Decoupage Kotak Pensil Pandan

Late post, acara decoupage tanggal 21 Agustus 2016 🙂

img-20160822-wa0059

Alhamdulillah,
Acara BMC alias Busy Momy Community berjalan lancar.
Kali ini, acara khusus untuk anak-anak, yaitu menghias boks pensil menggunakan teknik decoupage. Gambar napkin yang lucu-lucu menarik perhatian anak-anak 🙂

Sebenarnya acara ini berjalan setiap Ahad selama bulan Agustus. Namun, peserta membludak tanggal 21 Agustus. Mungkin karena tempat yang lebih dekat dengan rumah peserta, yaitu Tembalang.

Mulai gencar promosi sepekan sebelumnya, tapi bisa menjaring 15 peserta. Melebihi kuota yang hanya 12 orang. Agak dag dig dug juga, karena banyak anggota BMC yang berhalangan, sehingga tak bisa menjadi coach. Pun, hair dryer ternyata hanya ada satu biji. Huaaa… Untuk 5 peserta dewasa saja, dengan memakai 2 hair dryer lumayan lama antre, apalagi 15 anak dengan satu hairdryer. Waks…. Bismillah aja, deh 😉

Hari H pun tiba,
Pukul sembilan kurang, sudah ada peserta yang datang, bersamaan dengan datangnya perlengkapan. Sip, acara bisa dimulai tepat waktu, insya Allah. Seusai menata tempat dan barang, coach mulai berdatangan. Dengan tiga peserta di awal, acara bisa dimulai. Satu per satu, peserta berdatangan, dan… selalu pas dengan datangnya para coach. Alhamdulillah, semuanya seperti sudah diatur Yang Kuasa 🙂

Bagaimana dengan antrean hairdryer? Hihi… tetap mengular, tapi sebagian berinisiatif mengeringkan langsung di bawah mentari yang lumayan panas. Alhamdulillah.

Acara yang dijadwalkan berakhir pukul 12, bisa selesai sebelum waktunya. Kecuali beberapa peserta yang datang terlambat. Pun, sebelum pukul 1 juga sudah kelar semua, termasuk selesai beres-beres tempat 🙂 Alhamdulillah… alhamdulillah… Segala kekhawatiran sirna sudah.

Ohya, ehem… sedikit cerita, ya. Sebenarnya, si PJ punya satu kekhawatiran yang lumayan bikin deg-degan, loh. Membuat event seperti dengan cara pembayaran bisa on the spot, cukup membuat dag dig dug. Bagaimana kalau peserta ternyata tidak datang? Padahal barang sudah dibelikan? Alhasil, tak hanya sekali dua kali, PJ selalu mengingatkan akan butuhnya sebuah pengertian masalah bayar-membayar ini, hihi. Maaf, bila nyebelin, ya. Bahkan sehari sebelum hari H pun, lagi-lagi kirim broadcast, mengingatkan akan acara, dan memohon dengan sangat agar peserta tidak membatalkan. Rasanya khawatir banget bila wa itu tidak dibalas. Pikiran jelek yang muncul. Jangan-jangan…. jangan-jangan… hehehe.
Alhamdulillah… bersyukur sekali, semua peserta datang. Terima kasih banyak atas kerjasamanya, yaaa … 🙂

Kursus Jahit Maraton: Sehari Jadi Gamis

Late post. Acara ini sudah dilaksanakan tanggal 16 Agustus lalu, hehe

Kursus pola dan jahit maraton, sehari jadi gamis. Menarik, ya?
Dulu… awal-awal nikah, baper dibilang pengangguran, saya pun ambil kursus jahit. Hasilnya? Ora iso opo-opo wkwkwk. Padahal, kursus di tempat terkenal di Yogya pada masa itu. Maklum, bukan passion kali, ya. (Alesan :p)

