan suara Riren, Riri-Rendi,” katanya seperti
penyiar radio.
Semua terbahak.

Ternyata, dalam suasana macet pun, masih bisa bergembira, ya!