Shofie jadi PJ Craft

Beberapa hari lalu, Shofie pulang sekolah dengan wajah bete, dan langsung curhat.
“Aku disuruh jadi PJ buat bros dari flanel,” katanya dengan muka cemberut.
“Nggak papa. Santai aja,” jawab si Mama sok kalem. “Tuu, diajari buat bros kayak itu aja. Kan, mudah.” Saya menunjuk bros yang dulu dia buat saat ada parade tasmi’, dan dibagikan pada teman-temannya.
“Emoh. Itu jelek.”
Nah, mulai deh ‘kumat’ perfectionist-nya. Kalau udah begini, kadang bikin si emak senewen. Rewelnya itu lhoo… kalau yang diinginkan tak sesuai harapan :p *sabar… sabaar….

Masih dengan rada ngomel, ngeluh, dls, Shofie membuka netbook-nya. Langsung browsing bros dari kain flanel. Saya tidak ikut melihatnya, karena konsen dengan perut yang kenceng-kenceng :p
Tak lama, dia kelihatan uplek di ruang depan. Dan… jadilah sebuah bros yang selama ini belum pernah dibuatnya. Saya juga gak tahu cara bikinnya. Murni ini semua hasil usahanya sendiri. Melihat hasil buatannya, mukanya pun agak cerah, hehe. Dengan wajah puas, dia tunjukkan bros itu pada saya. Setelah saya apresiasi, sedikit saran saya berikan. Kalau warna dimodifikasi, mungkin akan lebih bagus lagi. Tidak satu warna aja. Rupanya dia menerima.

Alhamdulillah,
Sebenarnya berbagi dalam membuat prakarya seperti ini bukan hal baru bagi Shofie. Ketika ada kegiatan Pesantren Rajab Keluarga (PERAK) di desa Boro, Mei 2016 lalu, salah satu programnya adalah class for friend (CFF). Kegiatannya adalah berbagi. Anak-anak (dewasa juga boleh) berbagi keterampilan pada teman-temannya. Ada yang berbagi cara membuat sponge cake anti gagal, wayang kertas, kerajinan perca, aksesori dari manik-manik, dll.
Shofie waktu itu hanya menjadi peserta. Dia keliling ke sana ke mari, ikut aneka kelas.

Tak disangka, hal ini memantik rasa penginnya untuk bisa ikut andil lebih jauh. Ketika ada acara Family Camping, Community Based Education (CBE) Kampung Juara di Salatiga, Shofie ingin ikut CFF, mengajari teman-temannya membuat gelang dari loomband (Insya Allah, loomband-nya aman. Nitip temen, beli di Singapur, hehe). Saya agak tidak percaya dengan keinginannya itu. Maklum, anak ini kalau di luar lingkungannya, suaranya hilang. Pendiammm banget, juga pemalu. Tapi jangan tanya kalau di rumah, ya :p
Rupanya, dia benar-benar keukeuh ingin ikut. Bahkan, mau ikut fam camp sendiri agar bisa ikut CFF. Ya, sendiri, tanpa saya dan papanya. Waktu itu, saya dan suami ada acara, sehingga tidak bisa menginap, tidak mengikuti keseluruhan acara 😦

Tentu saja, saya tak tahu ceritanya saat dia ikut CFF. Syafiq juga ‘tidak berani’ mendekat untuk memoto apalagi merekam. Mba Septi saja memotret diam-diam, hihi. Takut anaknya pundung alias mutung wkwk. Waktu saya tanya, “gimana acara CFF?”, jawabnya cukup simple. “Ya biasa aja, to, Ma. Mama, kan, pernah lihat CFF.” Hihi…

Alhamdulillah,
Hari ini mendapat ‘cerita’ dari ustazahnya melalui statusnya di FB, kalau acara membuat bros dari flanel berjalan lancar, teman-temannya suka.

Berikut status Ustazah 😉share

Advertisements

Oleh-Oleh Mudik

photogrid_1480860129449
Saya lupa terakhir kali pulang ke Magelang. Yang saya ingat, terakhir kali pergi agak jauh adalah bulan Agustus, ketika menjemput anak-anak ikut Kamtasia (Kampung Komunitas) di Muncul, Salatiga. Lama juga, ya? Ujian bumil, yang lagi gak bisa ke mana-mana, hehe. Biasanya, asal nggak ada kegiatan, weekend selalu pulang kampung. Jumat berangkat, Ahad balik semarang. Saya ma suami sama-sama dari Magelang. Jadi sekali jalan, deh. Nginep semalam-semalam. Adil, kan?