Nah, rupanya si anak wedok, Shofie, lebih punya darah utinya (bukan emaknya). Dia suka nak-nik aneka kerajinan, salah satunya menjahit. Bahkan, puasa kemarin minta hadiah mesin jahit kalau puasa penuh. Weks. Seumuran dia, puasa penuh itu udah ga ada hadiah-hadiahnya lah :p

Oke, ketika sang Cikgu Noor kursus jahit maraton mau ke Semarang, langsung aja saya samber untuk ngisi pelatihan. Tadinya, yang mau saya ikutkan ya, Shofie hihi. Saya cukup jadi EO (halah) dibantu para emak di BMC (Busy Momy Community) yang asyik tentu saja.

Namun, setelah dipikir-pikir, gak mungkin lah, Shofie yang ikut. Namanya anak 9 tahun, tentunya belum ‘nyandak’ bicara teori, pun seharian begitu. Akhirnya saya yang ikut, nanti ilmu bisa ditransfer lah…

Deal waktu dll, peserta juga cukup banyak. Yang tadinya hanya khusus anggota BMC, teryata bisa nambah teman-teman BMC hehe.

Nah, masalah pun datang. Namanya juga newbie semua di dunia jahit-menjahit, hanya ada satu orang yang punya mesin jahit portable, dua orang punya mesin jahit jadul. Padahal perlu 6 mesin jahit per hari, untuk dipakai selama dua hari, pun mesin itu harus diangkut ke rumah saya di lantai 2. Pingsan, deh.

Skip… gak mungkin. Carilah penyewaan mesin jahit. Mbak Endah mendapat mesin jahit di LPK. Info awal, mesin jahit bisa diantar ke rumah. Namun, akhirnya ketua LPK minta kita yang datang saja ke sana. Oke, deh. Kalau begitu bisa sekalian sehari 15 orang (nambah kuota, yang tadinya 12 orang, karena mesinnya banyak, jadi 15 orang hehe)
Udah seneng, tuh. Sampai akhirnya, kami survey ke sana. Apa yang dilihat? Olala… mesin jahitnya high speed!! Sang Cikgu langsung menolak mentah-mentah. Gak bisa! Apalagi dipakai buat pemula.

Pasrah, wis. Belajar pola aja juga gak papalah, gak usah sampai jahit. Alhamdulillah, Mb Indah gigih browsing, akhirnya nemu SMK Diponegoro, ada jurusan busana, di dekat rumah (walaupun tempatnya mblusuk). Langsung, deh, ditelpon. Dan dibilang oke!! Keesokan harinya langsung survey. Siip. Mesin jahitnya biasa walaupun jadul, sebagian pakai dinamo, sebagian pedal. Saya hitung ada 16. Alhamdulillah….
Begitu fix tempat, Cikgu pun langsung belanja kain hihi… Untunglah, belanjanya dibantu Qoulan, ya. Soalnya para emak ini request motif kain, mulai hitam polos sampai shabby chic yang cocok buat mahmud.
Jujur, saya rada deg-degan. Akankah acara akan lancar? Gimana kalau tiba-tiba jadwal bentrok karena kurang koordinasi? Gimana kalau mesin jahit ngadat? Gimana… gimana… Akhirnya yang ada hanya pasrah. Insya Allah, udah usaha maksimal.

Hari H pun tiba. Berangkat ke lokasi, sebelumnya ngampiri aneka perlengkapan dulu, sampai lokasi pukul 08.00 (sesuai jadwal). Masuk ruang kepala sekolah, izin, dll. Lalu, langsung dipersilakan ke lab. Ternyata… pintu digembok. Huaaa… Was-was lagi, deh. Jangan-jangan ruangan belum siap? Hiks….
Seorang guru pun datang membuka pintu. Begitu masuk, lega rasanya. Lab sudah bersih, rapi, dan dipel. Jadi malu udah su’uzhan.

Mbak Noor langsung nulis-nulis di white board, sementara saya… cari toilet wkwkwk. Hamil baru 4 bulan, tapi kok sudah beser banget. Di dekat lab ada masjid, pastilah ada toilet. Bener ada, sih. Dan, tahukah saudara-saudara? Toilet tak berpintu. Saya lihat di sekeliling, berasa terlempar ke zaman batu. Ya, kondisinya masih ndeesoo banget.

Akhirnya, yang berikutnya kalau mau ke toilet kita gantian rame-rame. Dua orang berperan sebagai penjaga pintu dengan membentangkan kain yang mau dibuat gamis, hahahaha. Mantap, dah!

Belum cerita kursus kok udah panjang banget, ya? Hiks….
Alhamdulillah, peserta datang bersamaan walaupun telat dikit. Jadi, acara bisa langsung dimulai. Kayak belajar di kelas beneran. Ada bu guru di depan yang menerangkan. Kami ndeprok di lantai.
Pertama belajar buat pola. Teori – praktik – teori – praktik. Begitu terus, dan langsung diperiksa bu guru. Pas dhuhur, pola sudah selesai. Pas, makan siang juga datang.

13975447_843238339109685_5028016978822580998_o

Acara gunting-menggunting dilanjut setelah maksi dan shalat, juga makan cemilan potluck dari peserta.

Kehebohan muncul lagi. Begitu diperiksa, ternyata beberapa mesin jahit itu tidak ada sekocinya. Bu guru mumet, dah. Alhamdulillah, Mb Indhy siap sedia membelikan, sekaligus jemput krucil yang pulang siang. Rupanya, masalah belum terpecahkan, karena hanya dapat tiga sekoci hihi….

Lalu gimana, dong?
Nah, ini juga ada cerita sendiri. Dari 16 mesin jahit itu hanya ada empat yang pakai dinamo. Lainnya masih pancal. Rupanya, buat pemula, mancal ini jauh lebih sulit daripada yang tinggal nginjek dinamo. Jahitan malah maju mundur tak karuan xixi. Alhasil, beberapa teman pun menjahit jelujur gamisnya wkwk.

Sebelum sore, saya melihat ke atas. Rupanya, tak ada lampu sama sekali di ruang jahit ini. So, mau tak mau, kelas harus selesai sebelum petang. Tadinya, menjadwalkan pukul 16.15 kegiatan dihentikan, lanjut semua beres-beres, setengah lima pulang. Tapi, masih pada keasyikan hihi… molor deh, jadi jam lima baru kelar.

13920643_843238615776324_2659292565208790498_n

Ada tiga orang yang gamis sudah selesai. Walaupun begitu, sebagian besar sudah berbentuk gamis, kok. Berasa lah buat gamis hari ini hihi.

Esoknya… buat yang belum selesai, bisa melanjutkan jahit atau tanya-tanya di rumah. Alhamdulillah, mesin jahit portable Mbak Ria dipinjamkan.

Weih… selesai juga ceritanya. Seru-seru, heboh, hihi. Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan yang ada, acara bisa dibilang sukses. Jazakillah khoiran katsiran ya, Mba Noor … 🙂

Oleh-Oleh Seminar: Blocknote

Setiap kali ada seminar, suami sering banget bawa oleh-oleh… block note hihi. Bukan blocknote bersih, yang bisa dikasihkan lagi (eh… masa bikin kuis hadiah blocknote seminar? :p) Yup, blocknote ini biasanya udah ada tulisan ceker ayamnya walaupun hanya beberapa lembar. Biasalah… sok-sok nyatat pas seminar. Ups!

Sebagai mak irit, harta itu bagai buah simalakama. Buang sayang, simpen makan tempat. Tapi atas nama pengiritan dan go green, dikumpulin lah buku-buku kecil itu.

Nah, rupanya manfaat itu berasa sekarang. Si bumil dapat anugerah gak bisa duduk terlalu lama untuk ngetik di komputer, juga capek ngetik di laptop dengan posisi berbaring atau nyandar. Blocknote ini lumayan membantu. Bisa buat coret-coretan tulisan. Saat fit, tinggal mindah ke komputer.