Terus, apakah sejak Agustus itu kami tak pernah mengengok orangtua di Magelang? Ooh… tidak. Tetap sering. Sebulan bisa dua kali. Namun, hanya suami dan anak-anak. Juga tidak menginap. Kan, saya di rumah. Masa saya tidur sendirian di rumah? Cukuplah ditinggal seharian. Biasanya suami berangkat sehabis Shubuh, sampai rumah Isya’.

Foto di atas adalah oleh-oleh suami ketika mudik Ahad lalu. Mau cerita bawaan kala mudik selama saya nggak pernah ikutan? Hehe… Bukan berarti kalau saya ikut mudik nggak pernah bawa-bawa, ya. Kalau saya ikut pulang, saya akan mengambil secukupnya saja. Atau… kalau ibu mertua memaksa saya untuk membawa agak banyak, maka saya akan mengambil porsi lebih untuk tetangga sebelah-sebelah dan beberapa teman. Itu pun sudah saya paketin dalam satu wadah dan dihitung. Mau kasih oleh-oleh buat berapa orang. Paling ada cadangan beberapa, takut kelupaan. Yup, semua ini saya lakukan biar tak ada yang mubazir.

Nah, sejak saya gak ikut pulang ini oleh-olehnya selalu WOW! Over, dah. Apa pasal? Biasanya ibu mertua menyuruh Mbok Nah, orang yang biasa bantu-bantu di sawah, untuk ‘memasukkan’ semua yang ada di rumah dalam mobil, hahahaha.

Mbok Nah ini tipenya setia banget. Dia akan berusaha membawakan sebanyak-banyaknya barang buat oleh-oleh. Kadang, apa yang gak ada, dicari-carikan dulu. Entah ke sawah, kebun, atau tegal (ladang)

Lihat, ya, aneka logistik yang pernah dimasukkan dalam mobil kami hihi…

Pernah kejadian, saking penginnya bawain oleh-oleh, pepaya belum tua juga udah dipetik. Alhasil, sampai Semarang muspro alias sia-sia, karena gak bisa matang. Padahal, metiknya lebih dari lima buah. Oalaa….

Lihat daun yang ada di kresek itu? Saat mudik kemarin, katanya dia pergi ke tegal untuk mencari daun tempuh wiyung dulu. Saya dari dulu penasaran, apa nama tanaman ini? Kalau dilihat dari bunganya, seperti dandelion. Enak kalau diurap. (Duh, kenapa gak dibawain sambel urapnya sekalian? Saya kan males bikinnya hihi. Paling-paling nanti dipecel aja).

Tak jarang, dia nginclik ke sawah, untuk metik cabe, kacang panjang, atau hasil lainnya. Tahukah yang masuk mobil? Sekresek sedang isi cabe campur-campur. Kacang panjang satu ikat buesaaar… (duh, pengin ta titipin tukang sayur buat dijual, deh). Dibagi-bagi tetangga juga masih sisa banyak.

Telur bebek biasanya dibawain sebakul nasi. Isinya lebih dari 15 butir, deh. Kalau ini, sih, seneng. Mayan. Awet, kan? Hihi.
Ehya, bebek di rumah ini lucu poll. Mertua hanya memelihara 10 ekor. Tiap hari, selalu panen minimal 8 butir, jadi hampir semuanya bertelur. Namun, kalau Mbok Nah lagi ‘cuti’, bisa-bisa sehari hanya ada dua butir hihi. Cintanya ama Mbok Nah, nih, si bebek.
Kebayang, numpuknya telur-telur ini di rumah, kan? Soalnya hanya ada bapak dan ibu soalnya. Makanya, begitu ada yang mau bawa, apalagi untuk cucu kesayangan, semangat packing, deh. Cara packing agar tidak pecah, selamat sampai Semarang adalah, telur dibungkus kertas dulu.