Eh, beneran belum ada software yang memindahkan tulisan tangan dalam words, kan? Yah, siapa tahu aja ada, saya yang gak tahu :p
Hihi… manusia emang selalu digoda untuk tidak bisa bersyukur, ya. Setelah merasa senang ada blocknote, timbul masalah lagi. Males mindah tulisan. Kayak kerja dua kali gitu, loh. Padahal, dengan tulisan ceker ayam begini, siapa juga yang mau ngetikin? Lah, saya aja kadang gak bisa bacanya, kok, wkwkwk.

***
Berjalannya waktu….
Saya akhirnya merasakan capek juga mindah-mindah tulisan ke kompie dari blocknote.
Nah, sekarang ini, saya mending ketak-ketuk jari di hape. Lalu tinggal di email, deh.
Lumayan juga loh 🙂

Terus, blocknote buat apa, ya?
Ada ide?

Gerr … di Meja Makan

Pagi tadi, si emak rada pusing. Jadi ga masak buat sarapan. (Ketahuan siangnya, ada petugas dinkes pendampingan bumil datang, ternyata tensinya 90/70. Weks. Padahal malamnya periksa ke dokter keluarga, 110/70. Kalau hb emang rendah, sih. 9.7)

Akhirnya, buat sarapan belilah mi goreng dan teman-temannya (baca: gorengan wkwk), sama mbah-mbah yang lewat di depan rumah.

Pas makan, Shofie bilang, “Kok, mi nya gak panas.”
Radar emak langsung bunyi. Perilaku ‘protesan’ kayak gini gak boleh jadi kebiasaan.
“Shofie… ” (Rada melotot). “Ya jelaslah nggak panas. Mi goreng dimasak sejak kapan… bla… bla…”.

Sang penyelamat suasana pun angkat bicara. “Mau diangetin lagi, po?”
“Enggak, ah. Nanti malah gosong,” Shofie menolak saran papanya, dengan wajah yang… begitulah :p

Emak rada ga terima sebenarnya. Baik saran ngangetin, dan cara penolakan Shofie. Saran si Papa memperlihatkan kalau kami sebagai ortu gak kompak. Harusnya saling mendukung, untuk mengajarkan sikap nrimo pada anak.
Jawaban Shofie bener-bener gak bener, deh. Udah protes, dikasih saran, menolak mentah-mentah. Duh, adab… adab….

Siap-siap ‘kuliah’ lagi, dong. Namun, belum juga mulai buka mulut….

“Gak gosong wis. Bungkus lagi, terus kekep di sini, nih….” kata si Papa sambil cengar-cengir.
Dan… meja makan penuh suara cekakan. Soalnya njelehi banget, si Papa memperagakan mi dikepit di ketiak :p

Perdarahan

Horor
Menjelang magrib, ketika ke toilet untuk BAK, tampak darah mengalir deras. Bahkan ada yang tercecer di lantai, ketika saya berdiri. Hiks. Langsung, deh, minta suami siap-siap untuk segera antar ke IGdD. Pikiran sudah gak enak, tapi pasrah mengingat kondisi kehamilan selama ini, yang bisa dibilang tidak berjalan mulus, alias rada bermasalah (walaupun tidak berat). Apapun yang terjadi nanti, harus ikhlas, pasrah …. Bener-bener, mikirnya udah ke mana-mana.

Kehamilan ke tiga ini memang lumayan beda dengan yang pertama dan ke dua. Sempat dua pekan, nyaris ga aktivitas. Aktivitas sedikit saja, perut bakalan kenceng-kenceng. Setelah dua pekanan bedrest, akhirnya mulai bisa masak (hanya racik bumbu, instruksi dikit, lalu yang melanjutkan suami dan anak, dan saya kembali ke tempat tidur), yang penting ada yang buat makan. Bosan jajan terus. Pun ga enak.