Sepekan lalu, saya terbelalak kaget melihat yang dibawa suami. Setundun pisang kepok matang!! Setundun, ya! Alias setandan. Bukan selirang. (Pakai boso Jowo, nih. Bahasa Indonesia-nya apa, sih?) Huaaa…. Akhirnya tiap pagi goreng pisang. Karena mateng bareng, sebagian sampai saya masukin kulkas hihi. Ini belum habis, kemarin sore mantan ibu kos suami saat kuliah datang ke rumah. “Mbak, nyoh iki ono panenan sithik. Mau bar ngopek nang tegal,” katanya sambil mengangsurkan kresek putih. Isinya? Yang katanya ‘sithik’ itu adalah dua lirang pisang buesaaar-buesaaar hahaha.

Ohya, selama saya hamil, ada bawaan wajib kalau pulang. Kelapa muda!! Hihi…. sekarung besar tuh, dibawain. Suami loh yang metik kelapanya. Eits… jangan bayangin dia manjat pohon kelapa, ya. Untunglah hanya kelapa gading yang pendek. Jadi bisa pakai tangga, hihi.

Nah, belakangan ini ada bawaan yang gak pernah lupa. Tempe. Bukan bikinan sendiri, sih. Tetangga yang bikin, dan dijual di warungnya. Tempe bungkus daun, rasanya lebih enak dibanding bungkus plastik. Kalau tahu kami mau pulang, biasanya ibu pesen dibikinkan tempe tipis, yang kayak dibikin mendoan gitu. Terus pesennya juga dua jenis. Yang udah jadi, dan masih kedelai. Jadi, bisa awet. Enaak. Shofie suka banget.

Nah, ini yang gak pernah lupa. Beras! Haha…. Jangan tanya harga beras ama saya, ya. Dijamin gak tahu. Selama nikah, sepertinya saya tak pernah beli beras. Bahkan, ketika kami mulai makan beras merah, bapak dan ibu sengaja menanam beras merah di sepetak sawah, khusus buat kami.
Nah, untuk beras ini, saya pesan dulu kalau beras di rumah habis. Dua tiga hari sebelum pulang, ngabarin kalau mau minta beras. Jadi, Mbok Nah persiapan jemur gabah, lalu diselep. Kadang, malah ditumbuk sendiri juga. Enaknya emang ditumbuk, sih. Namun, gak tega juga kalau dia harus selalu numbuk. Apalagi kalau kerjaan di sawah lagi banyak.
Mbok Nah ini kalau bawain beras juga suka nggak kira-kira, deh. Sekarung full. Sebulan lebih nggak habis. Padahal, kalau lama nggak minta beras, Ibu akan bilang, “Ora tau masak po, kok, beras e ora kelong?” Hiyaaa… akhirnya, beras suka saya bagiin ke teman-teman, deh, hihi.

Suami tuh kadang gak tahu, barang apa aja yang dimasukkan Mbok Nah di mobil. Kalau udah sampai Semarang, dia slemengeren nurunin dari mobil. Dan, saya slemengeren nata dan nyimpennya, hahahaha.
Alhamdulillah 🙂

Arena Kerja Darurat

20161102_195835

Arena kerja selama dua bulanan ini 🙂
Pagi, begitu selesai masak dan makan (hanya ini pekerjaan utama saya), langsung deh tempat tidur diubah fungsinya. Segala macam diangkut. Sore menjelang magrib, atau kadang sampai Isya, baru diberesin lagi.

Awalnya, saya menulis tangan di notebook. Lama-lama, males mindahin. Lalu, nulis di laptop sambil berbaring. Ternyata, capek juga. Posisi miring ga enak. Lalu, menemukan cara lain yang lebih efektif. Oret-oretan saya tulis di hape, lalu saya email. Jadi, kerja di laptop tinggal ngedit aja.

Alhamdulillah… dimudahkan dalam segala kondisi. Bersyukur juga, mendapat amanah untuk menulis beberapa tema selama hamil ini.
Btw, kenapa ngoyo banget kerja, sih? Mbok istirahat aja kalau emang kehamilannya bermasalah ( sstt… alhamdulillah, masalahnya ‘hanya’ gak bisa terlalu banyak gerak, sih. Berdiri atau duduk terlalu lama, membuat perut langsung kenceng. Begitu rebahan, nyaman lagi. Namun, gak ada flek atau apa…)

Iya, ya. Kenapa ngoyo kerja? Ehem… kayaknya kalau gak ada kerjaan, saya malah bosen, deh. Kalau tidak, malah menggunakan waktu dengan sia-sia. Baringan sambil buka sosmed apalah… apalah. Lha wong ada kerjaan aja, kayaknya saya jadi lebih melek berita, nih, gegara pegang hape terus. Biasanya mah ga mudheng blas masalah politik. Eh… sekarang tahu aja berita Dahlan Iskan (hiks, kasihan sekali beliau, ya?), pro kontra demo dan tahu satu-satu kontak FB saya ada di kubu mana, karena suka jadi silent reader (ampun, deh), bahkan kadang tergoda buka berita artis (ish!). Belum lagi komen2 di fb :p. Astaghfirullah… *elus perut.

*Cerita usia kehamilan 7 bulan. Semoga sehat dan lancar sampai melahirkan nanti. Kondisi terakhir periksa, air ketuban kurang, ada dua lilitan tali pusar :(. Semoga bisa melahirkan normal (saya takut RS, hiii…)*

Romantis ala Penerbit-Penulis ;)

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar kalau penerbit mau stok opname selama sepekan. Pernah dengar kalimat itu, makna yang saya tangkap, sih, selama stok opname saya gak bisa pesan-pesan buku, hehe. Biar jelas, saya tanya lagi arti stok opname. Jawabannya adalah, selama sepekan itu penerbit akan menghitung keseluruhan buku yang ada di gudang area masing-masing, baik gudang besar, gudang pemasaran di seluruh Indonesia. Selama masa itu, tidak boleh ada transaksi barang.

Btw, ini penulis kok ngurusin begituan, sih? Haruskah?
Hehe… dalam SPP ( Surat Perjanjian Penerbit ), jelas tidak ada pasal yang mewajibkan penulis jualan, apalagi sampai ngurusi stok opname segala. Jadi, tidak melanggar hukum, kalau penulis gak mau tahu.

Kenapa saya begini?
Jawaban pertama, saya gak merasa terpaksa, dan ternyata saya suka diajak diskusi masalah ini dengan pihak marketing. Sama seperti kesukaan saya jualan buku (Pada akhirnya, saya sering juga menjual buku yang bukan karya sendiri). Puas rasanya bisa memberikan informasi dan ikut mencari buku-buku yang dibutuhkan pembeli.

Persaingan di dunia penerbit lumayan ketat. Buku-buku bagus dengan tema sejenis, terbit hampir bersamaan. Toko buku penuh. Display kadang tak maksimal. Bahkan, kalau tak beruntung nyaris tak kelihatan karena penataan yang … begitulah.

Rasanya, tak ada salahnya penulis ikut membantu pemasaran buku sendiri. Toh, keuntungan juga buat kita. Siapa, sih, yang nggak suka kalau bukunya laku?

Caranya?
1. Tak sekedar narsis mengabarkan buku terbit. Bahasa ‘narsis’ bisa dikemas lebih baik lagi, sehingga bernada promosi manis yang bisa menarik pembeli. Seorang teman bahkan membuat video bukunya. (Saya gaptek. Belum pernah nyobain hihi).

2. Penulisan behind the scene, sepak terjang dalam menulis buku insya Allah bermanfaat. Selain bisa belajar dari pengalaman, tak jarang isinya bisa memantik semangat penulis lainnya.

3. Nah, berikutnya adalah jualan bukunya hehe. Kadang, buku bertanda-tangan penulis mempunyai nilai lebih, loh 🙂

Ohya, tentang jualan ini, beberapa penulis mempunyai kendala masalah modal. Yup, saya juga pernah berada di posisi itu. Makanya, senang sekali ketika ada penerbit yang memberikan keringanan dengan cara potong royalti. Jadi, saya tak perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buku. Malah, menjadi sumber pendapatan. Masya Allah walhamdulillah.

Ada juga penerbit yang menawarkan konsinyasi. Kita bisa ambil buku, dijual dalam waktu sebulan atau sesuai kesepakatan. Setelah itu, baru bayar bukunya. Kalau ada buku yang tak laku, bisa dikembalikan. Lumayan, kan?