Alhamdulillah, keadaan membaik. Aktivitas meningkat lagi, masaknya bisa full. Sempat bisa bangkit ketika ada acara keluarga besar di rumah. Musti beberes rumah, siapin ini itu, dll. Walaupun hari berikutnya tepar :p.

Setelah istirahat beberapa hari, mendingan lagi, dan bisa pergi agak jauh. Bahkan dua hari berturut-turut ke Gramedia, kulakan buku hihi… (kalau ke Gramed kok sehat, yooo). Hari ke tiga ke ekspedisi kirim buku, belanja daster (daster e suwek kabeh :p) plus ketemuan teman, setelah itu tepar lagi hihi. Wis, poko’e gitulah. Kalau rada pethakilan, harus menerima konsekuensi, dibalas dengan istirahat lebih lama :p

Lanjut ke cerita perdarahan tadi …
Saat ganti baju kepikir kemungkinan lain sumber si darah. Ya… bisa jadi itu dari wasir. Panik menurun. Maka, saya putuskan ke dokter keluarga saja, gak jadi ke RS.

Syukurlah sampai klinik tidak antre. Begitu dicek, bener… penyebabnya wasir. Legaaaa… alhamdulillah, Allah mengingatkan. Coba kalau tadi ke IGD, ada kemungkinan diperiksa dokter laki-laki, terus bisa diketawain juga. Walah, jebul wasir e. Tiwas deg-degan :p

Ngobrol Santai: Syahid & Melahirkan

Jadi….
Setelah beberapa waktu lalu ramai berita ibu meninggal saat melahirkan, sekarang ramai berita baby blues. Kalau nggak menyikapi dengan bijaksana (halah), maka si bumil ini akan makin baper.

Untuk baby blues ini, saya belum mau buka tema obrolan ma suami, ah. Habisnya, jawaban suka gak terduga :p

Bayangin aja,
Ketika membahas ibu meninggal saat melahirkan, saya udah pasang wajah serius, sedih, bahkan siap mengeluarkan kalimat wasiat (demi mendapat simpati atau apalaaah), tanggapan suami adalah… “Ah, nggak melahirkan juga, seumuran kita emang harus siap meninggal to, An. Makanya persiapkan diri sebaik mungkin.”
Waks. Jauh dari harapan, deh, hihi. Tapi, bener juga, siiih.

Bicara serius, ah.
Saya, kadang tak berani membayangkan kalau meninggal ketika melahirkan nanti. Bukan… bukan pada gimana suami, gimana anak-anak. Insya Allah, akan ada yang mengurus semuanya. Saya malah merasa tidak pantas mendapatkan itu, mengingat keseharian yang masih ‘biasa saja’. Bukankah wanita yang meninggal saat nifas karena melahirkan anak, adalah syahid?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan menarik-nariknya dengan riang gembira menuju surga” (HR. Ahmad)

Tapi…
Ya gak tahu juga. Kadang Allah menilai amalan suatu hamba, yang kadang hambaNya sendiri tak merasa melakukan amalan itu. Semoga… semoga… ada satu amalan dari saya, yang saya tidak mengetahui/merasa melakukan kebaikan itu, tapi bisa memberatkan timbangan kebaikan. Aamiin… aamiin…

Kemping Ekstrim di Mangli

Kemah sekarang enak. Bawanya mi instan, sarden, kornet. Makan bisa katering. Tenda juga sudah tersedia, terpasang di bumi perkemahan.