Kalau ketemu penerbit yang harus bayar dulu ketika kulakan, ya, terima saja. Tidak usah mengomel, apalagi pasang status di FB. Weih, bunuh diri itu, sih. Bisa-bisa penerbit nggak mau lagi kerja sama :p

Sama-sama merasa memiliki, kemudian memperjuangkan agar buku bisa lebih banyak diterima (baca: dibeli), adalah hubungan yang romantis antara penerbit dan penulis, bukan? 😉

Decoupage Kotak Pensil Pandan

Late post, acara decoupage tanggal 21 Agustus 2016 🙂

img-20160822-wa0059

Alhamdulillah,
Acara BMC alias Busy Momy Community berjalan lancar.
Kali ini, acara khusus untuk anak-anak, yaitu menghias boks pensil menggunakan teknik decoupage. Gambar napkin yang lucu-lucu menarik perhatian anak-anak 🙂

Sebenarnya acara ini berjalan setiap Ahad selama bulan Agustus. Namun, peserta membludak tanggal 21 Agustus. Mungkin karena tempat yang lebih dekat dengan rumah peserta, yaitu Tembalang.

Mulai gencar promosi sepekan sebelumnya, tapi bisa menjaring 15 peserta. Melebihi kuota yang hanya 12 orang. Agak dag dig dug juga, karena banyak anggota BMC yang berhalangan, sehingga tak bisa menjadi coach. Pun, hair dryer ternyata hanya ada satu biji. Huaaa… Untuk 5 peserta dewasa saja, dengan memakai 2 hair dryer lumayan lama antre, apalagi 15 anak dengan satu hairdryer. Waks…. Bismillah aja, deh 😉

Hari H pun tiba,
Pukul sembilan kurang, sudah ada peserta yang datang, bersamaan dengan datangnya perlengkapan. Sip, acara bisa dimulai tepat waktu, insya Allah. Seusai menata tempat dan barang, coach mulai berdatangan. Dengan tiga peserta di awal, acara bisa dimulai. Satu per satu, peserta berdatangan, dan… selalu pas dengan datangnya para coach. Alhamdulillah, semuanya seperti sudah diatur Yang Kuasa 🙂

Bagaimana dengan antrean hairdryer? Hihi… tetap mengular, tapi sebagian berinisiatif mengeringkan langsung di bawah mentari yang lumayan panas. Alhamdulillah.

Acara yang dijadwalkan berakhir pukul 12, bisa selesai sebelum waktunya. Kecuali beberapa peserta yang datang terlambat. Pun, sebelum pukul 1 juga sudah kelar semua, termasuk selesai beres-beres tempat 🙂 Alhamdulillah… alhamdulillah… Segala kekhawatiran sirna sudah.

Ohya, ehem… sedikit cerita, ya. Sebenarnya, si PJ punya satu kekhawatiran yang lumayan bikin deg-degan, loh. Membuat event seperti dengan cara pembayaran bisa on the spot, cukup membuat dag dig dug. Bagaimana kalau peserta ternyata tidak datang? Padahal barang sudah dibelikan? Alhasil, tak hanya sekali dua kali, PJ selalu mengingatkan akan butuhnya sebuah pengertian masalah bayar-membayar ini, hihi. Maaf, bila nyebelin, ya. Bahkan sehari sebelum hari H pun, lagi-lagi kirim broadcast, mengingatkan akan acara, dan memohon dengan sangat agar peserta tidak membatalkan. Rasanya khawatir banget bila wa itu tidak dibalas. Pikiran jelek yang muncul. Jangan-jangan…. jangan-jangan… hehehe.
Alhamdulillah… bersyukur sekali, semua peserta datang. Terima kasih banyak atas kerjasamanya, yaaa … 🙂

Kursus Jahit Maraton: Sehari Jadi Gamis

Late post. Acara ini sudah dilaksanakan tanggal 16 Agustus lalu, hehe

Kursus pola dan jahit maraton, sehari jadi gamis. Menarik, ya?
Dulu… awal-awal nikah, baper dibilang pengangguran, saya pun ambil kursus jahit. Hasilnya? Ora iso opo-opo wkwkwk. Padahal, kursus di tempat terkenal di Yogya pada masa itu. Maklum, bukan passion kali, ya. (Alesan :p)

Nah, rupanya si anak wedok, Shofie, lebih punya darah utinya (bukan emaknya). Dia suka nak-nik aneka kerajinan, salah satunya menjahit. Bahkan, puasa kemarin minta hadiah mesin jahit kalau puasa penuh. Weks. Seumuran dia, puasa penuh itu udah ga ada hadiah-hadiahnya lah :p

Oke, ketika sang Cikgu Noor kursus jahit maraton mau ke Semarang, langsung aja saya samber untuk ngisi pelatihan. Tadinya, yang mau saya ikutkan ya, Shofie hihi. Saya cukup jadi EO (halah) dibantu para emak di BMC (Busy Momy Community) yang asyik tentu saja.

Namun, setelah dipikir-pikir, gak mungkin lah, Shofie yang ikut. Namanya anak 9 tahun, tentunya belum ‘nyandak’ bicara teori, pun seharian begitu. Akhirnya saya yang ikut, nanti ilmu bisa ditransfer lah…

Deal waktu dll, peserta juga cukup banyak. Yang tadinya hanya khusus anggota BMC, teryata bisa nambah teman-teman BMC hehe.

Nah, masalah pun datang. Namanya juga newbie semua di dunia jahit-menjahit, hanya ada satu orang yang punya mesin jahit portable, dua orang punya mesin jahit jadul. Padahal perlu 6 mesin jahit per hari, untuk dipakai selama dua hari, pun mesin itu harus diangkut ke rumah saya di lantai 2. Pingsan, deh.

Skip… gak mungkin. Carilah penyewaan mesin jahit. Mbak Endah mendapat mesin jahit di LPK. Info awal, mesin jahit bisa diantar ke rumah. Namun, akhirnya ketua LPK minta kita yang datang saja ke sana. Oke, deh. Kalau begitu bisa sekalian sehari 15 orang (nambah kuota, yang tadinya 12 orang, karena mesinnya banyak, jadi 15 orang hehe)
Udah seneng, tuh. Sampai akhirnya, kami survey ke sana. Apa yang dilihat? Olala… mesin jahitnya high speed!! Sang Cikgu langsung menolak mentah-mentah. Gak bisa! Apalagi dipakai buat pemula.

Pasrah, wis. Belajar pola aja juga gak papalah, gak usah sampai jahit. Alhamdulillah, Mb Indah gigih browsing, akhirnya nemu SMK Diponegoro, ada jurusan busana, di dekat rumah (walaupun tempatnya mblusuk). Langsung, deh, ditelpon. Dan dibilang oke!! Keesokan harinya langsung survey. Siip. Mesin jahitnya biasa walaupun jadul, sebagian pakai dinamo, sebagian pedal. Saya hitung ada 16. Alhamdulillah….
Begitu fix tempat, Cikgu pun langsung belanja kain hihi… Untunglah, belanjanya dibantu Qoulan, ya. Soalnya para emak ini request motif kain, mulai hitam polos sampai shabby chic yang cocok buat mahmud.
Jujur, saya rada deg-degan. Akankah acara akan lancar? Gimana kalau tiba-tiba jadwal bentrok karena kurang koordinasi? Gimana kalau mesin jahit ngadat? Gimana… gimana… Akhirnya yang ada hanya pasrah. Insya Allah, udah usaha maksimal.

Hari H pun tiba. Berangkat ke lokasi, sebelumnya ngampiri aneka perlengkapan dulu, sampai lokasi pukul 08.00 (sesuai jadwal). Masuk ruang kepala sekolah, izin, dll. Lalu, langsung dipersilakan ke lab. Ternyata… pintu digembok. Huaaa… Was-was lagi, deh. Jangan-jangan ruangan belum siap? Hiks….
Seorang guru pun datang membuka pintu. Begitu masuk, lega rasanya. Lab sudah bersih, rapi, dan dipel. Jadi malu udah su’uzhan.

Mbak Noor langsung nulis-nulis di white board, sementara saya… cari toilet wkwkwk. Hamil baru 4 bulan, tapi kok sudah beser banget. Di dekat lab ada masjid, pastilah ada toilet. Bener ada, sih. Dan, tahukah saudara-saudara? Toilet tak berpintu. Saya lihat di sekeliling, berasa terlempar ke zaman batu. Ya, kondisinya masih ndeesoo banget.

Akhirnya, yang berikutnya kalau mau ke toilet kita gantian rame-rame. Dua orang berperan sebagai penjaga pintu dengan membentangkan kain yang mau dibuat gamis, hahahaha. Mantap, dah!