IMG-20151201-WA0007

Dan… Jumat-Ahad kemarin, saya kembali merasakan kemah seperti saat SD. Harus bawa ember, panci yang ada gagangnya (berfungsi juga sebagai gayung), gelas, piring, sendok, juga lampu badai dengan bahan bakar minyak tanah. Kenyataannya, saya tetap membawa beberapa emergensi dan senter, sih. Nggak pede mau bawa lampu badai aja :p

1.Lampu badai

Selain itu, saya dapat tugas belanja ubi dan singkong untuk sarapan dan snacking. Lumayan, singkong 40 lonjor ukuran sedang, plus 80-an buah ubi ukuran sedang. Total, beratnya sekitar 20 kg. Ohya, tenda, matras, sleeping bag, tongkat dan tali pramuka, juga harus membawa sendiri. Tidak disediakan oleh panitia kemah. Makin keren, kan? :p

Lokasi kemah adalah di Mangli, kecamatan Ngablak, Magelang. Lumayan jauh dari kota. Namun, masih oke. Jalan aspal, lumayan lebar, pun tidak begitu curam. Nah, masalah muncul begitu sampai di lokasi. Jarak antara tempat parkir sampai lokasi kemah lumayan jauuuh dan menanjak. Huhu. Penuh perjuangan untuk menuju ke sana, dengan membawa gembolan segitu banyak. Si Papa dan si Sulung dapat tugas terberat. Dengan tongkat sebagai tandu, semua barang pun diangkat. Saya dan Shofie kebagian bawa ransel dan beberapa tentengan. Alhamdulillah, ubi dan singkong diangkut oleh seorang ibu yang diupah untuk membawakan barang-barang bersama ke lokasi. Fiuuuh.

Momot

 

Lima belas menit lebih saya menempuh jarak itu. Beberapa kali berhenti karena menggeh-menggeh poll. Berasa, deh, kalau sudah tua, menunggu hari menuju kepala empat (hiks). Lega sekali ketika sampai di lokasi, tapi tidak bisa langsung leyeh-leyeh. Harus segera mendirikan tenda, sebelum hari gelap dan hujan. Maklum, lokasi ini benar-benar di tengah hutan, tidak ada penerangan listrik sama sekali. Bukan bumi perkemahan yang sudah tersedia kapling dengan rapi. Kami juga musti cari lokasi yang datar, menambal sedikit ‘jeglongan’ dengan daun pinus,mencari lahan yang luasnya satu ukuran tenda, dan lainnya.

Perjuangan di hutan pun dimulai!

IMG-20151201-WA0011
Begitu sampai sana, beberapa teman yang sudah datang duluan sudah menyalakan api di tungku yang terbuat dari batu besar, menggunakan kayu bakar (Kayu seharusnya nyari sendiri, ternyata tidak ada, akhirnya beli). Tungku itu tengah dipakai untuk masak air dan kacang. Ya, air minum wajib tersedia. Tak ada galon air minum besar selama kemah. (Tapi saya bawa galon kecil ukuran 4 liter, hihi. ) Di hari ke dua, minuman bau sangit. Beberapa anak tampak protes. Tapi inilah saatnya belajar, tak semuanya sesuai harapan. Hari terakhir, mengambil air langsung dari mata air, tanpa dimasak langsung minum. Dan… rasanya jauh lebih segar!

Makannya? Apakah masak sendiri juga?
Alhamdulillah, belum ekstrim banget yang musti masak sendiri tiap mau makan, dengan bahan seadanya di hutan. Makan malam hari pertama, makan siang dan malam hari kedua, serta makan siang hari terakhir pesan. Mengingat banyak aktivitas yang tak memungkinkan kalau masak sendiri.

Jadwal masak sendiri adalah snacking beruba ubi, singkong, pisang, dan kacang rebus. Dan, sekali untuk makan malam di hari kedua. Menunya sop dan mendoan, dan dijadikan aktivitas masak bersama. Anak-anak membantu iris-iris sayuran. Tadinya mau masak nasi juga, tapi tidak jadi, karena nasi jatah makan siang masih sisa banyak.

Dua kali sarapan pun masak sendiri, yaitu singkong, dan telur rebus (Kenyataannya masih ada sisa nasi makan malam, jadi banyak yang sarapan pakai nasi dan lauk makan malam).
Mi instan, sarden, kornet kalengan? Semua lewat. Dalam acara ini, sangat dianjurkan untuk tidak membawa makanan instan. (Pengakuan dosa: Ehem, tapi saya bawa minuman instan, sih, hihi. Cokelat, susu sereal, juga bandrek. Walaupun bawa jahe dan gula jawa juga, tapi tidak sempat memasaknya). Anak-anak lebih banyak nyemil buah-buahan yang berlimpah, juga ubi, singkong, jagung rebus. Tak sekali dua kali, terdengar suara ibu-ibu yang mengingatkan putra’putrinya untuk makan buah dan sayur.

MCK?

IMG-20151201-WA0009
Cukuplah dengan tirai yang diselubungkan pada beberapa pohon. Panitia sudah membuat lubang, dan menyediakan sekop. Silakan bayangkan kucing saat pup, ya! :p

Dan… tidak dibuat tempat khusus untuk mandi. Huaa! Beberapa teman mandi saat malam, sehingga tidak terlihat asal senter dimatikan. Ada juga yang mandi di kamar mandi umum, di dekat area parkir. Tapi untuk mencapai ke sana musti menggeh-menggeh dulu, jadi saya memilih mandi menggunakan lap basah di tenda. Itu pun cuma sekali :p

Acara hari ke dua cukup ekstrim. Naik gunung Andong!! Memang, tidak wajib. Sesuaikan dengan kemampuan. Ada tiga tahap, hijau, oranye, merah. Hijau adalah jarak terendah. Dan… hanya saya, Shofie, serta Mba Ellen (Karena menggendong baby Nesh, 8 bulan) yang sampai hijau. Beberapa sampai oranye, serta sebagian besar sampai puncak!! Menakjubkan. Karena saat briefing, beberapa peserta menyatakan dirinya sampai oranye saja. Ternyata, mereka sampai puncak.

4.Ladang

Tiga hari menyisakan banyak makna, terutama pembelajaran dari teman-teman selama ngALAM. Ketika ada banyak kasus para remaja yang mengaku ‘pecinta alam’ naik gunung, tapi menyisakan banyak sampah, merusak tanaman demi sebuah foto selfie, maka di sini kami belajar dan untuk minim sampah. Anak-anak diajarkan memilah sampah. Diajarkan juga mengubur aneka sampah organik yang dihasilkan selama kemah. Bahkan, makanan yang kami pesan tidak dibungkus (walaupun daun pisang). Kami prasmanan memakai piring yang sudah dibawa.

Tak hanya itu, seminimal mungkin disarankan untuk tidak membawa bahan kimia yang bisa mengganggu ekosistem hutan. Kami mencuci piring menggunakan lerak. Mandi disarankan memakai jeruk nipis. Saya pun jadi tahu, bagian dalam kulit jeruk bisa dipakai untuk membersihkan gigi dan membuat gigi menjadi lebih putih.

Dan satu lagi tema menarik tiada habisnya yang menjadi topic perbincangan kami. Homeschooling! Walaupun cerita ini dan itu pernah dengar, terasa diulang-ulang, tapi ini menguatkan saya sebagai orangtua homeschooler. Ya, acara ini bukanlah kegiatan keluarga homeschooler, tapi kebanyakan keluarga yang ikut adalah yang tidak menyekolahkan anaknya. Mereka pun menjadi penebar racun semangat HS-er hehe.

Pegel-pegel belum hilang walaupun sudah diistirahatkan. Kaki juga belum menyusut dari bengkak karena… entahlah, sepertinya harus rajin olahraga dan makan sehat :p. Alhamdulillah, segala cucian sudah beres, alat-alat juga sudah tertata. Dan, rasanya musti bersabar menunggu setengah tahun untuk kemah lagi dengan nuansa dan tantangan yang berbeda. Semoga bisa ikut. Aamiin.

IMG-20151201-WA0008

Kegiatan diselenggarakan oleh potTrack Regular Hiking – one Track one Tree