Belum cerita kursus kok udah panjang banget, ya? Hiks….
Alhamdulillah, peserta datang bersamaan walaupun telat dikit. Jadi, acara bisa langsung dimulai. Kayak belajar di kelas beneran. Ada bu guru di depan yang menerangkan. Kami ndeprok di lantai.
Pertama belajar buat pola. Teori – praktik – teori – praktik. Begitu terus, dan langsung diperiksa bu guru. Pas dhuhur, pola sudah selesai. Pas, makan siang juga datang.

13975447_843238339109685_5028016978822580998_o

Acara gunting-menggunting dilanjut setelah maksi dan shalat, juga makan cemilan potluck dari peserta.

Kehebohan muncul lagi. Begitu diperiksa, ternyata beberapa mesin jahit itu tidak ada sekocinya. Bu guru mumet, dah. Alhamdulillah, Mb Indhy siap sedia membelikan, sekaligus jemput krucil yang pulang siang. Rupanya, masalah belum terpecahkan, karena hanya dapat tiga sekoci hihi….

Lalu gimana, dong?
Nah, ini juga ada cerita sendiri. Dari 16 mesin jahit itu hanya ada empat yang pakai dinamo. Lainnya masih pancal. Rupanya, buat pemula, mancal ini jauh lebih sulit daripada yang tinggal nginjek dinamo. Jahitan malah maju mundur tak karuan xixi. Alhasil, beberapa teman pun menjahit jelujur gamisnya wkwk.

Sebelum sore, saya melihat ke atas. Rupanya, tak ada lampu sama sekali di ruang jahit ini. So, mau tak mau, kelas harus selesai sebelum petang. Tadinya, menjadwalkan pukul 16.15 kegiatan dihentikan, lanjut semua beres-beres, setengah lima pulang. Tapi, masih pada keasyikan hihi… molor deh, jadi jam lima baru kelar.

13920643_843238615776324_2659292565208790498_n

Ada tiga orang yang gamis sudah selesai. Walaupun begitu, sebagian besar sudah berbentuk gamis, kok. Berasa lah buat gamis hari ini hihi.

Esoknya… buat yang belum selesai, bisa melanjutkan jahit atau tanya-tanya di rumah. Alhamdulillah, mesin jahit portable Mbak Ria dipinjamkan.

Weih… selesai juga ceritanya. Seru-seru, heboh, hihi. Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan yang ada, acara bisa dibilang sukses. Jazakillah khoiran katsiran ya, Mba Noor … 🙂

Oleh-Oleh Seminar: Blocknote

Setiap kali ada seminar, suami sering banget bawa oleh-oleh… block note hihi. Bukan blocknote bersih, yang bisa dikasihkan lagi (eh… masa bikin kuis hadiah blocknote seminar? :p) Yup, blocknote ini biasanya udah ada tulisan ceker ayamnya walaupun hanya beberapa lembar. Biasalah… sok-sok nyatat pas seminar. Ups!

Sebagai mak irit, harta itu bagai buah simalakama. Buang sayang, simpen makan tempat. Tapi atas nama pengiritan dan go green, dikumpulin lah buku-buku kecil itu.

Nah, rupanya manfaat itu berasa sekarang. Si bumil dapat anugerah gak bisa duduk terlalu lama untuk ngetik di komputer, juga capek ngetik di laptop dengan posisi berbaring atau nyandar. Blocknote ini lumayan membantu. Bisa buat coret-coretan tulisan. Saat fit, tinggal mindah ke komputer.

Eh, beneran belum ada software yang memindahkan tulisan tangan dalam words, kan? Yah, siapa tahu aja ada, saya yang gak tahu :p
Hihi… manusia emang selalu digoda untuk tidak bisa bersyukur, ya. Setelah merasa senang ada blocknote, timbul masalah lagi. Males mindah tulisan. Kayak kerja dua kali gitu, loh. Padahal, dengan tulisan ceker ayam begini, siapa juga yang mau ngetikin? Lah, saya aja kadang gak bisa bacanya, kok, wkwkwk.

***
Berjalannya waktu….
Saya akhirnya merasakan capek juga mindah-mindah tulisan ke kompie dari blocknote.
Nah, sekarang ini, saya mending ketak-ketuk jari di hape. Lalu tinggal di email, deh.
Lumayan juga loh 🙂

Terus, blocknote buat apa, ya?
Ada ide?